Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 116 Kebahagiaan Kita


__ADS_3

Kane lantas sayup-sayup mendengar suara Dee yang sedang bercerita dengan anak-anaknya.


"Sungguh kah Mama dari kecil tidak pernah melihat pantai kecuali saat bersama Papa?"


"Ya, memang Papamu yang pertama membawa Mama pergi ke pantai dan melihat indahnya dunia ini."


"Romantisnya," ujar Jason sambil menopang dagunya dengan dua tangan sambil berbaring menghadap Dee.


"Pasti Mama merasa senang sekali," imbuh Jesper. Dee mengangguk.


Kane yang menguping tersenyum lega. Dia mengingat kejadian itu. Walau berakhir tidak baik tapi itu membuat kenangan indah untuk mereka. Itu adalah saat pertama kali mereka bisa bersahabat dengan keadaan dan mulai saling menerima.


Kane membuka pintu pelan hampir tanpa suara. Namun, kedua anaknya melihat dan Dee mengikuti arah pandang mereka berdua.


"Ayah? Apakah dia sudah pulang?" tanya Dee.


Kane mengangguk.


"Kau mandi dulu sana, tubuhmu bau ikan," ujar Dee mendekat melarang Kane masuk ke kamar anak-anak. Tangannya mendorong perut Kane.


"Iya, Mama juga tadi langsung memandikan kami. Jesper malu dimandikan oleh Mama tadi," tutur Jason.


"Aku sudah besar tidak perlu bantuan Mama untuk mandi. Tidak seperti kau yang masih bertingkah seperti bayi!" ujar Jesper.


"Sudah jangan bertengkar. Kalian tetap seperti anak kecil bagi Mama," ujar Dee.


"Mama mau menyiapkan air mandi untuk Papa dulu," ujar Dee.


"Papa sudah besar, bisa menyiapkan mandinya sendiri," ujar Jason.


"Mama juga belum mandi kan!" celetuk Jesper.


"Kalau begitu biar Mama sekalian mandi dengan Papa," ujar Kane mengangkat tubuh Dee tiba-tiba, membuat Dee memekik terkejut.


"Ih, Mama dan Papa pacaran," celetuk Jason dengan mimik menggemaskan.


"Sekalian Papa buatkan adik buat kalian," ujar Kane. Dee menutup mulut suaminya. Sifat mesumnya akhir-akhir ini muncul. Ini gawat, bisa-bisa Jason mengikuti ajaran Papanya.


"Memang bisa buat adik di kamar mandi Pa? Bagaimana caranya? Aku ingin lihat," tanya Jason polos.

__ADS_1


Wajah Dee memucat. "He... he... Papa kalian hanya bercanda saja."


"Nanti kalian belajar ini ketika dewasa. Sekarang belajar jadi pria sejati dengan menjadi pandai dan kuat dulu," kata Kane meninggalkan kedua putranya.


Jason melihat Jesper dengan mata yang bingung. "Jesper kau kan pintar, kau juga kakakku. Kau pasti tahu bagaimana cara buat adik. Jika di buat di kamar mandi itu pakai apa?" rajuk Jason ingin tahu.


Jesper hanya mengangkat bahu. "Bukankah kata Papa kita bisa pelajari itu ketika dewasa. Sekarang bukan waktunya. Papa benar jika kita seharusnya belajar untuk menjadi pintar. Kau masalah hitung menghitung saja tidak bisa bagaimana kau akan menjadi pria sejati. Pria sejati itu harus pandai cari uang biar bisa membuat istrinya senang. Jika kau bodoh kau hanya akan dipermainkan orang saja!"


"Kau ini sangat membosankan." Jason lantas naik ke atas tempat tidurnya.


"Kalau ada Paman Emilio dia pasti akan menerangkan padaku."


Jesper hanya bisa memutar bola matanya malas.


Dee dibawa Kane ke kamar mandi. Dia mendudukkan wanita itu di atas toilet.


"Kane aku bisa mandi sendiri," ujar Dee.


Kane tersenyum. ''Biarkan aku memanjakanmu," ucap Kane.


Dee menatap dalam pada suaminya. "Aku minta maaf."


Dee langsung memeluk Kane. "Seharusnya aku tidak senaif itu hingga lebih percaya pada orang lain ketimbang suamiku sendiri. Kita berdua harus menderita karena semua kesalahanku," ungkap Dee terisak.


Kane tidak mengatakan apapun hanya mengusap punggung Dee lembut dan mencium dalam kepalanya. Dia ingin menyalurkan perasaannya melalui sentuhannya dan tindakan bukan sekedar kata-kata saja.


Dua jam kemudian mereka telah berpakaiannya santai. Kane memeluk istrinya dari belakang ketika sedang menatap ke arah pantai.


"Ada apa?"


"Di sini sangat indah," ujar Dee.


"Jika kau mau tinggal di sini, kita akan tinggal disini sampai kau merasa bosan," ujar Kane.


"Aku memang lebih suka tinggal disini. Hanya ada kita tanpa ada siapapun. Semuanya kita lakukan bersama."


Kane membalikkan tubuh Dee lantas menyentuh pipinya lembut.


"Apapun yang kau inginkan, ratuku," ujar Kane mencium bibir Dee lembut. Dee menikmati semua sentuhan Kane yang selalu bisa membuat tubuhnya gemetar hebat dan melayang ke langit ke tujuh.

__ADS_1


Dia selalu jatuh dalam diri Kane. Tidak bisa menolaknya bahkan ketika dia membenci pria itu dulu. Apalagi setelah semua yang terjadi. Dia semakin mencintai pria itu walau Kane sempat bersama dengan wanita lain tapi tidak bisa merubah perasaannya. Apakah ini bodoh atau memang ini cinta buta, Dee tidak tahu. Yang dia yakini sekarang adalah Kane selalu bisa membuat dia bahagia dengan kehadirannya.


Pintu kamar terbuka membuat Dee membelalakkan matanya ketika melihat dua kepala kecil menongol masuk ke dalam. Dia mendorong tubuh Kane keras agar menjauh.


"Dee..." Pria itu terkejut, tapi melihat arah mata Dee.


"Papa, teruskan nanti ya," ujar Jason malu-malu menutup matanya dengan tangan tapi membuka celah diantara jarinya. Satu tangan yang lain dia gunakan untuk menutup mata Jesper. Anak itu nampak kesal.


"Kami lapar," lanjut Jason.


Wajah Dee memerah karena kepergok anaknya sedang melakukan adegan yang seharusnya kedua putranya tidak melihat hal itu.


"Mama akan masakkan makanan," ujar Dee.


"Aku sudah memesankan makanan untuk kita. Kau sudah lelah jadi seperti biasanya aku sangat pengertian dengan meringankan pekerjaanmu," ujar Kane.


Dee menatap malas Kane. Pria itu yang membuat dia lelah sekarang bertindak seperti seorang pahlawan. Sifat narsis dan angkuhnya memang tidak bisa hilang.


Mereka lantas makan bersama dengan suasana hangat, penuh canda dan tawa seperti sebuah keluarga sempurna.


Kane dan Dee sama-sama meraih mimpi yang mereka harapkan. Mendapat sebuah keluarga yang hangat dan penuh cinta.


Setelah itu, mereka membersihkan bekas makanan bersama dan menonton TV di ruang tengah. Dua anaknya sibuk dengan game dari handphone. Kane sekarang melonggarkan peraturan sehingga anak-anak bisa bermain dengan handphone milik mereka. Hanya saja diberi waktu.


Dee menonton televisi bertemakan film drama yang membuat dia menangis ketika menontonnya.


Kane yang duduk di sebelahnya dengan menghadap laptop nampak melirik tidak senang. Dia mengambil remote dan menggantinya.


"Kane apa yang kau lakukan?" ujar Dee marah merebut remote tapi dijauhkan jangkauannya dari tangan Dee oleh Kane.


"Untuk apa kau menontonnya jika membuat kau menangis. Itu hanya drama tidak asli. Kau itu bodoh atau apa!" ujar Kane. Pantas saja Jason tergila-gila dengan tokoh di film yang dia lihat. Ternyata menurun dari sifat ibunya.


"Ih, kau tidak tahu kalau film yang bagus bisa membuat penontonnya terhanyut dengan suasana yang tokohnya mainkan. Apa jangan-jangan kau tidak pernah menonton drama."


"Untuk apa aku melakukan hal yang tidak berguna seperti itu," ujar Kane.


"Kau itu membosankan," rajuk Dee kesal.


"Dee aku hanya tidak suka jika melihat kau menangis dan sedih," ujar Kane mengusap bekas air mata di wajah Dee. "Kau tahu hal itu dari dulu kan?"

__ADS_1


Dee merasa terharu. Dia lantas memeluk Kane dan tersenyum dalam dekapan pria itu.


__ADS_2