
Sepanjang jalan, Dee hanya menatap ke depan. Mengatur detak jantungnya yang tidak menentu ketika bersama dengan Kane.
Ketika mereka melewati tempat makanan yang pernah mereka kunjungi, mereka berdua menarik nafas dalam bersama. Lalu saling sadar dan menoleh.
"Kau masih ingat tempat itu?" tanya Kane.
Mata Dee memanas, dia melihat keluar jendela. Bibirnya terkatup rapat.
"Saat itu kita masih sering bertengkar karena hal kecil dan kau banyak sekali mengambek untuk hal sepele."
"Kau yang selalu membuat semua sulit, bagi kita berdua."
Kane tertawa mengejek. "Aku? Kau yang pergi dengan pria lain dan aku yang kau salahkan!"
"Sudah kukatakan sebelumya jika aku benci dengan pengkhianat!" ujar Kane sambil memegang stir dengan kuat.
"Sulit untuk berbicara denganmu, Kane."
"Kalau begitu terangkan semua agar aku bisa memahamimu dan mengerti."
"Diterangkan pun kau tidak akan mengerti, kau hanya berpikir negatif saja."
"Entah bagaimana nasib anakku denganmu di sana. Apakah kau mengurusnya dengan baik atau tidak, lebih tepatnya apakah kau memberikan semua yang dia inginkan, bukan hanya hanya harta saja?"
"Kau tidak ingin menceritakan apa yang membuatmu melakukan itu dan kau juga selalu mengatakan bahwa aku berpikir negatif padamu padahal itu yang kutahu dan itu yang kulihat."
"Tidak semua hal kau ketahui dan tidak semua yang kau lihat adalah kebenaran. Aku tidak ingin membela diri karena aku lelah selalu kau tuduh. Kau juga tidak pernah mau mendengarkan penjelasanku, selalu seperti itu. Jadi cari sendiri kebenarannya, kau punya uang, kekuasaan, hanya masalah ini kau tidak bisa mengatasi. Dimana Kane yang kukenal?" ejek Dee.
Kane memukul stir mobil dengan keras. Meluapkan kemarahan. Hingga sampai di depan rumah Kane, mereka hanya terdiam.
Pintu rumah terbuka lebar dan seperti pemandangan biasanya, Pak Jhon sudah ada di depan pintu menyambut Tuannya datang.
Pria tua itu nampak terkejut ketika melihat Dee ikut keluar dari mobil. Dia berjalan menyambut kedatangan Dee.
"Nyonya Dee kau datang?" tanya Pak Jhon tersenyum.
"Seperti yang Anda lihat. Bagaimana keadaan Anda?"
__ADS_1
"Seperti biasanya, aku baik saja. Hanya tubuh tua ini sudah tidak bisa bekerja keras seperti dahulu."
"Seharusnya kau pensiun dari pekerjaanmu," ujar Dee.
"Menjadi kakek itu bukan pekerjaan, tapi adalah sebuah kesenangan. Jika aku tidak merawat anakmu siapa yang akan merawatnya. Pria itu hanya tahu bekerja saja," ujar Pak Jhon melirik pada Kane. Dee tersenyum ikut melihat ke arah Kane.
"Dimana perusuh itu?" tanya Kane. Beberapa hari ini Jesper akan menyambutnya datang, kenapa sekarang tidak terlihat.
Akhir minggu kemarin seharusnya Kane melakukan beberapa pertemuan penting dengan klien. Hanya saja putranya itu malah selalu membuat ulah yang menyebabkan dia harus menemani di rumah.
"Dia ada di kamarnya," ujar Pak Jhon.
Kane mengernyit. "Bawa Jesper turun," suruh Kane pada pelayan.
"Jesper?" ulang Dee. Tersenyum tipis. Ternyata nama anaknya sesuai dengan nama yang mereka berdua rencanakan sebelumnya. Hatinya menghangat. Dia sudah tidak sabar bertemu dengan putranya itu.
Kane berjalan lebih dahulu, meninggalkan Dee dengan Pak Jhon.
"Ayo, Nyonya, masuk kembali ke rumah," ajak Pak Jhon.
"Ini sudah bukan rumahku lagi," ujar Dee tersenyum sedih.
Ketika Dee melangkah masuk ke dalam rumah itu, dia tahu, semuanya masih sama seperti terakhir kali dia melihatnya. Tidak ada yang berbeda dan berubah.
Kane nampak duduk di sofa dengan menatap handphone ditangannya dengan gaya anggun dan berkharisma. Dee ingat jika dulu, Kane seperti itu, dia akan mengusili pria itu.
Kane merasakan pandangan Dee lalu dia mengangkat wajah dan pandangan mata mereka bertemu.
Di saat itu, pintu lift dari sisi samping di depan Dee terbuka. Nampak seorang pelayan keluar dengan sosok kecil berpakaian rapih dan elegan. Wajah anak itu belum terlihat jelas karena masih tertutup oleh tubuh si pelayan.
Hingga akhirnya Dee bisa melihat anak di depannya. Anak itu memakai kaca mata dan semua yang ada pada dirinya sama persis seperti Jason.
Mata Dee berembun. Dengan gerakan pelan, dia mendekat ke arah anak itu. Anak yang telah dilahirkannya tapi tidak pernah dia lihat selama ini.
Dengan dada yang sesak, Jesper menahan perasaannya berpura-pura tidak mengenal mamanya. Ingin dia berlari pada Dee dan langsung memeluknya dan ingin Mamanya memanggil namanya bukan nama Jason.
"Hai," ucap Dee dengan gemetar. Dee berkedip dan air matanya langsung luluh di pipi. Dia bersimpuh di depan Jesper dan memegang tangannya.
__ADS_1
Lalu menciumnya. Jesper menatap sendu pada Mamanya.
"Kau ingin bertemu dengan Mamamu kan, Papa bawakan dia sekarang."
"Mama... mama... mama...," hanya itu kata yang keluar dari bibir Jesper karena selanjutnya dia sudah masuk dalam pelukan Dee. Mereka berdua menangis bersama. Suasana haru di ruangan itu jelas terasa.
Pak Jhon bahkan berkali-kali mengusap air matanya. Kane hanya bisa menahan perasaannya agar tidak terlihat emosi yang ada pada wajahnya.
"Mama, ini Jesper," kata Jesper.
"Jesper King Yang," ujar Jesper lagi.
"Jesper King Yang, bukan Jesper Kane Yang?" ledek Dee menghela nafas sambil tertawa.
Jesper mengusap wajah Mamanya yang basah. "Mama cantik sekali. Seperti bidadari yang suka hadir di mimpi Jesper."
"Oh ya?" balas Dee. "Kau juga tampan. Sangat tampan." Dee mencium dalam pipi anaknya. Lalu mengusapnya lembut.
"Mama ikut aku ayo, kita ke kamarku. Aku memang menggambar banyak hal tentang Mama selama ini. Aku tahu suatu hari Mama akan datang untuk melihatnya," tarik Jesper agar Dee ikut ke kamarnya.
Dee menatap ke arah Kane yang mengangguk. Dee mengikuti Jesper masuk ke dalam kamar yang dulu pernah menjadi kamarnya sebelum dia diperbolehkan tidur bersama Kane.
Dee lalu diajak duduk di lantai. Jesper mengambil beberapa buku gambar miliknya. Dia bisa melihat banyak lukisan anaknya di sana. Dee membuka semua gambar itu.
"Ini Mama yang sedang memelukku. Ini aku dan Mama juga Papa," terang Jesper.
"Lalu ini?" tanya Kane yang ternyata ikut melihat gambar Jesper. Dia tahu Jesper suka melukis tapi dia tidak menyangka Jesper banyak melukis tentang keluarga yang dia impikan.
"Ini adikku," kata Jesper membuat Dee dan Kane terdiam.
"Kata Kakek Jhon sebenarnya aku punya adik kembar, jadi kalau dia ada maka dia akan sama besar seperti aku, bukan begitu Ma?"
Dee tertawa garing. Dia mengusap dahinya yang berkeringat.
"Sayangnya dia sudah tidak ada," sela Kane marah pada diri sendiri. Bagaimanapun dia yang menyebabkan satu anaknya meninggal.
Rasa sakit kembali menyerang dada Kane.
__ADS_1
Apakah Jesper akan mengatakan jika adiknya masih ada? Atau dia juga ikut berbohong?