Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 74 Jebakan sang mantan


__ADS_3

Dee mengikuti arahan dari Pak Marvel. Keduanya sama-sama berjalan menuju cafe yang sedang dibangun. Dee sangat antusias. Bahkan wanita itu tersenyum lebar menunjukkan kekagumannya. 


"Semoga nanti semuanya berjalan dengan baik, Nona Dee. Sepertinya Anda jauh lebih bersemangat daripada kami." Pak Marvel tersenyum. Ia benar-benar ramah dalam membimbing Dee untuk melihat-lihat cafe baru itu.


"Anda terlalu memuji. Saya senang bila nantinya kerjasama ini akan sukses." Dee tak lagi melanjutkan kata-katanya. Senyumannya pun menghilang di bibirnya. 


Di ujung sana seorang pria dengan setelan jas mahal berjalan masuk ke dalam cafe. Tepat menuju ke arah Dee yang sedang berdiri. Buru-buru Dee membuang wajahnya ke arah lain agar Kane tidak melihatnya. Sungguh Dee tidak menyangka bila Kane ada di tempat ini.


"Kenapa dia malah ke sini? Tunggu sebentar. Ada yang aneh. Kenapa Pak Marvel malah berlaku sopan pada Kane?" Dee membatin seraya berpikir keras. Dadanya berdegup kencang saat menyadari bahwa hanya ada 1 kemungkinan.


"Jangan-jangan Kane pemilik cafe ini?" Dee bertanya dalam hati. 


Matanya mengerjap berulang kali pertanda ia masih bingung dan masih mencoba untuk memahami apa yang terjadi. Dee pun memasang telinga tajam. Ada banyak pertanyaan dalam hatinya. Namun, Dee semakin mati kutu saat melihat Marvel justru membawa Kane semakin mendekat ke arah Dee.


"Nona Dee, saya ingin memperkenalkan Anda pada pemilik perkantoran yang ada di sini." Marvel dengan penuh semangat mendekati Dee. Sehingga mau tak mau Dee membalikkan tubuhnya dan menatap Marvel maupun Kane.


"Tuan Kane, ini wanita yang saya katakan. Dia adalah owner dari cafe baru kita. Nona Dee merupakan orang yang menyenangkan." Marvel sangat antusias memperkenalkan dua orang yang sebenarnya saling merindukan satu sama lain.


Perkenalan dari Marvel membuat Kane dan Dee sama-sama tidak memiliki pilihan lain. Keduanya harus berjabat tangan untuk menghormati Marvel. Dengan kikuk dan kaku keduanya saling berjabat tangan.

__ADS_1


"Kane."


"Dee."


Dua orang itu seperti tersengat aliran listrik. Mendadak dada mereka berdebar tak karuan saat tangan Kane maupun Dee beradu. Mata tajam Kane menatap kedua mata Dee yang juga memandangnya sendu. Suara deheman dari Marvel membuat tangan Dee maupun Kane terlepas begitu saja.


"Ya Tuhan. Apakah aku harus terjebak dari situasi ini secara terus menerus? Mengapa kami harus bertemu dengan cara yang seperti ini? Aku tidak menyangka jika pria kurang ajar ini justru bos di tempat ini? Ya Tuhan! Ada banyak pria di dunia ini lalu kenapa aku harus bertemu dengannya?" Dee membatin tak nyaman berada di situasi seperti ini.


"Em, Pak Marvel. Maaf, belakangan aku sedang sibuk. Jadi, aku harus pergi. Nanti hubungi saja kalau ada masalah." Setelah mengatakan hal itu, Kane berbalik pergi. 


Kepergian Kane seketika membuat Dee bernapas lega. Dari raut wajahnya terlihat ia seperti baru saja terlepas dari beban berat yang harus ditanggung. Tanpa Dee sadari karena ia sedang senang karena Kane telah pergi, Marvel mengamatinya dengan tajam.


"Ah, bukan apa-apa, Pak Marvel. Ah, bagaimana ya caranya. Anu, begini. Mengenai sebuah pertanggungjawaban. Apakah saya boleh membatalkan kerjasama di cafe itu?" Dee benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Di kepalanya hanya terlintas bahwa ia harus segera menggagalkan kerjasama ini. Terlebih sebelum Kane bertindak lebih jauh lagi.


"Kenapa Anda ingin membatalkan kerjasama ini? Bukankah Anda tadi yang paling bersemangat hari ini? Lalu mengapa tiba-tiba ingin membatalkan kontrak kerjasama? Saya pikir ini bukan april mop." Mata Marvel memicing. 


Alis Marvel pun menukik tajam menyelidiki setiap mimik wajah yang terdapat di wajah Dee. Apa yang dilakukan oleh Marvel membuat Dee menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Pak Marvel, Anda masih bisa mencari orang yang bahkan jauh lebih pintar dari saya. Tentunya yang lebih profesional lagi dalam membuat minuman buah selain saya. Terlebih, tawaran keuntungan di sini terasa berbeda. Meskipun saya tidak bisa menemukan sesuatu yang membuat berbeda. Hanya perkara gaji, benarkah biasanya orang bekerja di sini dengan gaji yang lumayan padahal baru bekerja?" Dee meluapkan semua hal yang membuatnya kesal hari ini.

__ADS_1


"Maaf, Nona Dee. Itu bukan kewenangan saya yang harus membahas perihal gaji. Anda mungkin bisa menanyakannya dari pada bagian keuangan atau pada Tuan Kane sendiri bahwa Anda ingin membatalkan kontrak." Kali ini sorot mata Marvel terlihat berbeda. Ia mengamati sosok wanita yang ada di depannya itu dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan.


Dee terdiam. Ia tidak mungkin mengatakan bila ia ingin pergi jauh dari kehidupan Kane. Mengingat Marvel sendiri sangat tegas meskipun pria itu suka berbicara dengan santai. Dee tersenyum canggung. Tapi sorot mata Marvel tak bisa berbohong bahwa pria di depannya itu seolah sedang mengawasi gerak-gerik Dee.


"Tapi, Pak Marvel. Kita baru saja menandatanganinya bukan? Toh itu masih belum ada sehari." Dee tersenyum. Ia masih berusaha untuk ramah pada Pak Marvel.


"Maafkan saya, Nona Dee. Memang begitulah adanya. Alasan kontrak tertulis memang diharuskan ada untuk menghindari hal-hal seperti ini. Saya juga tidak bisa berbuat apa-apa. Karena semua keputusan ada di tangan Tuan Kane," tandas Marvel.


"Ya Tuhan! Mengapa harus begini? Ini merupakan sesuatu yang buruk bagiku. Bagaimana bisa aku tidak tahu jika di sini merupakan bisnis milik Kane? Aku sangat bodoh sekali karena tidak mencari tahu." Dee berbicara dalam hati.


Dee mulai mengingat semua kejadian. Ya,sebelumnya ada yang beli minuman darinya dengan membayar uang banyak.


Si Paman Burung besar, ya Jason memanggilnya seperti itu. Tiba-tiba Dee juga mengingat kebersamaannya dengan Kane dulu dan miliknya... akh jangan bilang jika Paman Burung besar itu adalah Kane. Kepala Dee terasa sangat pusing sekarang. Dia ingin menjadi jerit keras.


'Jason, kau harus menerangkan ini pada Mamamu!'


"Pak Marvel, saya ingin membatalkan kontrak kerja sama itu" Kata Dee.  


Marvel melihat ke arah Dee tapi tidak terlalu terkejut. Dia sudah menduganya. Lebih tepatnya Tuannya sudah menduga ini akan terjadi.

__ADS_1


__ADS_2