Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 102 Pak Jhon anfal


__ADS_3

"Kau harus jadi anak yang baik ya," pesan Emilio pada Jason.


Jason menganggukkan kepala. "Paman mau pergi juga seperti Kakek tua itu?" tanya Jason.


"Hanya dua bulan saja. Setelah itu Paman akan kembali lagi menemuimu," ujar Emilio.


"Janji," kata Jason mengulurkan kelingkingnya.


"Janji." Emilio lantas membalas uluran jari kecil itu dan berbisik di telinga Jason.


"Kau harus jaga Mama, kalau dia nakal pada Mama, beritahu Paman, biar Paman pulang dan beri pelajaran padanya."


Bisikan itu masih terdengar oleh semua orang yang ada di sana. Sedangkan Kane memilih untuk melihat ke arah lain.


"Dia Papahku, Paman," ungkap Jason.


"Hei jagoan, Paman yang satu. Jangan menangis, Kakek Jhon pasti akan ditemukan. Kita sekarang belum mengenal baik tetapi jika lain waktu kita bertemu lagi, nanti Paman akan ajak kau dan adikmu yang bandel ini memancing. Aku yakin Papahmu yang kaku itu tidak pernah melakukannya. Jadi biar Om yang akan mengajarimu memancing dan kemah di alam terbuka."


Emilio mengusap rambut Jesper dan memeluknya. "Paman juga Sayang padamu jadi kau jangan berkecil hati."


Jesper tersenyum lebar. Walau begitu dia masih terlihat sedih karena kepergian Kakek Jhon.


"Jaga adikmu baik-baik, dia itu sulit diatur jadi kau harus mengajarinya disiplin," imbuh Emilio. Jesper mengangguk sambil menatap Jason. Sedangkan Jason menekuk wajahnya dan menggembungkan dua pipinya yang chubby.


Mobil Emilio lantas meninggalkan rumah Kane. Semua ikut melambaikan tangan melepas kepergiannya.


"Kalian masuk ke kamar masing-masing, Papa dan Mama perlu bicara."


Jason dan Jesper saling menatap lalu bergandeng tangan masuk ke dalam rumah.


Di saat itu sebuah panggilan telepon masuk. Kane mengangkatnya. Wajahnya nampak cemas dan serius.


"Ada apa?" tanya Dee.


"Pak Jhon ada di rumah sakit. Dia dalam keadaan tidak baik-baik saja."


"Hah, kita harus segera ke sana," ujar Dee. Kane tertegun.


"Kau tidak marah padanya?"


"Untuk apa marah padanya, bukankah dia itu seperti ayah bagimu. Membuat hubungan baru tidak harus dengan merusak hubungan lama kan?" Perkataan Dee membuat hati Kane merasa tenang.


"Terimakasih," ujar Kane mencium kening Dee.


"Aku akan pergi melihat keadaan Pak Jhon," ujar Kane.

__ADS_1


"Bukankah kau sudah mulai memanggilnya Ayah?" ingat Dee.


Kane mengisi paru-parunya dengan udara. "Ya, Ayah."


"Bolehkah aku ikut juga?"


"Kau baru saja mengalami kejadian buruk."


"Ya, walau begitu aku juga mengkhawatirkan keadaannya." Wajah Dee nampak tulus, tidak ada kepura-puraan.


Setelah berpamitan pada Jesper dan Jason mereka pergi ke rumah sakit. Sesampainya di depan rumah sakit mereka sudah ditunggu oleh Patrik.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Kane.


"Keadaannya sangat lemah dan butuh penanganan khusus dari Dokter," jawab Patrik mengikuti langkah kaki Kane.


"Dimana dia?"


"Di ruang IGD, dokter sedang melakukan penanganan padanya."


Nafas Kane menjadi sesak seketika. Mendadak bayangan masa lalu kembali menerpa nya, dimana dia membawa Dee ke ruang IGD. Kepalanya mendadak pusing.


Dee yang melihat perubahan diri Kane yang mendadak pucat langsung khawatir, memeluk tubuh Kane yang tinggi.


"Tenanglah semua akan baik-baik saja," ucap Dee menenangkan Kane.


"Dee kau tidak akan meninggalkan aku lagi kan?" Hanya kalimat itu yang Kane luncurkan dari mulut Dee.


Dee tersenyum. "Tergantung, jika kau baik dan berjanji akan mempercayaiku seperti kau mempercayai dirimu sendiri, maka aku akan berada di dekatmu."


Kane meletakkan kepala Dee dalam dekapannya dan memeluknya erat. "Aku sangat membutuhkanmu sekarang untuk melalui semua ini."


Dee mengangguk.


Mereka lantas ke ruangan dimana Pak Jhon berada. Seorang dokter mendekat ke arah Kane.


"Keluarga dari Tuan Jhonny Siahaan?"


"Iya saya putranya."


"Anda putranya? Dia berkata bahwa tidak punya keluarga sama sekali."


"Tidak,kami semua keluarganya. Saya putranya dan ini menantunya," ujar Kane meyakinkan.


"Kalau begitu kita bisa berbicaralah di ruangan saya, biar lebih nyaman."

__ADS_1


"Kondisi Tuan Siahaan tidak terlalu baik bahkan bisa dibilang buruk. Dia menderita kanker hati yang sudah masuk ke stadium akhir."


Kane menghembuskan nafas berat dan menahan sesak yang ada di dada. Dee memegang terus tangan Kane.


"Sudah berapa lama ayahku menderita sakit ini?"


"Saya menangani penyakitnya sudah bertahun-tahun, sekitar lima tahun."


Dee dan Kane saling menatap.


"Apakah ada yang bisa kita lakukan untuk membuatnya bisa sehat kembali atau setidaknya membuat dia tidak terlalu merasakan sakit."


Kane tidak bisa membayangkan bagaimana selama ini Pak Jhon menahan rasa sakitnya sendiri. Padahal selama ini jika dia atau Jesper sakit, Pak Jhon yang menangani.


"Bisa dengan melakukan operasi pencangkokan hati, tapi itu juga


berisiko mengingat umur Pak Jhon yang tidak muda lagi. Saya malah takut akan menambah sakitnya."


"Ya, tubuhnya juga belum tentu menerimanya cangkok hati baru dan kuat menjalani operasi itu." sambung Kane.


"Betul, Tuan Yang. Bisa-bisa Tuan Siahaan malah akan mengalami komplikasi sewaktu proses operasi."


"Lagi pula Tuan Siahaan sudah pasrah dengan semua yang akan menimpa dirinya. Saran saya, cukup beri dia ruang dan waktu untuk bisa menikmati masa hidupnya yang kita tidak tahu bisa sampai kapan."


"Menurut Anda berapa lama lagi Ayah saya bisa bertahan hidup?"


"Saya bukan Tuhan yang bisa tahu umur seseorang tapi menurut keadaan yang sedang dialami Tuan Jhon, mungkin tiga bulan dia bisa bertahan asal kalian bisa membangkitkan semangat hidupnya. Atau jika Tuhan berkehendak malah bisa berumur panjang. Terkadang hal seperti ini bisa terjadi jika kita berusaha untuk melakukan proses penyembuhan."


"Baiklah kalau begitu saya akan berusaha membahagiakan dia dan memberi semangat hidupnya ke depan."


Setelah berbincang panjang lebar dengan Dokter. Kane dan Dee pergi masuk ke ruangan Pak Jhon.


Tubuh Pak Jhon penuh dengan alat bantu kehidupan. Nafasnya nampak berat terlihat dari yang memompa oksigen ke dalam paru-parunya.


Dee memegang lengan tangan Kane, memilih berjalan dibelakang Kane.


Kane lantas berdiri di dekat Pak Jhon. Tangannya berkeringat dingin dan Dee bisa merasakan ketegangan itu dari eratnya tangan Kane memegang tangannya.


"Ayah...." Panggil Kane lirih dan bergetar.


Kelopak mata Pak Jhon bergetar lalu terbuka pelan. Yang pertama dia lihat ada wajah Kane.


Netranya yang cekung dan berkerut mulai berembun. Sebuah kata berusaha dia ucapkan dengan susah payah.


"Maaf," ujar Pak Jhon hampir tidak terdengar.

__ADS_1


Kane langsung memeluk tubuh kurus dan lemah itu. Tangisnya pecah.


"Tidak, jangan meminta maaf padaku jika kau menganggapku sebagai anakmu karena orang tua tidak pernah melakukan salah pada anaknya. Aku tidak tahu alasanmu tapi kau harus berjanji padaku untuk sehat lagi dan kita bicarakan masalah ini. Kau tahu, aku takut sekali melihat kau seperti ini, Ayah.''


__ADS_2