
"Baiklah, aku akan membeli semua minuman itu," kata Kane.
"Semua Paman?" tanya Jason lagi. Kane menganggukkan kepalanya.
Dia lalu membuka dompet dan mengeluarkan semua isinya. Mata Jason melebar melihatnya.
'Ibu pasti akan memujiku nanti dan aku akan dibelikan ice cream dan ayam krispi yang banyak,' batin Jason senang.
Kane lalu menyuruh sopirnya untuk memasukkan semua minuman itu beserta wadahnya ke dalam mobil.
Dia lalu pergi masuk ke dalam mobil dan mobil mulai berjalan pelan karena kemacetan sudah mulai bisa diatasi.
Di saat itu Dee baru saja kembali dari toko buah. Dia melihat meja standnya telah kosong.
Buah ditangannya langsung jatuh. Dia berlari mendekati Jason yang malah asik memainkan pedangnya.
Dia mencari dagangannya di setiap sudut stand itu.
"Jason? Kau kemanakan barang dagangan Mama?" tanya Dee dengan putus asa dan frustasi. "Termos dan isinya, buah-buahan, plastik dan semuanya kemana? Mama bisa rugi kalau begini! Jason kenapa tidak menjaganya dengan baik?"
"Sudah dibawa oleh Paman Burung besar," jawab Jason santai.
"Jason! Mama sedang tidak bercanda!" bentak Dee.
"Jason juga sedang tidak bercanda."
Dee sudah kehilangan kesabaran. Dia merebut pedang dari tangan Jason dan menarik telinganya.
"Aduh sakit, Ma!" ucap Jason meringis kesakitan.
"Sekarang jawab Mama kemana barang dagangan Mama,
"Jason!" teriak Dee.
"Sudah dibeli Paman Burung Besar," ucap Jason. Berhalusinasi apa lagi anak ini, siapa Paman Burung Besar?
"Jason, Mama sedang tidak bercanda!" teriak Dee keras sehingga bisa di dengar oleh pedagang lain.
"Tadi ada pria berpakaian jas, tampan datang dan mengambil daganganmu," cerita pedagang yang tidak jauh dari Dee.
Dee meminta penjelasan dari Jason. Jason membuka topengnya dan menyerahkan pada ibunya.
"Huft, panas!"
Ingin rasanya Dee menabok keras anak ini tapi jika dilakukan di luar maka dia akan terkena pasal penganiayaan anak.
Jason merogoh celananya lalu yang lembaran ratusan ribu keluar dari baliknya dan beberapa diantaranya berjatuhan ke tanah.
__ADS_1
"Uang? Uang banyak, dari mana?" tanya Dee memungut uang itu.
"Paman Burung Besar membeli semua dagangan itu. Lihatkan, kita bisa untung besar," ujar Jason bangga. "Anak Mama yang ini memang genius. Bisa menjual semuanya dengan cepat."
"Bagaimana bisa?" tanya Dee.
"Bisa karena Paman Burung Besar itu kaya raya dan uangnya banyak. Dia juga baik cuma sombong," ujar Jason.
Dee lalu mencium anaknya sendiri. "Kau memang anak keberuntunganku," ujarnya.
"Mama senangkan?" tanya Jason.
"Senang sekali. Besok kau bantu Mama jualan lagi," kata Dee.
"Okey! Tapi nanti Mama belikan aku ayam krispi dua paket ya?"
"Iya Sayang," Dee mencium putranya itu.
Di sisi lain, Kane melihat kebersamaan Dee dan anaknya. Dia menghela nafas. Dee masih sama seperti dulu, ceroboh dan mudah panik.
Di kediaman Kane, Pak Jhon memijat kakinya yang pegal. Seharian ini dia dibuat sibuk oleh tingkah Jesper. Anak itu banyak merajuk dan berbuat ulah.
Seseorang mengetuk kamar Pak Jhon.
"Masuk!"
"Apalagi yang dia buat?"
Pak Jhon bangkit menegakkan punggungnya yang telah bungkuk. ''Akh!" desis nya kesakitan. Dia lalu berjalan menuju kamar Jesper.
Terdengar teriakan anak itu dari lantai bawah yang Pak Jhon lewati.
"Ada apa lagi Jesper?" tanya Pak Jhon.
"Sudah kukatakan jika aku mau minum cokelat tapi tidak ada yang mau membuatkan."
"Ini sudah malam jika kau minum itu kau tidak akan bisa tidur nanti malam." ujar Pak Jhon menasihati Jesper.
"Pokoknya buatkan!" perintah Jesper kesal.
Mobil Kane baru saja masuk halaman rumah ketika pelayan mendekatinya dengan panik.
"Ada apa?" tanya Kane
"Tuan Muda sedang mengamuk di kamarnya."
Kane langsung menyerahkan tasnya kepada pelayan itu dan berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Sedangkan Rosemary yang sedang ikut bersamanya mengikuti dari belakang.
__ADS_1
Kane lantas membuka pintu ketika Jesper sedang melemparkan bantal ke arah tubuh tua Pak Jhon.
"Jesper!" bentak Kane. Wajah Jesper memucat ketika melihat Kane. Dia lantas melihat lantang ke arah ayahnya.
"Kau itu memang harus diberi pelajaran!" ujar Kane.
"Silahkan saja Papah berikan pelajaran padaku. Nyatanya, hanya itu cara agar Ayah mau dekat denganku jika tidak, melihat pun enggan kan Pah?" ungkap Jesper dengan suara bergetar.
Kane terdiam tidak bisa menjawab. Dia lantas menyuruh semua keluar dari kamar Jesper.
Candy seperti tahu Tuannya sedang bersedih. Tubuhnya menggelung di kaki Jesper, sambil mengusapkan kepala di kaki Jesper memberinya dukungan dan kekuatan.
"Jesper, tidurlah, Papa sedang tidak ingin berdebat denganmu." Kane lantas membalikkan tubuhnya hendak melangkah pergi ketika Jesper memanggilnya.
"Tunggu Papa ! Katakan padaku kenapa kau membenciku? Apa karena aku menyebabkan Ibu pergi selamanya?" ucap Jesper tersengal-sengal. Dia selama ini menahan tangisnya. Kini dia biarkan begitu saja tangisnya keluar.
Selama ini Jesper tahunya ibunya telah meninggal dunia setelah melahirkannya.
Kane tidak menjawab pertanyaan Jesper. Dia mematikan lampu, keluar dari ruangan itu dan menutup pintu, membiarkan Jesper sendiri dalam kegelapan.
Jesper mengambil Candy dan memeluknya lalu membawa ke tempat tidur. Menangis terisak.
"Mama, kenapa kau tidak membawaku serta pergi bersamamu. Ma...." Isak Jesper.
Rosemary yang mendekati Kane. Niatnya dia hendak merayu Kane agar bisa tidur bersamanya. Nyatanya karena anak itu, mood Kane langsung berubah drastis.
Rosemary mengusap lengan Kane lembut. Kane terdiam sejenak.
"Kane kau butuh teman dan Jesper butuh seorang Ibu yang menyayangi. Beri aku kesempatan untuk menjadi ibunya.
"Sebaiknya kau pulang saja Rose, aku ingin sendiri. Sopir akan mengantarmu pulang," ujar Kane.
Kane memanggil pelayan untuk mengantarkan Rose pulang ke rumahnya.
Rose lantas berjalan keluar dari ruangan itu. Dalam hatinya dia menatap benci melihat kamar Jesper. Dulu, ibunya merebut Kane darinya kini anaknya pun tidak memberi jalan padanya untuk dekat dengan Kane.
'"Jika aku menjadi istri Kane maka yang pertama akan ku singkirkan adalah kau!" batin Rosemary.
Dee yang sedang menyetrika baju di kamarnya tiba-tiba merasa sakit dibagian dadanya. Seolah ada yang sedang mengingatnya.
Dia lantas menoleh melihat ke arah Jason yang tidur pulas di atas tempat tidurnya. Dee mematikan setrika nya dan mendekat ke arah Jason.
Mengusap kepala anak itu dan menciumnya.
"Sayang Ibu, anak Mama yang satunya, kau sedang apa? Apa kau sedang sedih? Ibu ikut merasakan kesedihanmu. Datanglah mendekat pada Mama jika kau bisa, Nak. Mama akan menunggumu di sini."
Dia memegang dadanya. Berpikir apa yang harus dia lakukan untuk bisa melihat anak satunya lagi? Kane pasti tidak akan membiarkan dia mendekati anak itu.
__ADS_1