Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 61 Perpisahan yang Menyakitkan


__ADS_3

Di saat Kane ingin masuk, pintu kembali tertutup.


"Istriku, bagaimana keadaannya?" tanya Kane.


"Kami tidak tahu, tapi kami sedang berusaha untuk menolongnya. Harap bapak tenang."


"Bukankah sudah kukatakan untuk selamatkan dia terlebih dahulu dari pada anak ini!" teriak Kane. Air mata yang tidak pernah keluar selama ini kini runtuh.


Rasa bersalah, sesal, takut kehilangan dan putus asa bercampur aduk menjadi satu. Dia seperti orang yang kehilangan akal.


Bayi itu menangia keras tapi Kane tidak memperdulikan nya. Dia lebih perduli dengan keselamatannya Dee.


Bidan itu tidak tahu harus melakukan apa kini? Ibu bayi sekarat dan ayahnya malah tidak mengharapkan anak ini.


Anak itu akhirnya diterima oleh Pak Jhon. Dia yang menimang nya. Wajahnya sangat mirip dengan Kane kecil.


"Dee kumohon bertahanlah. Jika kau hidup aku tidak akan pernah mengusikmu lagi. Kau akan bebas menentukan hidupmu ke depannya," lirih Kane.


Emilio bisa merasakan kesedihan Kane kali ini. Dia pun ikut takut dan sedih dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Mereka menunggu dua jam lamanya hingga akhirnya dokter keluar ruangan.


Kane langsung bangkit mendekat.


"Pasien selamat, namun anak keduanya tidak bisa kami selamatkan," ujar Dokter itu.


Kane bisa bernafas lega kali ini. Dia benci dengan pengkhianatan Dee, tapi dia lebih sakit jika harus melihat Dee pergi untuk selamanya.


Dee dipindahkan ke ruangan perawatan. Emilio berdiri di dekat pintu. Kane sendiri hendak masuk ketika Emilio mencegahnya.


"Kali ini aku tidak akan membiarkan Dee sakit lagi olehmu!" tegas Emilio sakit hati karena gara-gara Kane Dee kembali sakit. Sudah cukup semau penderitaan yang Dee terima pikir Emilio.


"Aku hanya ingin mengucapkan perpisahan padanya," ucap Kane sulit.


"Pegang kata-katamu! Mulai kini kau tidak boleh mendekati adikku lagi," tandas Emilio.


"Bukan aku yang memulai masalah ini, aku pun tidak ingin semua terjadi seperti ini. Jika kau tahu rasanya dikhianati kau akan menjadi gila. Seperti itu juga aku."


"Namun, aku tidak berharap menjadi seperti ini. Aku tidak ingin melihat Dee terluka dan kehilangan bayinya."


"Dia bahkan hampir meregang nyawa karena tindakan bodohmu, kau itu terlalu emisional sehingga kerap melakukan hal berbahaya yang kau sesali pada akhirnya.''


Kane diam saja. Dia tahu dia yang salah kali ini. Kane masuk ke dalam ruangan Dee. Dia berdiri di sebelah Dee. Menatapnya penuh perasaan.

__ADS_1


Dia menyentuh wajah Dee untuk terakhir kalinya. Menciumnya lembut dan dalam, menyatukan kedua pipi mereka.


Bibirnya bergetar ketika ingin mengucapkan sesuatu. "Kau tahu jika kau adalah orang pertama yang kucintai di dunia ini. Dari awal aku tahu, jika aku tidak boleh mencintaimu karena tahu cinta ini akan menyakitiku."


"Namun, aku bersyukur mengenalmu, mengenal cintamu dan melihat senyumanmu yang menghiasi hariku walau sebentar."


"Aku sampai sekarang tidak tahu apakah kau mencintaiku atau tidak?"


"Hal yang paling aku sesali adalah sifat membangkangmu, hingga akhirnya kau mengkhianatiku Dee."


Dada Kane terasa sakit dan sesak. Dia memukulnya keras. "Itu sangat sakit sekali di sini, Dee," ujar Kane.


"Aku tidak tahu, mengapa kau dulu kembali padaku setelah aku melepaskanmu. Tapi jika itu karena kau ingin menyakitiku, kau berhasil Dee," ujar Kane.


"Aku ingin sekali membencimu, tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa karena aku begitu mencintaimu."


Kane sendiri tidak tahu seperti apa kehidupannya ke depan tanpa Dee yang menemani.


"Jika hidup bersamaku itu adalah beban untukmu, maka aku akan akhiri beban itu. Aku akan membiarkan kau memilih hidupmu sendiri dan aku tidak akan melarangnya lagi. Tapi ingat satu hal, jika ada seorang pria yang akan mencintaimu dengan sepenuh hatinya," bisik Kane di telinga Dee.


"Selamat tinggal Dee, hiduplah bahagia tanpaku," ungkap Kane dengan terbata-bata. Dia berlalu pergi begitu saja.


Di saat Kane menutup pintu mata Dee terbuka.


Di saat itu Emilio masuk ke dalam.


"Dee kau sudah sadar?" panggil Emilio.


"Kane?" ucap Dee lirih dan serak.


"Jangan pikirkan dia lagi, dia sudah pergi."


Dee menggelengkan kepala, menangis keras. Dia tahu dia salah tapi seperti biasa dia tidak diberi kesempatan untuk menjelaskannya.


"Panggil dia untukku," pinta Dee pada Emilio.


Emilio menggelengkan kepalanya. Dee lantas turun hendak mencari Kane dan menarik tapi infus ditangannya.


"Aku harus mengejarnya," pinta Dee. Namun tubuhnya yang lemah membuatnya hampir jatuh, untung Emilio memegangnya.


"Dee relakan dia," kata Emilio.


Dee kembali berbarinh di tempat tidur. Menangisi takdir yang begitu buruk untuknya.

__ADS_1


"Aku mencintainya, aku hanya ingin mengatakan jika aku mencintainya," ungkap Dee sepenuh hati berharap Emilio bisa membantunya.


Emilio menyeka air mata Dee. "Aku tahu, tapi kau tidak akan pernah hidup bahagia dengannya karena kau dan dia berbeda."


Dee meraung keras. Tidak pernah dia melakukan ini di depan orang lain, memperlihatkan kesedihannya yang dalam.


Tiba-tiba dia teringat jika dia sedang hamil dan kecelakaan itu? Perutnya? Dia melihat dan menyentuhnya ternyata sudah kempes.


"A-anakku?" tanya Dee panik.


"Satu sudah meninggal dunia," ungkap Emilio. Tangis Dee semakin kencang. Dia akhirnya kembali pingsan.


Emilio memanggil Dokter untuk datang dengan panik.


***


Kane setelah dari rumah sakit langsung membawa anaknya ke Shanghai dengan jet pribadi.


"Tuan," panggil Pak Jhon.


Kane menoleh.


"Apakah Anda tidak ingin menggendongnya barang sejenak?" tawar Pak Jhon berharap Kane bisa menerima anaknya.


Kane menghela nafas dalam. Tersenyum getir. Dia lalu menyuruh pengasuh untuk membawa anaknya mendekat.


Pengasuh itu meletakkan anak itu ke pangkuan Kane.


"Dia belum diberi nama," ujar Pak Jhon.


Kane teringat pembicaraannya Dee dengannya sebelum semua masalah itu terjadi.


'Aku ingin memberi nama anak ini Jesper dan Jesslyn jika salah satu anak perempuan," ujar Dee.


'Jika yang satu lelaki, beri nama Jason," imbuh Kane.


'Kedengarannya indah.'


"Aku memberi nama King Jesper Yang," ungkap Kane memejamkan matanya. Rasanya sakit teringat akan Dee. Dia tidak bisa menatap mata anak ini lagi karena matanya sama dengan Dee.


"Ambil dia," pinta Kane dengan dada yang sesak. Tangan anak itu seperti ingin meraih Kane, tapi Kane malah membuang muka.


"Tuan?" Pak Jhon yang melihatnya ikut merasakan sedih. Kane memilih menjauh dari anak itu. Apalagi ketika anak itu menangis keras. Kane hanya menatapnya diam. Entah apa yang ada dalam pikirannya?

__ADS_1


'Ini adalah anak kita dan aku tidak akan membiarkan dia menangis dan kesepian,' kata-kata Dee terus terngiang di kepalanya. Ingin rasanya dia tertidur dan berharap semua itu hanya mimpi belaka.


__ADS_2