
Pagi harinya Dee memasak sarapan dan bekal makanan untuk anaknya. Jesper masuk ke ruang makan yang langsung berhadapan dengan dapur.
"Kau sudah siap, Sayang?" tanya Dee terkejut. Biasanya dia akan membangunkan Jason dan memandikan nya kini anaknya malah sudah rapih dan siap untuk berangkat sekolah.
"Ya, Ma," jawab Jesper tersenyum cerah. Malam tadi dia bermimpi indah tentang keluarganya yang tinggal bersama dan saling bercengkrama.
"Aneh, biasanya kau penuh drama setiap paginya. Pamanmu Emilio belum akan pulang dua hari ini jadi kau masih ikut bis sekolah. Ibu hari ini sudah mulai bekerja jadi tidak bisa mengantar jemput mu ke sekolah."
"Kau lupa jika ada aku, Dee," sela Rizki yang tiba-tiba masuk ke ruang makan.
"Kau kapan datang?" pekik Dee senang. Rizky datang mendekat dan memeluk Dee seperti sahabat. Namun, itu membuat Jesper tidak suka. Mamanya hanya untuk papanya tidak boleh untuk orang lain.
"Tadi malam, aku tidak langsung mau kemari karena tidak ingin mengganggumu," ujar Rizky . Dia berjalan mendekat ke arah Jesper yang terlihat biasa saja melihatnya. Biasanya anak itu akan heboh menyambut kalau lama tidak bertemu dengannya.
"Hai, jagoan! Kau sakit, kok diam saja?" tanya Rizky mengacak rambut Jesper yang sudah disisir rapi dan mencium pucuk kepalanya.
Wajah Jesper nampak tidak senang, dia merapikan lagi rambutnya dengan wajah muram. Ekspresi tidak biasa Jesper membuat Dee mengernyit.
"Aku sudah membawakanmu hadiah tapi ada di rumah. Kita bisa kesana nanti sepulang kau sekolah."
"Tidak perlu, Paman. Aku sudah punya semuanya jadi tidak perlu hadiah dari mu."
"Jason, kau kenapa?" tanya Dee yang tidak suka dengan sikap Jason yang terlihat angkuh. Jika seperti ini, dia terlihat persis sama dengan ayahnya, Kane.
Rizky pun heran dengan sikap Jason yang berubah 180 derajat. Biasanya anak itu akan memanggilnya ayah iky dan wajahnya selalu tersenyum bahagia, anak itu juga akan bersikap manja padanya.
"Mama, ini sudah siang aku harus bersiap berangkat sekolah menunggu bis datang." Jesper tidak ingin membuat perbedaan tajam karena dia sudah bisa menebak ekspresi ibunya yang tidak senang dengan apa yang dia lakukan pada pria dewasa di depannya.
__ADS_1
Dia tidak tahu bagaimana cara Jason bersikap pada semua orang karena karakter mereka berbeda. Sejenak dia takut jika Jason membuat kerusuhan di rumahnya. Takut jika dia akan mendapatkan hukuman dari sang ayah.
***
Di rumah Kane.
Jason makan dengan sikap marah. Dia memakai tangan untuk memakan sandwich miliknya. Batinnya kesal karena semua yang telah terjadi ditambah makanan ini hanya akan mengganjal sebentar perutnya. Dia terbiasa makan dengan nasi.
"Jesper, gunakan sendok! Bersikaplah selayaknya keluarga Yang yang berkelas!"
"Aku sudah kenyang!" kata Jason melihat Kane dengan tatapan berani tapi menggemaskan. Tatapan dan gaya yang sama seperti Dee ketika marah. Anak itu juga menghentakkan kaki sebelum pergi meninggalkan ruang makan itu.
Kenapa akhir-akhir ini anak ini bersikap seperti Dee, gayanya semua hal terlihat mirip dengan wanita itu. Rutuk Kane dalam hati. Atau mungkin karena dia terlalu memikirkannya. Kane hampir gila memikirkan semua ini. Kembalinya dia ke negara ini malah membawa kembali kenangan lama yang sudah ingin dia lupakan.
"Pak Jhon, apa kau melihat sesuatu yang aneh pada Jesper?" tanya Kane.
"Tapi kelakuannya membuat kepalaku pusing. " Kane memijit kepalanya.
"Mungkin dia melihat sikap anak-anak disekolah jadi dia mengikutinya. Tadinya dia bersikap dewasa karena mengikuti semua gerakan kita."
Sebelum ini, Kane dan Jesper tinggal di Shanghai, walau terkadang Kane datang kemari untuk melihat usahanya tapi waktunya lebih banyak dihabiskan di sana.
Jesper sendiri lebih banyak di rumah. Banyak guru yang Kane datangkan untuk membuat Jesper lebih unggul dari pada anak lainnya. Hal itu dia lakukan untuk membuat otak geniusnya lebih berkembang lagi. Namun, Pak Jhon mengusulkan agar Jesper sekolah yang seumuran anak itu agar bisa berinteraksi dengan teman-teman seumuran.
Kane menghela nafas. "Kau benar, mungkin seperti itu."
Sopir rumah masuk ke ruangan dan memberi hormat pada Kane.
__ADS_1
"Tuan, Tuan Muda tidak ingin berangkat sekolah kalau tidak diantarkan oleh, Tuan."
Kane yang mendengar langsung mengelap mulut dan berjalan ke ruang utama dimana Jason sedang duduk santai dengan kucingnya, Candy.
"Jason! Ada apa lagi?"
"Aku hanya ingin pergi ke sekolah dengan Papah," ujarnya tanpa melihat ke arah Kane.
"Papah sibuk tidak bisa mengantarmu, kau bisa berangkat bersama Pak Sopir," balas Kane dingin.
Jason ingat dengan kata-kata ibunya ketika sibuk dengan pekerjaannya tapi tetap mengurusnya dengan baik. 'Mama memang butuh, uang tapi bagi Mama kau yang utama. Mama bekerja keras demi dirimu dan masa depan cerahmu. Jadi bila mama sudah bekerja dan kau tidak bahagia, itu akan terasa sia-sia kan?'
"Ayah sibuk untuk apa? Untuk cari uang kan? Uang untuk apa? Semua demi aku dan masa depanku kan? Demi kebahagiaanku?"
"Lalu untuk apa semua itu jika aku tidak bahagia. Bahagiaku jika bersama dengan Papa." ungkap Jason, "dan Mama," lanjut Jason pelan tidak terdengar
"Lalu jika bahagia Papah adalah uang, maka aku akan cari Mama saja yang akan menyayangi dan mencintaiku. Aku tidak butuh Papah yang egois dan pemarah!"
"Jesper! Kau lancang berbicara seperti itu pada orang tua? Apakah ini yang gurumu ajarkan padamu di sekolah."
Jason yang memang punya jiwa pemberani dari Kane dan pemberontak dari Dee lalu naik ke atas kursi agar tingginya sama dengan Ayahnya.
"Apakah seperti itu tingkah seorang Papa pada anaknya, hanya marah-marah saja? Sedangkan yang kulihat tidak seperti itu. Seorang Papah akan mengantar anaknya sampai pintu gerbang sekolah dan menciumnya. Papah akan menemani anaknya bermain dan menggendongnya serta memeluknya. Papah akan melindungi anaknya dari orang yang akan melukainya. Tapi kau malah memukul pantatku dengan keras tadi dan selalu memarahiku, Papah macam apa itu? Aku mau ganti saja!" ungkap Jason dengan berapi-api. Melipat tangan di dada sambil menggembungkan pipi.
Dia menunggu Ayahnya meluapkan kemarahannya dan melirik, tapi Kane malah terdiam dengan wajah merah padam dan dua tangan terkepal.
"Kenapa? Papa mau pukul aku lagi? Kalau iya aku akan bilang pada Ma... maksudku Polisi. Biar Papa di masukkan penjara."
__ADS_1
Pak Jhon hanya bisa memegang dahinya. Semua yang Jesper katakan memang benar, tapi melawan ayahnya juga tidak benar. Malah akan membuat penyakit untuknya.