
"Nyonya Besar?" pekik Emilio langsung berlari ke pintu utama. Cindy dan David berjalan masuk ke dalam rumah.
"Aku dengar kau menyembunyikan menantuku di sini karena aku mencarinya di rumah satunya tidak ada?" tanya Cindy.
"Bukan menyembunyikannya hanya ingin mendapat suasana berbeda."
"Oh, dimana menantuku?" tanya Cindy. David sendiri lebih asik melihat interior rumah itu.
"Kalau begitu saya akan memanggil Nona Dee turun?"
"Nona?"
"Maksud saya Nyonya," kata Emilio merasa tidak enak. Dia langsung pamit untuk naik ke atas.
"Rumah kakak ini memang berbeda dengan rumah kakak yang satunya tapi dua-duanya sangat indah. Kakak punya selera tinggi," ujar David.
"Hmm, seharusnya kau itu malu dengannya, mengapa dia yang tidak memiliki apapun dan fasilitas apapun bisa menjadi seperti ini sedangkan kau, memiliki semua yang anak lain inginkan. Kekayaan dan kekuasaan keluarga, tapi kau tidak kemampuan untuk menyaingi kakakmu!"
"C'mon Mom, jangan bandingkan aku dengan Kakak. Dia dan aku berbeda."
"Benar dan itu membuatku kesal. Aku sudah berusaha menyingkirkannya agar kau bisa menjadi orang nomer satu di keluarga kita. Tapi kau malah menyiakan apa yang Mom perjuangkan. Kau tumbuh menjadi pria yang manja."
Mereka lantas terdiam ketika melihat Dee turun ke bawah. Wanita itu tersenyum pada Cindy dan David.
"Tidak seharusnya Kakak mendapatkan wanita secantik itu," bisik David di telinga Mama Cindy. Mama Cindy melirik tajam sekilas pada David dan mencubit pria itu sedikit keras.
"Jaga sikapmu!"
"Selamat siang, ....?" Dee tidak tahu harus memanggil apa pada Cindy.
"Panggil saja Mom, seperti yang lainnya!" Cindy mendekat dan mencium pipi Dee. Dee tersenyum canggung.
"Hai," sapa David mencium pipi Dee satu, sebagai penghormatan.
Dee merasa kaku karena berdekatan dengan David. Dia tersenyum canggung.
"Silahkan duduk, Mom dan adik ipar," kata Dee.
"Panggil aku David saja itu terdengar akrab." Karakteristik pria itu terlihat humble tidak seperti Kane yang kaku dan dingin.
"Okey, David."
"Aku membawa ini untukmu," Mom Cindy menyerahkan bawaannya beberapa paper bag untuk Dee.
"Apa ini?" tanya Dee melihat isi di dalamnya.
"Itu adalah baju hamil dan juga herbal dari China untuk menguatkan kandungan dan menyehatkannya."
"Mom, ini terlalu bagus," kata Dee melihat baju bermerk yang ada di dalamnya.
"Dan ini?" Dee nampak terkejut melihat ada kotak perhiasan di dalamnya. Dia membuka dan itu ternyata satu set perhiasan emas berlian.
__ADS_1
"Ekhm! Aku kemari diutus oleh Ayah Kane untuk datang menemuimu. Sebagai seorang mertua sudah seharusnya aku memberikan apa yang seharusnya seorang Ibu lakukan. Ini adalah kotak perhiasan yang harusnya di dapatkan oleh menantu di keluarga Yang. Kini kuberikan padamu!"
"Mom, ini ... aku tidak bisa menerimanya. Aku tidak seharusnya mendapatkan ini." Dee menyeka air matanya. Baru kali ini dia mendapatkan perhatian dari orang lain dan itu dari keluarga Kane. Sesuatu yang tidak pernah dia dapatkan sebelumnya. Dia terharu.
Mom Cindy datang memeluk Dee. Menyeka air matanya. "Tidak ini seharusnya digunakan oleh menantu pertama kelurga Yang dan kau adalah menantu kami jadi kau berhak untuk ini."
"Belum lagi, selama ini Kane tidak pernah mendapatkan apa-apa dari kami, sehingga rasa bersalah bersarang dari dadaku."
"Aku ingin membawa Kane kembali ke keluarga Yang dan menyatukan ayah dan anak yang sudah lama bertengkar."
Dee terdiam pura-pura tidak mengerti apa yang terjadi antara Kane dan keluarganya.
"Kau lihatkan pertengkaran mereka kemarin?" Dee mengangguk.
"Sebenarnya ini hanya sebuah kesalahpahaman saja," lanjut Mom Cindy.
"Untuk itu aku dan David datang kemari untuk memperbaiki hubungan itu. Kane dan ayahnya sama-sama keras, sepertinya sulit untuk menyatukan keduanya kecuali kita bersatu untuk melakukannya." Mom Cindy mengatakannya dengan wajah sendu dan penuh penyesalan.
"Dee dari awal melihatmu aku tahu kau orang yang berbeda. Kau nampak baik dan tulus, mungkin karena itu Kane memilihnu sebagai istrinya," sambung David.
Dee terbatuk mendengarnya. Dia hanya istri sementara Kane bukan istri sesungguhnya.
"Aku yakin kau akan membantu kami memperbaiki hubungan yang telah lama putus ini."
"Aku sangat berterima kasih karena Mom mau datang kemari. Aku juga setuju dengan perkataan Mom untuk membuat Kane dan Ayahnya bisa bersatu kembali walau itu tidak mudah. Tidak ada yang tidak mungkin bukan?"
Dee melihat kotak perhiasan di tangannya dan dia serahkan kembali pada Mom Cindy.
"Aku mengerti."
"Baju ini aku akan menerimanya karena ini pemberian dari seorang ibu mertua untuk menantunya," jawab Dee tersenyum manis.
"Kau memang wanita yang bijak Dee, kau layak bersanding dengan Kane," ujar Mom Cindy mengusap lembut rambut Dee.
Dia lantas menyentuh perut Dee.
"Sudah berapa bulan?" tanya Mom Cindy.
"Lima bulan lebih hampir memasuki bulan ke
empat."
"Wah, sudah mulai terasa dong gerakan baby-nya di perut?"
Dee mengangguk.
"Aku sudah tidak sabar melihat calon keponakanku," ucap David.
"Apa jenis kelaminnya?"
"Laki-laki," jawab Dee.
__ADS_1
Mom Cindy langsung melihat David dengan ekspresi sulit dimengerti.
"Wah, anak lelaki, penerus keluarga Yang akan datang," pekik David antusias.
Dee mengangguk.
"Semoga dia bisa lahir dengan selamat dan sehat."
"Aamiin," jawab Dee
Mereka lalu berbicara tentang kehamilan Dee panjang lebar. Setelahnya mereka pamit pulang.
"Datanglah ke kediaman kami di sini Dee. Untuk sementara ini aku akan tinggal di Indonesia lebih lama. Rindu akan suasana rumah ini tempat dimana aku dilahirkan."
"Oh, Mom dari Indonesia?"
"Ya, Ayah Kane yang orang Tiongkok asli," jawab Mom Cindy. Dee mengangguk.
"Jika kau tidak bisa maka kami yang akan mengunjungimu. Aku sangat senang mempunyai menantu, sama saja mempunyai putri yang aku inginkan sejak lama," ujar Cindy.
"Bolehkan aku mengganggapmu sebagai putriku?"
Mereka lantas saling berpelukan.
Setelah itu, Dee melambaikan tangan mengiringi kepergian mertua dan adik iparnya.
Belum juga Dee masuk ke rumah mobil Kane masuk dan berhenti di halaman. Emilio yang melihat langsung membuka pintu mobil.
"Tuan!" panggil Dee.
"Bisakah kau memanggil namaku saja?"
Dee mengatup bibir rapat.
"Untuk apa mereka kemari?" tanya Kane.
"Mereka hanya datang untuk mengakrabkan diri denganku!"
"Bullshit, mereka pasti punya tujuan tertentu kau jangan termakan ucapan mereka!" ujar Kane.
"Kau juga jangan langsung memandang buruk dengan niat baik mereka," tandas Dee masuk ke rumah mendahului Kane.
Kane melihat banyaknya barang diatas meja ruang tamu.
"Apakah itu yang mereka bawa untukmu?"
"Buang saja!"
"Jangan, kumohon, ini pemberian seorang Ibu untukku, kumohon jangan!" pinta Dee.
"Aku bisa memberikan lebih untukmu," jawab Kane.
__ADS_1
"Tidak nilainya. Kau tidak tahu betapa berharganya ini untukku. Untuk pertama kalinya aku merasa punya keluarga dan dianggap keluarga. Jangan lakukan itu terlepas apapun niat mereka padamu!"