
Dee tertidur di sisi Kane setelah Kane memaksakan kehendak untuk melayaninya. Dia sebenarnya tidak ingin memaksa Dee tapi sebagai seorang pria dia benar-benar menginginkan wanita itu. Wanita yang sedang hamil anaknya.
Masih ada jejak air mata yang tertinggal di sudut mata Dee. Melihatnya membuat Kane merasa sedih. Dia mengusapnya dengan jari telunjuk, lalu mencium pipi Dee yang seputih pualam dalam.
Mendekapnya dalam dada dengan erat. Hatinya merasa jika saat ini dia tidak ingin kehilangan wanita itu, tidak ingin dia pergi dan dimiliki oleh orang lain. Tidak rela.
Kane tidak tahu mengapa perasaan itu tiba-tiba muncul. Dia sangat marah ketika pertama kali tahu Dee punya kekasih yang dia tunggu kedatangannya. Darahnya mendidih ketika sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Dee dan itu rupanya dari pria itu. Kane diam-diam mengkloning handphone Dee sehingga tahu semua panggilan dan pesan yang masuk ke dalam handphonenya.
Berani sekali wanita itu mempermainkan dia? Selama ini tidak ada yang berani dengannya. Hanya Dee yang selalu lantang membantah apa yang dia katakan dan meruntuhkan batas kesabarannya.
Dia lalu ikut memejamkan mata bersama Dee. Merasakan kenyamanan yang selama ini tidak dirasakan. Karena Dee, dia bahkan belum bisa tidur selama beberapa hari ini. Kini dia melupakan semuanya, terbuai dalam mimpi indah bersama dengan Dee dan anak mereka nantinya.
Dee membuka mata sedikit ketika sinar mentari pagi mulai mengusik tidurnya, dia memejamkan mata lagi karena merasa malas untuk bangun. Terasa semilir udara dingin mengenai kulitnya, dia memeluk erat guling agar merasa lebih hangat lagi.
Kenapa gulingnya terasa panas dan keras? Otak Dee mulai berpikir dan teringat akan kejadian semalam. Dee membuka mata lebar dan menatap Kane sedang melihat ke arahnya.
"Selamat pagi?" ucapnya dengan sebuah senyum seperti iklan dalam Pepsodent. Dee terkejut, selama ini Kane tidak pernah tidur di tempat tidur sama dengan dirinya. Bahkan meninggalkannya
Dee melepaskan diri dari tubuh Kane, bangkit hendak pergi ke kamar mandi. Kane langsung membuang selimut yang menutupi tubuh mereka berdua lantas mengangkat tubuh Dee begitu saja membawanya ke kamar mandi.
"Lepaskan aku!" seru Dee memberontak. Dia tidak senang jika Kane berada di dekatnya apalagi menyentuhnya.
Kane tetap saja membawa Dee ke kamar mandi meletakkannya di pinggir bathtub dan mulai menyalakan air.
Dee menekuk tubuhnya malu dengan keadaan mereka yang tidak tertutup satu helai benang pun.
"Aku sudah melihatnya berkali-kali dan juga merasai setiap incinya. Untuk apa kau malu?"
Dee membuang wajah ke samping, pipinya nampak bersemu merah dan itu menggemaskan bagi Kane.
Setelah air sudah siap Kane mengambil tubuh Dee dan meletakkannya ke dalam. Dia ikut masuk.
"Biar aku menggosok tubuhmu," ucapnya lembut tidak seperti biasanya.
Dee menatap Kane dengan takut.
__ADS_1
"Aku tidak akan melakukan hal lebih hanya ingin membantumu saja membersihkan diri. Aku tahu jika wanita hamil tidak boleh sering melakukan itu."
Dee menarik nafas lega. Dia tidak mungkin akan menolak karena Kane tidak menerima penolakan.
Kane memandikannya dengan sangat bersih, dia seperti bayi yang pasrah dengan keadaan. Seperti janjinya Kane tidak melakukan hal lebih padanya.
Dia bahkan membantu Dee mengenakan pakaian dan mengeringkan rambut.
"Beberapa hari lagi ayahku akan menyelenggarakan pesta ulangtahun pernikahannya. Dia mengundang kita berdua untuk datang."
Dee menatap Kane dari pantulan cermin dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang ada dalam otaknya.
"Kau pasti ingin bertanya dari mana orang tuaku tahu hal ini?"
Pria itu memang sering bisa menebak pikirannya. Batin Dee.
"Dia orang yang teliti tentu tahu berita apapun tentang diriku."
"Jangan kau tanya kenapa aku tidak datang bersama dengan Liliana. Setelah insiden itu aku memutuskan hubunganku dengannya."
'Ya, kau hanya peduli dengan anak ini saja.'
"Tubuhmu semakin kecil saja tidak seperti orang hamil pada umumnya. Jika kau ingin makan apa saja tinggal katakan pada pelayan karena mereka akan memberikan apa yang kau mau atau jika kau merasa segan tinggal katakan saja pada Emilio," ungkap Kane.
"Sudah! Kau terlihat cantik dengan gaun ini. Seperti seorang bidadari." Kane mencium pucuk kepala Dee dan menghirup aromanya. Aroma vanilla yang mulai disukainya.
Kane lantas bersiap, Dee hanya diam tidak bergerak. Tidak membantunya sama sekali. Kane mendekat dengan memegang dasi bercorak garis biru tua dan putih yang melintang miring. Dasi itu sesuai dengan warna jas yang Kane gunakan. Tubuhnya yang proporsional dan atletis memang cocok untuk dikenakan pakaian apapun.
"Bisakah kau membantuku memasangkannya?" tanya Kane.
"Aku orang rendahan tidak tahu cara memasangkan dasi," sindir Dee. Sebenarnya dia tahu bagaimana caranya, hanya saja dia terlalu malas untuk berada di dekat Kane.
Seorang pelayan mengetuk pintu kamar.
"Masuk!" ucap Kane.
__ADS_1
"Tuan, sarapan pagi telah disiapkan."
Kane menganggukkan kepalanya. Dia lalu menarik tangan Dee menuju ke lantai bawah. Menarik kursi untuknya. Dee lantas duduk. Kane sendiri malah memilih pergi ke dapur. Dee nampak tidak peduli. Di saat yang sama Emilio menatapnya dengan tatapan yang dalam. Dee membuang muka, marah.
Dia marah pada pria itu karena telah melukai Rizki. Apakah pria itu tidak punya hati sehingga tega memukulnya hingga babak belur dan membuang kekasihnya ke depan pintu gerbang sebuah rumah sakit tanpa memberi Rizki pertolongan terlebih dahulu?
Apakah perintah atasan lebih penting dari pada sebuah nyawa bagi pria yang sudah dia anggap sebagai satu-satunya teman dalam lingkup rumah Kane?
Dee kecewa dan sakit hati pada Emilio.
Hal mengejutkan datang dari Kane, walau ini bukan yang pertama tetapi pria itu berusaha bersikap manis pada Dee. Dia membawakan Dee segelas susu cokelat yang hangat. Meletakkan di depan Dee lantas menarik kursi dan duduk persis menghadap Dee.
"Minumlah susu ini dulu," ucapnya lantas menyendokkan susu itu dan memberikan pada Dee. Semua pelayan melihat perhatian Kane yang diluar dari biasanya.
Dee memalingkan wajah ke arah berlawanan.
"Dee, kau sudah tahu jika aku tidak suka dengan perlawananmu!" ungkap Kane rendah tapi tegas.
Dee menggigit bibirnya sendiri dengan keras karena kesal. Dia menatap Kane tajam netranya menampilkan kemarahan yang terpendam.
Kane tidak peduli. Dia menyuapi Dee dengan sabar hingga susu dan sepotong sandwich habis tidak bersisa.
"Aku akan pergi bekerja, mungkin akan kemari malam atau tidak sama sekali. Makanlah selagi aku tidak ada. Jangan ikut siksa anakku jika kau sedang marah."
Dee diam. Kane mengangkat dagu Dee dan menciumnya. Dee tidak kunjung membuka mulutnya sehingga gigitan kecil dia lakukan. Dee akhirnya pasrah dengan apa Kane yang lakukan.
Setelah itu Kane mengusap perut Dee yang mulai menonjol.
"Anak Papa yang baik di dalam ya, jangan sulitkan ibumu," kata Kane. Lantas melangkah pergi. Emilio mengikutinya.
"Apa kau sudah suruh pria itu untuk menghilang dari kota ini?" samar-samar suara Kane terdengar menjauh.
Mata Dee yang mendengar membelalak lebar. Dia lantas bangkit dan berjalan mengikuti Kane.
"Kalau dia masih keras kepala juga buang dia ke luar pulau ini atau kembalikan dia ke tempat kerjanya yang dulu! Aku tidak ingin dia mendekati Dee lagi! Satu lagi, suruh teman wanitanya untuk tidak memberikan kabar apapun pada Dee jika ingin selamat!"
__ADS_1
Dee membuka mulutnya lebar. "Apakah yang Kane maksud adalah Rizki? Jika iya maka dia dalam kondisi tidak baik-baik saja." Rasa cemas menggelayut dari diri Dee. Dia harus memikirkan cara untuk bisa lolos dari Kane.