Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 51 Semuanya Hanya Sandiwara Belaka.


__ADS_3

Kane menyipitkan mata. Ia melihat ada banyak barang yang dibawa oleh keluarganya. Terlebih yang saat ini ada di dalam genggaman Dee. Kane mengalihkan pandangan ke wajah Dee. Kemudian ia kembali menatap nyalang pada Cindy.


"Kalian berusaha menyogok istriku?" sarkas Kane.


"Kane." Park Yang ingin membuka suara. Tetapi Cindy menahannya. Wanita itu menoleh ke arah Kane.


"Kane, sudah saatnya kau menerima kami. Untuk apa kita bermusuhan. Lihat istrimu. Dia sudah hamil 6 bulan. Sebentar lagi pasti akan mendekati lahiran. Mom ini pernah melahirkan. Mom yakin kalau Dee juga butuh teman. Dee tidak boleh stress. Di akhir-akhir mendekati lahiran nanti. Lihat wajahnya, Kane. Dia senang kami datang. Lalu untuk apa kau memusuhi kami?" Cindy berbicara dengan nada lembut.


"Kane! Mereka keluargamu. Lihat, mereka memberiku perhiasan yang cantik. Kemarin Mom juga bawa perhiasan buat aku. Sekarang Mom bawa lagi. Menurutmu, mereka akan mencelakaiku? Aku sedang mengandung anakmu. Tidak mungkin mereka melakukannya. Mom, Ayah. Ayo, masuk." Dee malah menyuruh mereka semua untuk masuk. Namun, Kane masih ragu.


"Tidak, sebelum aku mendapatkan jawaban!" sentak Kane.


"Kane! Mom membawa perhiasan satu set untukku. Aku yakin ini mahal. Tapi, bukan perkara nominalnya. Aku sangat terharu dengan mereka. Sebagai anak yatim, diterima oleh keluargamu saja aku sudah bahagia. Apakah kau masih tidak mengerti keinginanku?" Kedua mata Dee berkaca-kaca. 


Ia menatap sendu ke arah Kane yang mematung. Kane menghela napas. Sangat sulit untuk sukses berdebat dengan Dee. Lalu matanya kini beralih pada keluarganya. Sayangnya, saat ia hendak berbicara malah Dee mendahuluinya.


"Ayo, silahkan masuk. Kenapa malah berdiri saja di luar?" Dee menarik tangan Cindy. Namun, Cindy menahan tangan Dee. Seketika senyuman di bibir Dee lenyap.


"Kane, mom, Ayahmu dan David. Kami semua minta maaf bila dulu kami sudah berbuat tidak adil padamu. Dan kami ingin menebusnya saat ini. Jadi, bisakah kita kembali lagi seperti dulu?" Cindy memelas. Ia memasang wajah sedih agar sanubari Kane tergerak untuk memaafkannya.


"Cih! Pintar sekali dia berakting!" Kane membatin penuh kebencian.


"Terserah!" Kane memilih masuk ke dalam rumah mewah itu. 

__ADS_1


Ia mengabaikan keluarganya yang masih berdiri di ambang pintu. Dee mengamati kepergian punggung lebar suaminya. Meski Dee juga kesal pada Kane, tetapi karena suasana hatinya sedang baik, Dee memilih untuk mengabaikannya.


"Abaikan saja, Mom. Dia memang dingin. Tapi, Kane pria baik. Pelayan, tolong bawa barang-barang ini ke dalam kamar ya. Sekalian minta pada pelayan lain untuk mengambilkan minuman." Dee memerintah seorang pelayan dengan lembut. 


Tentu saja pandangan ini tak luput dari mata David. Hingga Dee membawa mereka semua untuk masuk ke dalam rumah. Dengan penuh semangat Dee menceritakan bahwa interior rumah khas China seperti ini membuatnya merasa nyaman.


Dari kejauhan, Kane terus mengawasi tiga orang tamu itu dengan tatapan mata nyalang. Bahkan Kane nyaris tidak berkedip. Hatinya diliputi amarah dan rasa kesal yang bertumpuk. Ia sangat paham bagaimana karakter semua anggota keluarganya. Seulas senyuman terbit di bibirnya.


"Aku tidak bodoh. Tiga orang itu sejak dulu membenciku dan bahkan menganggapku mati. Juga bukankah mereka pernah mengatakan bila aku merupakan sumber penderitaan mereka. Sebenarnya apa yang membuat mereka tertarik padaku? Tidak mungkin rasanya mereka berbuat baik tanpa alasan. Lagipula iblis ingin menjadi malaikat? Jangan bercanda! Itu hanyalah sebuah khayalan." Kane membatin kesal.


"Sudah lama kami tidak berkunjung seperti ini. Percayalah, ini mungkin saja hari yang baik," kata Cindy.


"Baik untuk kalian, tapi tidak denganku," sela Kane.


"Tapi, Sayang. Kau lagi hamil. Jangan terlalu lelah." Cindy merapatkan tubuhnya pada Dee. 


Tentu saja mendapatkan perhatian begitu, Dee semakin senang. Sangat jarang baginya mendapatkan kasih sayang. Kane melihat Dee yang sangat percaya dengan wanita ular itu. 


Kane tak bisa mengatakan apapun karena saat ini bagi Dee ini merupakan kesempatan untuk merasa disayangi dan dikasihi. Terbukti Dee selalu tersenyum lebar. Hal itu membuat Kane tak tega untuk menghancurkan kebahagiaan Dee.


"Apa kau sekarang menjadi pengangguran sehingga memiliki waktu untuk datang ke sini?" tanya Kane.


"Kakak bicara padaku?" balas David.

__ADS_1


"Bukan, aku berbicara pada setan. Menurutmu siapa yang sedang aku tatap? Oh, mungkin saja yang ada di depanku ini merupakan sejenis simpanse atau hantu gentayangan," sarkas Kane.


Dee mendelik. Bisa-bisanya Kane berbicara galak. "Kane!"


"Ck! Baik-baik. Tentu saja aku berbicara denganmu. Kau pikir aku berbicara dengan siapa lagi? Bukankah seharusnya kau masih bekerja? Setidaknya bekerja keras karena Diamond sedang goyah," ketus Kane.


"Tadinya David ingin bekerja di sana. Tapi ayah memintanya untuk ikut ke sini. Karena ayah ingin kita semua menjalin hubungan yang lebih baik dari masa lalu." Park Yang menyela. 


Membuat Kane semakin muak dengannya. Di saat terakhir pun rupanya Park Yang masih membela David. Kane menatap Park Yang dengan tajam. Namun pandangan itu terputus karena ada pelayan yang menghidangkan teh dan camilan.


"Setelah minum teh alangkah baiknya kalian semua pulang. Mengingat aku sudah berbaik hati menampung kalian di sini, jadi harapanku hanya satu. Yaitu kalian segera pergi dari sini. Aku yakin kalian memiliki jadwal yang sangat padat. Secara kalian semua kan orang-orang yang hebat. Bukan orang-orang yang terbuang," sarkas Kane.


Karen ucapan Kane, Cindy dilanda emosi. Harga dirinya seolah sedang diinjak-injak. Seakan Kane sedang mengatakan bahwa orang yang pernah kalian buang saat ini telah menjadi orang yang hebat. Cindy mengepalkan kedua tangan.


"Kane, bisakah kau bersikap sedikit ramah dengan mereka? Bagaimanapun mereka keluargamu, Kane." Dee kembali mengontrol emosi Kane. Membuat Kane memijat pelipisnya.


"Benar, Kane. Kita ini keluarga. Tidak seharusnya kita bermusuhan. Lagipula ayah sudah tua. Sudah saatnya kita hidup berdampingan dan tidak lagi bermusuhan. Apa kau ingin berada di situasi tidak akur hanya seperti ini?" Park Yang menatap putra sulungnya itu dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.


"Aku tidak peduli dengan yang namanya hubungan. Asal istriku mau bersamaku sampai kapanpun, aku tidak membutuhkan apapun lagi. Toh aku tidak akan mati hanya karena sesuatu yang tidak penting," balas Kane.


"Sepertinya Kak Kane sangat mencintai istrinya, Yah. Bahkan terlihat kentara. Benar bukan Kakak Ipar? Kakakku ini pasti begitu bucin." Kali ini David ikut berbicara. Kata-kata David tentu saja membuat Dee menjadi salah tingkah. Wanita itu pun mengulum senyuman.


"Ck! Apakah sudah selesai basa-basinya? Kalau begitu, mari kita bahas. Apa sebenarnya tujuan kalian semua kemari? Aku bukan orang bodoh. Sekali lagi aku tegaskan jangan membodohi aku." Kane tak lagi mampu menahan diri. Ia mengeluarkan kata-kata yang bernada sarkan tapi tepat sasaran.

__ADS_1


__ADS_2