Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 64 Sama-sama tidak diinginkan


__ADS_3

"Maaf, Pa. Tapi Kakek Jhon ingin membuang kucingku. Aku tidak mau! Pokoknya aku tidak mau Kakek buang kucing aku! Jangan dibuang!" Jesper semakin merekatkan pelukannya pada si kucing hitam itu. Ia tidak ingin dipisahkan dengan kucing yang Jesper pikir seperti dirinya. Sama-sama kesepian.


Kane melirik kucing yang ada di pelukan Jesper. Apakah karena kucing lusuh itu, Jesper dan Pak Jhon berdebat? Kane melihat bagaimana putranya sangat protektif terhadap kucing kotor itu.


"Dia sama seperti aku. Keras kepala, pembangkang dan sulit diatur." Kane membatin dan menarik napas dalam-dalam.


"Jesper, biar saja kucing jelek itu dibuang oleh Kakek Jhon. Dia sangat dekil dan kotor. Nanti mengotori kamarmu. Ayo, dibuang saja," kata Kane tegas.


"Tidak mau. Aku tidak mau kucing yang lain. Aku mau kucing yang ini. Dia harus dapat kasih sayang. Siapa tahu Setelah nanti dia dirawat dia akan berubah menjadi kucing yang cantik." Jesper masih dengan pendiriannya. 


Ia menatap nyalang pada putranya itu. Namun, alih-alih Jesper takut, bocah berusia 5 tahun itu tidak takut sama sekali. Jesper menatap Kane dengan tatapan datar. Melihat tatapan mata Kane yang tidak bersahabat, kucing hitam itu semakin menyembunyikan wajahnya yang kumal ke dalam pelukan Jesper.


"Lihat. Dia akan mengotori bajumu! Ayo, berikan pada Kakek Jhon supaya dia bisa menggantinya dengan kucing yang lebih baik. Kau jangan membuat ulah, Jesper. Papa lelah dan kau malah membuat keributan?" Kane seolah lupa dengan anaknya yang masih berusia 5 tahun itu. Bocah itu terlalu kecil untuk memahami sang papa yang lelah bekerja. Baginya kucing itu hanya pelipur hati untuk menepis rasa kesepiannya.


"Pa, kau menakuti kucingku. Jesper tidak ingin membuang kucing ini. Aku yakin dia akan menjadi cantik nanti. Bisakah Papa memberikan kesempatan?" Suara merdu Jesper menyentak lamunan Kane. Matanya yang sendu menyiratkan kesedihannya. Namun Kane terlalu lelah untuk memahami rengekan bocah berusia 5 tahun itu.

__ADS_1


"Kesempatan apa? Kau hanya akan menyakitinya kalau membiarkan dia ikut denganmu masuk ke dalam kamar, Jesper. Dia akan mencakarmu!" Kane mencoba untuk menakuti sang putra. Akan tetapi lagi-lagi Kane melupakan IQ tinggi milik putranya.


"Tidak. Dia tidak akan menyakitiku. Karena yang terus menyakiti aku itu Papa sendiri. Aku hanya ingin ditemani kucing hitam ini, apakah aku masih termasuk melakukan kesalahan, Pa? Aku juga ingin memiliki teman, Pa. Apakah karena aku dan kucingku ini sama-sama tidak diinginkan makanya Papa ingin membuangnya? Apakah itu berarti Papa juga akan membuangku suatu hari nanti?  Mengapa Papa tidak pernah  melihatku? apakah karena aku jelek  sama seperti kucinpg ini? Makanya Papa ingin membuang kucing jelek ini juga?" Jesper bertanya dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Ia sedih melihat kucing hitam yang ingin dibuang sang papa.


Kane tertegun mendengar kata-kata Jesper kecil. Pria itu hanya berulang kali mengerjapkan mata bingung. Di belakangnya Pak Jhon juga tampak menatap sendu Jesper yang sedang sedih. Dari gelagatnya, Pak Jhon yakin bila Jesper pasti akan menangis sebentar lagi.


"Apa maksudmu? Memangnya siapa yang ingin membuangmu? Papa kan selama ini hanya bekerja mencari uang untukmu. Kenapa kau tiba-tiba mengatakan bila papa akan membuangmu?" Suara Kane sedikit melunak.


"Benar, Jesper. Untuk apalagi papamu mencari uang? Tentu saja itu semua untuk masa depanmu. Supaya kau tidak merasa kesulitan dengan biaya sekolahmu." Kali ini Pak Jhon ikut berbicara. Ia tak bisa melihat cucunya itu terluka.


"Tapi, Papa selalu memarahiku. Papa juga tidak pernah bermain denganku! Apakah karena aku tidak seperti Papa yang hebat makanya Papa ingin membuangku?" Jesper berbicara sambil terisak. Ia tak mampu menahan kesedihannya. Setelahnya Jesper yang terluka dan kecewa, ia langsung segera berlari keluar rumah.


Mungkin bagi Kane itu semua tidak berarti apapun. Namun apakah Kane lupa bila Jesper tidak pernah mendapatkan kasih sayang layaknya anak pada umumnya? Kane hanya selalu sibuk pada pekerjaannya. 


Setiap hari pria itu akan berangkat pagi dan pulang larut malam. Begitulah keseharian  Kane  di rumah besar itu . Tanpa sadar seiring waktu 5 tahun telah berlalu Kane melupakan Jesper kecil yang selalu merindukannya.

__ADS_1


Jesper kecil yang malang. Dia sangat berprestasi di usianya yang masih dini. Pak John selalu mengatakan jika Jesper mendapatkan prestasi yang bagus,  maka Kane akan senang dan perhatian padanya. 


Namun lagi-lagi Jesper tidak mendapatkan perhatian yang dia inginkan. Bahkan saat ia sudah bersusah payah untuk mendapatkan prestasi, Kane selalu mengabaikannya. Sekalipun tidak pernah terlintas pada pria itu untuk memuji sang putra yang telah berhasil meraih prestasi di usianya yang kecil.


Setiap hari Jesper berharap papanya akan senang dengan prestasi yang didapatkannya. Di usia yang masih 3 tahun saja, Jesper berhasil menjuarai lomba pidato bahasa Inggris. Begitu pula dengan lomba menggambar dan mewarnai yang cukup membanggakan bagi sekolahnya.


Saat itulah Jesper kecil sangat senang ketika ia melihat papanya pulang dari bekerja seharian di kantor. Kala itu Jesper kecil berlari membawa piagam penghargaan yang telah dimenangkannya ke pangkuan sang papa. Namun, Jesper kecil tidak mendapatkan pujian maupun perhatian apapun dari Kane. Bocah malang itu ditinggalkan begitu saja dengan sejuta harapan yang telah dihempaskannya.


Jesper kecil tidak mendapat cinta maupun kasih sayang layaknya bocah pada umumnya. Ia dibesarkan oleh kemewahan yang tidak berarti paginya. Setiap hari ia kesepian di saat teman yang lainnya selalu bermanja pada orang tuanya. 


Jesper hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Padahal bukan kemewahan yang ia inginkan. Hanya sebuah kasih sayang dan pujian sedikit saja maka bocah itu sudah sangat senang. Jesper hanya bisa melihat punggung Kane berlalu menjauh.


Bahkan di usianya yang saat ini menginjak 5 tahun Jesper mampu menguasai bahasa Inggris dan mandarin. Dia juga hampir diterima masuk oleh Sekolah Dasar karena dia sangat pintar dan jenius. Namun lagi-lagi keberhasilan bocah itu sama sekali tak menyentuh sudut nurani Kane sebagai seorang papa. Jesper telah kehilangan seluruh harapan serta kebanggaannya pada sang papa.


"Ck! Apakah dia tidak memiliki sopan santun? Begitukah kesehariannya? Mengabaikan orang tua yang ada di dekatnya?" Suara Kane seperti menahan amarah.

__ADS_1


"Kane, dia hanyalah anak kecil. Biarkan saja. Nanti dia kembali lagi. Aku akan membujuknya lagi nanti. Dia anak yang baik. Kau istirahatlah. Aku yakin kau lelah, Kane." Pak Jhon mencoba untuk menekan amarah Kane. Pria tua itu tahu bila Kane lelah. Namun, Pak Jhon juga sadar kalau Jesper terlalu kecil. Tingkahnya yang kekanakan masih terbilang wajar baginya.


Dari kejauhan, Jesper menatap sendu sang papa. "Papa hanya selalu marah padaku."


__ADS_2