Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Tawanan Cinta sang Perwira


__ADS_3

Yups... seperti janji author, author akan meneruskan cerita tentang Ara Maheswari, bayi Dee dan Kane yang hilang di pulau Bali. Kok jadi Arandita? Penasaran, kepoin yukkk...


***


"Bayu, itu Krisna," pekik Arandita pada sosok yang berdiri di sudut lain di sebuah aula besar mabes polri. Dia seolah menemukan hidupnya lagi setelah sekian lama mati terkubur kesedihan.


"Jangan mendekat Ara, dia bukan Krisnamu lagi, dia sudah menjadi milik orang lain," ungkap Bayu dengan tatapan sedih.


"Tidak ... dia Krisnaku, aku sudah lama menunggunya datang, tidak mungkin dia ...," perkataan Arandita terputus ketika seorang wanita cantik dengan pakaian kebaya berwarna hijau tua datang menghampiri Krisna.


Wanita itu memeluk lengan Krisna. Krisna pun menatapnya dengan senyuman dan penuh cinta. Di depan mereka berdiri orang tua Krisna yang terlihat ikut bahagia.


Arandita mengenal wajah wanita itu. Itu adalah sahabatnya sendiri ketika berada di SMU, Maulia Permaisuri. Dadanya seketika merasa sesak.


Waktu terasa berhenti seketika. Penantiannya selama tiga tahun ini menjadi sia-sia karena diam-diam Krisna sudah punya pengganti dirinya. Ya, pria itu mengkhianatinya.


Dengan langkah pelan dan gontai, Ara mendekati dua sejoli itu. Keduanya netranya sudah memanas dan memerah.


"Mas, bajumu ini kurang rapi lho, sebentar," ujar Lia merapikan seragam Polisi milik Krisna.


Ini adalah acara kenaikan pangkat dan penghargaan untuk para pegawai dalam institusi Polri yang sudah memberikan diberikan untuk meningkatkan motivasi dan perbaikan kinerja Kepolisian.


"Lihat, betapa perhatiannya Nak Lia padamu, Krisna. Selain cantik dia juga sabar dan juga pengertian. Kau beruntung memilikinya," ujar Ibu Saodah mendekat dan memeluk bahu Lia dengan penuh kasih sayang.


"Kau juga beruntung punya menantu seperti dia, kan Bu," lanjut Pak Mukhlis menatap bangga pada menantunya.


Lia yang sedang dipuji menunduk malu. "Ibu dan Bapak bisa saja. Saya yang beruntung punya suami seperti Mas Krisna dan mertua seperti kalian."


Lia mengangkat wajahnya menatap sosok di depannya. Krisna membalas tatapan Lia dengan penuh cinta juga.

__ADS_1


"Semua yang orangtuaku katakan itu benar, Dek. Karenamu aku masih bisa berdiri di sini. Terimakasih banyak."


"Sepertinya, setelah Lia masuk, kegembiraan selalu datang pada keluarga kita. Aku rasa dia Dewi keberuntungan yang dikirimkan Tuhan untuk kita semua. Terbukti, Krisna yang hampir menemui maut bisa selamat. Itu semua berkat dirimu."


Dunia Arandita seakan hancur seketika, setelah mendengar percakapan keluarga itu. Dia, teringat momen kebersamaan mereka yang terjadi tiga tahun lalu. Ini tidak adil.


Selama ini dia dan Krisna berjuang untuk mendapatkan restu orang tua Krisna namun hanya penolakan yang dia dapatkan. Kini wanita itu dengan mudah karena mendapatkannya. Apa salahnya?


'Aku iri dengan dirinya yang bisa dengan mudah mendapatkan cintamu, tanpa harus berjuang mati-matian sepertiku dulu.'


Bayu memegang pundak Arandita. "Neng, yang sabar, ya," ujarnya berbisik.


Ibu Saodah tanpa sengaja menoleh dan melihat ke arah Arandita dengan raut wajah sengit dan mengejek. Dia memeluk anak dan menantunya bersamaan.


Arandita menarik nafasnya panjang.


Nama Krisna Prambudi dipanggil untuk menerima penghargaan kenaikan pangkat oleh negara. Krisna berjalan naik ke podium dan menerima penghargaan dengan penyematan bintang di dada Krisna atas keberhasilannya menggagalkan penyelundupan narkoba terbesar se-Asia tenggara. Semua bertepuk tangan dengan gembira tidak terkecuali wanita yang tadi menemani Krisna.


Setelah mendapatkan penghargaan itu, Krisna datang mendekati Maulia dan mencium keningnya.


Kaki Arandita mundur ke belakang. Sepertinya dia sudah tidak kuat untuk melihat semua kenyataan yang ada. Krisna terlihat acuh padanya setelah menemukan wanita yang akan menemani hidup pria itu ke depannya.


Arandita pergi berlari meninggalkan aula tempat berlangsungnya acara. Dia menyesal datang setelah melihat apa yang telah terjadi. Seminggu yang lalu, Kepala Polisi yang dikantornya memberi tahu padanya bahwa Krisna telah ditemukan hidup dan akan kembali ke Jakarta untuk mendapatkannya penghargaan dari negara. Dia lantas datang bersama dengan Bayu.


Bayu ingin mengejar, tapi namanya telah dipanggil untuk menerima penghargaan juga.


Flash back


Jakarta, tiga tahun yang lalu.

__ADS_1


Hal terakhir yang Arandita butuhkan adalah kedatangan Krisna malam ini. Oleh karena itu, dia ada di sini. Terombang-ambing bagaikan kapal dalam badai, berjalan ke laut yang tenang dan menepi ke sebuah pelabuhan.


Astaga ini tidak adil bagi Arandita, tapi dia tidak dapat pergi tanpa menemui wanita itu untuk terakhir kalinya. Mungkin ini benar-benar terakhir kalinya, jika misi yang dia lakukan bersama dengan teman-temannya gagal. Selain itu, penolakan keras orang tuanya pada Arandita membuat dia harus berpikir ulang tentang hubungan mereka.


Krisna berjalan perlahan menyusuri koridor temaram dan berhenti di depan rumah sederhana milik Arandita.


Untuk pertama kali dalam hidupnya dia ketakutan, bukan karena memikirkan tentang misi berbahaya yang akan dia lakukan. Dia khawatir apa yang Arandita katakan itu benar. Dia harus memilih antara orang yang paling dia cintai, Arandita atau orang yang melahirkannya, ibunya.


Hatinya sungguh sakit dan pikirannya menjadi kalut. Dia tidak bisa berpisah dengan kekasihnya, tapi dia tidak bisa melihat orang tuanya meninggal dunia di depannya. Ibunya kemarin terkena serangan jantung karena Krisna tetap ingin menikahi Arandita.


Menelan gumpalan rasa bersalah yang menyumpal kerongkongannya, Krisna menatap sepatu bot miliknya, berusaha mengerahkan sedikit keberanian.


Sepatunya yang basah mengotori lantai keramik putih yang diinjaknya. Meninggalkan jejak di sana seperti dia yang akan meninggalkan jejak di hati Arandita.


Krisna melihat jam tangannya, terdiam sebentar, ini sudah pukul sembilan lebih. Mungkin Arandita sudah tertidur. Apakah dia harus membangunkannya untuk memberitahu sesuatu hal yang membuat wanita itu sedih?


Namun, dia tidak bisa meninggalkan wanita itu tanpa berpamitan dan berbohong setelahnya.


Tangan Krisna dengan ragu diangkatnya. Terdiam sejenak baru mengetuk dengan lembut. Mungkin gadis itu tidak ada di rumah. Dia mungkin masih ada di ruang sakit, katanya dia baru saja magang di sebuah rumah sakit. Mungkin sebaiknya dia berbalik saja dan menghilang selamanya.


Terlambat, dia mendengar langkah kaki dari dalam rumah dan knop pintu mulai berputar. Pintu terbuka sedikit dan wanita itu mengintip.


"Hai," sapa Krisna dengan anggukan kaku saat melihat kekagetan di mata kecil yang lembut itu.


Segala tentang Arandita adalah tentang kelembutan. Senyumnya yang tulus membuat pria seperti Krisna rela melewati lautan bara api untuknya.


Namun, dia kini akan menjadi bara api itu yang akan membakar cinta dan hubungan mereka menjadi debu. Dia mungkin akan sangat menyakitinya.


"Mas Krisna, bukannya kau ada di Jambi?" Kelegaan, kebahagiaan dan kepedulian mewarnai nada suara Arandita.

__ADS_1


"Aku baru saja dari bandara dan langsung ke sini," kata Krisna berbohong. Sebenarnya dia baru saja mengantar ibunya ke rumah sakit setelah ibunya mencoba bunuh diri karena dia meminta ijin untuk menikahi Arandita.


Begitu polos, begitu murni dan terlihat sangat rapuh, itulah diri Arandita. Krisna tidak bisa membayangkan dia akan melukai hati wanita itu begitu dalam.


__ADS_2