Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 46 Mulai Memahami


__ADS_3

"Ini sangat lezat dan kau pengertian sekali, tahu kalau aku lapar. Aku memang makan terakhir bersamamu," ujar Dee melirik ke arah Kane, memakan makanan itu dengan cantik serta seksi ikuti cara difilm drakor yang dia tonton.


"Hmm ini enak sekali, sayang kubuatkan tidak mau memakannya," ujar Dee melirik ke arah Kane yang asik dengan handphonenya.


Dee mengambil lagi menggulung spagetti di sendoknya dan dia mencondongkan tubuh menyerahkan pada Kane.


"Kau belum makan juga kan, makan ya," bujuknya lembut. Kane berdiri. Dee memegang tangannya erat.


"Jangan marah lagi," ucapnya dengan suara sedih. Kane menepis tangan Dee, pergi keluar kamar. Dee meletakkan makanan itu dan mengikuti Kane.


"Aku waktu itu hanya berpelukan untuk perpisahan bukan seperti yang kau pikirkan," jelas Dee.


Kane terdiam, pergi ke kamar sebelah hendak menutup pintu tapi tubuh Dee menghalangi. Kane menghela nafas panjang. Dia membiarkan Dee masuk.


"Kau teruskan makanmu saja!"


"Tidak bisa tanpa kau," lirih Dee penuh harap.


"Dee aku ingin sendiri, jangan dekati aku lagi!" Kane sebenarnya ingin bersikap tegas tetapi melihat wajah Dee, dia tidak pernah tega.


"Kau masih marah padaku?"


"Seharusnya?" balik Kane melipat tangan di dada.


"Ya, kau memang semestinya marah, tapi jangan lama-lama," rajuk Dee lagi dengan wajah innocent.


"Dee ini bukan perkara main-main. Kau sudah terlalu menyakiti hatiku. Kau berkali-kali meminta pergi dariku hanya karena pria itu dan aku melihat kalian berdua di sebuah ruangan tertutup, berpelukan. Itu sangat melukai hati dan harga diriku, sebagai pria dan suami, " terang Kane.


"Aku tahu itu bukan hal baik. Penjelasan ku pun tidak mau kau dengarkan. Jadi percuma saja karena kau tidak pernah mau mendengarkan orang lain."


"Aku kembali karena kau, tapi jika kau tidak mau besok aku akan pergi lagi, sudahkah, percuma saja! Kau boleh teruskan marahmu padaku," ungkap Dee lesu. Menundukkan dan menurunkan bahu, lalu membalikkan tubuh berjalan pergi.


Ketika dia hendak melangkahkan pergi Kane mengatakan sesuatu padanya.


"Hanya seperti itu?" ejek Kane.


"Seperti apa? Aku tidak tahu harus apa untuk membujukmu," seru Dee menangis.


"Kemari!" panggil Kane dengan kerasnya. Walau begitu dia masih begitu tampan. Kenapa Dee tidak bisa melihatnya dari kemarin. Dia kesal dengan kenyataan itu.


Seperti seorang anak kecil Dee mendekat sambil menundukkan kepala.


"Berbalik!" perintah Kane lagi.

__ADS_1


"Apa?" Dee kebingungan tapi tetap menurut.


Plak!


Sebuah pukulan mengenai pantatnya yang berukuran besar karena hamil. Tidak terlalu keras tetapi membuat Dee terkejut.


"Aww, sakit," desis Dee.


"Itu untukmu yang pergi menemui lelaki lain," kata Kane.


Satu kali lagi dilayangkan Kane. "Ini untuk berpelukan dengan pria lain."


Dan yang ketiga Dee memeluk Kane sambil menggelengkan kepala. Kane sudah menaikkan tangannya lalu diturunkan lagi. Dia mencapit keras hidung Dee dengan dua jarinya.


"Ini karena melawan ku untuk membelanya." Sesudah itu Kane mengusap punggung Dee dan membalas pelukannya. Tiba-tiba si kecil di dalam perut Dee menendang perut Kane keras.


"Sepertinya mereka juga senang, ayah dan ibunya baikan," gumam Dee sambil menghirup aroma citrus yang dia sukai dari diri Kane.


"Siapa bilang kita baikan," ujar Kane melepaskan pelukannya. Dee menengadah sambil manyun.


"Aku. Aku tidak suka kita bertengkar," ujar Dee tersenyum cerah, membuat Kane menatapnya sendu.


"Sejak kapan? Biasanya kau yang terus mengajakku bertengkar, marah dan ngambek sampai berbulan-bulan."


"Hanya itu?" tanya Kane melemah.


"Lalu kau minta apa lagi?" balik Dee membuat Kane gemas dan kesal.


Dia melepaskan tangan Dee yang memeluk tubuhnya erat. Namun, Dee malah tambah memperkuat pelukannya.


"Dee, jika hanya karena itu kau bisa cari seseorang yang bisa memberikan kenyamanan padamu."


"Nyatanya, aku tidak mau yang lainnya. Aku hanya ingin kamu saja," ucap Dee.


Kane kesal karena Dee tidak kunjung mengatakan cinta padanya. Apakah itu terlalu sulit untuk diucapkan? Padahal jika itu diucapkan semua masalah akan selesai.


"Dee...."


"Jangan biarkan aku sendiri lagi. Aku sangat takut kemarin," terang Dee meneteskan air mata.


"Tapi hal itu membuatku sadar jika aku tidak ingin kehilanganmu karena...."


Perut Dee kembali berbunyi keras, membuat momen romantis itu buyar seketika. Padahal Kane sedang ingin mendengar Dee mengungkapkan perasaan hatinya.

__ADS_1


"Kali ini aku benar-benar kesal dengan anak ini, padahal dia belum lahir tapi tahu cara membuat masalah."


"Masalah apa? Mereka hanya ingin bilang kalau mereka lapar, tetapi ayahnya tidak mau tahu dan memperhatikan mereka. Padahal ayahnya tahu kalau ibu mereka tidak akan makan jika tidak bersamanya," omel Dee kesal membuat Kane gemas.


"Kalau mereka besok tumbuh jadi anak yang nakal seperti ibunya, aku akan memukul pantat mereka," ujar Kane.


"Belum apa-apa kau sudah mengancam calon anakmu, ayah seperti apa dirimu?" ujar Dee kesal.


"Aku adalah ayah terbaik bagi anakku."


"Aku tidak percaya, kau hanya bisa menghukum orang saja," ungkap Dee. Kane lalu membawa Dee kembali ke kamar mereka.


Dia mendudukkan Dee di kursi lalu menyuapinya. "Kau lihat, aku adalah ayah terbaik untuk mereka," ujar Kane.


Dee yang mudah terharu karena bawaan hamil lalu menangis. Dia tidak menyangka Kane akan memaafkannya semudah itu. Dia kembali memeluk leher Kane. membuat Kane terkejut dan menjauhkan tangannya yang memegang sendok agar tidak mengenai Dee.


"Aku sayang padamu," ungkap Dee. Kane memejamkan matanya dan menarik nafas lega.


"Hanya itu, tidak ada yang lainnya?" ujar Kane.


Dee nampak berpikir. Dia memang menyayangi Kane tapi untuk mengatakan cinta seperti belum siap. Mungkin karena malu atau sesuatu yang belum dimengerti.


"Itu sedang berjalan, hanya saja aku butuh waktu untuk mengatakannya." Dee lalu menggigit bibir bawahnya karena malu. Wajahnya terlihat bersemu merah.


"Tidak apa-apa, aku sudah senang jika kau sudah tahu hatimu untuk diriku," ungkap Kane lega. Memegang dan mengusap pipi Dee dengan jarinya.


"Kau tidak kecewa?" tanya Dee. Kane menggelengkan kepala. Dia lalu mengambil makanan lagi dan menyuapi Dee.


Dee bernafas lega. Dia juga gantian menyuapi Kane. Mereka lalu tertawa bersama.


"Aku mencintaimu Dee, jangan kecewakan aku dan jangan pernah khianati ku," kata Kane dengan tatapan yang dalam. Dee memegang tangan Kane dan balik menatapnya.


"Aku tidak akan pernah mengkhianatimu, sampai aku mati. Aku juga berjanji akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu,'' janji Dee. Kane tersenyum puas.


"Namun, aku minta kepercayaan darimu saja ketika melakukan tugasku sebagai seorang istri."


"Aku akan memberikan kepercayaan padamu, sepenuhnya, Nyonya Kane Yang," panggil Kane.


Dee tersenyum cerah. "Apakah aku tidak salah mendengar, jika aku diberi gelar Nyonya Kane?"


"Gelar itu akan diberikan pada istriku. Jika kemarin kau belum mendapatkannya karena kau belum yakin jika ingin menjadi Nyonya Yang. Sedangkan sekarang kau beberapa kali mengatakan jika kau adalah istriku. Aku suka kau mengakui hal itu tanpa kuminta."


Dee kini mengerti jika semua itu terjadi karena dirinya. Bukan sebab sifat keras dan kesombongan Kane.

__ADS_1


__ADS_2