Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab 98 Tragedi


__ADS_3

Tubuh penjaga gerbang itu tergeletak tidak berdaya di lantai bawah tanah yang dingin dan lembab. Banyak luka bekas cambukan yang tersebar di seluruh tubuh pria itu. Bajunya pun sudah terkoyak.


"Kau belum mau mengaku juga?" tanya Kane dengan murka.


Emilio berdecak. "Sini biar aku saja yang menangani."


Emilio lantas berjongkok di depan penjaga itu.


"Kodir, kita sudah mengenal lama. Aku tahu siapa kau dan juga keluargamu. Kau pikir jika kau diam dan mati keluargamu selamat?" ujar Emilio dengan tenang.


"Aku tidak akan membiarkan mereka selamat jika sesuatu yang buruk terjadi pada adikku. Anakmu yang terakhir kalau tidak salah umur lima tahun ya? Bagaimana jika dia hidup tanpa ayah dan ibunya, sepertinya akan menyenangkan."


"Ayahnya yang bersalah, anaknya yang jadi korban."


"Jangan... jangan kau sakiti keluargaku, kumohon," ujar Kodir sambil memegang kaki Emilio.


"Kalau begitu, dimana adikku berada!"


"Aku tidak tahu, hanya saja Ahnaf tahu keberadaannya?"


"Ahnaf juga ikut, siapa lagi yang berkhianat?" ujar Kane kesal ternyata orang rumah kepercayaannya berkhianat.


"Sebenarnya? Sebenarnya...," netra Kodir tertuju pada satu titik yang membuatnya terdiam.


"Aku tahu dimana keberadaan Dee," potong Pak Jhon yang berdiri di pintu.


"Pak Jhon kau...." Kane tidak tahu harus mengatakan apa. Nafasnya sesak dan matanya memerah. Dia membuang nafas keras.


"Kau tanya saja pada Tuan Park Yang. Dia pasti yang bertanggungjawab dengan hal ini?"


"Darimana kau tahu jika Ayahku yang melakukan ini?" tanya Kane.


"Maaf, Kane. Aku tidak bisa menjelaskan semuanya."


"Jangan katakan jika kau ikut terlibat dalam masalah lima tahun lalu?"

__ADS_1


Pak Jhon menunduk dan terdiam.


"Sial, orang yang aku percaya dan aku anggap sebagai orang tua sendiri ternyata mengkhianatiku," ungkap Kane dengan suara tertahan dan serak.


Dia kecewa berat dan sangat sakit hati. Baginya Pak Jhon adalah orang yang dia cintai sebagai orang tuanya dari kecil. Orang yang mengajarinya hidup dan mengenalkannya pada dunia.


"Ayo Kane, nyawa Dee sekarang lebih penting." Emilio berjalan di depan Kane melewati Pak Jhon. Untuk sesaat pria itu melirik tajam pada Pak Jhon.


Kane dan anak buahnya mengikuti Emilio.


***


Sedangkan di salah satu kamar kediaman keluarga Yang. Dee duduk di depan jendela dengan menatap jauh ke depan.


Seorang pelayan sedang membereskan baju miliknya ketika seseorang masuk ke ruangan itu.


"Oh, ternyata benar, istri dari Kane Alexander Yang ada di sini. Aku kira itu hanya berita hoax karena tidak mungkin ayahku akan menampung kau di sini."


Dee terdiam. David berjalan mendekat.


"Apakah kau masih sama seperti dulu yang sombong dan angkuh?" tanya David mengambil rambut Dee hendak menciumnya tapi Dee memegang tangan David dengan keras.


"Wajahmu tambah cantik jika kau sedang marah, tampak lebih imut. Kau juga semakin menawan. Pantas saja jika Kakakku masih mengejarmu walau dia tahu kau sudah mengkhianati."


Dee tersenyum sinis mengejek.


"Mengkhianati? Aku tidak akan melakukan itu jika bukan karena suamiku,'' ujar Dee.


" Kau dan ibumu yang bodoh, tidak bisa mencari kebenarannya. Tapi itu pantas


kalian dapatkan."


David mencekal pundak Dee dengan keras.


"Apa maksudmu?" tanya David.

__ADS_1


"Kau tanyakan saja semua pada Ayahmu! Jangan padaku, aku hanya pionnya saja."


David nampak berpikir. Dia lantas menatap tidak percaya pada Dee.


"Ayah.... tidak mungkin Ayah melakukan itu? Kau hanya ingin menghancurkan keluarga ini sama seperti kau ingin menghancurkan Kane kan?"


"Kau benar-benar bodoh! Kau dan ibumu itu hanya seekor rubah licik yang ditipu oleh keadaan," hina Dee menunjuk ke arah David.


David hendak menampar Dee, tapi Dee memegang tangan David dengan erat.


"Aku bukan Dee yang dulu. Yang lemah dan hanya bisa menerima semua perbuatan kalian!" ujarnya dengan tatapan tajam dan menusuk.


"Oh ya? Aku jadi penasaran," ujar David mulai maju dan hendak menyentuh Dee. Dee menangkis sebisanya tapi ternyata ilmu beladiri Dee tidak seberapa dengan David.


Pria itu bisa melemparnya ke tempat tidur. Lalu mencopot kancing baju sendiri sambil naik ke atas tempat tidur.


Dee mundur ke belakang dengan panik.


"Kau mau apa?"


"Mau melakukan yang seharusnya kulakukan dulu!"


"Kau jangan gila, jika Kane tahu dia pasti akan membunuhmu," seru Dee.


"Kane? Dimana dia? Aku tidak melihatnya." David meraih kaki Dee yang putih dan mulus lalu menariknya.


"Tidak kau tidak bisa lakukan ini padaku, tolong aku!" teriak Dee.


"Tidak akan ada yang datang kemari. Park Yang sedang diluar dan Mom tidak akan menolongmu. Dia malah berharap kau mati saja dan mayatmu di buang ke tengah laut."


Tubuh David yang lebar dan tinggi mengungkung Dee. Membuat wajah Dee pucat pasi.


"Lagian apa hebatnya kakakku. Dia tidak lebih baik dariku di tempat tidur. Aku bisa membuatmu melayang dan menjerit nikmat. Apa kau ingin merasakannya sekarang?"


Tangan besar David meraba kaki panjang dan langsung Dee hingga ke atas Dee memukul pria itu tapi tidak membuat David bergeming Dia malah menjadi tambah bersemangat. Satu tangan Dee di cekal.

__ADS_1


"Dee, aku sudah membayangkan ini dari lama," ucapnya dengan tatapan nakal. Tubuh Dee dipeluk dan kedua kaki Dee ditahan dengan kedua kaki David.


Dee meronta, meminta pertolongan. Berbagai caci maki dia layangkan ketika bajunya bagian depan dikoyak oleh David dan kulitnya di sentuh mulut basah pria itu.


__ADS_2