Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 99 Adik Tercela


__ADS_3

Pintu kamar Dee tiba-tiba didobrak oleh seseorang. David yang terkejut melihat ke sumber suara.


"Baji$$$$ kau! Berani-beraninya menyentuh nya!" teriak Kane. Dia menarik tubuh David menjauh dari Dee. Lalu membuka jas dan menutup tubuh Dee yang terbuka dengan jasnya.


David menyeka darah yang keluar dari mulutnya. Menyeringai penuh ejekan.


"Kenapa marah Kaka, bukankah wanita ini mencampakkanmu! Dia telah berkhianat padamu! Dia tidak lebih dari seorang wanita murahan."


"Kau duduklah di sini," ujar Kane lembut pada Dee yang masih terlihat shock. Kane memberi tanda pada Emilio agar menjaga Dee. Emilio mendekat.


"Dee," panggil Emilio. Dee yang masih terguncang menoleh dan mendapati Kakaknya ada di sampingnya langsung masuk dalam pelukan Emilio, menangis tersedu-sedu.


Kane membalikan tubuh sambil menggulung lengan bajunya. Mendekat ke arah David.


"Sudah lama memang aku ingin menghajarmu tapi ayah selalu menahannya." Aura mematikan keluar dari dalam diri Kane.


Tiba-tiba, Mom Cindy datang.


"Kane, ini salah Mommy, tidak bisa menjaga istrimu dengan baik. Mommy tidak tahu jika David masuk kemari padahal Mommy sudah melarangnya," ujar Mom Cindy.


Kane menyingkirkan Mom Cindy dengan kasar sehingga wanita itu terjatuh ke lantai. Tidak ada satu pelayan pun yang berani untuk maju memberi pertolongan pada David.


Kerajaan baju David diangkat lalu dia memukul wajah tampan David. Beberapa kali hingga babak belur.


"Sekarang kau masih bisa tersenyum, hah! Jika aku tidak bisa membuatmu berbaring di rumah sakit selama tiga bulan, aku belum akan puas."


"Kak, maaf. Kak!" ujar David meminta ampun.


"Sekarang baru meminta ampun padahal kesalahanmu sudah lima tahun berlalu!" bentak Kane.


"Dia sudah meminta maaf, maafkan dia," ujar Cindy memegang kaki Kane.


"Kau ingin aku memaafkannya, padahal untuk kesalahan kecil saja kau dulu menghukumku dibawah tanah selama bertahun-tahun, kelaparan dan tersiksa. Apakah kau mau dengar teriakanku kala itu?"


Cindy terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa.

__ADS_1


"Bahkan jika kau dah dia matipun aku belum bisa mengampuni apa yang kalian lakukan padaku!" bentak Kane. Kane mengeluarkan pistol dari balik pakaiannya dan langsung menembak kan pelurunya. Dua tembakan diarahkan pada David.


Semua menjerit ketakutan. Mama Cindy menutup mata. Dee menahan nafasnya, Emilio hanya yang terlihat tenang. Peluru dan mayat sudah hal biasa baginya ketika ada di kesatuan.


Darah mengalir deras dan menggenang. Pekikan kesakitan terdengar hingga seluruh sudut rumah. Suasana menjadi mencekam seketika.


"Kane! Apa yang kau lakukan?" bentak Park Yang melihat semua yang terjadi.


"Apa yang harusnya seorang suami lakukan." Kane meletakkan pistol itu ke balik kemejanya lagi.


"Berdoa saja semoga tanganmu bisa normal lagi! Jika tidak, itu masalahmu. Jika kau mau main-main lagi denganku, aku akan mengisolasimu ke hutan belantara tak berpenghuni. Mom mu dan Daddy mu tidak bisa akan menolongmu."


Kane lantas mendekat ke arah Dee dan menggendongnya.


"Ayah kau hutang penjelasan padaku!" ujar Kane pada Park Yang. Dia puas telah menembak kedua telapak tangan David yang berani menyentuh istrinya.


Park Yang mengusap wajah kasar.


"Sayang, apakah kau baik-baik saja?" tanya Cindy sepeninggal Kane.


"Daddy, cepat tolong anak kita," ujar Cindy.


"Ck, kau saja," ujar Park Yang santai membalikkan badan dan meninggalkan mereka berdua. "Dia mencari masalah dan dia patut mendapatkannya."


"Pelayan, tolong panggil ambulance secepatnya."


"Park Yang kau tega sekali pada anak kita!" teriak Cindy dari kejauhan."


"Seharusnya aku sudah memukulnya sedari kecil sehingga dia tidak bodoh seperti itu," omel Park Yang sepanjang jalan.


***


Tubuh tua Pak Jhon berjalan keluar rumah Kane bersama dengan tas ransel kecil yang hanya berisi beberapa pakaian saja. Dia melangkah sambil terbatuk-batuk memegang dadanya yang terasa panas dan sesak. Di saat yang sama sebuah mobil berhenti di depan rumah.


Jesper keluar dari mobilnya.

__ADS_1


"Kakek Jhon mau kemana?" tanya Jesper menatap ke arah tas ditangan Kakek.


"Kakek sakit?" tanya Jesper lagi.


Jason menatap Pak Jhon lalu memegang tangannya. "Wah, tubuh Kakek hangat, apa Kakek mau ke dokter buat berobat?" tanya Jason.


Pak Jhon menatap sendu anak itu lalu mengusap lembut rambut mereka.


"Kakek baik-baik hanya ingin jalan-jalan."


"Kenapa bawa tas segala bila hanya ingin jalan-jalan?" tanya Jesper.


Perhatian kedua anak itu membuat mata Pak Jhon berkaca-kaca.


"Biar Jesper temani Kakek hingga ke tujuan kakek."


"Kakek ingin pulang ke rumah lama Kakek," ujar Pak Jhon membuat kedua anak itu terdiam.


Jesper terkejut. Waktu terasa berhenti seketika. Dia merasa bagai sedang patah hati.


"Kenapa?" tanyanya sedih.


"Kakek sudah tua ingin pensiun dari pekerjaan ini lagipula kalian sudah punya ibu yang akan menemani. Kakek tidak akan khawatir lagi," ujar Pak Jhon.


"Tapi... Jesper juga ingin Kakek di sini," ujar Jesper yang sayang pada Kakek Jhon karena pria itu yang merawatnya dari kecil.


"Kakek hanya ingin menikmati masa tua Kakek."


"Kalau begitu biar Jason mengantar Kakek sampai ke rumah. Jauh atau tidak?" Jason mengambil tas dari tangan Pak Jhon.


"Tidak usah. Kalian di rumah saja. Kakek akan pulang sendiri."


"Apakah Papah sudah tahu Kakek mau pergi? Jika tahu mengapa Papa tidak menyuruh mengantar Kakek menggunakan mobil seperti biasanya?"


Pak Jhon tidak bisa menjawab semua nya. Mulutnya terkunci. satu kesalahannya harus dia bayar mahal kini. Dia tidak takut kehilangan harta karena dia tidak merasa memilikinya. Yang dia tahu, dia merasa sedih harus kehilangan Kane dan keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2