Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 79 Suasana Baru


__ADS_3

"Aku suka dengan makanan ini seharusnya sering dimasak oleh bibi koki," kata Jason. "Tapi sayang kurang pedas, akan lebih nikmat jika ada sambal, colek-colek tutul plok makan, ehm nikmat. Kakek Tua tidak ikut makan?"


"Kakek Jhon, bukan Kakek Tua," sungut Pak Jhon yang mulai kesal dengan mulut Jason yang bicara terus tanpa henti.


"Oh, ya aku lupa itu, maksudku Kakek Jhon."


"Kepalamu terantuk besi atau tiang listrik sehingga berubah seperti ini?" curiga Pak Jhon sambil memijat kepalanya.


"Bukan terantuk tiang, hanya saja aku sudah dapat pencerahan untuk berubah dan merubah rumah ini menjadi ceria. Dimana ada aku di situ ada kerusuhan eh keramaian," ujar Jason sambil menggigit ayam goreng keenamnya.


Kali ini dia makan tanpa nasi dan tidak ada protes. Kalau dengan ibunya semuanya harus serba nasi. Sepertinya hidup ini harus berputar soal nasi saja. Walau begitu masakan ibunya adalah yang paling enak di dunia ini.


Dia teringat perkataan ibunya jika dia adalah biang rusuh selalu membuat keributan di semua acara. Kali ini jika dia bertemu dengan Jesper yang tenang, apa ibunya akan merindukannya yang selalu ramai dan berisik?


"Kapan ayah pulang?" tanya Jason pada Pak Jhon.


Tangannya memegang tulang ayam dan ingin diberikan pada Candy tapi kucing itu malah mundur dengan wajah sengit menatapnya. 'Huh kucing sombong, sama seperti Tuannya?' batin Jason.


"Tumben kau tanya kapan ayahmu pulang? Kau tahu sendiri kan jika...." Baru saja Pak Jhon mau menerangkan jika ayah Jason itu selalu pulang larut malam terhenti ketika mendengar suara deru mobil di luar.


"Apakah itu Ayah?" tanya Jason antusias. Dia ingin melihat sosok ayah yang dia idamkan. Pasti tampan, rupawan dan gagah sama seperti dirinya ini. Jason langsung melap tangan ke baju dan berlari.


Pak Jhon yang melihat melebarkan mata. Kenapa anak itu jadi ceroboh sekali pikirnya. Tapi tidak apa-apa yang penting dia ada dan tersenyum.


"Taruh ini di ruang kerjaku," perintah Kane pada asistennya ketika masuk ke dalam rumah.


"Baik, Tuan."


Jason yang melihat Paman Burung Besar di depannya sempat tertegun untuk sesaat. Jadi ayah Jesper yang angkuh itu adalah orang yang beberapa kali menolongnya. Mata Jason mengerjap.


Kane yang melihat Jason menyambutnya mengernyitkan dahi. Biasanya anak itu tidak pernah berdiri untuk menyambutnya pulang karena dari kecil Jasper sudah terbiasa dengan sikap dinginnya dan tidak acuhnya.


Namun, kali ini berbeda. Anak itu malah tersenyum lebar dan terlihat sangat tampan. Dia langsung berlari dan memeluk Kane dengan erat.

__ADS_1


"Papa, aku rindu padamu," teriak Jason. "Aku mau tahu rasanya digendong oleh Papa bolehkan?"


Kane yang bingung menatap ke arah Pak Jhon, namun tangannya menangkap tubuh kecil itu dan memasukkannya dalam dekapan.


"Hei ada apa denganmu, tidak biasanya kau seperti ini?" tanya Kane. Dia ingat pertemuan terakhir mereka, mereka berdua bertengkar hebat.


"Apakah seorang anak tidak boleh manja dengan Papanya?" tanya Jason. Dia lalu mencium pipi Kane.


Membuat pria itu terkejut. Namun, Kane suka dengan sikap Jasper seperti ini. Ada rasa hangat yang berbeda di hatinya. Kane memeluk Jesper dengan erat.


Pak Jhon yang melihat itu merasa terharu. Sudah lama dia tidak melihat kehangatan di rumah ini. Akhirnya, dia bisa meninggal dengan tenang setelah melihat dua Tuannya menghilangkan perseteruan mereka.


"Sudah turun!" kata Kane.


"Tidak mau, aku mau digendong Papah semalaman. Selama ini aku belum pernah merasakannya."


"Sejak kapan kau menjadi semanja ini?" tanya Kane.


"Siapa yang mengajarkanmu tentang hal ini?"


"Mama, eh maksudku ibu guru." Jason menggigit lidahnya sendiri karena hampir saja membuka rahasianya dengan Jesper. Jika seperti itu bisa saja burung kecil miliknya akan dipotong oleh Paman Burung Besar yang saat ini menjadi ayahnya. Dia tidak ingin ini terjadi.


"Seorang anak harus belajar hidup mandiri sedari dini agar dia biasa hidup disiplin. Orang yang punya disiplin tinggi akan mempunyai masa depan yang cerah daripada anak yang bermalas-malasan."


Jason memutar bola matanya malas mendengar nasehat Kane.


"Sekarang turun dan jalan sendiri!"


"Tidak mau, kali ini biar aku di pelukan Papah. Aku rindu Papah," bujuk Jason dengan mengiba.


Untuk sesaat Kane melihat mata Jason yang mirip dengan mata Dee membuat dia tidak bisa menolaknya. Dia selalu akan kalah bila berdebat dengan wanita itu. Kalah oleh matanya yang sendu dan polos.


Selama ini dia jarang menatap Jesper dengan teliti sehingga tidak tahu jika mata Jesper itu terkadang mirip dengan Dee.

__ADS_1


"Baiklah, tapi hanya sampai kamarmu," kata Kane melunak.


"Sampai kamar Papah saja. Aku ingin lihat kamar Papah."


Tiba-tiba Kane menyatukan kedua alisnya.


"Jesper kenapa rambutmu berubah warna?"


"Temanku menyiram kepalaku dengan cat air sehingga rambutku berubah warna. Bagus kan, Pah? Aku tahu aku selalu akan terlihat tampan setiap saat."


Sejak kapan sifat narsistik anaknya muncul? Namun, tidak apa. Itu bagus daripada melihat Jesper yang murung. Pikir Kane.


"Papa sudah makan atau belum? Bibi Koki memasakkan ayam goreng yang enak lho."


Kane merasa hangat dengan pertanyaan Jesper ini. Sudah lama sekali tidak ada yang menawarkan makan malam untuknya karena Pak Jhon tahu Kane pasti menolaknya.


"Ya, Tuan Muda sampai menghabiskan enam potong ayam goreng."


Kane yang mendengar menaikkan kedua alisnya ke atas. "Tidak pernah kau bersikap serakus itu," tukas Kane.


"Itu karena aku sangat kelaparan. Makan siang yang dibawakan untukku tidak sesuai dengan seleraku," kilah Jason. Dia punya otak lebih untuk memikirkan seribu alasan atas apa yang dia lakukan karena dia biasa beradu pendapat dengan ibunya.


"Makan cukup satu, kau bukan babi yang makan semua makanan dengan rakus."


"Papah menyamakan ku dengan babi? Sungguh kejam. Tidak bisakah kau sadar jika aku itu imut dan menggemaskan. Banyak cewek yang tergila-gila padaku karena semua keunggulan yang ada pada diriku. Dari anak-anak dan ibu-ibu pasti tidak akan tahan untuk mencium ku."


Kane dan Pak Jhon saling menatap. Sejak kapan anak ini berpikir aneh. Ini seperti bukan Jesper yang dia kenal.


Jason yang merasakan alarm berbahaya langsung terdiam. Sepertinya dia sudah banyak bicara, lebih baik dia memikirkan cara agar Ayah Jesper tidak curiga padanya. Jesper melihat ke arah Candy.


"Ayah turunkan aku, aku ingin bersama Candy saja," ujar Jason.


Jesper yang melihat

__ADS_1


__ADS_2