
Dee hendak membuka baju Jason namun anak itu mengelak dan menolaknya.
"Aku bisa sendiri Bu," ujar Jesper. Dia tidak pernah membuka bajunya didepan orang lain. Dari kecil dia diajari mandiri oleh Pak Jhon sehingga semua hal dia lakukan sendiri. Umur tiga tahun dia sudah tidak butuh pengasuh untuk membantunya.
"Biasanya juga kau tidak bisa membuka kancing baju." Dee hendak membuka kancing baju namun wajah Jesper nampak memerah karena malu.
"Aku sudah besar jadi sudah belajar membuka kancing baju sendiri."
Dee merasa sedikit aneh. Jason biasanya bersikap manja dan kini seperti mandiri.
"Maksudku, ibu guru sudah mengajarkan jika tidak usah meminta bantuan untuk hal kecil pada orang tua. Aku harus bisa melakukannya sendiri."
Dee mengangguk. Dia senang Jason sudah mulai mendengarkan perkataan gurunya.
"Ibu akan menyiapkan makanan untukmu, kau mau makan apa?"
"Apa saja aku mau. Makanan ibu pasti lezat."
Dee tersenyum kaku sambil berpikir jika Jason menjadi baik seperti ini pasti hidupnya tidak penuh drama lagi.
Wanita itu lantas pergi ke ruang makan, membuka tudung saji makanan. Hanya ada sayur bayam dan tempe tahu goreng. Dia berniat menggoreng telor ketika Jason turun ke bawah.
"Ibu tadi pergi jadi hanya bisa memasak itu. Jika kau tidak suka ibu akan menggoreng telor untukmu," ujar Dee.
"Tidak usah Bu, biar ini saja." Jesper duduk di salah satu meja makan yang berbentuk bundar.
Dee menyiapkan piring dan mengisinya dengan lauk seadanya. Dia duduk di depan Jesper. Anak itu terlihat menatapnya terus seperti tidak pernah melihatnya. Dee sebenarnya merasa aneh tapi dia menepis nya.
Dee mulai menyuapi Jesper. Mata Jesper tiba-tiba berkaca-kaca dan mengalirkan air mata sambil mengunyah makanan itu.
"Jika tidak suka biar nanti ibu goreng telor buat lauknya. Kau tidak usah menangis seperti ini tinggal katakan saja," ucap Dee menyeka air mata Jesper dengan tangannya.
Tangan Dee dirasakan Jesper begitu lembut dan hangat. Sentuhan yang tidak pernah dia rasakan membuatnya semakin tersedan-sedan
__ADS_1
"Aku suka makanan Mama hanya saja, aku takut ibu marah karena aku memotong rambutku," kilah Jesper.
Dee tertawa. Dia mengerti mengapa Jesper bersikap manis sedari tadi. Ternyata karena dia takut dimarahi olehnya.
"Kau tampan dengan rambut ini hanya saja... terlihat seperti berbeda bukan seperti Jason yang Mama kenal."
Jesper tersenyum kaku dalam hatinya ketakutan kalau wanita ini akan tahu jika dia bukan Jason. Mungkin saja Mama Jason mamanya, tapi belum ada bukti nyata. Jika bukan dia bisa ditendang keluar rumah.
'Jason kau beruntung sekali punya Mama yang begitu baik seperti ini. Jika bisa aku ingin bertukar peran denganmu selamanya.' Batin Jesper.
Jason sendiri menatap kagum rumah Jasper yang besar dan mewah seperti rumah tokoh iron man yang mewah dan besar, serta canggih. Pintu gerbang yang membuka sendiri. Suara mesin yang menyapanya ketika masuk ke dalam rumah, lampu yang mati dan hidup hanya dengan menepuk tangan, pokoknya semua terasa luar biasa untuk Jesper.
Ruang utama rumah itu sangat luas, sepertinya seperti lapangan sebuah stadion sepak bola. Ada jendela tinggi dengan korden mewah yang berjuntai hingga ke lantai. Korden itu berwarna kuning emas, sangat kontras dengan warna putih yang mendominasi keseluruhan rumah ini. Jesper terpukau.
Terlihat sosok tua berjalan mendekati Jason. Jesper bilang jika itu adalah Kakek Jhon, bawahan ayah Jesper hanya saja sangat dihormati oleh ayahnya.
Pria tua itu tampak tidak sehat. Terdengar suara batuknya berkali-kali. Di lehernya juga ada syal yang terikat.
Seekor kucing berlari dari arah tangga turun untuk menyambutnya tetapi ketika sampai di dekat Jason kucing itu mundur sambil mengeram marah, seolah mengatakan.
"Jesper kau sudah pulang?" sapa Pak Jhon.
"Iya dan aku sangat lapar," ujar Jason.
"Kau harus membersihkan tubuhmu terlebih dahulu dan berganti pakaian baru bisa makan."
"Ck, kau sangat kejam pada anak kecil kecil yang kelaparan. Aku akan mengadukan ini pada papa kalau kau melarang ku makan."
Pak Jason mengernyitkan dahi. Tidak biasanya Jesper menjawabnya. Dia biasanya juga tidak pernah minta makan, bahkan sulit untuk membujuknya makan.
"Tuan Muda, kau harus mengikuti semua aturan yang ada. Papamu juga akan setuju dengan apa yang kukatakan. Sekarang sebaiknya, kau masuk kamar mu mandi dan ganti baju, baru aku akan siapkan makanan untukmu. Mungkin makanan ringan karena makan malam dua jam lagi baru disediakan.
"Apakah semua harus sesuai peraturan?" gerutu Jason.
__ADS_1
"Ya, semua harus sesuai dengan peraturan yang ada."
"Kalau begitu membosankan!" ucap Jason, pergi naik ke atas kamarnya. Sampai lantai dua, dia bingung harus kemana lagi. Rumah ini begitu besar dan luas. Jason khawatir dia akan tersesat di rumah ini.
Jesper mengatakan dia harus belok kanan dan mencari kamar dengan pintu bertuliskan Jesper.
Itu sepertinya tidak sulit. Pikir Jason. Perutnya berbunyi keras. Cacing didalamnya seperti memberontak dan menggigit ususnya karena minta diisi.
Papa sialan, membuat peraturan yang menyiksa anaknya. Pantas saja Jesper tidak suka hidup disini dan terlihat kaku. Ternyata dia hidup menderita, tidak bisa makan dengan bebas, tidak bisa menonton televisi dan tidak punya teman bermain di rumah. Tidak punya juga ibu yang asik seperti ibunya yang akan memberinya makanan jika lapar.
"Mama, aku ingin pulang," rengek Jason sambil berjalan dengan kesal.
Dua orang wanita berpakaian berwarna hitam dan putih seperti seragam pelayan datang menghampiri.
"Tuan ini pakaian Anda dan Pak Jhon menyuruh kami membawakan Anda camilan dan jus ini untuk Anda konsumsi."
Jason tersenyum senang. Ternyata tidak seburuk pikirannya. Di depannya ada kue yang terlihat lembut dan lezat serta segelas besar jus jeruk yang kental. Perutnya kembali berbunyi. Dia lalu diantar masuk ke kamarnya.
"Lepas sepatuku," suruh Jason pada pelayan.
Dua pelayan yang berdiri di hadapan Jason saling memandang. Biasanya Tuannya selalu mandiri dan tidak pernah memerintah juga tidak banyak bicara. Sekarang mengapa jadi manja seperti ini.
"Kenapa diam saja? Kalian dibayar untuk melayaniku kan?" ujar Jason senang. Pelayan tadi lalu melayani semua kebutuhan Jason.
"Yeah!" teriak Jason senang ketika masuk ke dalam bath up. Bermain sabun sampai kamar mandi penuh dengan busa sabun. Membuat Pak Jhon yang sedang memeriksanya terkejut.
"Jesper apa yang sedang kau lakukan?" tanya Pak Jhon.
"Pak Tua sedang mengintip ku mandi, apa tidak malu?" pekik Jason dari dalam gumpalan busa yang menutupi tubuhnya.
Pak Jhon yang biasa dipanggil Kakek oleh Jasper terkejut.
"Apa mau ikut mandi bersamaku kalah iya ayo," kata Jason menyemprotkan air dari shower pada Pak Jhon dan pelayan yang berdiri di dalam kamar mandi. Keriuhan terjadi. Suasana rumah yang selama ini sunyi senyap berubah menjadi ramai. Ada gelak tawa dan juga teriakan Jason dan Pak Jhon di sana.
__ADS_1
Pak Jhon yang memakai baju hangat duduk di depan Jason yang sedang menyantap makanannya. Anak itu bersikeras mau menonton film kartun sambil makan. Dia tidak mau makan sendirian di ruang makan yang besar. Katanya ruangan itu berhantu dan menakutkan.
Pak Jhon yang memang sedang tidak enak badan bertambah bersin-bersin karena ikut bermain air dengan Jason. Kepalanya bertambah pusing dan badannya sakit, sehingga dia meminta pelayan untuk menempelkan koyo di beberapa titik tubuhnya. Dia tidak tahu mengapa anak ini menjadi aktif luar biasa. Namun, menyenangkan juga daripada melihat wajah murung Jesper sepanjang hari.