Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 53 Adik rasa Musuh


__ADS_3

Hubungan Dee dengan mertuanya semakin baik. Perempuan itu sering mengajak Dee keluar untuk makan atau berbelanja. Seperti saat ini, ibunya sedang mengadakan arisan sosialita nya di rumah Park Yang. Dee diundang hadir di acara ini.


"Ck, sudah ku katakan untuk tidaj terlalu dekat dengan mereka," ujar Kane memakai jasnya. Dia pun akan bersiap untuk berangkat kerja.


"Kau saja yang terlalu berpikir negatif dengan mereka. Mereka menyingkirkan harga dirinya sebagai orang tua dengan meminta maaf padamu. Seharusnya kau menyambut ketulusan mereka bukannya masih curiga saja.


Dee hendak menarik resleting di punggungnya tapi tidak sampai. Kane mendekat, lalu menarik resleting gaun putih Dee. Setelahnya tangan pria itu memeluk Dee dari belakang. Mencium dalam leher jenjang Dee yang panjang dan indah.


Dee memejamkan mata, merasakan gelenyar indah yang membuat semua syaraf teraliri listrik statis, membuatnya terbuai.


"Ekhm, jangan buat tanda yang terlihat," gumam Dee.


Kane mengakhirinya, tersenyum senang karena hasil karyanya bisa dilihat banyak orang. Dee membuka matanya dan melihat apa yang Kane lakukan. Mulutnya langsung maju seketika.


Kane yang meletakkan dagunya di bahu Dee malah tertawa.


"Kau itu sungguh mengesalkan!" rajuk Dee manja. Dia mengambil concelar.


"Jika kau berani menutupinya, aku akan buat lagi! Ini sebagai tanda kau itu sudah ada miliknya," ujar Kane mengusap perut besar Dee.


"Kau selalu seperti itu, terlalu posesif. Aku ke mall bersama dengan Mom Cindy saja harus di kawal, tidak boleh ada pria yang mendekat. Bahkan David."


"Aku hanya menjaga apa yang jadi milikku," ujar Kane mengecup pipi Dee. Dee mengusap kepala Kane. Dia merasa bahagia sekarang. Semuanya telah dia miliki hingga tidak ada lagi yang perlu dia keluhkan.


"Kapan lagi kita akan periksa si kembar?"


"Lusa," jawab Dee.


"Kalau begitu aku akan mengosongkan jadwalku," ujar Kane. "Aku sudah tidak sabar melihat mereka dalam perutmu, kalau bisa langsung keluar saja."


"Hush, kalau bicara yang benar. Kehamilan ini baru 7 bulan, sangat berbahaya bila dilahirkan belum waktunya," ungkap Dee merapikan riasan nya.


"Oh, iya kah? Padahal banyak yang baru 7 bulan tapi sudah dilahirkan," ungkap Kane.

__ADS_1


"Tapi itu karena satu sebab. Bisa-bisa nyawa antara ibu dan anaknya harus dipertaruhkan. Jika itu terjadi, kau akan memilih siapa, aku atau mereka?" tanya Dee menatap Kane.


Hati Kane merasa sakit mendengar itu. Sesaat ketakutan itu terjadi. Dia melepaskan Dee dan melihat ke arah lain. Berharap takdir itu tidak akan terjadi.


"Jangan mengatakan hal yang tidak baik," ungkap Kane menolak menjawab pertanyaan Dee.


"Ini kan misal, sering terjadi kasus seperti ini ketika ayah harus memilih antara anak atau ibunya yang harus diselamatkan."


"Aku tidak akan memilih, jika pun memilih aku lebih memilih kau ada di sisiku," jawab Kane, tetapi mengapa terasa perih.


Dee tersenyum getir. Dia menggelengkan kepala. "Aku senang kau memilihku, tapi sebagai ibu aku ingin kau memilih mereka saja yang kau selamatkan. Jangan pikirkan aku. Aku sudah pernah bahagia bersamamu, itu sudah cukup untukku. Aku akan bangga bila bisa melahirkan buah hati untukmu dan melihat mereka hidup bahagia bersamamu di atas sana."


Kane memeluk erat Dee. "Tidak Dee, darimu aku merasakan cinta. Aku mungkin tidak akan sanggup bila kita berpisah. Jangan suruh aku memilih antara kau dan anakku karena kalian sama berharga untukku."


Kane mencium pucuk kepala Dee dalam. Dee tiba-tiba ikut larut dalam suasana ini. Dia berharap bisa bersama Kane selamanya.


Dia yakin, dia telah jatuh dalam diri Kane semakin dalam hingga tidak bisa pergi darinya.


"Tuan, Tuan Muda David ada di bawah hendak menjemput Nyonya Dee."


"Kenapa keparat itu yang menjemputmu, apakah tidak ada sopir atau orang lain."


"Dia itu adikmu, Kane." Dee menggelengkan kepala. Sampai saat ini Kane masih belum bisa menerima keluarganya sepenuh hati.


"Adik dari neraka! Dia hanya bisa membuat susah orang yang didekatnya saja. Park Yang bahkan hampir bangkrut karena kesalahan manajemennya dalam proyek jembatan di daerah. Jembatan itu runtuh setelah tiga diresmikan. Itu namanya bodoh!" ejek Kane.


"Mereka akhirnya membangun ulang. Untung itu ada di daerah sehingga tidak terlalu terekspos, itu juga pastinya karena Park Yang menutup pemberitaan semua media yang ada. Begitu kok mau bersaing denganku, mimpi dia," ujar Kane.


Dee menghela nafas. Menyebut ayah saja, Kane tidak mau, lebih suka memanggil namanya. Sungguh anak tidak berbakti. Sulit berbicara dengan orang kaku dan keras kepala.


Mereka lalu turun ke bawah bersama. Kane seperti biasa memegang Dee dengan hati-hati. Takut istrinya terjatuh. Perkataan Dee tadi membuatnya setengah takut jika sesuatu yang buruk terjadi Dee. Persalinan memang saat ditunggu tapi juga mendebarkan karena nyawa ibu dan anak dipertaruhkan di sana.


"Kakak, Kakak ipar, aku di suruh Mom dan Dad menjemput kalian."

__ADS_1


"Kenapa tidak sopir saja?" ujar Kane sengit,. menatap tidak suka pada David.


"Mereka menganggap kakak ipar itu penting jadi aku sendiri yang harus menjemputnya. Aku tahu kakak pasti enggan untuk mengantarkannya ke rumah kan?" tandas David.


Kane batuk sedikit. Dia memang ogah untuk menjejakkan kaki di rumah itu lagi. Itu sama saja membuka lamanya. Jika bukan ada hal darurat atau penting, dia tidak akan pergi ke sana.


"Sebaiknya kau pergi bersama dengan Emilio saja jika harus naik satu mobil dengannya."


"Kane...!" ujar Dee dengan wajah kesal.


"Kau tidak tahu siapa dia. Dia itu berbahaya bagi wanita."


"Aku mana mungkin merayu istri kakakku sendiri, walau dia sangat cantik dan menarik," David tersenyum memukau pada Dee.


Dee seperti melihat sosok aktor Korea kesukaannya ketika melihat David. Dia tersenyum malu-malu mendengar pujian dari David.


Melihat itu Kane menaikkan satu alisnya ke atas dengan terkejut dan tidak senang dengan reaksi Dee yang berlebihan.


'Mengapa pipinya harus memerah begitu,' batin Kane cemburu.


"Tidak... tidak, kau akan diantar oleh Emilio saja," ujar Kane.


"Kane, kasihan adik sudah kemari," bujuk Dee memegang tangan Kane. Pria itu memilih melihat ke arah lain, tidak mau termakan dengan wajah polos Dee yang selalu membuat dia takluk dan menurutinya.


"Tidak, kau akan pergi dengan Emilio jika mau, jika tidak, lebih baik kau di rumah!"


Dee ingin mengatakan keberatannya ketika David berbicara terlebih dahulu.


"Kakak ipar, jika seperti itu, tidak apa-apa. Yang penting kau datang, tidak masalah kau ikut mobil siapa."


"Adik ipar memang berhati lapang dan baik hati. Memang seperti itu seharusnya, selalu mengerti orang lain," sindir Dee.


Kane ingin sekali mencium wanita itu hingga pingsan karena tidak tahu jika dia sedang cemburu jika ada pria lain yang dekat dengan Dee, apalagi David, adik rasa musuh bagi Kane.

__ADS_1


__ADS_2