Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 101 Kesempatan Kedua


__ADS_3

"Emilio. Sebelum kau pergi kau j laskan satu hal padaku! Katakan alasanmu untuk kebohongan yang kau lakukan, mengatakan jika Jason telah tiada? Bukankah itu sesuatu yang kejam!"


Emilio yang hendak berjalan ke arah pintu keluar lantas menghentikan gerakannya sejenak dan tersenyum penuh ejekan.


"Kau hampir membunuh adikku. Jika kau jadi aku, apakah kau tetap membiarkan Kane itu bersama dengan Dee, tidak. Aku kecewa dan marah padamu. Oleh karena itu aku ingin kau membiarkan adikku hidup tenang karena hidup bersamamu hanya akan menemui tekanan hidup yang tinggi. Di umur Dee yang masih muda, serta sifatnya yang masih polos mudah diperdaya orang lain tidak akan kuat dengan semua itu. Apalagi kau tidak memiliki kepercayaan penuh pada adikku, kau selalu meragukannya jadi untuk apa kau terus bersamanya. Walau aku melihat penyesalan dimatamu tetapi tidak meredam kemarahanku."


Mereka terdiam. Kane berjalan ke arah jendela melihat keluar jendela. Menarik nafas berat teringat kejadian lima tahun yang terus jadi mimpi buruknya.


Di luar nampak sangat sepi dan gelap. Sama seperti perasaannya yang gelap dengan semua permasalahan yang ada. Andai sebuah cahaya yang terang membuka segalanya, maka dia akan bisa melihat semua permasalahan itu dari sudut pandang yang berbeda.


"Jadi kau memintaku untuk berpisah darinya?"


"Ya. Kau selalu menyimpulkan sesuatu sendiri tanpa pernah bertanya pada Dee, tidak perduli apa yang dihadapinya. Apakah itu pria yang mencintai istrinya, Kane? Jika kau mencintainya kau tidak akan meragukannya dan melindunginya."


"Jika aku harus memisahkanmu, aku tidak bisa membiarkan Dee hidup sedih karena harus hidup tanpa anaknya. Jika kau tahu kembar masih hidup, kau pasti akan mengambil keduanya."


Hati Kane sakit mendengarnya. "Kau tidak bertanya padaku, apa yang kuinginkan."


"Untuk apa bertanya pada orang yang akan membunuh istrinya sendiri," balik Emilio.


"Aku tidak bermaksud seperti itu. Okey, waktu itu aku memang kalap. Bagiku Dee itu seperti jiwaku dan aku melihatnya bersama pria lain diwaktu aku tahu jika dia mengkhianatiku."


Dengan suara goyah dan penuh penyesalan, dia mengatakan perasaannya pada Emilio. "Tapi sungguh, ketika aku melihat dia terluka. Aku menyadari kesalahanku. Aku takut, rasa itu hampir membunuhku, membuatku tidak bisa bernafas dan berpikir. Dan ketika kau memintaku untuk jauh dari Dee. Duniaku seperti hancur. Kau tidak tahu bagaimana menderitanya aku selama ini tanpa Dee."


"Jika kau mencintainya seharusnya kau menjaga bukan menyakiti Dee. Sebenarnya sampai sekarang aku tidak rela dengan apa yang menimpa Dee. Ingin sekali aku memukulmu, tapi jika Dee tahu pasti dia akan marah padaku."


"Satu lagi, kalau kau memang ingin Dee bersamamu maka yang kau lawan adalah tua bangka licik Park Yang. Sampai kapanpun dia tidak akan pernah menerima Dee sebagai istrimu. Dia akan melakukan semuanya agar kau berpisah dengannya.''


"Ayah? Sebenarnya apa hubungan Ayah dalam masalah ini."


"Ck, aku tidak mau menjelaskan. Biar Dee yang mengatakannya sendiri. Jika dia mempercayaimu pasti dia akan mengatakan semuanyanya sendiri, bila tidak berarti kau tidak cukup baik baginya. Aku yakin dia akan memilih pergi darimu setelahnya. Jadi buat komunikasi yang baik antara kalian. Tanpa ada batas."

__ADS_1


Handphone Emilio bergetar. Dia mulai membuka.


"Bosku memintaku kembali untuk mengawal putrinya. Aku diminta masuk ke dalam kesatuan."


"Kau kembali bekerja untuk institusi keamanan negara?"


"Ya. Ayah ingin aku menjadi seperti dia, mantan Jendral bintang dua. Sayangnya waktu itu aku tersandung masalah dan sekarang aku harus menemani putrinya untuk melakukan perundingan di sebuah provinsi yang sedang bersengketa. Sebenarnya aku ingin titip Dee pada Rizky, tapi sudah diculik kau duluan."


Mata Kane langsung menyorot tajam pada Emilio. Emilio sendiri tertawa, tangannya menyentuh knop pintu ketika pintu di dorong dari depan.


"Kak, kau di sini juga?" tanya Dee dari balik pintu. Emilio membuka pintu lebar dan membiarkan adiknya masuk.


"Hmm, kakak sebenarnya ingin memukul pria ini hanya saja melihatmu, kakak takut kau akan mengomel panjang."


"Kak," ujar Dee manja memeluk Emilio.


"Kakak akan kembali ke kesatuan. Ada tugas penting. Kau di sini bersama dengan Kane ya," ujar Emilio membuat Dee terkejut dan merenggangkan pelukannya.


"Kau juga kemarin mau keluar negeri tanpa memberitahuku kan?"


"Darimana Kakak tahu?"


"Ck, Kakak itu mantan tentara khusus tentu tahu bagaimana cara untuk mendeteksi keberadaan adiknya. Dia saja yang lambat cara berpikirnya."


"Jadi kau sudah tahu? Kenapa tidak memberitahu!" sela Kane kesal.


"Aku hanya ingin lihat cara kerjamu yang lelet. Jika seperti itu, kau tidak akan bisa melindungi adikku tercinta ini," ejek Emilio.


Kalau dulu dia takut pada Kane karena Kane adalah majikannya. Sekarang dia yang sudah tidak terikat oleh Kane punya kebebasan sendiri mengekspresikan hati dan pikirannya.


"Kau pilih bersama Rizki atau Kane, jika bersama Rizki kita bisa berangkat ke sana bersama."

__ADS_1


Kane lantas maju menarik Dee dan memeluknya posesif dengan satu tangannya. "Tidak, Dee di sini saja!" ujarnya kesal.


"Biar Dee memilih. Menurutku tinggal bersama pria itu hanya akan makan hati seperti dulu."


Kane melotot pada Emilio yang tersenyum mengejek. Seolah sedang meledek seorang anak kecil.


"Dee?" Kane menatapnya penuh harap dan keberatan jika Dee pergi. Dia yakin jika Dee faham apa arti pandangannya.


"Kane dan Kane, aku...." Dee nampak kebingungan menentukan sikap.


"Dia akan tetap di sini bersamaku dan anak-anak, aku tidak akan melepaskannya pergi walau nyawaku jadi taruhannya," ujar Kane merapatkan pelukannya di pinggang Dee.


Dee menengadah menatap wajah Kane yang penuh keyakinan. Dee menunduk, tapi sedikit tersenyum. Dia tiba-tiba teringat apa yang menyebabkan dia kemari.


"Kane, Pak Jhon dia kemana? Apa kau sudah menemukannya?"


"Sebaiknya kalian selesaikan masalah rumah tangga kalian. Ini kedua kalinya aku mempercayakan dia padamu. Jangan buat adikku menangis lagi. Kalau sampai aku tahu dia menangis karena yang kau lakukan maka aku tidak akan segan-segan membawa dia lagi."


"Aku pergi, atasan ku memanggil."


"Kak, kau pergi sekarang? Tidak menunggu besok."


"Sebenarnya aku sedang masa bertugas hanya saja sebelum pergi aku ingin memastikan mu dalam keadaan baik-baik saja."


Dee melepaskan tangan Kane di pinggangnya dan memeluk Emilio. "Terimakasih, Kak. Atas semua perhatian dan kasih sayangmu."


"Dalam persaudaraan tidak ada kata terimakasih karena itu sudah menjadi tugas dan kewajiban untuk saling menjaga dan menyayangi. Yang paling berat kutinggalkan itu pengacau kecil. Aku pasti akan merindukan dia."


"Makanya, menikah dan buat anak agar kau tidak selalu merindukan anakku. Kau akan fokus dengan keluargamu sendiri," celetuk Kane sambil menarik tubuh Dee lagi untuk mendekat dia.


"Menikah itu urusanku, tapi selamanya Dee adalah tanggung jawabku.''

__ADS_1


__ADS_2