
Mendengar panggilan dari Jason, seketika wajah Kane memerah.
"Anak itu!" gumamnya lirih menahan senyum. Dia bersikap cool seperti biasanya, tanpa ekspresi.
Sedangkan Jesper ketakutan. Dia memukul belakang kepala Jason tapi masih tetap melihat ke arah Papahnya.
"Bodoh! Seharusnya kau itu sembunyikan wajahmu!" gerutu Jesper. Jason baru sadar lantas mengambil soal ujiannya untuk menutupi wajah. Namun, matanya yang besar masih mengintip dari atas.
Jesper lemas, pasrah. Punya adik kok seperti ini. Tidak bisa diajak kerja sama.
Melihat tingkah lucu kedua anaknya yang kelihatan panik membuat Kane menyunggingkan senyum tipis.
"Papa Jason ternyata sama dengan Papa Jesper ya? Bu guru baru tahu. Sekarang Papa kalian meminta ijin untuk membawa kalian pergi," kata Bu guru.
Seketika, Jason berlari ke belakang, sudut ruangan. "Aku tidak mau ikut Papah, nanti tidak bertemu Mama lagi!" teriak Jason ketakutan.
Kane dan Jesper saling menatap.
"Bu, saya minta ijin berbicara dengan putra saya," kata Kane.
"Silahkan," kata guru itu.
Tubuh Kane yang tinggi dan proposional berjalan diantara kursi kecil penghuni TK. Jesper menatap Papanya dengan khawatir. Dia pun ikut merasakan kecemasan yang sama Jason rasakan.
Kane lalu berhenti di depan Jason dan berjongkok, menyamakan tinggi anak itu.
"Hai, jagoan," sapa Kane.
"Aku tidak mau ikut Papah! Aku mau dengan Mama saja!" ujar Jason
"Apa kau tidak ingin memeluk Papamu?" tanya Kane dengan wajah tenang.
Jason nampak berpikir. Akhirnya dia memeluk Papahnya.
Kane memeluk dalam putranya. Putra yang telah dia kira meninggal ternyata masih hidup. Padahal lima tahun dia hidup dalam rasa bersalah yang menghantui hidupnya. Rasa haru dan bahagia merasuk ke dalam relung hatinya yang gelap. Setitik air sempat keluar dari pelupuk matanya dan dia hapus cepat-cepat.
Kane mengendurkan pelukannya untuk melihat wajah Jason. Mengamatinya. Sekilas anak ini sama dengan Jesper hanya saja wajahnya terlihat lebih berisi dan matanya seperti Dee besar dan terlihat polos. Mata yang selalu membuatnya jatuh dan takluk.
Dia menyadari perbedaan itu tetapi dia tidak menyangka jika anak ini adalah anaknya yang lain. Semua seperti mimpi.
"Papa tidak marah? Tidak akan bawa aku pergi dari Mama kan?" tanya Jason penuh harap.
Kane tersenyum, menggeleng.
__ADS_1
"Janji?" kata Jason menunjukkan kelingkingnya. Kane menautkan kelingking itu juga.
"Janji. Papa hanya ingin mengajak kalian keluar jalan-jalan."
Kane benar-benar mengajak jalan-jalan anaknya untuk pertama kalinya. Dia yang tidak pernah ke arena bermain kini pergi ke sana. Membatalkan semua rapat dan pertemuan penting dengan orang-orang hanya untuk bisa bersama anaknya.
"Papah, tolong aku!" teriak Jason yang berada di atas jembatan tali dan dia terlihat ketakutan, memegang tali itu kencang.
Kane yang melihat itu langsung membuka jasnya dan menyerahkan pada ajudan masuk begitu saja ke dalam. Padahal dari tadi dia hanya menemani anak-anak bermain tanpa ikut terlibat.
Kane hendak membantu tubuh kecil Jason, namun anak itu malah menjatuhkan diri ke dalam tumpukan bola yang ada dibawahnya.
Wajah Kane pucat dan khawatir. Dia lalu turun ke bawah melihat tubuh Jason yang diam tidak bergerak.
Baru saja mendekat, Jason membuka mata dan bangkit lalu memeluk Papahnya sambil tertawa riang.
Kane menghela nafas lega. Jantungnya hampir copot tadi, anak ini selalu saja punya ulah yang membuatnya harus punya stock kesabaran. Ingin sekali dia memukul pantat Jason dengan keras karena membuatnya khawatir tadi.
"Papa takut tadi?" tanya Jason.
"Papa hanya tidak ingin melihatmu terluka dan Mamamu mengomel pada Papa."
"Hanya karena itu?" Jawaban Kane membuat Jason tidak puas.
"Kalau ayo lawan Papa dalam setiap permainan."
"Siapa takut, aku adalah pemenangnya. Aku yakin Jesper kali ini tidak bisa mengalahkan aku."
Jason lalu menarik tangan Jesper mencoba permainan yang tadi.
"Sudah?" tanya Kane pada ajudannya.
Ajudannya menyerahkan handphone pada Bosnya.
Kane lalu mengetikkan sesuatu dan mengirimkan pada Dee.
Dee sedang melayani pelanggan ketika sebuah notifikasi pesan dari orang tidak dikenal masuk.
Ada beberapa foto kedua anaknya dengan kane di sebuah tempat permainan. Dee menjatuhkan handphonenya sehingga jatuh ke meja.
"Ada apa, Bu?" tanya bawahan Dee.
"Tidak apa-apa," ujar Dee gugup. Dia lalu mengambil kembali handphone miliknya dan membaca sebuah pesan.
__ADS_1
Anak-anak bersamaku, kau tahu aku paling benci pengkhianat yang berbohong!
Mata Dee memanas seketika. Dia langsung mengambil tasnya dan berlari pergi.
Setengah jam kemudian dia sampai di rumah Kane yang lenggang.
"Kemana Tuanmu!" tanya Dee dengan emosi.
"Kami tidak tahu Nyonya, tadi beliau pergi tapi tidak ke kantor."
"Kau jangan berbohong!" ujar Dee menggila. Dadanya sesak seketika membayangkan anaknya dibawa pergi lagi oleh Kane.
"Nyonya, ada apa?" tanya Pak Jhon yang baru saja keluar dari dalam ruangan.
Dee mendekat ke arah Pak Jhon dengan wajah kacaunya. "Dimana anak-anakku? Kane membawa mereka pergi!" tanya Dee dengan berderai air mata.
"Kau tenang saja dulu. Mari kita duduk di kursi dan bicarakan ini dengan kepala dingin.
" Bagaimana aku bisa tenang jika Kane menculik anakku dan membawanya pergi!"
"Dia Papah mereka dan dia punya hak untuk itu."
"Aku juga ibunya," tegas Dee dengan suara hampir habis.
"Pelayan... ambilkan Nyonya kalian segelas air putih."
Satu jam kemudian Dee mondar-mandir di ruang utama rumah Kane. Menunggu Kane datang. Tidak pasti hanya saja Pak Jhon mengatakan jika Kane memang membawa mereka pergi, otomatis dia akan diberitahu. Secara, Pak Jhon adalah orang yang selalu Kane ajak diskusi tentang masalah apapun.
Mobil Bughatti memasuki halaman rumah diiringi oleh mobil Alphard di belakangnya.
Dee yang mendengar suara mobil masuk langsung membalikkan tubuhnya.
Terdengar suara anak-anaknya yang tertawa riang. Lalu, Kane masuk dengan menggendong kedua di dua tangan. Bahu Dee turun seketika dan kakinya seketika terasa lemas seperti gel. Dia jatuh terduduk sambil menangis.
Jason dan Jesper yang melihat langsung tertegun dan turun dari gendongan Kane.
"Mama...." teriak keduanya memeluk Dee. Dee membalas pelukan mereka.
"Mama kira, Mama kehilangan kalian." Dee lantas menciumi keduanya dan menatap mereka. Memeluk lagi. Suasana haru terasa kental membuat semua yang menatapnya ikut larut ke dalamnya.
"Jesper, Jason naik ke atas bersihkan diri kalian! Kalian baru dari luar," perintah Kane dingin. Dee mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Kane yang tidak mau melihatnya.
Jesper menarik tangan Jason pergi ke kamarnya. Dia tahu kedua orang tuanya butuh bicara.
__ADS_1