
lSeorang pria dengan memakai kemeja sederhana serta celana denim turun dari sebuah taxi. Dia lantas berdiri melihat ke sekitar tempat itu memastikan bahwa alamat yang dia pegang di tangannya sesuai dengan lokasi rumah ini.
Dia lantas berjalan ke arah pintu mengetuknya. Seorang penjaga nampak berjalan ke arahnya.
"Cari siapa, Mas?" tanya penjaga itu.
"Apakah ini rumah dari Kane Yang?"
"Benar, ada apa ya?" penjaga itu mengamati penampilan pria asing itu dari ujung kaki sampai ke rambutnya tanpa membuka pintu gerbang.
Sebelum ini tidak ada orang dengan penampilan seperti orang miskin yang mencari Tuannya. Ini kali pertamanya dan dia yakin Tuannya pasti tidak akan mau menerima.
"Saya bukan mencari Tuan Kane. Saya ingin bertemu dengan perempuan bernama Honey Dee. Katanya dia tinggal di sini?"
Penjaga itu memicingkan matanya. "Nona Dee?"
Pria asing itu mengangguk.
"Siapa namamu?" tanya penjaga itu curiga. Pesan Tuannya tidak ada yang boleh menemui Nona Dee tanpa izin darinya.
"Namaku Rizki, Kakak dari Dee," ungkap pria itu dengan wajah ramah.
"Setahuku Nona itu yatim piatu dan tinggal di panti asuhan."
"Saya Kakak sepanti dengan dia. Dia pasti akan mengenali saya jika kami bertemu," ujar Rizki percaya diri.
"Tunggu dulu." Penjaga itu memanggil temannya untuk menjaga pintu sedangkan dia pergi berlari ke dalam rumah menemui Tuannya.
Kane ternyata ada di ruang makan bersama dengan Dee. Dia memberi salam pada Kane sebelumnya.
"Tuan, maaf di depan ada orang yang mencari Nona Dee."
Dee menghentikan gerakannya dan menatap ke arah penjaga gerbang dengan seksama. Ingin mengatakan sesuatu tetapi takut menyinggung sang Tuan Besar.
'Apakah Anna?' pikir Dee.
Kedua alis Kane disatukan. "Pria atau wanita?" tanya Kane serius.
"Seorang pria, Tuan. Namanya Rizki," jawab penjaga itu.
"Rizki?" pekik Dee senang dengan mata berkilat bahagia lupa jika posisinya adalah seorang istri bagi Kane walau itu sementara.
Dee langsung bangkit hendak ke depan menemui kekasihnya. Tangannya langsung dipegang oleh Kane.
"Kau di sini!"
__ADS_1
"Kane kumohon, dia baru saja pulang dari Papua ingin menemuiku. Ijinkan aku untuk sebentar saja bertemu dengannya," pinta Dee memelas.
Hal itu membuat Kane semakin tidak suka. Apakah wanita itu lupa dengan perjanjian mereka jika tidak akan ada orang lain dalam hubungan ini selama kontrak itu masih ada.
Dia nampak gusar dengan kedatangan pria itu yang tidak selevel dengannya bahkan dari kalangan rendahan. Tidak seimbang. Lantas mengapa hatinya merasa terganggu dan tidak senang melihat wajah bahagia Dee. Wanita itu tidak pernah terlihat seperti itu bersamanya.
"Tidak! Kau tidak akan menemui siapapun tanpa izin dariku, tidak dia tidak Anna atau pria-pria lainnya."
"Kane, aku tidak pernah berhubungan dengan pria manapun."
"Lalu siapa dia?"
"Dia itu ... ." Dee nampak ragu mengatakan siapa Rizki baginya. "Dia hanya kakak satu panti denganku."
"Hanya itu? Kau kira aku bodoh. Dari kau berada di sini hanya dia yang mencarimu, jika kalian tidak punya hubungan spesial lantas untuk apa dia datang!" suara Kane mulai meninggi membuat Dee terkejut.
"Kau salah sangka, dia hanya orang yang sudah aku anggap sebagai kakak sendiri," ujar Dee masih kekeh dengan kebohongannya. Dia tidak mungkin mengatakan pada Kane jika Rizki itu calon suaminya. Itu akan memicu pertengkaran dan konflik baru bagi mereka.
Tidak-tidak, kau tetap berada disini. Kau tidak bisa menemuinya Dee!" ucap Kane keras. Kane pergi meninggalkan Dee.
"Ku mohon ijinkan aku untuk menemuinya walau sebentar," pinta Dee mengikuti Kane dan memegang tangannya. Kane menyentaknya dan Dee hampir terjatuh tapi untung saja dia berpegangan pada tiang besar di ruangan itu.
"Masuk ke kamarmu Dee," perintah Kane. Namun, Dee tidak menghiraukannya. Dia berlari hendak menemui Risky. Pria itu pasti menemuinya untuk meminta penjelasan dan Dee tidak sanggup untuk menambah lukanya dengan tidak menemuinya.
"Emilio usir pria itu jauh dari rumah ini jika tidak mau kalian hajar dan buang dia jauh dari rumah ini agar dia tidak pernah kembali lagi kemari!" perintah Kane keras pada Emilio.
"Cepat tutup semua pintu jangan biarkan dia keluar!" teriak Kane.
Dee berlari sangat kencang hendak menerobos ke arah pintu utama yang hendak ditutup.
"Bawa wanita itu ke kamarnya, cepat!"
"Tidak ... ." Teriak Dee keras ketika para pegawai Kane menangkapnya dan menyeret masuk ke kamar.
"Jangan kau lakukan ini. Dia tidak bersalah," teriak Dee keras dengan wajah penuh air mata.
"Dasar kau binatang, Kane Yang!" pekik Dee ketika dimasukkan ke dalam kamar dan dikunci dari luar.
Dee berlari ke arah jendela kamarnya dan berusaha melihat ke arah gerbang. Rizki masih ada di sana dan beberapa pengawal Kane mendekat ke arah Riski.
Dee menyeka air matanya dan mencari telepon. Dia mencoba menghubungi Rizki.
Panggilan tersambung.
"Kak ... ." panggil Dee serak.
__ADS_1
"Dek, apakah kau baik-baik saja?" terdengar suara cemas Rizki dari balik telepon.
"Aku baik-baik saja, kau pergilah dari sini," ucap Dee.
"Pergi, tidak mungkin sebelum kita bertemu dan berbicara."
Terdengar Isak tangis Dee. "Ku mohon pergilah sebelum.iblis itu melukaimu," ucap Dee serak dan parau.
"Dee, kau kenapa? Apakah kau disiksa olehnya?" tanya Rizki cemas.
"Aku baik-baik saja, percayalah, dia tidak akan melukaiku," kata Dee tercekat.
"Aku tidak percaya sebelum bertemu denganmu."
Dee menutup mulutnya ketika melihat orang-orang itu mendekati Rizki.
"Hei kau, untuk apa ada disini!'' terdengar suara Emilio dari balik telepon.
"Aku hanya ingin bertemu dengan Honey Dee," ucap Kane.
"Dia tidak ada di sini."
"Aku tahu dia ada di dalam. Kami berbicara melalui telepon."
Terdengar suara tidak beraturan.
"Kembalikan handphoneku," suara Rizki masih terdengar.
Lalu bunyi krak dan akh keluar.
"Jangan temui Dee lagi jika ingin selamat!" teriak Emilio.
"Dee, aku akan tetap menunggumu, aku mencintaimu," lantas panggilan terputus.
Dee menangis keras ketika melihat Rizki dimasukkan secara paksa ke dalam mobil oleh Emilio dan pengawal Kane yang lain.
Rizki tidak bersalah dia tidak boleh dipukuli oleh Kane. Dia hanya peduli padanya. Satu-satunya orang yang mencintainya dengan sepenuh hati.
Dee pergi ke arah pintu. Dia menggedornya.
"Kane, kemana kau akan bawa Riskiku, kau tidak berhak melakukan itu, dia tidak bersalah! Lepaskan dia," teriak Dee panik sambil terisak.
Tetap tidak ada jawaban dari luar.
"Kane kemana kau bereung engseak!"
__ADS_1
"Kane, aku membencimu dengan sepenuh hati!" teriak keras Dee. Kane yang mendengar dari balik pintu hanya terdiam. Hatinya tiba-tiba sakit mendengar teriakan Dee. Harusnya tidak seperti ini tapi dia tidak suka jika Dee dekat dengan pria lain.