
Dee terdiam sepanjang perjalanan pulang. Dia menoleh menatap ke arah Jason dengan sedih.
Pria itu bahkan tidak ingin menyapa anaknya? Apa karena dia sangat membencinya? Jika dia benci Dee tidak seharusnya ikut melampiaskan pada Jason. Dee lantas mengusap kepala Jason dan menciumnya.
Rizky menatap sendu ke arah Dee. Berpikir apakah Dee sebenarnya masih mencintai Kane? Selama ini wanita itu tidak pernah memperlihatkan kesedihan dan perasaannya pada siapapun.
Namun, Rizky tahu jika Dee memendam luka yang dalam. Dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan jika sampai Dee kembali lagi bersama dengan Kane.
Mereka akhirnya sampai di rumah. Jason sendiri sudah kenyang setelah membeli satu paket ayam krispi kesukaannya di jalan tadi dan menghabiskannya.
Rizky menggendong tubuh Jason masuk ke dalam rumah. Dee ikut berjalan di belakangnya. Ikut memegang Jason dari belakang.
Diam-diam Kane mengikuti mereka. Hatinya panas melihat mereka bersama masuk ke dalam satu rumah dan terlihat mesra.
Bagaimana rasanya dikhianati dan ditinggal oleh istri yang dicintai, itulah yang Kane rasakan saat ini. Luka ini begitu dalam, tapi tetap saja tidak bisa menghilangkan Dee dari pikirannya.
Kane lantas melajukan lagi kendaraannya pergi dari lokasi itu.
Rizky menyelimuti Jason seperti seorang ayah yang menyelimuti anaknya. Dia lantas menatap ke arah Dee dan tersenyum. Namun, Dee malah sedang berada di alam lain.
"Dee…." Panggil Rizky lembut.
"Eh, ya," balas Dee terkejut.
"Apa yang kau lamunkan?" tanya Rizky. "Apa soal mantanmu itu?"
'Dia belum mantan karena kami belum berpisah secara resmi.'
Hati Dee sakit memikirkan itu. Setelah Kane membuatnya jatuh cinta, lalu meninggalkannya tanpa memberi kesempatan pada Dee untuk menceritakan semuanya. Dia juga tidak menganggap Jason ada. Apakah semarah itu Kane padanya hingga melakukannya?
"Dee lupakan dia dan kita mulai hidup yang baru. Kau tadi dengarkan jika Jason sudah terbiasa memanggilku ayah," ujar Rizky senang. "Kau tahu aku sangat senang mendengarnya."
Dee tersenyum getir. Jason memang dekat dengan Rizky dan kerap bersikap manja padanya. Rizky pun terlihat menyayangi Jason seperti anaknya sendiri.
"Walau dia bukan anakku, tapi aku sudah menganggapnya sebagai anak sendiri."
"Aku tahu, Kak," ungkap Dee.
"Kalau begitu terimalah lamaran ku Dee dan kita menikah lagi. Aku takut jika Kane akan mengangganggu kehidupanmu ke depannya."
Dee mengangkat wajah menatap Rizky.
"Hah, Kane? Kalian bahas dia lagi? Dan apa katamu Risky, dia akan mengganggu Dee ? Memang kalian bertemu lagi dengannya?"
__ADS_1
Rizky mengangguk.
Emilio yang baru masuk menanyai mereka dengan berbagai macam pertanyaan. Pria dengan tubuh kekar seperti seorang binaragawan itu mendekat ke arah mereka dengan segelas kopi di tangannya.
"Kakak tidak pergi tugas?" tanya Dee heran karena ini jatah kakaknya bertugas menjaga keamanan lokasi tambang tempatnya bekerja. Kakaknya adalah kepala keamanan di sana.
"Kakak akan dimutasi ke Jakarta," beritahu Emilio tiba-tiba.
"Hah? Berarti kita akan pindah dong?" tanya Dee.
"Terserah padamu. Kakak sendiri akan tinggal di rumah Bos kakak, jika kau mau ikut, kita bisa menempati rumah Ayah di sana. Hanya saja kakak akan jarang berada di rumah. Jika di sini kau harus menikah dengan pria ini karena kakak tidak percaya padanya," ujar Emilio seperti menantang bertarung pada Risky.
Rizki yang sudah biasa diperlakukan begitu hanya tertawa saja. "Aku sudah melamarnya puluhan kali tapi tetap saja belum ada jawaban."
"Statusku masih istri orang, sulit untuk mengajukan perceraian karena aku ada di sini," ungkap Dee.
"Maka dari itu, kita kembali lagi ke Jakarta dan mengajukan perceraian secepatnya dengan Kane," ujar Rizky semangat.
"Lalu bagaimana pekerjaanmu di sini? Kau baru saja diangkat jadi manager. Apakah itu tidak sayang jika dilepaskan?" sela Emilio.
Dee sendiri terdiam tidak tahu harus mengucapakan apa. Pertemuan tadi dengan Kane sedikit banyak mengguncang hatinya.
"Aku sudah punya tabungan cukup jika kau ingin tetap tinggal di sana. Jika kau ingin tinggal di sana untuk mengurus perceraianmu saja dan kita menikah, maka aku hanya akan mengajukan cuti di sini untuk sementara waktu."
Setelah itu, Rizky ijin untuk kembali ke rumahnya yang ada di sebelah rumah Dee.
Kini hanya ada Dee dan Emilio dalam satu ruangan.
"Dee benar tadi kalian bertemu dengan Kane?"
Dee menghela nafas. Emilio sendiri memegang kepalanya dengan gelisah. Selama ini dia hidup tenang dengan semua rahasia yang ada. Masing-masing dari mereka tidak tahu jika satu anak mereka masih hidup.
"Apakah Kane melihat Jason?" Dee mengangguk.
"Bagaimana reaksinya?"
"Dia seperti tidak perduli dan cuek. Aku tidak tahu apa salah Jason sehingga Kane melakukan itu? Apa karena kesalahan yang telah kulakukan?"
Dee menangis. "Seharusnya dia cukup membenciku bukan anakku," ujar Dee.
"Dee sebenarnya, Kane itu tahunya Jason telah tiada." Dee menutup mulutnya terkejut.
"Kakak, kau?"
__ADS_1
"Maafkan Kakak karena merahasiakan ini darimu Dee. Namun, ini semua demi kebaikanmu. Aku ingin kau juga ikut bahagia dengan anakmu," terang Emilio.
"Kane tidak tahu?" tanya Dee gagap.
Emilio menggeleng.
"Jika dia tahu, dia pasti akan mengambil Jason juga darimu," ujar Emilio.
"Berarti anakku yang satu masih hidup?" tanya Dee penuh harap.
Emilio mengangguk. Tangis Dee pecah seketika. Selama ini Dee membenci Kane karena membuat satu anaknya meninggal ternyata dia masih hidup.
Emilio memeluk adiknya dan mengusap punggung Dee.
"Maafkan Kakak, tapi hanya itu cara agar kau tidak sendiri. Agar kau bisa memiliki Jason."
"Kau ingat dengan perjanjian itu kan? Kalian sudah menikah dan membatalkan perjanjian itu tapi mengingat apa yang kau lakukan pada Kane? Apakah pria itu akan melepaskanmu begitu saja? Kau tahu sendiri bagaimana sifatnya."
"Waktu itu keadaanmu sangat kritis. Aku memakai pakaian dokter dan masuk ruang operasi tanpa sepengetahuan Kane. Lalu aku meminta mereka untuk merahasiakan satu anak ini dari Kane, dengan mengatakan jika dia telah meninggal."
"Awalnya mereka tidak setuju tapi aku memaksa dan membujuk dengan segala cara. Akhirnya mereka setuju atas dasar kemanusiaan. Untungnya Kane langsung pergi ke luar negeri dan tidak menyelidiki masalah ini lebih lanjut."
"Kane langsung keluar negeri dengan anakku? Apakah dia ada di negara ini atau tidak?" tanya Dee.
"Setahuku, sebelum kita ke Papua, anak itu ikut ayahnya tinggal di luar negeri."
Dee menundukkan pandangannya. "Bisakah aku menemuinya?" gumam Dee.
Anaknya yang selama ini dia pikir telah tiada ternyata masih hidup. Ibu mana yang tidak ingin melihatnya. Air mata menetes di pipi Dee.
"Kita tidak tahu, Dee. Yang penting saat ini kita harus pergi dari sini secepatnya untuk mengamankan Jason."
"Tapi mengapa dia tidak mengenal Jason itu anaknya?"
"Aku juga tidak tahu Dee. Mungkin dia mengira jika Jason adalah anak Rizky?"
"Kakak benar karena dia melihat aku dan Risky bersama."
"Biarkan tetap seperti itu, lagipula aku membuat akte Jason berbeda satu dengan tahun kelahirannya. Sehingga umur Jason terlihat satu tahun lebih muda dari umur kakaknya. Itu akan membuat dalih yang baik bagi kau untuk mengatakan bahwa Jason bukan anak Kane."
Dee mengangguk lemas, pikirannya sedang kacau sekarang.
'Anakku, sedang apa kau di sana? Bagaimana keadaanmu? Apakah ayahmu mengurusmu dengan baik?'
__ADS_1