Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 43 Cemburu Buta


__ADS_3

"Tuan, Nona Dee bersama dengan seorang pria pergi menyebrang untuk kembali ke Jakarta."


Kane memukul kesal meja di depannya dengan kesal. Wanita itu memang ingin kembali pada pria itu. Hatinya teramat sakit saat ini. Terluka namun tidak berdarah.


Luka lama itu kembali menganga. Luka ketika ibunya meninggalkan dirinya hanya karena sejumlah uang dan untuk bisa hidup dengan pria lain. Tidak bisakah dia mendapatkan kasih sayang tulus seorang wanita.


Kane tiba-tiba menangis sendiri di pojok ruang kerjanya sambil memeluk tubuhnya sendiri.


Bayangan kecilnya yang ketakutan di dalam kegelapan kembali lagi. Rasa kesepian dan kesedihan menderanya begitu dalam, dia meneteskan air mata sama seperti dia menangis ketika kecil. Air mata tanpa suara.


"Jangan... jangan sakit ...," rintihnya dalam halusinasi masa itu.


Kejadian ketika dirinya dipukul oleh Cindy kembali terulang hingga berdarah kembali terulang dipikirkannya. Dia seperti anak kecil yang meringkuk ketakutan.


Pak Jhon yang curiga masuk ke ruang kerja Kane. Dia melihat ruangan itu gelap karena masih tertutup tirai tebal. Indra pendengarnya mendengar rintihan. Netranya kini tertuju pada sosok Kane yang sedang duduk di pojok ruangan sambil memeluk kakinya sendiri Kepalanya masuk diantara dua lututnya.


Pak Jhon lantas pergi ke kamar Kane dengan cepat, mengambil obat penenang. Lalu kembali ke ruangan itu dengan membawa segelas air putih.


"Kane ... buka matamu," kata Pak Jhon, mengangkat dagu Kane.


Dia lalu memasukkan obat itu ke mulut Kane dan memberi air minum. Itu adalah obat anti depresan. Setelah itu, dia langsung memapah Kane ke kamarnya dan membaringkan pria itu ke tempat tidur.


Emilio yang melihat Tuan Jhon membawa Tuannya ke kamar lantas mengikuti dan melihat keadaan Tuannya yang menyedihkan.


"Kenapa dia seperti ini?" tanya Emilio pada Pak Jhon.


"Tuan Muda punya masa lalu kelam yang membuatnya trauma. Hal ini sudah lama tidak terjadi padanya. Mungkin kejadian di Pulau Seribu memicu nya. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa bisa sampai seperti ini?" geram Pak Jhon.


"Dee .... Tuan meninggalkan Dee sendiri di pulau itu. Dia pulang sendiri kemari. Aku akan menyelidikinya," kata Emilio dengan wajah khawatir.


"Tidak usah kau selidiki!" ucap sengit Pak Jhon. Selama ini dia yang merawat Kane, merawat luka fisik dan batinnya seperti anak kandung sendiri. Dia tidak terima jika anak ini terluka lagi.


"Kalau wanita itu hanya datang dan membuat luka untuk Tuan, sebaiknya dia tidak kembali lagi kemari," ucap Pak Jhon dingin.


"Baiklah!" kata Emilio lesu. Dia nampak kecewa dan pergi keluar dari kamar.

__ADS_1


'Dee kau membuat masalah besar kali ini.' Batin Emilio.


Sebuah taxi berhenti di depan rumah besar dan mewah milik Kane. Dee keluar dari dalam taxi itu.


"Kau benar tidak mau kutunggui?" tanya Rizki memastikan sesuatu.


"Ya, aku tidak mau membuat masalah lagi."


"Ya, sudah jika itu pilihanmu. Aku menghargainya walau tidak suka."


Dee tersenyum. Taxi lalu berjalan meninggalkan Dee sendiri di sana. Dee kembali menatap ke pintu gerbang rumah Kane. Rumah tempat pernikahannya, rumah yang untuk pertama kalinya dia tinggali selain panti, rumah dimana dia menemukan arti rumah sesungguhnya.


Tadi dia sempat ke rumah yang terakhir mereka tempati tapi kata penjaga rumah, Kane ada di sini.


Mengapa dia harus pergi meninggalkannya? Bukankah ini mimpinya, punya rumah yang hangat dimana di dalamnya ada cinta dan kasih sayang.


Dia lalu mengetuk pintu gerbang yang tertutup rapat itu. Sebuah celah mulai terbuka.


"Nona Dee," panggil penjaga gerbang mengenali dirinya.


"Pak, bisa tolong bukakan pintunya?" tanya Dee tersenyum.


Netra Dee nanar seketika. Dia melihat kosong ke arah pintu itu. "Dilarang," ulang lirih Dee.


Dia menggelengkan kepala.


"Kalau begitu, biarkan aku menemui Tuanmu katakan jika aku di sini."


"Maaf, Nona kami tidak bisa."


"Sialan!" ucap Dee marah.


Dia lalu memukul keras gerbang. "Kane, keluar kau, kita harus bicara. Ini tidak seperti yang kau duga!" teriak Dee.


Dee terus memanggil Kane untuk keluar namun tidak ada jawaban. Dia akhirnya duduk lemas di bawah gerbang. Menangis.

__ADS_1


Emilio yang tidak tega melihat semuanya dari atas balkon lantas memilih keluar. Menemui Dee.


Deritan pintu gerbang yang terbuka membuat kepala Dee terangkat. Dia menatap ada Emilio berdiri di sana menatapnya dengan sendu. Dee lantas berlari mendekat ke arah pria itu.


"Emilio, bantu aku bertemu dengan Kane, aku ingin menjelaskan semuanya. Ini tidak seperti yang dia lihat. Aku hanya menemui Rizky untuk mengatakan jika aku ingin membentuk keluarga baru. Aku tidak bisa jika harus meninggalkan anakku jadi aku memilih hidup bersama Kane. Dia mengerti. Sayangnya, saat kami berpelukan untuk perpisahan dan Kane melihat. Dia pergi begitu saja."


"Kau melakukan kesalahan besar Dee dan itu tidak termaafkan. Kau tidak tahu apa yang Tuan rasakan ketika melihat wanita yang dia cintai bersama dengan pria lain berpelukan."


"Aku tahu aku salah," ucap Dee penuh penyesalan. "Biarkan aku meminta maaf padanya dan membuat semuanya terang. Jika Kane tidak menerimanya dan ingin agar aku pergi maka aku akan pergi," cicit Dee lemah.


"Katamu kau hanya ingin bersama dengan anakmu, jika iya maka pergilah sekarang. Tuan tidak akan menghalangi kebahagiaanmu jika dia memang sudah meninggalkanmu. Untuk apa dia mempertahankan wanita yang tidak bisa menghargai cintanya! Dia bisa cari wanita lain untuk hamil anaknya."


Ucapan Emilio serasa menohok hati Dee. Dia menelan salivanya dengan sulit. Wajahnya menjadi pucat pasi seketika.


Apakah dia kemari hanya karena anaknya? Emilio benar dia bisa hidup bebas di sana bersama Rizky serta anaknya. Namun, dia memilih kemari, kenapa?


"Anakku harus bersama ayahnya, aku ingin anakku punya orang tua yang lengkap. Tidak seperti diriku yang hidup tanpa orang tua."


"Jika hanya itu pergilah, carilah pria lain untuk dijadikan ayahnya!" Emilio berbalik pergi.


"Tunggu! tidak bisa seperti itu," ucap Dee ragu. Langkah kaki Emilio terhenti.


"Lalu seperti apa yang kau mau? Rumah tangga tanpa cinta hanya akan membuat anak-anak tidak bahagia."


"Aku sudah berjanji padanya akan belajar mencintainya."


"Bukan belajar, Dee, tapi kau harus mencintainya dengan hatimu, bukan karena anakmu. Hargai dan hormati dia karena dia suamimu. Jadilah wanita bermartabat," terang Emilio.


Untuk pertama kalinya pria itu memanggil dengan nama 'Dee' dan memberi nasihat untuknya seperti nasihat kakak pada adiknya.


Mata Dee berkaca-kaca. Terharu. "Aku akan mencintainya, aku janji padamu."


"Bukan janji padaku, tapi janji pada dirimu sendiri."


Dee mengangguk.

__ADS_1


"Aku akan membantumu kali ini, tapi jika lain kali kau ulangi kesalahan yang sama maka aku tidak bisa membantumu lagi."


Dee mengerti. Dia mengusap air matanya. Emilio menepuk ujung kepala Dee. "Sudah jangan menangis seperti itu. Kau jelek jika menangis."


__ADS_2