
"Kami menikah di bawah tangan. Orang tuaku tidak merestui. Mereka mengusirku. Lalu aku hidup di kontrakan sederhana dengan ayahmu. Kami bahagia dan aku bahkan sedang hamil muda kau saat itu. Hingga suatu saat ayahmu tidak datang berhari-hari. Aku mencarinya ke tempatnya bertugas dan temannya mengatakan jika dia sedang mengambil cuti beberapa hari ini. Mereka tahu siapa aku jadi tidak mau berterus-terang."
"Aku pergi ke rumah dinasnya." Linda lantas memegang dadanya yang terasa sesak. Walau sudah bertahun-tahun tapi tetap saja itu membuat dia terluka.
"Ayahmu bersama dengan keluarganya. Mereka nampak bahagia. Aku cemburu tapi aku sadar diri jika aku itu adalah perusak kebahagiaan mereka kalau sampai keluarga ayahmu tahu. Aku melihat anak ayahmu nampak bahagia dalam gendongannya. Seketika, aku tidak ingin mengambil kebahagian dan senyum itu darinya. Itu tidak akan adil untuknya kan?"
Dee mengangguk.
"Ayahmu sempat melihatku tapi aku berlari pergi dari situ dengan cepat. Saat itu aku tidak tahu harus kemana. Pulang ke rumah kontrakan itu sama saja membuatku merasa bertambah bersalah karena ayahmu pasti akan kembali ke sana."
"Aku memutuskan kembali ke rumah dan meminta maaf pada keluargaku. Mereka menerimaku dengan syarat aku harus menggugurkan kau. Aku tidak menolaknya keras. Lantas ayahku memberikan pilihan lain jika aku ingin mempertahankanmu maka kau harus di buang."
"Katakan aku terlalu lemah untuk melawannya sambil berharap orang tuaku akan iba dan tidak membuangmu suatu saat nanti. Jadi aku menerima pilihan kedua."
"Setelah kau lahir, aku masih bisa memelukmu hingga ayahku mengambil kau dari pelukanku. Aku sudah memohon agar jangan mengambilmu tapi dia tetap merebutmu dariku. Aku tidak kuasa untuk mempertahankanmu."
"Maaf Dee, andai kan aku tidak kembali pada orang tuaku dan bertahan hidup dengan mu pasti kita tidak berpisah dan kau tidak akan hidup sesulit ini. Maafkan aku karena aku terlalu egois sehingga kau ikut menderita karena perbuatanku."
Dee terdiam tidak bisa mengatakan apapun. Pikirannya kacau.
"Kenapa kau tidak berusaha mencariku?" tanya Dee.
"Aku sudah berusaha hanya saja Kakekmu mengancam akan mengeluarkan namaku dari keluarga besar jika sampai aku membawamu kembali ke rumah. Baru setelah Kakekmu sakit parah dan hendak meninggal dia mengatakan kemana dia pernah membuangmu."
"Setelah itu, aku mencarimu dan kita bertemu di pemakaman itu."
Dee mengangguk. Dee sadar jika bukan hanya dia yang menderita ibunya juga pasti sangat sedih. Dia bisa melihatnya.
"Aku senang kita bertemu lagi dan kau sudah bisa hidup bahagia dengan keluargamu. Aku bangga denganmu. Setidaknya, aku tidak akan khawatir lagi dengan nasibmu selanjutnya karena kau punya suami yang mencintaimu dan anak-anak yang menyayangimu."
"Aku hanya bisa berdoa semoga kau bisa selalu dalam perlindungan Tuhan dan bahagia."
"Sepertinya sudah sampai di sini. Sebenarnya aku masih ingin berbicara banyak denganmu hanya saja jika kau tidak berkenan, aku tidak akan memaksamu. Aku akan pergi. Kalau kau mencariku kau akan tahu harus pergi kemana."
Linda lantas bangkit. Dia menghela nafas lega kali ini dan tersenyum pada Dee.
"Dee bolehkah aku meminta satu hal saja padamu?"
__ADS_1
"Apa?" tanya Dee tercekat.
"Bolehkah aku memelukmu satu kali saja, aku... hanya pernah memeluk dulu ketika kau baru lahir dan kini aku juga ingin melakukannya lagi. Ini akan kukenang seumur hidupku."
Dee mengangguk. Linda lantas bergerak memeluk Dee dengan erat, mencium rambutnya dalam. Dee menahan tangannya untuk tidak membalas pelukan itu.
"Tetap bahagia, Nak," doa Linda sekali lagi.
Setelah itu, Linda melepaskan pelukannya dengan berat. Menatap wajah Dee dan tersenyum.
"Terimakasih, kenangan ini akan kubawa hingga aku mati nanti."
Linda lantas membalikkan tubuhnya.
"Apakah kau akan meninggalkan aku lagi setelah menemukanku?'' ujar Dee membuat Linda terkejut. Dia membalikkan tubuhnya dan tersenyum lebar.
"Tidak, tentu saja aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan berada di sini jika kau menginginkannya. Anakku," ucap Linda kembali memeluk Dee.
Suasana haru sangat terasa di ruangan itu. Kane yang melihat dari ruang monitor ikut terharu. Dia teringat akan ibunya yang telah dia lupakan selama ini. Mengapa wanita itu tidak pernah mencarinya setelah pergi.
David yang baru pulang dari luar melihatnya. Dia mendekat. "Kenapa tidak diberikan pada loundry saja?" katanya.
"Ini hanya sedikit, lagipula aku masih enggan keluar rumah." Rosemary malu dengan tragedi yang menimpa dirinya. Orang-orang pasti akan menghinanya.
"Kau bisa atau tidak?" tanya David. Rosemary menggelengkan kepalanya. David lalu mengerjakannya.
"Kenapa kau tidak menurutiku agar memakai jasa asisten rumah tangga."
"Rumah ini kecil, bisa kita rawat bersama. Lagi pula kau kan tidak suka jika ada yang menyentuh barang berhargamu."
"Tapi kenyamananmu lebih penting."
"Aku lebih nyaman seperti ini. Tidak ada yang mengganggu karena aku juga butuh ketenangan."
David tersenyum senang. Dia lantas mematikan selang setelah air di bak mesin cuci penuh. "Berikan sabun dan putar"
"Hanya seperti ini," kata Rosemary. David mengangguk.
__ADS_1
"Kau mau makan apa? Biar aku pesankan."
"Aku tidak tahu ingin makan apa."
"Bagaimana kalau aku yang memasak," kata David. "Oh tapi tanganku belum bisa melakukan apapun terpaksa kita memesan makanan saja."
"Kau bisa memasak?"
"Ya, dulu ketika aku kuliah di Inggris, aku hidup sendiri dan aku menikmati kesendirianku. Tidak ada yang memanggilku Tuan Muda dan tidak ada yang mengikutiku. Rasanya bebas."
"Aku tidak pernah melakukan apapun sendiri."
"Aku tahu, selama ini kau hidup bagai seorang putri tapi kau memang seorang putri karena kau pernah menjadi putri kecantikan negeri ini."
"Itu dulu, sekarang tidak seperti dulu," ujar Rosemary sedih.
"Sekarang pun kau masih sama-sama cantik."
Wajah Rosemary memerah karena malu. Dia sudah biasa di puji oleh orang. David pun sering mengatakan ini ketika mereka bersama, tapi kali ini rasanya berbeda.
"Wajahmu tampak lebih mempesona seperti itu ketika malu," imbuh David. Pria itu memang perayu ulung makanya wanita ada di banyak tempat. Dia selalu tidak kekurangan wanita dimana pun berada. Dan aksinya ditempat tidur selalu bisa membuat Rosemary panas dingin dan terbuai ke langit.
Mengingat itu membuat jantung Rosemary berdenyut. Sudah lama mungkin tiga bulan mereka tidak bersama dan melakukannya.
"Seharian kau darimana tadi?" tanya Rosemary. Mungkin saja pria itu pergi bertemu dengan wanita lain.
"Aku tadi bertemu dengan teman," ucap David.
"Teman wanita?"
"Kau jangan cemburu seperti itu. Hanya beberapa teman pria. Aku sedang mencari pekerjaan dan sayangnya mereka tidak ada yang percaya. Mereka kira aku berbohong. Lagipula siapa yang akan menerimaku menjadi karyawan mereka."
"Aku tidak cemburu," kilah Rosemary.
"Jika cemburu, aku pasti akan lebih suka," ujar David mendekat ke arah Rosemary hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja.
"Rose, aku merindukan kebersamaan kita dulu. Apakah kau juga?" tanya David terus terang.
__ADS_1