
Kane melamun. Ia menatap pemandangan ke luar jendela kaca. Setelah kejadian tadi, ia merenung di tempat ini. Merenungi diri dan mencoba untuk meredam emosi. Kane menarik napas. Entah sudah berapa kali ia melakukannya.
"Bagaimana bisa dia memilih pria lain? Ck! Padahal aku bisa memberikan semua yang dia inginkan. Apa yang kurang dariku sehingga dia melakukannya?" Kane memejamkan kedua mata. Rasanya penuh sesak ketika ia mengingat kembali apa yang baru saja terjadi.
Ia menghela napas. Mungkin memang Dee tidak akan membuka hati untuknya. Meskipun Kane sudah berjuang untuk Dee. Pikiran Kane tertuju pada bagaimana posisi dirinya dibandingkan dengan mantan kekasihnya itu? Kane mendadak emosi kembali.
"Jadi, aku merupakan pria yang sangat buruk di matanya? Apakah posisiku sebagai seorang suami juga tidak berarti di hatinya? Ha, ini benar-benar buruk! Aku sudah melakukan apapun untuknya. Tapi, mengapa pria itu terus membayangi Dee? Padahal aku ini calon ayah dari bayi yang dia kandung." Kane memijat pelipisnya. Kepalanya sakit bila melihat bagaimana Dee dan mantan kekasihnya itu berpelukan.
Di saat-saat seperti itulah tiba-tiba terdengar pintu yang terbuka. Kane menoleh. Bibirnya bergerak membentuk seringai ketika ia mengetahui siapa yang datang mengunjunginya.
"Apakah kau sedang sibuk?" Park Yang datang dengan raut wajah yang bisa ditebak.
Kane kembali menatap pemandangan di luar jendela. Pria itu tak langsung menjawab. Ia masih berdiri dengan ekspresi dingin. "Aku pikir kau memiliki mata untuk melihat."
"Apa tujuanmu datang ke sini? Aku pikir itu tidak akan menjadi sangat penting hingga membuatmu datang ke sini sendiri bukan?" imbuh Kane.
"Ada banyak wanita berkelas yang selalu ada di sekitarmu. Kenapa kau malah memilih dia?" Park Yang bertanya dengan nada yang seolah meremehkan.
"Kau merupakan pria muda yang sukses. Kau selalu berhasil mendapatkan tender besar dan bisnis-bisnismu selalu berhasil. Mengapa hanya untuk istri saja kau tidak becus mencari yang sesuai dengan statusmu saat ini?" tandas Park Yang.
__ADS_1
"Siapa dirimu sehingga kau bisa seenaknya berbicara? Jangan berbicara omong kosong lagi. Kau saja sebagai ayah sudah membuang anak yang dulunya tidak berguna untukmu bukan? Jadi, berhentilah untuk membuatku tertawa. Jangan lagi berbicara tentang perbedaan status. Kalau kau masih berbicara tentang status, jangan lupa statusku sebelum sampai di sini pun hanya anak seorang pelayan," balas Kane.
Suasana mendadak hening. Kane masih sibuk menenangkan pikiran dan menekan emosi. Akan tetapi saat ini malah sumber emosi lain berada tepat di depannya. Kane yang kesal menarik napas panjang dan menghembuskan pelan.
"Kenapa kau menyembunyikan menantuku? Cindy selalu bertanya kapan menantunya akan datang." Park Yang kembali memecah keheningan.
"Lalu sejak kapan dia menjadi ibuku?" Kane menekankan kata ibu. Lalu pandangannya kembali lurus ke depan. "Sekalipun aku tidak tahu di mana ibuku, selamanya dia bukan ibuku! Setidaknya, katakan pada istrimu itu. Tolong, jangan melewati batas yang aku tetapkan."
"Batas?" Alis Park Yang menukik tajam. Ia bingung dengan batas apa yang sudah ditetapkan oleh Kane. Mendadak raut wajahnya berubah. "Jangan-jangan batas yang kau maksud dengan kedatangan Cindy ke rumahmu tempo hari?"
"Baguslah kalau paham. Aku tidak perlu menjelaskannya lagi bukan?" Kane berbicara tanpa menoleh. Kata-katanya bernada sarkas.
"Tapi, bukankah kita semua keluarga? Jadi, aku pikir tidak ada salahnya membiarkan Cindy dan istrimu dekat. Kalau hubungan mereka buruk, bagaimana nanti pandangan orang-orang? Pasti mereka semua berpikir bahwa kita semua tidak akur," terang Park Yang.
"Ayah, jangan berbicara hal yang lucu. Pokoknya jauhkan istrimu dari istriku. Atau aku benar-benar akan mengambil tindakan," ancam Kane.
Park Yang diam tak menjawab. Ia menatap punggung lebar milik Kane. Putranya itu benar-benar mewarisi semua yang ia miliki. Sifat, ambisi dan sama-sama mencinta wanita yang bukan dari kalangan berkelas. Namun, untuk yang terakhir sepertinya Park Yang melupakannya.
"Ngomong-ngomong aku punya kenalan." Park Yang sepertinya masih tak menyerah. "Dia cantik dan berkelas. Lulusan dari universitas ternama dan tentunya tidak akan memalukan untuk diajak saat datang ke berbagai pesta mewah."
__ADS_1
"Aku tidak tertarik," potong Kane dengan cepat.
"Ck! Tenang. Aku tidak mengatakan kau harus menceraikan istri kampunganmu itu. Kau bisa menjadikan Dee sebagai istri simpanan saja. Aku yakin, orang miskin pasti akan menerima semua keputusanmu. Bagaimana? Lebih seru yang ini bukan? Kau bisa mencari istri yang berkelas dan itu tidak akan membuatmu malu nantinya." Park Yang berbicara seolah Kane akan setuju pada rencananya.
Mungkin, Park Yang lupa bila Kane sangat membenci ide tersebut. Kane menoleh. Pria itu menatap Park Yang dengan mata yang nyalang dan dingin. Ekspresi wajahnya pun datar.
Mendadak Park Yang merasakan suasana menjadi dingin. Pria berusia paruh baya itu melirik ke arah AC yang sepertinya tidak mendapatkan tambahan suhu untuk menjadi lebih dingin. Hingga tanpa sengaja matanya menangkap Kane yang menatapnya tajam. Bulu kuduk Park Yang berdiri merinding. Hingga pria itu menyentuh tengkuknya yang tidak gatal.
"Aku bukan Ayah yang mencari pelayan untuk mendapatkan keturunan. Bahkan saat wanita itu masih tergolek tak berdaya kau malah sibuk dengan anak dan istrimu yang lain. Setelah kau memiliki anak dari istrimu itu, kau membuang pelayan yang kau katakan sebagai simpanan itu. Aku tegaskan sekali lagi. Aku bukan Ayah yang tega membuang anak maupun istrinya sendiri meskipun ia seorang simpanan. Lagipula, dia ibu dari anakku," papar Kane.
Park Yang mengepalkan tangan. Ia sedikit kesal lantaran Kane mengungkit masa lalu. Pria paruh baya itu menarik napas. Ia menganggukkan kepala berulang kali tanda mengerti.
"Seandainya saja aku tidak memiliki tujuan, aku tidak akan sudi berada di sini. Aku harus tenang. Tender pengadaan proyek jalan tol Sumatera antara King Kane Corp yang bersaing dengan Diamond TBK ini harus dimenangkan oleh Diamond TBK. Jadi, aku harus bisa membuat dia mengalah." Park Yang membatin. Akhirnya ia bisa menetralkan emosinya.
"Biarkan tender pengadaan proyek jalan tol Sumatera ini di handle oleh adikmu. Bukankah tendermu sudah banyak?" Park Yang mulai mengarah pada tujuannya.
"Ini bisnis. Dalam dunia bisnis tidak ada yang namanya persaudaraan. Tapi ini tentang kemampuan. Kalau David mampu memenangkan proyek itu, aku bisa mundur. Tapi bukan dengan dilobby. Lagipula kita bersaing dengan jujur. Jangan biarkan anak kesayanganmu itu bermental pengemis," pungkas Kane.
"Ya sudah, Kau ataupun David sama saja bagiku," kata Park yang.
__ADS_1
Dahi Kane berkerut. Rasanya tidak seperti biasa bila Park Yang akan dengan mudah melunak. Biasanya pria paruh baya itu akan marah apabila ada sesuatu yang tidak sejalan dengannya.
"Sebenarnya apa yang sedang dia rencanakan?" batin Kane dalam hati.