
"Ya, kami memutuskan akan menikah," jawab Rizky.
"Kapan kalian memutuskannya? Kenapa tidak mengatakan padaku apapun?" tanya Dee antusias. Ini adalah berita yang membahagiakan. Teman pantinya akan saling mengisi dan tidak kesepian lagi.
Risky dan Anna saling menatap lantas tersenyum.
"Kami baru memutuskannya sebulan yang lalu dan Kak Rizky ingin kami menikah lebih cepat."
"Aku ikut senang hanya saja aku ingin tahu ceritanya secara detail. Ah, Anna bukankah kau ada di Surabaya dan Kak Rizky ada di Papua?" tanya Dee.
"Beberapa bulan ini kami intens berhubungan. Lalu menemui beberapa kecocokan karena kau tahu kita semua pernah bersama. Kak Rizki merasa hidup sendiri di sana dan dia butuh teman hidup. Aku pun begitu merasa sendiri di kota besar itu. Lalu kami memutuskan berhubungan lewat jarak jauh setelahnya kami bertemu lebih tepatnya Kak Rizky yang menemuiku dan kami memutuskan menikah."
"Ini menakjubkan," ujar Dee. Dia menatap keduanya penuh sayang seperti seorang saudara pada saudara lainnya.
"Aku ikut bahagia untuk kalian." Dee merenggangkan tangannya dan Anna masuk ke dalam pelukannya.
"Terimakasih."
"Lantas siapa yang mengundang kalian datang?" tanya Dee.
"Aku," jawab Kane. Dee menoleh ke belakang dan menatap suaminya yang datang mendekat.
"Aku mendengar mereka akan menikah dari Emilio, jadi aku mengundang mereka datang kemari."
"Apa hubungannya undangan pernikahan mereka dengan undangan acara ini?" ujar Dee dengan dahi berkerut.
"Aku ingin kau ikut bahagia dengan kebahagiaan mereka," jawab Kane bijak.
"Hanya karena itu?" desak Dee tidak percaya.
Kane menatap kedua orang di depannya kedua tangannya memegang bahu Dee.
"Aku senang Rizky menikah setidaknya aku tidak berpikir jika kau akan pergi bersamanya lagi," ungkap Kane jujur.
"Kane!" kesal Dee dengan nada manja.
Kane tertawa. "Karena aku sangat bahagia maka aku yang akan membiayai pernikahan mereka."
"Itu sangat bagus," ujar Dee.
Rizky menggelengkan kepala sambil tertawa. Jarinya menyentuh hidung. "Aku kira, kau itu sudah yakin jika Dee mencintaimu namun mengapa masih merasa aku adalah sainganmu padahal puluhan tahun aku sudah mendekatinya tetap tidak bisa membuatnya mencintaiku seperti dia mencintaimu. Dia hanya menganggapku sebagai seorang Kakak tidak lebih."
__ADS_1
Dee menganggukkan kepala. "Entahlah, suamiku ini sangat posesif."
"Itu malah terlihat romantis, Kak," ujar Anna. Dee tertawa kecil.
Senyum diwajahnya pudar ketika melihat beberapa mobil masuk ke halaman rumahnya. Beberapa orang nampak keluar dari satu mobil dan membuka pintu mobil yang lain.
Park Yang dan Cindy keluar dari satu mobil sedangkan Rosemary dan David keluar dari mobil lainnnya.
Mereka lantas berjalan masuk mendekati Dee dan Kane.
"Mau apa kau datang kemari?" tanya Kane tidak senang.
Park Yang membuka kacamatanya. "Aku ingin mengucapkan selamat pada anakku atas kelahiran putri keduanya," jawab Park Yang.
"Tidak perlu basa basi di depanku."
"Aku kemari dengan niat baik. Keluargaku juga datang dengan kasih sayang. Kami meminta maaf karena telah membuat kau marah dan kecewa pada kami. Namun, kata maaf saja tidak akan cukup untuk membuatmu mengampuni kesalahan kami. Aku yakin hati besarmu dan Dee akan bisa menerima kami lagi."
Kane masih menatap curiga pada orang tuanya. David maju. "Kak, Kakak Ipar maafkan aku karena telah menyusahkan kalian. Aku tahu diri jika tidak mudah untuk memaafkanku dan keluargaku karena itu aku tidak akan memaksa untuk kalian memaafkan kami. Aku hanya ingin hidup tenang setelah meminya maaf pada kalian. Istriku juga ingin meminta maaf pada kalian terutama padamu, Dee."
Dee mendongak menatap ke arah Kane.
"Tapi Dee," kata Kane keberatan.
"Mereka sudah meminta maaf Kane. Apalagi Ayahmu. Apakah kau tidak ingin berdamai dengan hatimu sendiri?" tanya Dee.
Kane terdiam.
"Baiklah kalau begitu. Hanya saja aku tidak ingin terlibat lagi dengan Diamond. Berikan saja pada David," ujar Kane tegas. Membuat semua terdiam. Mereka tahu jika dibawah kepemimpinan Kane, Diamond membesar dan melejit cepat. Pendapatan juga naik 150 persen.
"Aku senang kau bisa menerima kedatangan kami, Kane," ujar Park Yang memeluk Kane. Dia harus menerima keputusan Kane. Mungkin ini yang terbaik agar tidak terjadi permusuhan secara terus menerus.
"Kita akan bicarakan masalah perusahaan ini kembali nanti. Hanya saja aku akan membaginya, aku akan menyerahkan diamond yang di Jakarta untukmu dan yang di Sanghai untuk David. Itu nampak adil kan?"
David mengangguk.
"Aku tidak perlu. Berikan saja untuk saudaraku ini."
"Kane jangan menolak pemberian orang tua," ujar Park Yang.
"Sebaiknya kita masuk dan bicarakan ini di dalam sambil minum segelas air jus mungkin Tenggorokanku haus," ujar Cindy.
__ADS_1
"Kalau begitu, mari masuk ke dalam dan melihat putriku," ujar Dee sopan. Dia tidak ingin membuat masalah baru dengan siapapun.
"Siapa namanya. Dee?" tanya Rosemary mendekat.
"Lucu sekali," kata David.
"Ara," jawab Dee singkat.
"Ara nama yang indah," celetuk Rosemary. "Cantik juga seperti ibunya."
"Anakmu juga terlihat lucu," ujar menatap seorang anak lelaki dalam gendongan Rosemary. Anak itu sangat mirip dengan David. "Anak lelaki yang tampan dan terlihat sangat sehat."
"Alkhamdulillah. Ya, dia keluar dengan bobot hampir menyentuh 4 kilo gram," tuturnya dengan bangga.
"Ya, terlihat lucu sekali," ujar Dee. Menyentuh pipi anak Rosemary.
"Siapa namanya?"
"Kevin Angelo Yang," jawab Rosemary. Dia tidak menyangka Dee tidak memperlihatkan sifat permusuhan padanya setelah apa yang telah Rosemary lakukan dulu padanya.
"Hai Kevin?" sapa Dee pada putra David itu.
"Eh kemana para Papa anak ini?" tanya Rosemary.
"Mereka masuk, mungkin berbicara dengan pria lainnya," ujar Dee menoleh ke dalam. Di sana mereka sedang berkumpul membentuk suatu keluarga.
Linda lantas datang. Dia tersenyum lebar melihat dua anaknya bisa terlihat akur. Rasanya tenang dan damai.
"Ibu senang melihat kalian akur dan bisa bersama," ujar Linda menatap keduanya.
"Mana mungkin aku akan memusuhi anak ibu karena ibu terlalu baik padaku," ujar Rosemary.
Dee tersenyum kecut. "Berarti jika aku bukan anak ibu kau masih akan memusuhiku?"
"Mungkin aku masih kesal denganmu tapi kini sudah tidak lagi karena kau sudah membuka mataku. Aku terlalu terobsesi pada Kane sehingga mengabaikan diriku yang ingin dicintai. Kini aku sudah mendapatkan cinta itu," kata Rosemary.
"Aku senang mendengarnya. Kau bisa bersahabat dengan keadaan. Kini kau punya anak yang akan membuat semangatmu bangkit."
"Kau benar. Anak ini membuatku jadi manusia yang lebih kuat dan tenang dalam menjalani hidup."
Dee mengangguk.
__ADS_1