Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 8 Sia-sia Sudah


__ADS_3

Pak Jhon berlari kecil menuju mobil karena tidak berhasil menemukan Dee. Napas laki-laki terdengar tidak beraturan, khawatir jika Kane memarahinya. Langkah Pak Jhon mulai terhenti ketika tahu mobil Kane sudah ada di depannya  saat  ini. Dia membuka pintunya dengan sangat hati-hati karena Kane sedang beristirahat di dalamnya. 


Namun, tetap saja tuannya itu berdehem begitu menyadari kedatangan Pak Jhon dan langsung membuat laki-laki itu  menelan salivanya dengan kasar. “P—pak. Maaf, Nona Dee sudah kabur,” ujar Pak Jhon. 


Seketika Kane membelalakkan mata. “Bodoh!” umpatnya. Kemudian, dia mengambil handphone dan memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mencari Honey Dee. 


Melihat raut wajah kane yang datar dan dingin saja, berhasil membuat Pak Jhon ketakutan. Dia merasa sangat bersalah karena tidak bisa membawa Dee kembali pada bosnya. Pak Jhon masih mematung di luar mobil sambil menunggu bosnya selesai menelepon. 


“Kita ke villa sekarang,” perintah Kane dengan suara datar, tapi mengerikan. 


 


“Baik, Tuan,” jawab Pak Jhon. 


Dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Napas Pak Jhon masih terasa berat karena detak jantung yang tidak normal. Beruntung saja Kane tidak langsung memukulnya tadi. 


Sepanjang perjalanan menuju Villa, Kane terus menelpon anak buahnya yang sedang berpencar mencari Dee. Mengharapkan ada kabar baik yang ia dengar secepatnya. 


“Brengsek!” kata laki-laki berperawakan gagah itu sambil melempar handphonenya. 


Tubuh pak Jhon langsung gemetaran melihat Kane yang sedang diselimuti amarah. Dia memberanikan diri untuk bertanya, “Ada apa, Tuan?” 


“Dee tidak ditemukan,” jawabnya, sambil melempar pandangan ke luar kaca mobil. 


Sementara itu, Dee yang berhasil kabur dari Pak Jhon bergegas mencari taksi. Sesekali dia menoleh ke belakang untuk memastikan jika tidak ada anak buah Kane yang membuntutinya. 


“Pak, tolong anterin saya ke terminal, ya,” ucap Dee ketika menemukan taksi yang terparkir di tepi jalan. 


Beberapa orang yang berada di sana tampak keheranan melihatnya datang. Napas Dee sangat cepat, bahkan keringat membasahi kening serta tubuhnya. 


Seorang laki-laki paruh baya langsung mengangguk setuju. “Udah siap, Mbak?” tanya si sopir dengan ramah. 


“Udah, Pak,” sahut Dee. 

__ADS_1


Sopir taksi  itu langsung mengendarai mobilnya menuju terminal. Melaju kencang sesuai permintaan Honey Dee. Meskipun merasa sudah terselamatkan, tapi tetap saja dia harus waspada, sambil menatap ke sekeliling dan memastikan dirinya aman dari kejaran Kane. 


“Makasih ya, Pak.” Dee memberikan uang kepada sopir taksi. 


“Sama-sama, Mbak,” balas laki-laki itu. 


Dee kembali berlari memasuki kawasan terminal. Saking terburu-buru, dia sampai bertabrakan dengan seseorang. Tempat yang sangat ramai itu tidak memberinya ruang cukup untuk bergegas menuju tempat pembelian tiket. Bahkan, beberapa kali Dee harus bersabar demi bisa melanjutkan langkahnya di antara ratusan orang itu. 


Sejenak, ia mengambil napas dalam-dalam. Senyuman tipis tercipta di sudut bibir perempuan itu saat melihat tempat pembelian tiket sudah di depan mata. Kali ini Dee melangkah santai ke sana. 


“Mbak?” Seorang wanita penjaga menoleh saat mendengar panggilan. 


“Ya? Ada yang bisa saya bantu?” tanya wanita itu. 


“Saya mau beli tiket.” Dee mengucap lirih, seraya menyentuh saku jeansnya. Tiba-tiba bola mata Dee membulat. “Di mana dompetku?” batinnya. 


“Ke mana tujuan Anda? Mau berapa tiket?” tanya wanita di depan Dee. 


“E-ee … sebentar, ya,” sahut Dee sambil tersenyum kecut. 


“Apa ada kendala, Mbak?” tanya penjaga itu. 


“Maaf, nanti saya kembali lagi,” ujar Dee dengan wajah pucat. 


Dia melangkah lemas menjauhi tempat pembelian tiket tersebut sambil terus mengingat, sekiranya—di mana dompet itu terjatuh. Sebuah ide terlintas dalam pikirannya. Namun, Dee tidak terlalu berani melakukan itu. 


Tadi dia ingin melaporkan pada petugas jika kehilangan dompet, tapi rasanya tidak mungkin, karena nanti Kane bisa mengetahui keberadaannya di sana. 


Dee yang tidak tahu harus berbuat apa, sempat terdiam di halaman depan terminal. Kemudian, dia berniat untuk pergi ke rumah temannya untuk meminta bantuan. Kaki jenjangnya pun melangkah menghampiri taksi lagi. 


Tidak butuh waktu lama untuk sampai. Dee tersenyum kecil menatap rumah sederhana di depannya. Dia harap, bisa menemukan solusi jika bertemu dengan temannya nanti. 


“Pak, tunggu disini, ya. Saya ambil uang dulu,” ucap Dee pasa sopir taksi. 

__ADS_1


“Iya, Mbak,” sahutnya. 


Tok! Tok! 


Tok! Tok! Tok! 


Beberapa kali dia mengetuk pintu rumah itu, juga mengintip dari jendela sampai merasa lelah. Akan tetapi, kemungkinan besar temannya sedang tidak di rumah. Sekali lagi—Dee putus asa dengan kenyataan saat ini. 


Meskipun takut dimarahi, tapi dia tetap menemui sopir taksi yang masih menunggunya. Dee berkata, “Pak, maaf, aku tidak bisa membayar karena … temanku tidak ada di rumah.” Bibirnya terasa kaku saat mengucap. 


“Gimana sih? Kalau ‘nggak bisa bayar jangan sok-sokan naik taksi dong!” hardik laki-laki itu dengan tatapan tajam. 


“Maaf, Pak,” lirih Dee lagi. 


“Maaf, maaf. Saya juga lagi kejar setoran. Malah dapat penumpang yang maunya gratisan begini.” Pak sopir langsung pergi setelah memaki Honey Dee. 


Sekali lagi, dia benar-benar bingung dan terpuruk. Kemana harus pulang setelah ini? Ke kosan? Tidak mungkin. Kane pasti akan menemukannya jika ke sana. Langit mulai mendung, Dee meninggalkan terminal dengan langkahnya yang gontai tanpa arah. 


Sialnya, hujan turun begitu saja tanpa memperdulikan Honey Dee yang sedang kebingungan mencari tempat pulang. Jangankan pulang, untuk berteduh saja dia tidak tahu harus di mana. Sementara kawasan itu tiba-tiba saja sepi oleh orang-orang. 


Guyuran air hujan terasa semakin deras. Dee tidak mungkin menerjangnya terus, sehingga berlari ke halte terdekat untuk berteduh. Tidak disangka—ada sebuah mobil yang menghampirinya. Dee duduk di halte seraya mengusap-usap tangan agar terasa lebih hangat. 


Betapa ia terkejut begitu melihat Kane yang turun dari mobil itu, membawa sebuah payung warna hitam dan siap menjemput sang istri. Sebelum tertangkap, Dee bergegas kabur. Dia berlari secepat mungkin meskipun tanpa arah. 


Kane juga tidak tinggal diam. Dia melemparkan payungnya karena menyusahkan. Mata jeli laki-laki itu terus memantau kemana perginya Dee. Mereka berdua saling berlarian di bawah derasnya air hujan. 


“Dee, awas!” teriak Kane saat melihat sebuah mobil dari arah yang berlawanan. 


Dee tidak memperdulikan teriakan suaminya, justru terus berlari meskipun keselamatannya terancam. Ketika mobil itu hampir saja menabrak Dee, Kane cukup tepat waktu menolongnya. 


Mereka berdua jatuh tersungkur ke tepi jalan. Dee masih tidak percaya jika usahanya seharian ini sia-sia sekali. Kane telah menemukannya. 


“Jangan kabur lagi.” Kane berkata lirih tepat di telinga Dee. 

__ADS_1


Tenaga Dee sudah habis, belum makan, kehujanan, kedinginan, Kane  lantas menggendong Dee ke mobilnya. 


__ADS_2