Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 77 Bertukar peran


__ADS_3

Mereka akhirnya duduk bersama di taman bermain sambil melihat bekal masing.


Perkataan Jason mengenai makanan yang dibentuk seperti dirinya memang benar. Wajah Jason ada di sana. Rambut panjang Jason terbuat dari mie, ada dua mata dari wortel di rebus, alis dari nori, mulut dari sosis. Hidung dari potongan telor dadar yang dibentuk.


Jesper iri melihatnya. Ibu Jason terlihat sangat menyayangi anaknya sehingga membuat makanan seperti wajah anaknya. Jesper juga ingin merasakannya.


"Betulkan, ini mirip aku," ujar Jason tersenyum.


Jesper mengangguk. Dia membuka bekal makanannya yang berisi ayam krispi dengan saus istimewa buatan koki serta sayuran rebus di sampingnya.


"Wah, kau pun bawa bekal enak juga," ujar Jason menjilat bibirnya sendiri.


"Kau mau? Kalau mau kita tuker makanan kita Aku sudah bosan dengan makanan seperti ini."


"Sungguh? Kau bosan? Aku tidak pernah bosan makan makanan itu. Wuih ayam krispi itu kesukaanku." Jason langsung mengambil makanan milik jesper.


"Ibu selalu menyuruhku makan sayuran. Katanya tidak boleh pilih makanan," ujar Jason.


Jesper tersenyum kecut. Dia menatap makanan di depannya membayangkan jika wajah yang ada di wadah itu seperti wajahnya. Berkacamata dengan rambut pendek.


Jason bercerita banyak tentang ibunya sambil makan. "Ibu akan memukul pantat seksi ku jika aku nakal."


Jesper tertawa mendengarnya. "Seksi? kata dari mana itu?"


"Sst... itu yang Paman Emilio ajarkan. Aku harus rajin oleh raga biar punya tubuh seksi. Tubuh seksi buat cewek suka sama kita."


Jesper meragukan omongan Jason. Jason tidak gemuk hanya saja sedikit lebih berisi jika dibanding dirinya. Perutnya juga lebih besar darinya.


Mereka selesai makan lalu pergi ke belakang untuk cuci tangan. Ketika cuci tangan, Jesper membuka kacamatanya untuk membersihkan mulutnya. Dia adalah orang yang suka kebersihan seperti ayahnya.


Jason yang melihat kacamata Jesper, langsung mencobanya.


"Lihat wajahku Jesper, aku sudah seperti kau belum?" tiru Jason melihat ke arah kaca di depannya. Jesper yang melihat lantas mengernyit dahi. Dia mengucir rambut Jason ke belakang dengan tangannya. Terkejut melihat wajahnya sendiri ada di depannya.


"Jason, kau sangat mirip sekali denganku," ujar Jesper.


"Iya, kata Bu guru juga begitu kan. Cuma aku lebih keren dan cool."


Jesper memutar bola matanya malas.

__ADS_1


"Kau tidak merasa aneh?"


Jason mengembalikan kacamata pada Jesper.


"Aneh apanya? Kita itu beda. Lihat mataku lebih besar dari punyamu. Matamu lebih sipit."


"Hanya mata saja. Namun, kita memang terlihat mirip. Kalau tidak percaya kau potong rambut seperti aku. Pasti wajah kita sama."


Jason memegang dagu, melihat tampilan dirinya di cermin, sambil berpikir.


"Ini aneh. Katamu kau hanya punya ibu dan aku hanya punya ayah. Jangan-jangan kita anak kembar," duga Jesper.


"Hah, kita kembar?" Jason memegang bahu Jesper. Jesper mengangguk.


"Coba nanti kau potong rambut sepertiku. Pasti sama."


"Akh, ini akan dipotong menunggu aku sekolah di SD saja kata Mama," ujar Jason.


"Ayolah Jason. Mungkin kita itu kembar, jika kau potong rambut maka wajah kita bisa sama."


"Berarti kita saudara dan ayahmu adalah papaku dan Mamaku adalah ibumu," kata Jason.


"Bagaimana kalau kita tukar tempat, kau kan belum kenal ayah. Nanti biar bisa bertemu dengan ayah," usul Jesper.


"Ayah? Apa ayah itu orang hebat dan tampan?" tanya Jason.


"Kau lihatkan, jika aku selalu dijemput mobil bagus dengan pengawal dan sopir."


Jason mengangguk. Dia lalu berpikir tentang mobil mewah dan rumah besar seperti istana.


"Bagaimana jika kau dan aku bertukar peran?" ujar Jesper.


"Tapi?" Jason sayang dengan rambut panjang nya. Dia enggan memotongnya.


"Aku akan berikan mainan yang kau mau yang ada di rumahku. Kau boleh ambil apa saja. Ada robot asli transformer dan juga ada miniatur tokoh avenger. Semua tokoh film ada di rumahku walau aku belum pernah menonton filmnya," bujuk Jesper.


"Wah... aku mau tapi sebentar saja ya, jangan lama-lama."


"Deal!"

__ADS_1


"Rambutku?"


"Kita ke salon diam-diam, setelah ini. Salonnya dekat sekolah ada diujung jalan. Setelah itu, kita kembali lagi. Kau pulang dengan mobilku dan aku akan naik mobil antar jemput sekolah ke rumahmu."


"Ke salonnya pakai uangmu!" ujar Jason.


"Soal gampang."


"Ide yang bagus! Kalau begitu kita cepat keluar dari sekolah ini."


Kedua anak itu lantas melakukan aksinya.


Dee duduk di latar rumahnya, menunggu mobil yang mengantar Jason lewat. Akhirnya mobil berwarna kuning dengan tulisan besar sekolahnya berhenti di depan rumah. Dee langsung menyambutnya.


Anaknya memang ikut jam sekolah sampai pukul tiga sore dan sampai di rumah pukul empat, agar dia bisa bekerja dengan tenang.


Dia membayar uang sekolah Jason yang mahal dengan uang pemberian Kane. Sebelumnya dia tidak pernah menyentuhnya, namun ketika dia ingin menyekolahkan Jason ditempat sekolah favorit, dia memakainya. Dia pikir ini juga untuk anak Kane sendiri jadi tidak apa-apa. Dia bukan bermaksud menerima pembayaran uang dari anak lainnya yang dibawa Kane.


Jesper yang berpura-pura jadi Jason keluar dari mobil. Dee mengucek matanya. Jasonnya kenapa berubah menjadi rapih dan bersih seperti itu. Biasanya pakaian yang dia gunakan sudah dikeluarkan. Rambut indah Jason menjadi hitam dan pendek.


"Jason...." panggil Dee melambaikan tangannya menanti di latar rumah sederhana milik Dee. Sebenarnya rumah Ayah Dee itu besar hanya saja bagi orang yang biasa tinggal di istana melihat rumah Dee seperti rumah sederhana.


Rumah bergaya kuno dengan banyak jendela besar berbentuk setengah lingkaran di depannya dan bentuk persegi panjang bagian belakang rumah itu.


Banyak bunga-bunga indah berbagai warna bermekaran di halaman rumah. Jesper berlari dengan semangat ke arah Dee.


Jesper sendiri menatap wanita di depannya dengan mata berkaca-kaca. Apakah itu ibunya? Beginikah rasanya melihat ibu menunggumu pulang?


Jesper berhenti di depan Dee dan memeluk pinggangnya erat. Masuk dalam pelukan Dee dan menghirup wangi vanilla yang keluar dari tubuh Dee. Harum tubuh ibu memang membuat tenang.


"Kau seperti lama saja tidak bertemu dengan Mama," ungkap Dee mengusap kepala anaknya.


Jesper yang terharu dan sangat merasa senang meneteskan air mata. Dia langsung menyekanya agar tidak terlihat oleh Dee.


Dee merenggangkan pelukannya dan menuntun Jesper masuk ke dalam rumah.


Bagian ruang tamu rumah itu di cat warna putih secara keseluruhan. Di dindingnya banyak foto di pajang dan foto paling besar adalah foto Jason dengan ibunya serta Paman Jason yang pernah Jesper lihat. Mereka tersenyum bahagia.


"Kau ganti baju dulu, lantas cuci tangan dan makan, setelah itu ceritakan mengapa kau menghilang di sekolah dan kembali dengan rambut yang pendek."

__ADS_1


Jesper menyengir kuda sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Apa yang harus dia terangkan. Apakah dia harus jujur jika dia bukan Jason melainkan Jesper.


__ADS_2