Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 56 Lukamu adalah Lukaku


__ADS_3

Kane mengamati wajah Dee. Perempuan itu tampak tenang dalam buaian mimpi. Dia menyentuh lembut bawah mata istrinya yang bengkak karena menangis. Sungguh, hatinya pun ikut terluka saat ia mendengar tentang kejadian di pesta kemarin malam.


"Maafkan aku. Sebagai suamimu aku telah gagal untuk melindungimu. Seharusnya aku bersamamu," sesal Kane karena tidak bisa melindungi orang yang dia cintai.


"Aku benar-benar terkejut dengan apa yang terjadi. Aku juga bingung dengan bagaimana cara berpikir orang-orang di luar sana selama ini. Padahal aku tidak pernah berbuat apapun yang sudah merugikan mereka. Tapi tanpa tahu malu mereka malah mencampuri urusan pribadiku." Kane mendesah.


Dia tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Dee di sana ketika hinaan para kaum sosialita itu menghinanya. Dia pasti merasa tertekan dan bingung.


Kane memeluk Dee erat penuh kasih sayang. Baginya Dee adalah orang terpenting dalam hidup. Melihatnya terluka sama itu sama saja melukai dirinya.


Dee menggeliat pelan. Setelahnya ia masih melanjutkan mimpinya. Kane tersenyum saat sang istri masih tertidur. Namun, senyuman Kane menghilang saat Kane mengingat kembali kata-kata Emilio.


Tiba-tiba saja, emosi kembali memenuhi rongga dadanya. Kane memejamkan kedua mata untuk menetralkan amarahnya yang mendadak membludak.


"Mereka terlalu berani menghina istriku. Membuatnya malu di depan semua orang dan membuat istriku menangis! Kenapa malah membandingkan istriku yang hebat dengan wanita sialan itu? Ini membuatku marah! Tidak boleh ada yang menghina ataupun membuat istriku menderita!" Kane menggumam.


Pergerakannya di ranjang akhirnya membuat Dee membuka kedua matanya.


"Kane, kau sudah bangun?" Dee melihat wajah Kane yang mengeras. "Ada apa denganmu?" Dee bertanya sambil mengucek matanya. Ia mencoba untuk segera sadar dan bangun dari rasa kantuknya.


"Selamat pagi, Sayang," sapa Kane dengan tatapan yang langsung berubah sendu. Helaan nafasnya terdengar berat.


Dia menyentuh rambut depan Dee dengan lembut dan merapikan dengan jarinya.


"Adakah yang ingin kau katakan padaku?"


Dee sejenak berpikir. Ia mencoba untuk mencari alasan agar Kane tidak mencurigainya. Jika saja tadi malam ia sudah menangis hebat di kamar mandi. Hal itu sengaja Dee lakukan agar Kane tidak tahu bahwa dirinya menangis dan bersedih karena dibanding-bandingkan di depan banyak orang.


"Memang apa yang harus aku katakan?" jawab Dee.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak mau jujur? Aku ini suamimu bukan? Seharusnya kau bisa jujur padaku. Aku akan mendengarkan semua kesedihanmu," timpal Kane.


Dee terdiam. Ia yakin bila Emilio sudah mengatakan yang sebenarnya terjadi. Rasanya mustahil bila Kane mengetahui semua kejadian kemarin malam. Dee menghela napas. Lintasan ingatan kemarin malam kembali memenuhi kepalanya. Namun, tiba-tiba sebuah tangan kekar menggenggam tangannya. Dee menoleh.


"Aku sudah mendengar keributan yang terjadi kemarin. Apakah kau tidak memiliki sesuatu untuk dikatakan? Maafkan aku. Seharusnya aku bisa menjadi suami yang siaga. Aku menyesal karena aku tidak bisa melindungi satu-satunya orang yang aku cintai. Seharusnya kau tidak menyembunyikan kesedihanmu. Bukankah kau bisa jujur padaku?" Kane menatap Dee penuh dengan kasih.


Dee tersenyum mendapatkan perlakuan manis dari sang suami. Ia menyugar rambut Kane dengan jari-jarinya. "Terima kasih. Aku bahagia mendapatkan suami yang perhatian. Kau jangan khawatir. Aku sekarang baik-baik saja. Aku sadar di sana bukan tempatku. Kau tidak perlu meminta maaf. Ini bukan salahmu. Tapi salah keadaan. Aku sudah berpikir. Di sana hanyalah tempat untuk orang-orang mencari perhatian dan nama."


Dee menghentikan kata-katanya. Lalu ia mencubit hidung mancung milik suaminya. "Sungguh, aku baik-baik saja. Lain kali aku akan lebih jujur lagi padamu. Kemarin aku tidak ingin membebanimu sebagai istri yang cengeng. Untuk itu aku sudah berpikir semalam suntuk bahwa semua orang yang ada di sana sangat menyukai untuk didengarkan. Tapi sangat sulit untuk mendengarkan. Karena bagi mereka, mereka harus mendapatkan kesan spesial dari yang lain itu lebih penting."


Kane bernapas lega. "Benar, Sayang. Untuk itulah aku terkadang sangat malas bila harus datang ke pesta atau suatu perkumpulan. Memang ya kalau kita berkumpul biasanya suka mencari muka. Kadang ada yang tidak tahu diri atau bermuka dua. Senang rasanya melihatmu baik-baik saja, Sayang. Kalau kau masih merasa belum baik, kita bisa bersenang-senang hari ini."


"Ya. Aku sudah lebih baik. Jadi maksudmu hari ini akan mengajakku jalan-jalan bukan?" Dee bertanya dengan wajah yang berbinar.


Kane menarik sudut bibirnya. Rupanya Dee tertarik untuk berjalan-jalan dengannya. "Boleh. Katakan saja kalau kau ingin pergi. Aku akan libur bekerja dan menemanimu."


"Kalau begitu ayo kita pergi ke dokter kandungan! Aku ingin melihat hasil USG anak kita. Aku juga ingin melihat wajah anak kita yang satunya lagi. Dia sangat pemalu sekali. Siapa tahu, dia bisa kita lihat." Dee terlihat bersemangat. 


"Aku tidak sabar untuk melihat baby kita," kata Dee.


Saat ini mereka berdua telah berada di dalam mobil. Kane pun mendengarkan setiap ocehan Dee dengan senang hati. Wanita itu sangat bersemangat. Padahal tadi malam ia sempat menangis dan terluka karena penghinaan yang memalukan.


"Mudah sekali mengembalikan moodnya yang buruk. Tapi, mau bagaimanapun begini lebih baik. Karena dia sudah melupakan kejadian tadi malam. Seandainya saja aku berada di sana, mungkin dia tidak akan mengalami penghinaan yang paling menyakitkan itu." Sesal Kane dalam hati. Pria itu tersadar dari lamunan saat seseorang menggoyang-goyangkan tubuhnya.


"Kane, kenapa kau melamun? Lihat, kita sudah sampai," kata Dee.


"Ya ampun, aku bahkan tidak sadar. Ayo, Sayang." Kane turu ln terlebih dahulu. Sikapnya ini membuat Dee menggelengkan kepala.


"Dari tadi apa yang sedang kau pikirkan? Aku sudah memanggilmu lama sekali," kesal Dee.

__ADS_1


"Maafkan aku. Aku sedikit gugup. Ayo." Kane mengulurkan tangannya. 


Kane menggandeng tangan istrinya itu dengan mesra. Saat keduanya melewati koridor rumah sakit. Ada banyak mata yang menatap iri pada Dee. Kane sendiri yang mendapatkan perhatian, ia tidak ambil pusing. Pria itu bahkan dengan telaten membawa istrinya untuk duduk. 


Tadi pagi ia sudah mendaftar secara online sehingga ia tak perlu repot-repot mengantri. Tak lama kemudian, Kane dan Dee dipanggil. Tentu saja Dee semakin tak sabar untuk melihat calon bayinya.


"Sayang, pelan-pelan! Kau bisa tersandung nanti," kata Kane.


"Aku tidak sabar." Dee mendesah. Senyuman lebar masih menghiasi bibirnya. Ia dan Kane pun melangkah masuk.


"Ya ampun, Tuan Kane. Silahkan duduk. Sesuai dengan pendaftaran, kalian ingin USG 5 dimensi?" Seorang dokter wanita bertanya dengan lembut.


"Anda mengenal suami saya?" tanya Dee.


"Siapa yang tidak mengenal Tuan Kane, Nyonya. Silahkan Anda berbaring. Kita akan melihat calon anak Anda.


Kane membantu Dee untuk merebahkan diri di tempat yang sudah disediakan. Dokter lalu menutupi bagian bawah milik Dee dan ia pun menyingkat dress ibu hamil milik Dee. Setelahnya ia mengoleskan sebuah gel di perut Dee. Kemudian dokter mulai bekerja.


"Nah, ini calon baby Anda, Nyonya dan Tuan, sangat tampan sekali bukan?"


"Sayang seperti biasanya yang satu tidak mau memperlihatkan wajahnya, namun biasanya kembar itu mirip wajahnya satu sama lain walau ada kembar yang tidak identik dan mereka lahir dengan wajah berbeda namun punya banyak kemiripan."


Kane terpana melihat wajah anaknya yang terlihat jelas di layar. Hidungnya tinggi seperti dirinya dengan wajah yang tegas yang sedikit runcing.


"Aku tidak sabar ingin menggendong mereka," ungkap Kane sepenuh hati. Dee menggelengkan kepalanya.


"Tidak... tidak, biar mereka besar diperut ibunya terlebih dahulu jika sudah bosan dan ingin keluar mereka pasti akan keluar sendiri," kelakar Kane membuat semua tertawa.


"Di dalam gelap, Sayang, jadi mereka bosan dan ingin melihat cahaya," lanjut Kane.

__ADS_1


Namun, Dee justru malu dengan ekspresi Kane.


__ADS_2