
Pagi menggantikan malam. Perlahan semburat kuning mulai menyinari bumi. Sang mentari perlahan menampakkan diri. Di salah satu kamar bergaya desain interior oriental China atau desain interior Asia modern cukup memanjakan mata.
Di sana cenderung kental dengan unsur-unsur alam, seperti warna natural, material interior berupa kayu, bambu, dan batu alam serta penggunaan tanaman hias bonsai dan anggrek sebagai dekorasi.
Material interior kayu, bambu, dan batu alam dapat diaplikasikan pada furniture dan ornamen dekorasi seperti ukiran-ukiran kayu pada dinding, guci, lukisan berupa tulisan China atau lukisan kayu yang dipahat menyerupai bentuk naga, ikan, dan bunga teratai.
Di kamar itulah, David sedang dibuai mimpi. Padahal sang surya sudah menyapa bumi, tapi dia malah masih dengan tenang dan santai bermimpi indah. Hingga seseorang datang mengetuk pintu.
"David? Kau sudah bangun? Ini mom. David? Kalau begitu mom masuk ya?"
Cindy mulai menampakkan batang hidungnya. Di kamar yang luas dan nyaman ini rupanya sang putra masih saja dibuai dewi mimpi. Ia menggeleng pelan. Lalu menarik napas dan mendekati ranjang.
Cindy tersenyum menatap wajah David yang tampan. Memiliki hidung mancung dan kulit yang bersih. Ia lalu meletakkan nampan yang berisi teh dan sandwich untuk mengisi perut anaknya. Cindy segera membangunkan David. Dengan penuh kasih ia menggoyangkan tubuh putranya perlahan.
"David, ini sudah siang. Ayo, bangun." Cindy menghela napas saat David menggeliat pelan dibalik selimut tebalnya. Pria itu menguap kecil dan mencoba untuk membuka mata.
"Mom? Ah, ini sudah pagi?" David mengucek mata. Ia mulai bangkit duduk di ranjang. Begitu pula dengan Cindy. Ia duduk di tepian ranjang dan mengamati putranya dengan lamat-lamat.
"Ini sudah siang. Kau harus segera bangun, David. Ada yang ingin mom katakan padamu," ucap Cindy dengan mimik wajah yang serius
Alis David menukik tajam. Ia mengusap wajahnya pelan dan mulai memasang wajah serius. Sekalipun matanya masih belum terbuka sepenuhnya. Akan tetapi rasa penasaran itu jauh lebih besar.
__ADS_1
"Ada apa, Mom? Sepertinya kali ini bukan kabar baik," sahut David.
Cindy menganggukkan kepala. "Benar. Ini bukan kabar baik. Ayahmu kemarin ke kantor Kane."
"Kane? Memangnya untuk apa ayah ke sana? Dia kemarin tidak ke kantorku. Lalu kenapa ayah repot-repot ke sana?" Mendadak perasaan David terasa tak nyaman.
"Tadi malam ayahmu mengajak mom berbicara. Tentang harta warisan itu. Serta siapa yang akan menjadi penerusnya. Diamond kemungkinan akan berada di genggaman tangan Kane," ucap Cindy.
Cindy mengamati David. Sepertinya sang putra sama sekali tidak terkejut. Apakah selama ini David sudah tahu hal ini? Cindy mendesah. Hatinya gelisah sejak tadi malam.
Ini keputusan yang berat dan lagi memang kenyataannya Diamond sedang menunggu waktu menuju kehancuran. Meski begitu, Cindy tetap tidak ingin bila Diamond menjadi milik Kane. Hanya David yang pantas menggantikan Park Yang.
"Kau tidak terkejut?" tanya Cindy.
"Aku hanya menebaknya. Belakangan ini aku memiliki firasat aneh. Aku pikir ini hanya karena Diamond yang sedang bermasalah. Tapi aku semakin yakin kalau cepat atau lambat ayah akan mendatangi Kane," ungkap David.
"Maksudmu kau sudah menebak hal ini? Apakah ayahmu sudah menunjukkan tanda-tanda?" Cindy menajamkan telinga. Ia sangat penasaran kenapa sang putra sudah menebak kabar buruk itu.
David menganggukkan kepala. "Belakangan ini ayah sangat mudah marah. Aku pikir karena ayah sudah tua dan memang banyak sekali masalah yang sedang ayah tangani. Tapi ayah bahkan sampai mengatakan bahwa aku tidak becus dalam menangani masalah perusahaan Diamond."
David menghentikan kata-katanya. Ia menerawang jauh. "Ayah bilang aku sangat berbeda dengan Kane. Bahkan Kane mampu sampai di titik kejayaannya hanya dengan modal kecil yang ayah berikan. Ayah bilang, kata-kata yang pantas untukku adalah aku tidak berguna dan tidak becus menyelesaikan masalah Diamond. Padahal Kane mampu dan malah berhasil hampir menyamai kejayaan ayah."
__ADS_1
Kedua mata Cindy membulat dan berkilat penuh amarah. Park Yang sampai hati mengatakan putra kesayangannya tidak becus. Lebih parahnya lagi, Park Yang malah membandingkan David dan Kane.
"Pria tua itu sialan! Mengapa dia sampai mengatakan hal itu kepada putranya sendiri?" Cindy marah dan tidak terima.
"Mom, Kane juga putranya bukan? Aku pikir tidak akan bisa menyingkirkan Kane. Mengingat dia juga putra ayah. Tentunya dia juga berhak dengan warisan dari ayah. Tapi, aku tidak suka ayah selalu membandingkan aku dengan Kane. Padahal selama ini aku selalu menjadi kesayangan ayah," gerutu David.
Cindy dan David sama-sama terdiam. Keduanya hanyut dalam pikirannya masing-masing. Cindy mengepalkan kedua tangannya. Ia tidak akan membiarkan Kane mendapatkan harta itu. Juga tidak dengan Diamond.
"Mom juga tidak suka dengan keputusan ayahmu. Tapi mom juga tidak bisa membantah. Kau tahu ayahmu bukan?" Cindy menghela napas.
Pria otoriter itu memang susah ditebak. Seumur pernikahan mereka, Cindy bahkan tidak pernah bisa membuat Park Yang sedikit mengalah padanya. Bahkan setelah ia memberikan David untuknya sebagai pewaris. Namun, mengapa kini Park Yang harus mencari anaknya dari seorang pelayan hanya untuk menjadi pewarisnya? Cindy mengeratkan rahangnya. Ia benar-benar marah.
"Mom, tenanglah. Kita bisa berpikir sebentar. Mom jangan berbuat hal-hal aneh yang bisa membuat ayah semakin condong pada Kane. Kita harus berhati-hati," bujuk David.
"Bagaimana bisa mom tenang? Sementara ayahmu sebentar lagi akan memberikan Diamond pada Kane! Kau tahu, bahkan ayahmu membujuk Kane secara langsung! Dia rela datang jauh-jauh ke tempat Kane hanya untuk memberikan sebagian hartanya pada anak pelayan itu, David!" Cindy membentak. Kedua matanya memerah merasai luka hati.
David terdiam. Ia menatap sang ibu dengan iba. Lebih dari 20 tahun ibunya menemani sang ayah, tapi ayahnya seolah hanya memandang remeh Cindy yang sudah menemaninya. Padahal bisa saja Cindy mencari pria lainnya hanya untuk sebuah tahta yang lebih tinggi.
Suka juga duka sudah dilalui Cindy. Lalu dengan seenaknya saja Park Yang ingin memberikan sebagian hartanya pada anak pelayan itu? Memangnya apa yang sudah dilakukan oleh pelayan itu sehingga dia memiliki hak untuk anaknya mendapatkan warisan?
Begitupula dengan Kane, apa yang sudah dia berikan pada Park Yang sehingga membuat ayahnya itu sangat percaya padanya? Begitulah otak David bekerja. Ia juga marah pada kondisi saat ini. Di mana kasih sayang ayahnya justru lebih condong pada Kane.
__ADS_1
David pun lupa. Bahwa ia sudah mendapatkan kasih sayang Park Yang sejak kecil. Berbeda dengan Kane yang sudah terbuang sejak dulu. Hanya karena Park Yang ingin memberikan harta yang memang sudah menjadi hak Kane saja harus dipermasalahkan oleh David. Padahal itu hanyalah sebagian perhatian kecil yang diberikan oleh ayahnya untuk putra sulungnya itu.
"David, mom punya ide. Kemarilah." Cindy berbisik pada David. Entah apa rencananya tapi ia tidak akan membiarkan Kane menjadi penerus Park Yang. Apapun yang terjadi.