
Kane menaruh lap kain di baskom. Selesai sudah tugasnya dalam memandikan Dee. Laki-laki itu tersenyum lembut. Wajahnya mulai ditumbuhi dengan jambang tipis. Kane mulai mengabaikan wajahnya. Ia lebih memilih untuk merawat dan membersihkan tubuh Dee dengan baik. Laki-laki itu mendaratkan kecupan mesra di kening Dee.
"Selamat pagi, Sayang. Bagaimana kabarmu hari ini? Kau wanita yang nakal. Bisa-bisanya seorang CEO sepertiku harus mengurus dua begundal nakal itu."
"Ah, tapi jika dibandingkan dengan mengurus putriku, aku sangat senang. Hanya dia satu-satunya yang paling tenang. Em, kau tidak ingin bangun untuk membantu suamimu ini? Kenapa kau sangat betah sekali tidur lama?" Kane terus saja mengajak berbicara Dee yang tertidur.
"Kane? Maaf, aku masuk dan mengejutkanmu. Tadi aku sudah mengetuk pintu berulang kali tapi kau sepertinya tidak mendengarnya. Ini si bungsu. Apa kau tidak ingin memberinya nama terlebih dahulu? Aku ingin sekali memperkenalkan cucu cantikku kepada dunia." Linda membawa si bungsu dan memberikannya kepada Kane. Laki-laki itu dengan cekatan menerima putrinya.
"Tidak aku sangka, kau sangat pandai sekali menggendong bayi. Kupikir aku perlu mengkhawatirkanmu," ucap Linda.
"Ini adalah kekuatan cinta. Benar kan, bungsu? Kenapa kau juga tidur? Apa kau ingin bersama mamamu?" Kane ikut tersenyum saat melihat senyuman si bungsu.
"Bagaimana kata dokter? Apakah ada perkembangan?" Linda memandang Dee dengan tatapan sendu.
Rasa sakit kembali menyeruak ke dalam dada. Padahal Dee baru saja bahagia karena kelahiran putri yang sangat dinantikannya. Pandangan Linda tertuju pada Kane yang sibuk dengan si bungsu.
"Aku yakin kau lelah," kata Linda.
"Bagiku tidak ada rasa lelah bila ini menyangkut keluarga kecilku," sahut Kane.
Linda termenung. Ia hanya menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Tidak ada kegoyahan dalam kata-kata Kane. Laki-laki itu tampaknya memiliki tekad yang kuat. Linda cukup memuji kesabaran Kane dalam mengurus 3 anaknya yang masih kecil.
"Apa kau tidak ingin memberi nama untuk putrimu?" tanya Linda.
"Aku akan menunggu istriku bangun terlebih dahulu. Lagipula hanya sementara kami akan memanggilnya si bungsu. Kane mendekati ranjang pesakitan Dee. Senyuman terbit di bibir Kane. Namun yakinlah jika hatinya sangat sakit melihat bagaimana keadaan Dee yang masih sama saja.
__ADS_1
"Takutnya istriku akan marah saat aku memberi nama pada putri cantik kami. Sayang, lihat si bungsu. Dia sangat ingin melihat mamanya yang cantik membuka mata. Apakah kau tidak ingin bangun untuk melihat anak kita?" Kane mendekatkan si bungsu pada Dee.
"Kane, mama pergi dulu ya." Linda tidak tega melihat bagaimana interaksi antara Kane dan putri yang dia cintai itu. Dadanya terasa sesak. Melihat Dee yang masih saja betah memejamkan kedua matanya.
Saat Linda pergi, si kembar pun datang. Kedua bocah laki-laki mendekati ranjang pesakitan Dee. Wajah Jason tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Sedangkan Jesper, ia masih terlihat tenang meskipun suasana hatinya bergejolak.
"Kenapa Mama tidak bangun juga?" tanya Jason.
"Iya. Mama masih saja betah tidur," jawab Jesper.
"Bukankah seharusnya Mama sudah bangun? Padahal sudah ada banyak dokter di rumah sakit ini. Mengapa Mama masih belum bangun?" Jason mulai merengek. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.
Hening melenggang. Kane tidak mampu menjelaskan kepada Jason tentang keadaan sebenarnya mama mereka. Mata Kane kemudian beralih pada Jesper. Wajah Jesper memang terlihat sangat tenang dan seolah tidak terjadi apapun. Akan tetapi Kane dapat melihat bila kedua tangan Jesper terkepal penuh ledakan emosi.
"Hiks. Aku rindu Mama. Mama! Bangun, Mama!" Jason tak lagi dapat membendung air matanya. Ia menangis keras karena Dee masih belum bangun.
"Jason, tenanglah. Kau jangan menangis. Nanti mama sedih melihatmu menangis sekencang itu." Kane mencoba menenangkan Jason yang menangis kencang.
Tentu saja suara Kane membuat tangisan Jason berhenti. Jason dan Jesper menoleh bersamaan ke arah Kane yang menggendong adik bayi mereka. Tiba-tiba Jason mengusap air mata yang tadinya membanjiri pipi. Jason melangkah kecil ke arah Kane.
"Papa, apa itu adik bayiku?" tanya Jesper.
"Ya, ini adik kalian berdua. Ayo, sapa si bungsu. Papa belum memberinya nama. Karena Mama yang akan memberi nama untuk adik kalian berdua." Kane berjalan menuju ke sofa panjang yang ada di ruangan itu.
Jesper berlari agar bisa segera melihat adik bayinya. Terlihat sekali jika Jesper sangat antusias melihat adik bayinya. Berbeda dengan Jason yang masih duduk di kursi yang terletak di samping ranjang pesakitan Dee. Mata Jason mengawasi Kane dan Jesper yang sedang melihat si bungsu.
__ADS_1
"Papa, kenapa dia sangat kecil?" tanya Jesper.
"Kau dan Jason juga dulu sekecil ini," jawab Kane.
"Oh ya? Kalau begitu, berarti aku masih punya adik bayi satu lagi? Di mana? Aku juga ingin melihatnya lagi!" Jesper berseru bahagia. Ia sangat senang bila mendapatkan dua adik bayi sekaligus.
"Jason? Kenapa kau di sana? Oh, hei! Apa kau menangis?" Kane tersadar saat Jesper mengatakan tentang bayi satunya lagi. Ia tersadar bila masih ada Jason putra satunya lagi.
"Adik, kemarilah. Adik bayi sangat kecil," ajak Jesper.
"Hua!" Tiba-tiba saja Jason malah menangis kencang lagi. Kali ini membuat Jesper dan Kane saling berpandangan bingung.
Kane berjalan mendekati Jason. Diikuti juga oleh Jesper. "Jason, kenapa kau menangis?"
"Hua! Aku membenci adik bayi! Karena adik bayi Mama sakit! Hua! Adik bayi yang membuat Mama tidak bangun-bangun. Kenapa Mama begini? Ini sudah berapa lama? Hua!" Jason malah menaikkan volume tangisannya. Membuat Jesper meringis dan reflek menutup telinga.
"Jason, tenanglah. Kau malah membuat Mama sedih. Jangan berbicara seperti itu, Nak. Mama menyukai adik bayi. Pasti Mama juga bahagia kalau kalian bertuga saling menyayangi. Jason tidak boleh berbicara seperti itu. Alangkah baiknya kalau kita semua saling menyayangi. Sudah, jangan menangis ya. Nanti malah Mama sedih karena melihat kalian tidak saling sayang begini." Kane berusaha menenangkan Jason yang masih saja menangis.
Justru kali ini tangisannya semakin keras. Telinga Kane pun sampai berdengung karena saking kerasnya. Namun penderitaan Kane sepertinya masih belum usai. Nyatanya si bungsu terusik dengan tangisan Jason sehingga membuat putri Kane itu ikut menangis.
"Aduh, Pa. Kenapa malah adik bayi aku ikut menangis?" gerutu Jesper. Anak laki-laki itu masih saja menutup telinganya. Apalagi ditambah dengan tangisan putri bungsu Kane itu. Semakin membuat telinga Jesper terasa sakit.
Kane memejamkan kedua matanya. Getar-getar kekesalan menyelimuti hatinya. Ingin sejali Kane meluapkan semua kekesalannya ini. Akan tetapi Kane tidak mampu berbuat banyak.
Jason dan si bayi yang menangis. Ditambah dengan Jesper yang terus menggerutu dan membentaknya berulang kali lantaran kesal mendengar tangisan saudara-saudaranya. Ini adalah hari terburuk bagi Kane. Bisa-bisanya ia terjebak dalam alunan melodi yang dapat nerusak gendang telinganya.
__ADS_1
"Ya Allah. Betapa beratnya cobaan diriku. Sayang, seandainya saja kau bangun dari tidurmu. Anak kita menangis. Tidakkah kamu kasihan padaku?"