Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 62 Biang Rusuh


__ADS_3

Di satu pagi buta di sebuah rumah yang tak begitu besar, seorang wanita cantik melenggang masuk ke dalam kamar. Sebuah kamar yang bercat karakter khas anak-anak itu tampak menyegarkan mata. Bau minyak telon menyerbak menusuk hidung saat pintu kamar itu terbuka.


"Hm, hmm. Pangeran kecilnya masih tidur? Hei, pangeran kecil. Ayo, kita bangun. Apakah seorang pangeran masih akan terus tertidur?" Wanita itu mencolek punggung bocah berusia 5 tahun tersebut dengan gemasnya.


"Jason? Apakah pagi ini kau akan melewatkan sarapan nasi goreng seafood?" Suara lembut itu berganti dengan pertanyaan yang penuh tekanan. Tubuh kecil itu menggeliat pelan. Dee tersenyum melihat pergerakan kecil itu.


"Kalau begitu jatah sarapanmu akan mama berikan pada Om Emilio!" Dee berseru. Tentu saja kata-kata membangunkan bocah itu. Seketika mata bulat itu melebar dan mulai mengerjap berulang kali.


"Mama! Jangan berikan jatah sarapanku untuk Om Emilio! Dia sudah tua. Tidak boleh makan terlalu banyak. Nanti bisa obesitas. Itu tidak baik untuk kesehatan. Maka dari itu tidak boleh memberikan jatah sarapan Jason padanya. Lagipula Jason masih dalam masa pertumbuhan. Justru Jason harus mendapatkan jatah sarapan lebih banyak!" Jason memperagakan kedua tangannya membentuk nol besar. Tingkahnya itu membuat Dee tertawa lepas.


"Baiklah. Ayo, mandi dan segera bersiap untuk sarapan. Atau jatah sarapan bisa diambil yang lain," ancam Dee.


Bocah bertubuh mungil itu turun dari ranjangnya. Ia bergegas menuju ke kamar mandi yang juga ada di dalam kamarnya. Dee bersiap untuk merapikan tempat tidur putranya. Namun, dahinya mengernyit saat tangannya meraba sesuatu yang basah. Seketika ia menyadari sesuatu.


"Jason!"


Demikianlah pagi itu diwarnai dengan drama yang cukup menyebalkan serta menggemaskan. Dee menghela napas saat melihat wajah putranya menyembul dari balik pintu kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya.


"Maafkan Jason, Ma. Jason sayang Mama!" Jason kecil kembali masuk ke dalam kamar mandi. 


Menghentikan drama kekesalan hati Dee yang semula memenuhi dada. Wanita itu menggelengkan kepala pelan. Padahal baru kemarin ia mengganti sprei yang ada di sana. Namun, Jason malah membuatnya basah. 


Tak lama kemudian, Jason telah kembali. Dee sudah menyiapkan pakaian ganti untuk Jason. Bocah itu hanya menurut saat sang mama mulai memakaikan baju untuknya.

__ADS_1


"Nah sudah selesai. Sekarang, sudah boleh sarapan. Ayo, bangunkan Om Emilio dan kalian bisa sarapan bersama. Mama harus menyelesaikan pekerjaan sesegera mungkin." Dee mengecup pipi gembul milik Jason. Bocah berusia 5 tahun itu mencium balik pipi Dee.


"Baik, Mama. Perintah akan pangeran lakukan!" Jason berlari kecil. 


Seperti biasanya Jason akan membangunkan Emilio terlebih dahulu dan barulah mereka berdua akan menikmati sarapan bersama. Jason tiba di satu kamar yang lebih besar dari kamar miliknya. Bocah cilik itu pelan-pelan membuka pintu kamar milik Emilio.


Jason tersenyum menyeringai melihat Emilio masih tertidur. Lalu kedua alisnya bergerak naik turun seolah ia sedang merencanakan sesuatu. Jason yang memiliki tubuh tinggi berisi serta wajahnya tegas seperti milik Kane. 


Hanya saja kedua mata Jason diturunkan oleh Dee. Begitu pula dengan sifat usil Jason. Sedangkan rambut Jason, terlihat seperti milik Emilio. Bergelombamg merah dan mengikuti gaya Emilio dengan panjang rambut sebahu.


Mata sendu Jason mengamati Emilio. Senyuman masih bertengger di bibirnya Ia mendekat dan meniup telinga Emilio. Namun tiupan pelan dari Jason tak membuat Emilio bergerak. Jason yang sebal karena tak Emilio tak kunjung bangun, tiba-tiba saja ia berteriak dengan keras tepat di telinga Emilio. 


Sontak saja Emilio bergegas bangun dan mengamati keadaan sekitar dengan linglung. Jason yang melihat Emilio seperti orang bingung tertawa keras. Seketika membuat Emilio tersadar bahwa Jason telah mengagetkannya tepat di telinganya. Telinga Emilio terasa berdengung.


Lantas Emilio berlari mengejar Jason yang sudah berlari keluar dari kamarnya. Emilio selalu saja menjadi korban kenakalan dari keponakannya itu. Sebenarnya, salah satu alasan mengapa Emilio memilih untuk bersama Dee dan meninggalkan Kane adalah karena Dee merupakan saudarinya yang berbeda ibu. 


Emilio sejak lama memperhatikan Dee dan dia diam-diam telah melakukan tes DNA tanpa diketahui oleh siapapun. Untuk itulah, tak heran mengapa rambut Jason mirip dengan rambut milik Emilio. 


Dulu saat sebelum ayahnya meninggal, ayah Emilio bercerita bahwa ia memiliki anak dari wanita lainnya. Ia lalu meminta tolong kepada orang yang salah dan berakhirlah seperti sekarang ini. 


Emilio sadar bahwa kehidupan Dee di waktu kecil sangat menderita. Adik perempuannya itu dititipkan ke panti asuhan dan panti asuhan itu pun tutup karena terbakar. Awal mula Emilio curiga karena wasiat ayahnya sangat mirip dengan kehidupan yang Dee alami. Hingga di sinilah mereka sekarang berada. Emilio mendampingi Dee apapun yang terjadi sebagai penebusan dosa.


"Dasar setan kecil!" teriak Emilio.

__ADS_1


Ia pun kesal dan mengejar Jason. Jason berlari dan terus berlari mendekati ibunya yang sedang membuat kue pesanan di dapur. Emilio datang dan mengejutkan Jason. 


Hingga tanpa sengaja Jason menyenggol adonan milik Dee. Adonan itu pun tak ayal terjatuh di lantai. Dee menatap adonan hasil kerja kerasnya itu yang berserak di lantai dengan tatapan mata yang sinis. 


"Apa yang kalian berdua lakukan?" teriak Dee.


"Maafkan aku, Dee. Jason tiba-tiba mengejutkan aku tadi pagi dan aku hanya ingin memberikan pelajaran sedikit." Emilio langsung berbicara saat ia tanpa sengaja mendapatkan tatapan mata tajam dari Dee. Pria itu pun meneguk ludah.


"Jason, mama sudah bilang. Bangunkan Om Emilio dengan benar. Dia lebih tua darimu dan kau harus menghormatinya. Ibu bukan marah padamu, tapi itu merupakan pesanan orang yang harus segera mama selesaikan. Ayo, berdiri menghadap dinding!" Dee menunjuk dinding. 


Tubuh Jason lemas. Ia tak lagi bersemangat seperti semula. Ia berjalan gontai menuju dinding yang ditunjuk oleh Dee. Setelah itu Dee memukul pelan pantat Jason. Namun seseorang menghentikan pukulan yang mendarat di bokong Jason.


"Dee! Apa yang kau lakukan? Kau tidak seharusnya memukul Jason!" Seseorang berteriak dari kejauhan. Tentu menyita banyak perhatian.


"Paman Rizky!" Jason berteriak senang saat Rizki berjalan cepat menuju ke arahnya dan menggendong dirinya jauh dari Dee.


"Rizky, kau jangan terlalu memanjakan Jason! Dia harus mengerti tata krama dan menghormati orang tua. Kembalikan Jason padaku," pinta Dee.


"Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu memukulnya. Meskipun kau mamanya, Dee. Dia masih terlalu kecil untuk mengerti dunia orang dewasa," sergah Rizky. 


"Dia itu anakku! Jadi aku berhak menghukum dan memberi pelajaran padanya! Kenapa kau harus ikut campur perihal caraku mendidik Jason? Apa kau ingin membuat Jason menjadi anak yang manja? Lagipula dia anakku, bukan anakmu!" Dee bersuara lantang. Ia tidak suka bila ada yang mengkritik caranya dalam mendidik Jason.


"Dee, sampai kapan kau tidak membuka hatimu untukku? Padahal aku sudah menganggap Jason seperti anakku sendiri. Aku sudah menunggumu selama 5 tahun lamanya. Apakah semuanya harus sia-sia?" Rizky membatin sedih.

__ADS_1


"Kalau begitu Paman Rizky akan jadi ayahku saja biar aku jadi anaknya. Lagi pula aku kan tidak punya ayah."


__ADS_2