
Setelah itu, Dee menemui Pak Jhon yang lebih dahulu pulang dari Kane. Wajahnya nampak khawatir.
"Ada apa?" tanya Pak Jhon dengan suara berwibawa.
"Aku ... aku ingin bicara masalah penting," ujar Dee dengan wajah cemas dan takut.
Netra Pak Jhon menyipit. "Baiklah, kita bicara di ruangan ku."
Dee lantas mengikuti langkah kaki Pak Jhon. Masuk ke sebuah ruangan besar. Untuk pertama kalinya setelah tinggal beberapa bulan di rumah ini dia baru masuk ruang khusus Pak Jhon.
Ini seperti sebuah rumah kecil di dalam rumah Kane. Semuanya yang ada di dalam sini bukan barang mewah. Tapi terkesan benda lama yang kuno. Kursi dari besi dengan bantalan busa diatasnya. Meja kayu biasa di tengah. Ada kursi rotan di sana. Beberapa perabot lawas seperti lemari kayu biasa dengan kaca dibagian depannya. Di dalam lemari itu ada beberapa barang-barang yang terlihat tidak berharga untuk orang lain tapi dirawat oleh Pak Jhon.
Piring plastik dan sendok. Gelas keramik sepasang. Banyak mainan anak kecil. Celengan ayam jago dan beberapa foto klasik dalam bingkai. Sepertinya itu sosok Pak Jhon dengan keluarganya di masa muda.
Namun, jika Pak Jhon punya keluarga mengapa tidak dibawa kemari?
"Mereka adalah istri dan anak lelakiku. Mereka meninggal dalam suatu kecelakaan," ujar Pak Jhon seperti mengerti arti tatapan Dee.
Dee menutup mulutnya. Ikut bersedih dengan semua yang terjadi pada Pak Jhon. Pasti pria itu sangat terpukul hingga dia tidak ingin menikah lagi sampai sekarang.
Pak Jhon membuka lemari itu dan mengeluarkan bingkai foto dan menatapnya dengan dalam dengan pandangan sedih.
"Ketika masih hidup aku selalu lebih mementingkan pekerjaanku daripada anak dan istri. Aku tinggal di Sanghai bersama dengan keluarga Tuan Besar di sana. Hingga suatu hari aku menerima kabar jika anak dan istriku meninggal dunia."
"Rasanya aku enggan hidup. Jika pun aku kembali ke kampung halaman, aku tetap tidak bisa melihat mereka untuk terakhir kalinya. Rasa sesal datang terlambat. Andai bisa aku akan memutar waktu untuk tetap bersama mereka walau ekonomi kurang. Rasanya, untuk apa semua yang kulakukan jika orang yang ingin ku bahagiakan telah pergi lebih dahulu." Nafas Pak Jhon terengah-engah. Seperti menahan sesak yang dalam sembari memeluk foto itu.
__ADS_1
"Aku turut sedih," ungkap Dee bersimpati.
"Berarti kau bersama dengan Kane dari Kane kecil?" tanya Dee.
"Tadinya, aku hanya sopir perusahaan tapi Pak Park Yang membawaku ke rumah dan menjadikanku sopir. Setelah berbulan-bulan aku di sana, aku terkejut melihat ada anak kecil yang dikurung di ruang bawah tanah. Hidupnya menyedihkan dan lebih buruk dari seekor anjing peliharaan. Namun, anak itu tidak pernah terlihat menangis walau sering mendapatkan siksaan dari Nyonya Cindy. Umur anak itu hampir sama dengan umur anak ku, menjadikan teringat pada putraku yang telah tiada. Aku merasa kasihan dan meminta pada Tuan Park Yang untuk membawa anak itu pergi."
"Tuan Park tidak perduli dengan nasib anak itu. Dia mengatakan jika aku ingin membawanya maka jangan sebut nama Yang lagi dan lupakan jika dia adalah ayahnya. Aku setuju."
"Tuan Muda begitu rapuh dan menderita trauma berat karena terpenjara lama dan sering mendapatkan siksaan. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk memulihkan kembali mentalnya. Mengembalikan kepercayaan dirinya. Hingga akhirnya anak itu menjadi anak hebat yang sekarang dikenal sebagai Kane Alexander Yang."
Mendadak Dee terisak hebat. Dia duduk di kursi dan menyeka air matanya dengan tisu yang ada di kotak atas meja.
"Nyonya kau merasa terharu dengan cerita ini?"
"Aku yang dulu merasa tidak beruntung karena dibuang oleh orang tuaku kini malah merasa jika hidup Kane lebih tidak beruntung lagi. Sungguh tercela sekali perlakuan Park Yang pada anak kandungnya sendiri," ucap Dee dengan emosi.
"Tapi ... , tapi ....," ujar Dee tersendan-sendan.
"Ada apa Nyonya, apakah kau tidak bisa mencintai dia?" tanya Pak Jhon kecewa.
Dee menggelengkan kepala. "Aku sepertinya juga mencintainya. Hanya saja aku telah melakukan suatu kesalahan besar. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Otak kecilku hanya bisa berpikir untuk melakukan penyelamatan."
Timbul kerutan diantara kening keriput Pak Jhon.
"Maksud Anda? Terangkan padaku secara jelas."
__ADS_1
Dee lantas menceritakan semuanya dari awal hingga akhir dan Pak Jhon terlihat marah pada Dee.
"Kau sudah mengkhianati Tuan Muda jika seperti itu. Padahal hanya kau yang dia miliki."
"Aku tahu aku salah, hanya saja jika aku tidak melakukannya maka dua orang yang kukenal dan aku sayangi sebagai keluargaku sendiri harus mati. Apakah itu adil untuk mereka, padahal mereka tidak ada kaitannya dengan masalah ini?"
Pak Jhon menghela nafas berat.
"Aku takut mengatakan ini pada Kane karena kau tahu sendiri jika Kane sangat sensitif jika itu berkaitan dengan Rizki. Dia sangat pemarah." Dee tidak mau mengatakan pencemburu karena merasa tidak enak pada Pak Jhon.
"Dia patut marah, Dee!" tandas Pak Jhon. "Kau harus menceritakan ini pada Kane.''
"Aku tidak bisa melakukannya sekarang karena jika Kane sampai merubah proposal itu, teman-temanku akan meninggal. Aku tidak akan bisa hidup tenang diatas kematian mereka."
Pak Jhon memijat kepalanya yang terasa pusing.
"Jika Kane kalah maka semua aset diamond akan jatuh ke David."
"Karena itu, aku tidak ingin itu terjadi. Kita harus memikirkan cara agar Diamond bisa jatuh ke tangan Kane karena itu sangat berarti baginya. Dia butuh itu untuk memperlihatkan pada Cindy jika dia bukan Kane yang lemah. Untuk membuktikan pada ayahnya jika dia itu anak beruntung dan cakap dalam segala hal. Anak yang tidak pantas disia-siakan oleh Tuan Park Yang."
"Kalau begitu kita buat ini jadi senjata yang akan membalikkan situasi. Biarkan keadaan ini tetap seperti ini. Kane kalah dan David mendapatkan kemenangan sesaat. Kau lantas membebaskan temanmu. Di saat itu, aku akan hubungi Park Yang jika David bermain curang. Otomatis Diamond akan tetap berada di tangan Kane."
"Tapi risikonya, jika Kane tahu kau menolong untuk Rizki apakah dia bisa menahan kemarahannya?"
"Jika Kane marah itu risikoku. Aku akan menanggungnya. Bagiku yang penting Kane tetap bisa memiliki Diamond karena itu menjadi pukulan telak bagi David juga ibunya. Mereka pikir mereka bisa bahagia ketika telah menginjak Kane. Nyatanya mereka sendiri akan masuk dalam lubang kejahatan mereka sendiri yang akan di sesali seumur hidup."
__ADS_1
"Kau siap dengan risiko itu Dee?" tanya Pak Jhon.
"Apapun demi Kane akan kulakukan." mendengar cerita bagaimana hidup Kane yang menderita membuat Dee ikut dendam pada Cindy. Dia akan membalas penderitaan Kane dengan kemalangan yang akan Cindy terima nantinya.