Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 70 Bertemu Lagi


__ADS_3

Sudah sebulan Dee kembali ke Jakarta. Mereka tinggal di rumah keluarganya. Tepatnya rumah almarhum ayahnya. 


Ayah yang selama ini tidak dia kenal, kini bisa dia lihat setiap hari melalui fotonya. Hidupnya memang tidak semulus orang lain tapi dia mensyukurinya. Walaupun ayahnya telah tiada setidaknya dia menyuruh Emilio untuk mencarinya. Berarti ada perhatian lebih dari ayahnya.


Dee yakin andai ayahnya masih hidup dan mereka bertemu pasti ayahnya akan mencintainya. Sama seperti kakaknya yang selalu menyayanginya selama ini. 


Ayah Dee juga seorang kolonel dari kesatuan angkatan bersenjata. Mungkin karena itu dia tidak menikahi ibunya, mengingat ayahnya sudah punya istri sah yaitu ibu Emilio. 


Dee menjadi merasa bersalah pada ibunya karena mengusirnya waktu itu. Suatu hari dia akan meminta kakaknya untuk memberitahu siapa ibunya, lalu mencarinya. Ibunya pasti punya alasan mengapa sampai tega meninggalkan dia sendiri di panti asuhan. 


Dee kini sudah mulai berjualan di salah satu stand pinggir jalan untuk mengisi waktu luang. 


Sebenarnya Emilio melarangnya dan mengatakan akan menghandle semua kebutuhan dari Dee. Namun, Dee juga ingin bisa hidup mandiri tidak selamanya dia menggantungkan hidup pada kakaknya karena kakaknya punya kehidupan sendiri nantinya. 


Suatu hari kakaknya akan menikah dan punya keluarga sendiri. Dia harus menghidupi keluarganya juga. 


"Terimakasih, Bu," kata Dee ramah memberikan gelas plastik berisi minuman jus buah yang segar pada pelanggannya. 


"Sama-sama. Jusnya enak lho, kental dan terasa sekali buahnya. Makanya aku datang lagi," ujar pelanggan Dee lalu pergi dari sana. 


Dee mengusap dahinya yang berkeringat. Cuaca sangat terik sehingga membuat banyak orang tertarik membeli minumannya. Dia menjual berbagai macam minuman segar, ada jus buah durian,buah naga, buah jambu, buah mangga, lemon, dan juga cappucino cincau. 


Dia membuka termos-termos  berisi semua buah yang sudah dibuat jus, masih penuh karena dia sudah mengisinya lagi. Namun, stock jus buah mangga tinggal sedikit, sedangkan yang masih utuh sudah habis. 


Dee menoleh ke arah toko buah di ujung jalan. Dia berencana membeli buah untuk menambah stok yang ada karena ini masih siang jadi mungkin masih banyak yang mau beli lagi. 


Di sudut stand nya Jason sedang asik memainkan game anak-anak di layar handphone. 


"Sayang, mama ke toko buah di ujung sana. Mau beli mangga dulu. Kau disini saja ya, jangan pergi-pergi karena disini sangat berbahaya. Banyak anak diculik untuk dijadikan pengemis."


"Pengemis, Ma? Yang minta-minta itu?" tanya Jason. 


"Hmm, kau tidak mau kan jadi pengemis dan minta makanan sama orang-orang?" Jason menggelengkan kepala. 

__ADS_1


"Karena itu kau di sini saja."


"Iya, Bu. Jangan khawatir. Aku pasti akan menjaga toko ibu dengan aman. Aku adalah salah satu avenger, captain Amerika, jadi aku punya kekuatan untuk mengusir penjahat," ujar Jason memamerkan gaya tokoh kesukaannya di film Avenger. Dia juga pakai kostum captain Amerika yang baru dibelikan oleh Emilio tanpa melupakan topeng yang menutup sebagian wajahnya yang imut dan tampan. 


Dee menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya yang menggemaskan walau seringnya mengesalkan. 


Dee mengambil uang dari kotak lalu berjalan meninggalkan stand itu. Jason sendiri meletakkan handphonenya di kotak lalu mulai memainkan pedang mainannya. Seolah dia adalah pahlawan masa kini. 


Tidak jauh dari sana Kane sedang duduk tidak tenang di dalam mobil. Sudah setengah jam lebih dia terjebak macet. 


Kondisi jalanan yang tidak melebar tidak sesuai dengan bertambahnya jumlah kendaraan setiap harinya, menyebabkan kemacetan yang terjadi setiap hari di kota ini. 


Kane meletakkan ipad di kursi dengan kesal. Melihat jam di tangannya. Setengah jam lagi dia ada janji dengan Menteri P U, membicarakan tentang proyek. 


Kane melihat keluar jendela. Tatapannya tertuju pada anak kecil yang sedang bermain pedang di depannya. Dia seperti paham dengan anak itu? 


Kane terus mengamati sehingga merasa yakin jika itu adalah anak Dee yang aneh, yang ditemui di toilet dalam sebuah pesta di Papua, sebulan yang lalu. 


Kenapa anak itu ada di Jakarta? Pikirnya. Dia lantas keluar untuk memastikannya. 


"Aku mau keluar sebentar cari angin," ujar Kane. Kane lalu merapikan jasnya yang tidak kusut. Berjalan mendekat ke arah Jason. 


Melihat bayangan hitam yang besar mendekat, Jason langsung menghunuskan pedangnya ke belakang mengenai orang yang ada di depannya kini. Pedang itu mengenai keras paha Kane. 


"Siapa kau? Apakah kau penjahat yang mau menculik anak-anak?" tuduh Jason. Dia mengatupkan bibir rapat begitu melihat sepatu yang mengkilap dan jas rapi dan klimis. 


Kepalanya ditegakkan karena orang di depannya itu sangat tinggi. 


"Eh, Paman burung besar ada di sini?" seru Jason keras membuat wajah Kane memerah. 


'Anak ini,' geramnya melihat ke sekitar orang-orang yang kini melihat ke arahnya dengan pikiran macam-macam. 


"Burungku belum tumbuh besar juga paman," lanjutnya dengan polos membuka celananya dan memperlihatkan miliknya. 

__ADS_1


Kane langsung berjongkok dan menaikkan celana Jason. Mengabaikan orang-orang yang melihat ke arah mereka. 


"Jika kau bertambah besar maka milikmu juga akan bertambah besar," terang Kane. 


"Oh, kalau begitu aku akan makan banyak biar cepat besar dan burungku juga tumbuh besar."


Kane tidak mau berdebat lebih banyak karena dia yakin akan kalah. Anak ini sama seperti Dee yang polos, mengesalkan dan juga lucu. 


"Kenapa kau ada di sini? Dimana orang tuamu?"


"Mama? Dia sedang pergi ke toko itu untuk membeli buah."


"Dan kau ditinggal sendirian di sini?" Jason mengangguk. 


"Apakah ini tempat jualan ibumu?"


"Paman mau beli? Jus ini baik buat tubuh, untuk membersihkan usus yang kotor biar kosong dan bisa diisi lagialau sedang buang juga biar lancar, apalagi kalau sudah tua seperti paman,pasti sering susah buang kan? Buah juga baik buat mata, biar jelas kalau melihat. Paman memakai kacamata, pasti karena kurang vitamin dan buah ini punya banyak vitamin," terang Jason asal dengan mimik lucu. 


Kane hanya mengangguk saja, menahan tawa. Pikiran anak ini sungguh lucu, berbeda dengan Jasper yang sudah pintar dari lahir dan mengerti tentang banyak hal. 


Kane menatap sedih ke tempat jualan Dee. Menghela nafas panjang. 


Apakah hidup Dee sesulit ini hingga harus jualan di pinggir jalan. Setahunya, dia kemarin tinggal di Papua bersama dengan Rizky. Atau mungkin mereka kembali kemari dan memulai usaha kecil-kecilan ini? 


Rasa geram kembali mencengkram hati Kane. Dee bodoh sekali memilih pria itu dari pada dirinya. Lihat sekarang hidupnya menjadi sulit setelah menikah dengan Rizky. 


"Paman tahu, jika kami tidak akan makan jika jualan Mama tidak habis. Aku tidak akan makan karena ibu tidak bisa beli makanan," Jason pura-pura menangis mendulang simpati dari Kane. 


Dia telah banyak melihat video youtube dan mengikutinya. Dia yakin trik ini akan berhasil. 


"Paman burung besar kan kaya dan banyak uang, beli minuman milik ibu ya?" rayu Jason memegang celana Kane. 


"Biar ibu bisa membeli makanan untukku," lanjut Jason dengan mata sendu yang menyedihkan. 

__ADS_1


Kane menghela nafas dalam. Dia sudah berjanji tidak akan mendekati Dee lagi, namun anak ini malah terus memaksanya. 


Harus diapakan anak Rizki ini? Kenapa dia tidak bisa membenci anak ini seperti dia membenci ayahnya yang merebut ibunya dari sisi Kane? 


__ADS_2