
Sebelum kembali ke rumah, Jesper dan Jason di ajak makan terlebih dahulu oleh Linda dan Ben. Setelah itu, mereka baru kembali ke kediaman Kane Yang.
Mereka menunggu kedatangan Dee hingga hampir sore. Linda nampak bahagia bersama dengan cucunya. Menemani mereka selama beberapa jam membuat moodnya jadi bagus. Ini adalah hal yang dia tunggu selama ini. Berkumpul kembali dengan darah dagingnya.
Sekarang tinggal memperbaiki hubungannya dengan Dee.
Suara mobil yang masuk membuat mereka terhenyak. Anak-anak berlarian menyambut orang tua mereka. Linda dan Ben berjalan di belakangnya.
"Mama, Papa, bagaimana dengan adiknya. Katanya Nenek kalian sedang melihat adik di perut Mama," ujar Jason.
"Katanya ada fotonya, aku juga pengin lihat," ujar Jesper.
Dee tertegun melihat Linda ada di rumah itu.
"Aku meminta ibumu untuk datang kemari." Dee terkejut. Dia menatap Kane penuh tanda tanya dan nada ketidak senangannya.
Mereka lantas duduk di sebuah kursi. Linda memberikan minuman untuk Dee. Mereka saling menatap.
Kane memberi tanda agar Dee menerimanya Akhirnya dengan berat Dee menerima air minum itu.
Kane mengeluarkan sebuah foto USG anak keduanya.
"Ini apa Pah?" tanya Jason.
"Itu foto USG, foto calon adik kita. Memang seperti itu karena adik kita masih sangat kecil sebesar biji kacang hijau."
"Benar, Yah?" tanya Jason. Kane menganggukkan kepala.
"Ini adik kalian," tunjuk Kane pada titik hitam di sana.
Jason melihat ke perut Dee.
"Pantasan masih kecil, Ma," kata Jason lagi.
"Akh kok aku sebel melihat mu selalu lebih tahu daripada aku," gerutu Jason.
Jesper tersenyum penuh bangga. "Makanya kalau ada handphone itu buat belajar jangan main game terus."
"Anak Papa benar-benar pintar," puji Kane untuk pertama kali pada Jesper membuat anak itu tertegun melihat Papanya.
Lalu membusungkan dada penuh rasa senang. Dee yang melihat ikut bahagia. Hanya saja saat ini dia merasa lemas karena belum makan apapun sedari pagi. Hanya minuman kacang hijau saja yang dia konsumsi.
"Bagaimana keadaan Rosemary?" tanya Kane diiringi lirikan tajam istrinya yang cemburu karena memperhatikan wanita lainnya. Namun, Kane seolah tidak melihatnya.
"Dia sudah menikah dengan David."
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu. Aku turut senang."
"Sekarang mereka tinggal di apartemen David," lanjut Ben. Namun wajahnya nampak sedih.
"Jika semuanya baik mengapa kau terlihat tidak bersemangat?"
Ben menghela nafasnya. "Park Yang mengusir David karena masalah ini. Apa yang terjadi pada Rosemary kemarin sudah menjadi kabar buruk untuk keluarga kalian, ditambah jika terdengar kabar jika David yang menghamilinya pasti akan menjadi aib. Park Yang sangat murka."
Kali ini Kane terkejut. setahunya selama ini ayahnya itu sangat melindungi David. Apapun yang anak itu kerjakan selalu mendapatkan suport darinya dan jika sebuah kesalahan di lakukan oleh David maka Park Yang akan menutupi kesalahannya. Hal itu sebenarnya sangat memuakkan untuk Kane. Karena perlakuan yang diterima Kane dari ayahnya sangat berbeda. Ayahnya hanya akan hadir ketika dia butuh.
"Semoga setelah ini mereka akan belajar dari kesalahannya," harap Kane tulus.
"Ya, semoga saja," lanjut Ben. Dia memang sangat berbeda dengan adiknya David. Pikir Ben tapi bagaimanapun Rosemary tidak berjodoh dengan Kane dan dia harus bisa menerimanya walau rasa sedikit kecewa itu pasti ada.
"Dee kau diam saja?" tanya Linda khawatir dengan Dee karena terlihat lemas dan pucat.
"Dia tidak enak badan," jawab Kane karena Dee masih diam saja.
"Kalau hamil muda memang seperti itu. Kau harus menjaganya dengan ekstra Kane.
"Tentu saja." Kane mengusap sayang kepala Dee. "Sebaiknya aku membawa Dee kembali ke kamarnya."
"Kalian yang baik di sini, Ya. Papa akan membawa Mama ke kamar."
"Mama sedang tidak enak badan. Kalian yang baik-baik ya. Mama mertua kalau mau di sini silahkan. Kalau mau pulang dahulu tidak apa-apa tapi aku berharap kau menginap di sini barang satu malam."
Dee menatap tajam suaminya tapi Kane tidak perduli. Dia langsung menggendong Dee. Wajah Dee langsung memerah.
"Kane, turunkan."
"Kata dokter kau tidak boleh lelah."
"Kalau begitu aku akan pulang saja. Linda kau ingin ikut bersamaku atau mau di sini saja?"
Linda nampak kebingungan. Dia menatap ke arah Dee yang masih enggan dengan kehadirannya.
"Aku akan disini saja. Dee butuh istirahat dan kembar butuh ada yang mengurusnya. Itupun kalau Dee mengijinkan."
"Tentu saja dia akan mengijinkan," ucap Kane. Dee enggan untuk bertengkar sekarang. Energinya sedang tidak ada. Dia hanya ingin tidur dan berbaring saja.
"Asik Nenek akan di sini, nanti Nenek bisa membantuku mengerjakan PR," celetuk Jason senang
"Kerjakan sendiri ngapa?" ujar Jesper. Jason memanyunkan bibirnya ke depan.
Jesper itu selalu menyuruhnya belajar dan belajar saja jarang sekali membantunya mengerjakan PR atau tugas dari sekolah.
__ADS_1
"Tentu saja, Sayang," jawab Linda senang.
"Kalau begitu aku pamit dulu pada kalian sebelum kalian ke kamar. Aku akan pulang ke rumah tapi sebelumnya akan menemui relasi terlebih dahulu."
"Baiklah. Terimakasih karena telah menemani anak-anak."
"Cucu istriku sama saja dengan cucuku."
Kane lantas pergi ke kamarnya membawa Dee. Ben berbicara dengan Linda sebelum keluar rumah.
"Aku akan mampir ke kediaman Rosemary, ingin melihat bagaimana kehidupannya di sana sambil mengajak David ikut bekerja bersamaku."
"Itu bagus. Aku mendukungmu."
"Anak-anak, Kakek akan pulang dulu," pamit Ben pada kembar yang ada di belakang Linda.
"Kakek pulang tidak menginap di sini?"
"Kakek ada urusan penting. Kalian janji mau jaga Nenek kan."
"Jason itu adalah salah satu pahlawan Avengers, tentu saja akan menjaga Nenek." Jason bergaya seperti iron Man yang sedang beraksi.
"Baguslah kalau begitu. Kakek titip Nenek ya."
"Kau baik-baik di sini. Jika ingin pulang maka pulanglah," kata Ben khawatir.
"Jangan terlalu khawatir padaku. Ini rumah anakku dan aku akan baik-baik saja."
Ben lantas masuk ke dalam mobil sedan miliknya. Mereka bertiga melambaikan tangan pada Ben ketika meninggalkan kediaman Kane.
Linda menarik nafas dalam sebelum kembali masuk ke rumah. Dia berharap Dee akan menerimanya dengan baik.
Sedangkan Dee sendiri menatap penuh tanya pada Kane.
"Kenapa kau bawa dia kemari?" tanya Dee.
"Dia ibumu, Dee," jawab Kane meletakkan Dee di tempat tidur.
"Aku tidak suka dia ada di sini."
"Aku tidak suka kau yang seperti ini. Aku suka kau yang lembut dan penuh cinta."
"Kane, kau tahu kan," rajuk Dee kesal ingin menangis.
"Aku tahu dan aku ingin memperbaiki semuanya," ujar Kane membuat Dee tidak bisa mengatakan apapun lagi.
__ADS_1