Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 84 Mengulangi Kejadian Lama


__ADS_3

"Dee, kau disuruh untuk mengantarkan kopi ke ruangan Presiden direktur," ujar Marvel.


"Nanti akan ku suruh pegawai untuk mengantarkannya," kata Dee yang sedang memberi kembalian pada para pelanggannya.


"Dee, dia direktur kita dan kau akan menolaknya, bukankah itu sebuah kebodohan yang nyata."


"Lalu apakah jika aku pergi ke sana, aku akan menjadi orang pintar? Jika aku pintar aku tidak akan menandatangani perjanjian bodoh itu. Aku tahu, kau dan dia sedang menjebak aku, jangan katakan tidak! Karena aku tahu apa yang ada di otakmu itu," ujar Dee kesal.


Menarik itu yang dirasakan oleh Marvel. Pantas saja atasannya ingin menjebaknya dalam situasi ini. Banyak wanita cantik tapi tidak banyak yang menarik.


"Dee, kau itu bawahan ku tapi kau tidak menurut!"


"Orange jus satu dan spagetti satu, totalnya lima puluh tujuh ribu," kata Dee pada pelanggan lainnya. Dee lantas menoleh sebelum melayani pelanggan yang lain.


"Kalau begitu pecat saja aku, mudah kan?"


"Bukan saja kau yang akan dipecat, aku pun juga. Bisa-bisa aku yang menjadi kepala pegawai besoknya menjadi tukang cuci piring," ujar Marvel dengan wajah mengiba.


Akhirnya setelah panjang kali lebar Marvel membujuk Dee dan membuat telinga dan kepalanya sakit, Dee mau memenuhi keinginan Kane. Dia sudah mempersiapkan diri dan jantungnya menghadapi Kane yang sulit.


Sayangnya salah satu tubuhnya tidak bisa diajak kompromi, sedari tadi berdebar kencang terus. Ayolah dada, tenanglah sedikit.


Dee keluar dari lift dan kembali berjalan di lantai tertinggi perusahaan itu. Dia berjalan ke depan, tidak ada yang berani menahannya walau itu sekretaris Kane sendiri. Dee langsung saja masuk tanpa bertanya terlebih dahulu, melewati sekretaris yang menatapnya. Baginya, dimarahi dan dipecat lebih baik dari pada bersama Kane satu gedung terus menerus.


Emilio benar, Kane bisa saja mengambil satu anaknya yang lain jika tahu masih hidup dan bersamanya. Dia harus menjaga rahasia ini untuk tetap aman bersama dengannya.


Ketika Dee masuk, dia melihat pemandangan tidak senonoh di sana. Dimana Rosemary sedang berciuman dengan Kane di kursi kebesaran pria itu. Dee memalingkan wajah ke samping. Dia meletakkan kopi itu ke atas meja Kane.


Rosemary terkejut dengan kedatangan Dee. Kane sendiri nampak santai menatap ke arah wajah Dee yang memerah. Entah itu karena marah atau apa. Mungkin saja marah.


"Kau, beraninya kau masuk ke dalam ruangan presdir tanpa mengetuk pintu."


"Aku sudah melakukannya, tapi kalian terlalu asik bermesraan jadi tidak mendengar. Maaf kalau tidak sopan. Kalau begitu aku akan pergi karena pekerjaanku telah selesai. Kalian bisa meneruskan kegiatan kalian. Aku harap kau bisa mengancing ruangan ini agar kejadian ini tidak terulang lagi." Dee tersenyum sinis dan hendak pergi ketika Kane memanggilnya.


"Tunggu, pelayan!" panggil Kane. Dee sendiri mengepalkan tangan erat karena marah. Kane terang-terangan memanggilnya pelayan. Padahal dia adalah atasan di cafe itu. Dee menoleh dan memberi senyuman terbaiknya.


"Ya, ada apa Tuan Muda," kata Dee mengenang panggilan lamanya pada Kane.

__ADS_1


"Kau pergilah!" usir Kane pada Rosemary.


Wajah Rosemary yang tadi tersenyum penuh kemenangan kini memucat. Dia bangkit dari pangkuan Kane dan berjalan melewati Dee.


"Jangan kau akan selalu kalah walau kau melakukan seribu tipu muslihat," lirih Dee pada Rosemary ketika melewatinya. Rosemary menatap tajam ke arah Dee.


Itukah yang akan jadi ibu tiri anaknya? Tidak akan dia biarkan. Dee berjanji akan menendang jauh wanita itu dari Kane demi kebahagiaan putranya. Walau mereka tidak bersama, Dee ingin putranya tidak mendapatkan kesulitan karena tingkah licik Rosemary di masa depan.


Rosemary keluar dari ruangan itu dengan wajah yang menggelap. Menutup pintu dengan keras sehingga terdengar bunyi bang!


Dee mengangkat kedua alisnya dan menahan senyum.


Kane mengambil cangkir kopi miliknya. Hendak meminum ketika melihat senyum kemenangan Dee.


"Apakah ada yang lucu?"


"Kau mengusir kekasihmu demi mantanmu," ujar Dee santai. Dia melihat ke arah Kane dengan ekspresi senang tapi aneh dan mencurigakan.


Kane mencium bau kopinya. Merasa pasti Dee melakukan sesuatu.


"Kenapa kau tidak meminumnya?" tanya Dee tidak sabar.


"Tidak perlu, aku disini saja," tolak Dee menghela nafas.


"Dee, aku tidak suka mengulang kata-kataku."


"Aku masih banyak pekerjaan, aku mau ke bawah lagi," ujar Dee membalikkan tubuhnya. Hal itu membuat kecurigaan Kane bertambah.


Dee hendak membuka pintu, namun tidak bisa. Dia mulai panik.


''Dasar ceroboh," gumam Kane lirih. Dia bangkit sambil membawa kopi itu.


"Pintu itu sudah terkunci," ujar Kane menatap ke arah remote di mejanya.


'Mati riwayatku,' batin Dee.


"Aku mau kau minum kopi ini," ujar Kane.

__ADS_1


"Aku?" Dee menghirup udara yang mulai terasa menipis. Otak kecilnya harus mencari cara agar bisa kabur dari situasi yang tidak mengenakkan ini. Dee berpikirlah.


"Ini kopi yang kubuat untukmu, Tuan Muda, mana aku berani meminumnya," kilah Dee tersenyum canggung. Kane menatap tajam Dee.


Dee tahu situasi mulai terasa memburuk dan dia tidak bisa kabur. Buku kuduknya mulai tegak berdiri ketika tidak ada jarak antara mereka hanya cangkir yang Kane pegang.


"Baiklah, aku akan meminumnya, setelah itu buka pintu ini!" ujar Dee mundur dan mengambil cangkir itu.


Matanya terpejam erat dan seketika matanya yang besar dan cantik mencari kamar mandi.


"Itu pintunya," kata Kane menahan tawa. Dee menyerahkan cangkir itu ke tangan Kane dan lari masuk ke dalam kamar mandi. Tidak lama kemudian terdengar suara muntahan serta air yang mengalir.


Kane tertawa terbahak-bahak mencium kopi lalu menjilat bekas bibir Dee. Antara manis bekas bibir Dee dan asinnya kopi.


Dia lalu bersandar di meja kerjanya menunggu Dee keluar.


Dee keluar dengan wajah yang masih sedikit basah. Parasnya yang cantik menatap Kane marah dan sebal.


"Kau tetap selangkah mundur di belakangku Dee jadi kau tidak bisa mencurangiku," ujar Kane.


"Ya, aku sadar kau orang pandai. Menyebalkan. Sekarang buka pintunya, aku mau keluar!"


"Kau harus dihukum karena melakukan hal ini pada atasanmu!" ujar Kane mendekat ke arah Dee.


Dee secara otomatis mundur ke belakangan tahu jika situasinya mulai berbahaya.


"Kau bisa memecatku."


"Itu terlalu mudah setelah semua yang kau lakukan padaku!"


"Lalu kau ingin apa? Memenjarakanku atau menyiksa atau mungkin membunuhku?"


Tangan Kane yang panjang langsung meraih tangan Dee dan menariknya dalam pelukan. Bibirnya mulai mendominasi bibir Dee. Membuat mata besar Dee membelalak.


Dee memberontak tapi Kane malah menekan tubuhnya lebih dalam. Dee hanya bisa diam dan menerima hingga dia ikut terlena ke dalamnya.


Kane tiba-tiba mendorongnya ke belakang dengan kuat, teringat jika wanita itu sudah menikah dan punya anak dari pria lain.

__ADS_1


"Pembohongan! Kau memang benar-benar murahan Dee, keluar dari sini!" usir Kane membuka pintu dengan remot.


__ADS_2