Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 95 Maafkan aku!


__ADS_3

Aura dingin dari Kane membuat dua bocah kecil itu menurut. Mereka sudah pergi ke atas. Pak Jhon menyuruh pelayan untuk pergi membiarkan keduanya berbicara dengan leluasa.


Sedangkan dari lantai dua, Si kembar mengintip Papan dan Mamahnya berbicara.


"Apa mereka akan baikan?"


"Harus!"


"Bagaimana kalau tidak?" Jason menatap cemas pada Jesper.


"Kita akan bekerjasama untuk menyatukan mereka lagi."


Tubuh Kane yang tegap dan atletis berjalan ke arah lift.


"Kane, aku ingin bicara." Dee berlari mengikuti Kane.


Kane masuk ke dalam lift dan Dee ikut masuk ke dalam. Dee tidak tahu harus mulai dari mana hanya diam dan lift pun terbuka. Kane berjalan menuju kamarnya.


"Kane, apa kau akan ambil mereka dariku?" tanya Dee memegang tangan Kane. Kane mengibas sehingga pegangan itu terlepas.


Pria itu masuk ke kamarnya. Dee berhenti di pintu. Dia tahu ini bukan ranahnya. Masuk bisa diartikan banyak hal. Dia nampak berpikir.


Harga dirinya yang telah dicampakkan atau putranya. Dee mengabaikan semuanya, dia butuh anak-anak mereka.


"Kane, jawab pertanyaanku!"


Kane tetap mengabaikan. Dia membuka kemeja putihnya yang lusuh dan kotor, meletakkan ke keranjang baju kotor. Berjalan masuk ke kamar mandi.


Wajah Dee seketika memerah. Dia menundukkan wajah. Dia lalu duduk menunggu Kane mandi sambil mengamati kamar Kane. Tepatnya kamarnya dan Kane dulu.


Dee mengusap tempat tidur itu, mengingat kebersamaannya dengan Kane. Lalu bangkit, pergi ke ruang ganti. Dia membuka pintu kamar itu dan tidak menemukan satu benda miliknya di sana. Kane benar-benar sudah membuang semua hal yang berkaitan dengannya. Apakah pria itu memang benar-benar telah membencinya?


Di saat itu Kane ke luar dari kamar mandi dan masuk ke ruangan itu.


"Kenapa? Apa ada yang salah?" tanyanya dengan nada mengejek.


Dee yang sedang melamun terkejut. Dia membalikkan tubuh dan menemukan tubuh tinggi Kane sudah berada di depannya. Hanya tertutup handuk di bagian bawah pinggangnya. Air pun masih membasahi tubuh. Terlihat segar dan membuat ketampanan pria itu berkali-kali lipat.


"Tidak, ini rumahmu dan kau berhak membuang atau memasukkan semua hal sesuai dengan keinginanmu," ujar Dee dengan gugup.


"Kau yang memilih untuk berkhianat dan membohongiku!"

__ADS_1


Dee terdiam hanya menunduk.


"Aku kemari untuk membawa pulang Jason," ucap Dee dengan takut.


Wajah Kane yang seputih susu seketika berubah memerah dan gelap.


"Apa kau masih punya muka untuk mengatakan itu!" bentak Kane.


"Ka-kau sudah punya Jesper," ucap Dee takut.


Kane menendang keras sebuah meja aksesoris tempat jam tangan mahalnya berada. Meja yang berat itu terjungkal membuat Dee terkejut.


"Keluar Dee, jika tidak ingin aku melakukan kesalahan fatal padamu!" bentak Kane tanpa mau melihat pada Dee. Nafasnya terengah-engah, dengan tangan terkepal erat.


Hatinya benar-benar terluka karena hingga saat ini Dee tidak mau mengakui kesalahannya malah ingin kembali membawa pergi anak yang baru dia temukan.


Dee langsung keluar dari ruangan itu dan menutupnya. Kane duduk lemas bersandar pada lemari sambil menangisi nasibnya yang buruk.


Dia berharap Dee mau jujur dan meminta maaf bukannya malah ingin mengambil Jason kembali, putranya yang dia kira sudah tiada. Walau marah dia bahagia dengan berita ini namun Dee dengan semua keegoisannya menghancurkan segalanya.


Di sisi lain Dee duduk di lantai bersandar kan pintu, menyembunyikan wajahnya diantara lutut. Menangis. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia hanya takut jika harus dipisahkan dari anak-anaknya.


Sedangkan di pintu luar kamar, duo kembar sedang meletakkan telinga mereka di pintu, ingin mendengar apa yang terjadi di dalam.


"Mereka hanya butuh bicara," ujar Pak Jhon mengagetkan keduanya yang sedang mencuri dengar apa yang terjadi di kamar orang tua mereka.


"Sekarang kita tinggalkan mereka berbicara. Yakin nanti setelah ini, mereka pasti akan akur kembali.


Kane yang sudah mulai tenang dan memakai pakaian rumah, mulai membuka pintu. Dia terkejut ketika melihat Dee masih di sini dengan tubuh bergetar karena menangis.


Tangannya ingin menyentuh rambut Dee, tapi ditariknya lagi.


"Jangan kau pikir karena tangismu, aku akan luluh."


"Kapan kau luluh dengan tangisku. Kau itu seperti batu keras yang sulit untuk ditembus," ujar Dee mengusap air matanya.


"Lalu kau sendiri apa? Kau itu seperti air yang terlihat tapi tidak bisa digenggam. Selalu melakukan sesuatu sesuka hati. Tanpa berpikir akibat atau masalah yang akan timbul!" Kans lalu duduk di pinggir tempat tidur.


Dee bangkit


"Kane, kau marah padaku?" tanya Dee berdiri tepat di depan Kane.

__ADS_1


Kane terdiam melihat ke arah lain. Wajahnya nampak sangat kecewa dan penuh kesedihan. Dee tahu dan bisa merasakannya.


Dee lantas menekuk kakinya ke belakang di depan kane dan menundukkan kepala.


"Maaf," ucap Dee.


Kane melihat ke arah Dee dengan mata yang berkabut. Dia menghela nafas panjang.


"Untuk apa?"


"Untuk semuanya, aku tahu aku salah, aku punya alasan, tapi itu juga tidak bisa dibenarkan sepenuhnya."


"Katakan alasanmu tidak mengatakan jika Jason masih hidup kenapa kau berbohong?"


"Aku takut kau mengambilnya juga dariku. Aku hanya punya Jason dalam hidupku dan dia adalah hidupku."


"Dee...! Aku benar-benar ingin mencekikmu," ujar Kane geram.


Tangannya mengusap wajah kasar dan menutupnya. Menekan matanya kuat agar air mata itu tidak mengalir di depan Dee. Memperlihatkan kelemahannya. Dada Kane terasa sesak.


Dee maju dan meletakkan kepalanya di pangkuan Kane.


"Apa kau akan memaafkan aku?" tanyanya dengan suara penuh harap.


"Jangan sentuh aku, kau masih kotor dari luar," ujar Kane. Dee tersenyum tipis. Dia malah memeluk pinggang Kane.


"Tubuhku bersih, kau lihatkan. Aku bahkan masih harum. Kemarin kau menciumku tidak perduli aku yang belum mandi sehabis pulang kerja."


"Itu berbeda."


"Apa bedanya?" Dee mendongak melihat wajah Kane.


Kane terdiam.


"Lagipula jika aku mandi, aku tidak punya pakaian ganti. Kau sudah membuang semuanya," ucap Dee hati-hati. Dia tahu jika Kane itu orang yang sangat sensitif dan moodnya mudah berubah dengan cepat.


"Untuk apa aku menyimpan barang yang hanya menimbulkan luka, Dee," ucap Kane menatap balik Dee.


Dee faham, posisinya itu sama dengan barang miliknya yang dibuang jauh dari hidup Kane. Kane tidak ingin berada di dekatnya lagi.


"Aku mengerti, kau berhak melakukannya dan aku pun tidak punya hak apapun di sini. Kesalanan ku pun tidak mudah bisa kau maafkan. Tapi aku berharap kau akan tetap mengijinkan aku untuk bertemu dengan kedua putraku," ujar Dee bangkit. Lalu berjalan ke arah luar kamar.

__ADS_1


"Aku pulang," kata Dee dengan lesu.


Apakah Kane akan menghentikan Dee pergi atau mencoba hidup baru bersama dengan Dee?


__ADS_2