Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab.121 Sahabat Hidup


__ADS_3

Mereka akhirnya kembali ke kediaman Kane yang lama. Acara liburan berakhir sudah. Sepanjang jalan Dee lebih banyak melamun dan terdiam. Kane hanya bisa menghela nafas panjang dan menyetir kendaraan yang mereka gunakan.


Sesampainya di rumah, anak-anak langsung menyambut kedatangan mereka.


"Papa kelincinya aku taruh di belakang rumah, boleh kan?" tanya Jason antusias.


Kane mengangguk. Dee sendiri melamun, tidak memperhatikan anaknya. Dia sibuk dengan perasaannya yang kacau. Hal yang tidak dia harapkan kehadirannya kini ada dan masuk kembali ke kehidupannya.


"Kata Patrik nanti akan dibuatkan kandang yang besar oleh Papa, benar?" tanya Jason lagi yang fokus pada Papahnya tidak memperhatikan Mamanya yang terlihat sedih. Berbeda dengan Jesper yang melihat perubahan sikap Dee. Mamanya selalu terlihat ceria di depan anaknya, kini nampak berbeda.


Kane mengangguk menjawab pertanyaan Jason sambil tersenyum, sambil melihat Dee yang pergi begitu saja ke kamarnya.


"Mama kenapa, Pa?" tanya Jesper yang melihat mamanya terlihat sedih, dia nampak khawatir. Jason terkejut lantas melihat Mamanya yang naik ke tangga tanpa menyapa seperti biasanya.


"Tidak apa-apa. Mungkin hanya merasa lelah, Mama kalian butuh sedikit istirahat. Kalian jangan mengganggunya dulu, ya!"


"Memang mama sakit?" tanya Jason dengan air muka yang khawatir. Namun masih terlihat imut, ditambah dengan pipinya yang sekarang bertambah berisi membuat siapapun yang melihat akan gemas.


Jesper nampak berpikir. Apakah yang orang tuanya temui tadi ketika pergi sehingga membuat mamanya sedih? Dia menatap curiga pada Papahnya. Apakah mereka bertengkar?


Kane menekuk satu kakinya ke belakang agar sejajar dengan kedua putranya.


"Sayang, Mama kalian baik-baik saja hanya butuh waktu untuk istirahat saja."


"Papa tidak bertengkar dengan Mama kan?" selidik Jesper. Kane tertawa kecil melihat kekhawatiran di wajah Jesper.


"Tidak yang seperti kau pikirkan, Nak," ujarnya mengusap kepala Jesper. Jesper masih belum bisa tenang mendengarnya.


"Papa punya kabar yang menyenangkan untuk kalian."


"Apa, Pa?" tanya Jason antusias.


"Nenek kalian mau datang," ungkap Kane.


"Amah?" celetuk Jesper, dia tidak suka dengan wanita tua itu. Kasih sayangnya nampak tidak tulus, Jesper bisa merasakannya.


"Iya, Amah dan Akung akan datang, apa membawa mainan lagi?" sela Jason bersemangat.


"Bukan, tapi Mamanya mama," balas Kane.

__ADS_1


"Mamanya mama," ulang Jason. Selama ini dia tidak pernah bertemu dengan Mamanya mama, pikirnya.


"Jason punya Mama, Mama juga punya Mama juga kan, nah dia itu Nenek kalian."


Mereka berdua mengangguk.


"Jason tidak pernah bertemu dengan Nenek."


"Hmm nanti kalian bisa bertemu dengannya, tapi bukan sekarang."


"Baiklah, Jason akan menunggu."


"Apa dia baik seperti Mama?" Jesper tidak ingin punya nenek yang seperti Amahnya lagi.


"Ya, dia baik dan cantik seperti Mama kalian."


Jesper menghela nafas lega.


"Aku penasaran dengan Mamanya mama," ungkap Jason bersemangat.


Setelah mengakhiri pembicaraan dengan kedua anaknya, Kane pergi ke kamar menemui Dee. Dia masuk ke dalam. Dia sudah bisa menebak jika Dee pasti akan ada di kamar mandi.


Kane membuka pintu kamar mandi dan melihat Dee duduk di pinggir bath up yang menghadap ke jendela. Di sisi lain, keran shower dibiarkan mengalir deras.


Kane mematikan shower. Lalu mendekat ke arah Dee dan mengulurkan tangan.


"Maukah kau mempercayai diriku dan berbagi beban denganku? Jangan kau menanggungnya sendiri. Ada aku yang siap mendengar semua keluh kesahmu dan kesedihanmu."


Air mata Dee kembali menetes, dia menghapusnya cepat.


"Bajumu basah," ucap Kane. Dia menggendong Dee dan membawanya ke kamar.


"Aku bukan anak kecil yang harus kau gendong terus," ucap Dee.


"Selama aku masih bisa, aku tidak keberatan melakukannya. Mungkin jika kita sudah jompo, aku tidak akan melakukannya lagi."


Dee tersenyum dalam tangis. Kane pergi mengambil baju Dee dan kembali dengan gaun rumah yang ringan. Dia membantu Dee melakukannya walau Dee sempat menolak.


"Aku selalu sedih ketika melihat kau menyembunyikan kesedihanmu dariku, berpikir apakah kau tidak percaya padaku atau meragukanku," ungkapnya lagi.

__ADS_1


Dee menghela nafas. "Aku hanya tidak biasa berbagi dengan siapapun."


"Kalau begitu mulai sekarang biasakan berbagi perasaanmu denganku," pinta Kane. Dia memasukkan gaun rumah itu di tubuh Dee, lalu meletakkan pakaian yang basah ke keranjang pakaian kotor.


Kane duduk di sebelah Dee dan menarik tubuh Dee ke dalam pelukannya.


"Kapan kau tahu semuanya?" tanya Dee.


"Kemarin. Sejujurnya ketika melihat Tante Linda, aku selalu merasa tidak asing dengan wajahnya. Aku kira itu mungkin hanya kebetulan saja."


Kane terdiam sejenak.


"Dia wanita yang baik."


"Wanita yang baik tidak akan membuang anaknya. Akh, kau tahu rasanya disiakan oleh orang tuamu," lanjut Dee. Mungkin karena nasib mereka yang sama sehingga keduanya merasa saling cocok dan membutuhkan.


"Tapi Tante Linda berbeda dengan Ayah atau ibu kandungku. Aku mengenalnya baik. Dia wanita yang lembut dan peduli dengan semua orang."


"Tapi tidak anaknya!" tandas Dee dingin. Dia sangat benci bila Kane menceritakan kebaikan wanita itu. Mendengar namanya saja sudah membuat telinganya sakit.


Kane menghela nafas.


"Kita dengarkan dulu alasannya baru setelah itu kau bisa mengambil keputusan. Mungkin dia punya sebab yang membuat dia harus memberikanmu ke panti asuhan."


"Apakah seorang wanita tidak bisa menahan penderitaan demi anaknya? Kalau iya, berarti dia wanita yang egois karena menelantarkan anaknya demi kebahagiaannya sendiri," ungkap Dee penuh emosi.


"Aku mengerti, tapi jika dia ingin meminta maaf dan memulai segalanya dari awal apakah kau tidak ingin memberi kesempatan padanya?"


"Aku tidak tahu. Yang aku tahu, aku sangat membencinya." Dee memalingkan wajahnya ke arah lain. Untuk sejenak mereka terdiam.


"Dee berikan sedikit waktumu untuk berbicara dengannya. Setelah itu, aku yakin kau tahu apa yang harus kau lakukan."


"Kane aku...." Dee ingin menolak tapi Kane meletakkan jari telunjuk di bibirnya.


"Seburuk apapun dia, dia ibumu." Dee lantas memeluk leher Kane dan meletakkan kepalanya di bahu pria itu. Menghirup aroma Kane yang selalu bisa menenangkan hatinya. Saat ini dia butuh tempat bersandar. Untungnya Kane menyediakan waktu, hati dan jiwa untuknya. Dia sangat mensyukuri hal itu.


"Aku berkata ini karena aku tahu Tante Linda wanita baik. Jika dia wanita yang buruk aku orang pertama yang akan menjauhkan kau darinya."


"Terimakasih, Kane." Dee melepaskan pelukannya dan menatap suaminya. Kini dia merasa lebih baik setelah bercerita dengan suaminya.

__ADS_1


"Kau bukan hanya jadi suamiku saja, tapi jadi pelindungku serta sahabat yang mendengarkan keluh kesah ku."


"Memang seharusnya begitu kan?" ujar Kane.


__ADS_2