Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab.131 Tragedi mencekam


__ADS_3

Kane berdiri dengan sempoyongan. Si kembar mulai panik dengan keadaan sang papa. Mereka menjerit sehingga membuat suasana semakin mencekam.


"Dokter! Tolong Papa!" jerit Jason.


"Papa! Papa tidak apa-apa?" Jesper berusaha untuk kuat. 


Kane terjatuh terduduk di lantai. Laki-laki bertubuh atletis dan kekar itu kini lemas tak berdaya saat melihat keadaan istrinya antara hidup dan mati. Jesper maupun Jason membawa Kane untuk duduk di kursi yang sudah disediakan.


"Papa tidak apa-apa?" tanya Jason.


"Papa baik-baik saja," jawab Kane.


Jesper tidak merespon. Matanya terus mengawasi para dokter dan perawat yang membantu Dee melahirkan. Mata bulatnya hanya menerawang jauh di sana mengawasi sang mama yang sedang berjuang untuk kelahiran adiknya.


"Aku harap ini terakhir kalinya aku melihat Mama kesakitan," lirih Jesper.


Kane memejamkan kedua mata. Rintihan dan erangan Dee begitu menyayat hatinya. Tak terasa air mata menetes di kedua pipi. Laki-laki itu menangis dalam diam. Jason memainkan ujung seragamnya. Mimik wajah bocah itu tampak jelas. Berbeda dengan Jesper yang masih tenang menatap lurus ke depan. Dua bocah itu berdiri di samping kiri dan kanan Kane.


Melihat Dee kepayahan, Kane tidak tega. Laki-laki itu bangun dan berjalan cepat mendekati ranjang pesakitan Dee. Tangannya mengusap lembut kepala Dee. Membuat perhatian Dee teralihkan ke arah Kane.


"Kau wanita yang kuat. Demi anak kita," bisik Kane di telinga Dee.


Wanita itu mulai mendapatkan kekuatannya kembali. Dee tersenyum seolah berterima kasih kepada Kane. Dee mulai bersiap dan dalam satu tarikan napas, si bungsu telah lahir.


"Dia lahir, Sayang! Si bungsu telah lahir! Terima kasih untuk perjuanganmu!" Kane mencium pipi Dee berterima kasih atas kelahiran si bungsu. Kane masih menghujani seluruh wajah Dee mengungkapkan kegembiraannya atas kelahiran putri mereka.


"Lihat, Sayang. Dia cantik sepertimu. Sayang?" Tubuh Kane menegang. Senyumnya yang sedari tadi ia sungging, kini lenyap tak berbekas.

__ADS_1


"Dee, jangan membuatku jantungan. Dee buka matamu! Dee! Tidak. Kau jangan bercanda! Ayo buka matamu! Dee! Dokter! Ada apa dengan istriku?" Kane panik saat melihat Dee perlahan memejamkan kedua mata.


"Papa! Adik sudah lahir!" teriak Jason.


"Adik sudah lahir!" sahut Jesper.


"Dokter! Ini tidak lucu! Kenapa dengan istriku? Tolong, Dokter!" Kane terus berteriak. Membuat perhatian dokter teralihkan dari si bayi kepada Kane yang terus berteriak.


"Maaf, Tuan. Istri Anda mengalami pendarahan hebat. Tolong kerjasamanya dan silahkan keluar ruangan," pinta dokter.


"Tidak! Aku harus di sini menemani istriku! Dia istriku! Kalian jangan membuatku marah! Aku harus menemani istriku! Kalian tidak berhak mengusirku!" Kane menjerit kencang. Membuat Jason dan Jesper saling merapatkan tubuh lantaran takut dengan amukan Kane yang tiba-tiba.


"Tuan, saya tahu kalau Nyonya Dee istri Anda. Tapi saat ini situasi tidak memungkinkan untuk Anda berada di sini. Tolong, Tuan. Setidaknya Tuan mengerti keadaan ini."


"Tidak! Aku tidak mau keluar! Kalian semua tidak berhak mengusirku! Cepat lihat istriku! Kenapa dia malah tidur? Kenapa dia tidak ingin melihat putri kami yang cantik? Aku tidak mau keluar! Jangan mengusirku! Aku bisa membeli rumah sakit ini!" Kane terus saja berteriak. Membuat dokter kehabisan cara. Kini ia memberikan isyarat kepada teman-temannya untuk mengusir Kane keluar dari ruangan ini.


Kini tiga orang itu sudah ditendang keluar dari ruangan Dee melahirkan. Kane mengerjapkan kedua matanya karena tidak menyangka para dokter yang menangani istrinya bekerja sama dan mengusirnya dari ruangan.


"Aku ingin bersama mama," timpal Jason.


"Argh!" Kane kembali berteriak di koridor rumah sakit. Membuat Jason dan Jesper tersentak kaget. Dua bocah itu bergeser perlahan menjauhi Kane yang mulai bertingkah aneh. Kane kehilangan kendali atas semua hal yang berkaitan dengan keluarga kecilnya.


"Pa? Aku pikir tidak ada gunanya berteriak mengganggu kenyamanan orang-orang. Jika mama di sini, mama pasti akan malu. Bukankah lebih baik kita berdo'a untuk kesembuhan mama?" Jesper memberanikan diri untuk bersuara. Ia memang anak pintar dan bisa menyikapi keadaan dengan ketenangannya. Mirip sekali dengan Kane yang terlihat dingin di luar tetapi sebenarnya ia sangat perhatian.


Kane tidak membalas kata-kata Jesper. Ia berlalu meninggalkan dua anaknya. Jesper dan Jason saling berpandangan. Keduanya berlari-lari kecil mengikuti langkah kaki Kane yang besar. Lagi-lagi dua bocah itu saling berpandangan bingung. Pasalnya Kane malah masuk ke dalam mushola yang ada di rumah sakit.


"Ayo kita ikuti Papa," titah Jesper. Jason pun menganggukkan kepala dan kemudian dua bocah itu masuk ke dalam mushola mengikuti Kane.

__ADS_1


Di sana, Kane mengadu. Laki-laki itu mulai mengerjakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Di belakangnya dua bocah itu masih mengikutinya. Suasana yang sungguh mengharukan. Selesai mengerjakan sholat, Kane menangis meratapi semuanya. Ia berdo'a penuh khidmat.


"Tinggalkan Papa. Kita ke tempat Mama. Papa yang berdo'a, kita yang menjaga Mama. Ayo." Jesper lagi-lagi memimpin Jason. Kini dua bocah itu pergi meninggalkan mushola dan Kane. Membiarkan papa mereka mengadukan semua keluh kesahnya.


"Dulu, hamba sama sekali tidak pernah menyangka akan memiliki banyak cinta. Engkau menghadirkan satu malaikat tak bersayap untuk mendampingi hamba. Di kala kesepian dan riak kehidupan yang mulai memberontak, hamba masih saja angkuh untuk bersujud kepada-Mu. Ya Allah, bolehkah kali ini hamba meminta satu hal?"


"Selamatkan nyawa istri hamba, Ya Allah. Hamba tahu, sebagai manusia hamba termasuk dalam satu kumpulan manusia yang tamak. Tolong selamatkan istri hamba, wahai sang pemilik segala kehidupan."


Kane pun meninggalkan mushola setelah ia selesai berdo'a. Saat Kane kembali, rupanya di sana ada Linda dan juga Ben. Sepasang suami istri itu melihat kedatangan Kane.


"Kane, kami turut prihatin. Semoga semuanya baik-baik saja." Linda bersuara. Ia menatap Kane yang sedang terdiam. Pandangan mata Kane kosong. Linda dapat melihat seberapa Kane mencintai Dee. Hati Linda terasa hangat saat dirinya sadar putrinya telah berada di tangan laki-laki yang tepat.


"Selamat juga atas kelahiran putri bungsumu. Aku turut bahagia. Ingatlah untuk tetap bersyukur bagaimanapun keadaanmu." Ben menepuk bahu lebar Kane yang tak menjawab kata-katanya. Hingga terlihat satu dokter keluar dari ruang ICU.


"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Kane.


Dokter itu bernapas berat. "Istri anda dalam masa kritis. Kami terpaksa melakukan tindakan pemotongan indung telur karena jika istri Anda melahirkan lagi, itu akan sangat berbahaya bagi nyawanya."


Tubuh Kane lemas terasa tanpa tulang. Ini seperti mimpi. Laki-laki itu memejamkan kedua matanya. Lagi-lagi air mata jatuh di kedua pipi tanpa permisi.


"Boleh saya melihat keadaan istri saya, Dok?" tanya Kane.


"Tentu. Silahkan, Tuan. Tapi hanya boleh 1 orang saja yang masuk ke dalam." Dokter mempersilahkan Kane untuk masuk ke ruang ICU.


Setelah mengenakan perlengkapan, Kane masuk ke dalam ruangan Dee. Di sana terdengar denting berbunyi yang menandakan detak jantung Dee masih berdetak. Mata Kane bergerak liar melihat alat-alat yang terpasang ada tubuh Dee. Di sana ada banyak alat yang mengitari tubuh istrinya.


"Sayang, maafkan aku. Kumohon bangunlah. Apa kau tidak ingin melihat putri kita? Dia pasti sangat ingin kau memeluknya. Sayang, kau mendengarku? Kalau kau mendengarku, setidaknya buka matamu." Kane menyentuh lembut punggung tangan Dee. Hanya sekilas karena ada beberapa alat di sana.

__ADS_1


"Begitu besarnya pengorbananmu, Sayang. Apakah kau menyesal memiliki suami seperti aku? Aku bahkan tidak ada di sampingmu saat kau melahirkan anak kembar kita. Hiks, aku memang suami yang tidak tahu diri." 


"Setelah perjuanganmu melahirkan si kembar aku memaksamu untuk kembali padaku. Aku tak tahu jika perjuangan seorang ibu saat melahirkan anaknya seperti ini. Hiks, Dee. Maafkan aku. Kumohon, bangunlah. Setidaknya sapa putri bungsu kita. Apakah kau akan setega ini mengabaikan kehadirannya?"


__ADS_2