Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 76 Otak Cadangan


__ADS_3

Kane berjalan mendekati Dee. Dia menghirup udara sekitar, lebih tepatnya mencium bau tubuh Dee yang kini ada di depannya.


"Bagaimana kabarmu, Dee?" tanya Kane.


"Seperti yang kau lihat, kabarku baik, sangat baik malah tapi kau membuatnya tidak baik karena kontrak sialan itu!" maki Dee kesal.


Kane mengerutkan alisnya, sambil menggaruk ujung hidung.


"Kontrak apa maksudmu?" balik Kane pura-pura tidak mengerti.


"Kane aku tahu ini pekerjaanmu!" ucap Dee kesal karena Kane seperti sedang bersandiwara padanya.


"Aku tidak mengurusi hal penting seperti itu. Kau salah orang Dee," ujar Kane.


"Kau!" tunjuk Dee marah dengan mata menatap tajam pada Kane. Kane sendiri malah maju sehingga telunjuk Dee menyentuh dadanya.


Dee menurunkan tangannya. Menelan saliva dalam. Ditatap Kane begitu dalam membuat Dee menjadi salah tingkah. Kedekatan mereka membuat pikiran Dee menjadi kacau seketika. Apalagi ketika tangan Kane tiba-tiba memeluk pinggangnya dan menarik ke arahnya rapat. Dada Dee langsung berdebar cepat.


Dee menjadikan kedua tangannya sebagai penghalang tubuh mereka berdua, dia berusaha untuk lepas dari Kane.


"Apa kau kemari karena rindu padaku?" tanya Kane penuh percaya diri.


Dee terkejut, dia mengangkat wajahnya agar bisa menatap Kane.


"Hanya dalam mimpimu!" ujar Dee masih memberontak, tapi pelukan Kane malah semakin erat.


"Kau tahu apa alasan aku kemari! Kau menjebak ku dengan kontrak itu, kau jangan mengelaknya."


"Untuk apa aku melakukannya?"


"Untuk melakukan hal seperti ini! Ya kau ingin menjerat ku lagi dengan itu," ucap sengit Dee. "Sayangnya itu tidak akan terjadi lagi."


Kane langsung melepaskan Dee. Dia membalikkan tubuh. Berjalan ke arah jendela kaca besar dan melihat jauh ke depan.


"Kau hanya ingin menyalahkan ku atas kesalahan yang kau lakukan sendiri," ucap Kane penuh luka.


"Kau yang merencanakan ini dari awal, bukan begitu Kane? Jika tidak aku tidak akan masuk ke situasi ini."


"Kau hutang penjelasan padaku, Dee!" Kane menutup matanya teringat akan pengkhianatan yang Dee lakukan.


"Penjelasan yang mana?" Dee pura-pura tidak mengerti. Dia sedang tidak punya jawaban yang tepat untuk hal ini.

__ADS_1


"Bukankah kau pergi tanpa meminta penjelasan jadi untuk apa dibahas lagi," ujar Dee yang masih kesal karena diperlakukan tidak adil oleh Kane.


"Kau juga membawa satu anakku yang lain tanpa sempat aku melihatnya. Bukankah itu kejam Kane."


"Kau suka sekali melempar kesalahan Dee!" ujar Kane tegas. Rahangnya berkedut dengan keras.


"Aku kemari untuk membatalkan kontrak itu, bukan hal ini. Hal yang sudah lama berlalu dan sudah tidak kupikirkan lagi."


Kane tertawa parau. Menghela nafas panjang lalu membalikkan tubuhnya.


Cahaya matahari dibelakang tubuhnya membuat Kane seperti dewa yang turun ke bumi. Di tambah ketampanan pria itu yang membuat Dee tidak bisa berpaling dan melupakannya. Dee merutuki dirinya yang masih saja terpana ketika melihat sosok Kane yang sempurna.


Dia lalu menggeleng kepala. "Kau pergi itu tandanya kau sudah melepaskan aku. Semua sudah seperti perjanjian kontrak dari awal. Jadi jangan bahas masalah yang lalu."


"Kau menolak memberi penjelasan?" tanya Kane.


"Aku mau hidup damai dengan keluargaku dan aku tidak ingin membahas masalah ini lagi."


Kane tertawa miris. Rasa marah dan kecewa memenuhi dadanya.


"Keluarga?!" gumamnya mengejek. "Huh!" Kane membuang nafas kasar. Mengingat tentang keluarga mengorek luka hati untuk Kane.


"Dee dengarkan aku, aku tidak ada urusan dengan kontrakmu itu. Jika ada poin yang tidak menguntungkan mu seharusnya kau membicarakan hal itu terlebih dahulu dan jika kau tidak suka kau bisa menolaknya. Sekarang kau sudah menandatanganinya artinya kau setuju dan kau harus melakukan semua ketentuan yang ada. Kau salah alamat jika datang kemari."


Semua yang Kane katakan sebenarnya benar hanya saja, Dee merasa kalau Kane juga punya andil besar dalam hal ini.


Dee menyipit mata menatap tajam ke arah Kane. "Kali ini aku akan menerima kekuranganmu ini tapi bukan berarti kau bisa seenaknya denganku lagi. Ingat aku bukan Dee yang dulu dan bisa kau permainkan lagi!"


Dee lalu membalikkan tubuhnya meninggalkan tempat itu. Ketika dia hendak keluar ruangan dia teringat akan satu hal lalu membalikkan tubuhnya.


"Paman Burung Besar? Apakah itu kau?" tanya Dee.


Kane terbatuk. Dia terkejut dengan pertanyaan Dee itu.


"Paman Burung Besar? Panggilan apa itu?" ucap Kane pura-pura tidak mengerti. "Apa definisi dengan burung besar?" Kane menahan tawa.


"Lupakan!" Dee lalu pergi dengan wajah memerah. "Jason!" geram Dee.


Sedangkan di sekolah.


Jason terlihat bingung mengerjakan soal berhitung.

__ADS_1


"Ada telor tiga dimakan satu tinggal berapa?" tanya Bu guru membacakan soal yang ada di setiap kertas anak-anak.


"Kalau dimakan ya habis semua," gumam Jason sambil menulis angka nol besar.


"Ibu itik punya lima itik, didekatnya ada dua, berarti berapa itik yang pergi?" Jason yang mendengar pertanyaan dari Bu guru menggaruk kepalanya pusing.


Jason melirik ke arah Jesper yang menggarap tugas dengan mudah. Tulisan Jesper pun terlihat lebih rapih. Jesper yang melihat langsung menutup jawabannya.


"Kau mau mencontek? Tidak boleh!" ucap Jesper sambil membetulkan letak kacamatanya.


"Tidak, untuk apa aku mencontek, aku bisa menghitung sendiri hanya saja otakku sekarang sedang dipinjam oleh Mama untuk menghitung uang belanja jadi aku hanya pakai otak cadangan. Kau pernah nonton film Sponge Bob kan? Patrick suka mengganti otaknya, seperti itu juga aku."


"Mana ada ganti otak?" gerutu Jesper.


"Ck, kau tidak pernah nonton film jadi tidak tahu."


"Aku memang tidak boleh melihat televisi dan juga hal-hal tidak penting."


"Karena itu kau membosankan," celetuk Jason. Dia menyibak rambutnya yang panjang ke belakang.


"Kau sendiri seperti wanita." Jesper menatap rambut Jason.


"Ck, ini seperti tokoh film Avenger, The winter soldier, keren kan?"


"Sama sekali tidak keren," ujar Jesper. Namun, dalam hatinya dia menyukai rambut Jason yang keren. Berwarna sedikit merah. Sayang, dia pasti akan dimarahi oleh Pak Jhon dan ayahnya jika memanjangkan rambut seperti itu.


"Semua cewek bilang aku keren dan tampan dengan rambut ini. Ibuku juga bilang rambutku bagus makanya tidak memotong dan kau tahu," ujar Jason yang mulai mendekatkan diri kepada Jesper.


"Diam-diam paman memberi sedikit cat di rambutku yang dalam, jadi seperti sedikit kemerahan jika terkena cahaya."


"Keluargamu asik benar," ujar Jesper.


"Jesper, Jason, garap soalnya bukan bercerita yang sudah selesai maju ke depan dan kumpulkan!" peringatan Bu Guru.


Jason menghela nafas, delapan soal masih kosong dan dia tidak tahu jawabannya.


"Ekhm aku akan membantumu, tapi kau harus ceritakan tentang ibumu," kata Jesper. Dia tidak tahu seperti apa rasanya punya ibu jadi dia ingin mendengar cerita Ibu Jason yang terdengar keren.


Jason membulatkan matanya yang lentik seperti Dee, lalu menganggukkan kepala. "Itu gampang. Nanti aku akan perlihatkan juga bekal nasi ku yang keren seperti aku. Mamaku yang buat lho, dibuat seperti aku!''


Jesper menganggukkan kepala antusias.

__ADS_1


__ADS_2