
Dua Minggu sebelumnya,
Semenjak mencuri dengar pembicaraan Dee dengan Rizky di telepon hati Kane merasa tidak tenang. Dia lantas bertanya terlebih dahulu masalah ini pada Pak Jhon sewaktu mereka pergi keluar negeri..
"Pak Jhon, kau tahu jika aku sangat menghormatimu dan meletakkan semua kepercayaanku padamu." Kane mengatakan hal itu ketika mereka berada di gedung perkantoran di kota Shanghai. Dia berdiri di bawah jendela kaca besar menatap ke arah deretan gedung bertingkat yang menjulang tinggi ke angkasa.
"Ya, Tuan. Untuk itu saya berterimakasih." Pak Jhon membungkukkan tubuhnya.
"Kau tahu itu maka seharusnya kau tidak merahasiakan apapun dariku," ungkap Kane dengan nada rendah tapi penuh ketegasan. Matanya yang tajam menatap jauh keluar jendela kaca besar.
Dia sedang berada di kota ayahnya untuk membicarakan tentang bisnis yang sedang dilakukannya di Indonesia. Perusahaan ayahnya juga bergerak di bidang konstruksi sama seperti dirinya. Hanya saja perkembangan perusahaannya lebih besar di Indonesia dari pada usaha ayahnya yang sedang mulai menurun performanya di negara berkembang itu.
Perusahaan Kane mulai menjajaki keluar negeri dalam pengembangannya. Dan kini telah menggurita di beberapa kota wilayah China. Walau di negara ini usahanya tidak sebesar nama perusahaan ayahnya yang telah terlebih dahulu ada namun namanya mulai merangkak naik. King Kane ( KK) nama perusahaan miliknya.
"Merahasiakan apa, Tuan?" tanya Pak Jhon tidak mengerti setahunya semua hal sudah dia katakan dan sampaikan pada Tuannya.
"Tentang Dee, bukankah dia sudah punya calon suami sebelum ini?" Kane menghisap cerutunya dalam-dalam. Masalah ini sedikit banyak membuatnya gusar sehingga memutuskan untuk pergi jauh dari Dee untuk beberapa saat. Dia ingin tahu perasaannya pada Dee.
Pak Jhon mengangkat kedua alisnya, menatap Tuan yang telah dia rawat dari kecil. Dia tidak mengira jika Tuannya akan mengetahui dan memperhatikan masalah ini.
"Tuan, saya pikir itu bukan masalah penting. Nona Dee memang mempunyai seorang kekasih tetapi pria itu berada di Papua, jauh darinya. Selain itu, dia memenuhi kriteria yang Tuan ajukan, yaitu tubuh bersih dan masih perawan."
"Apakah kau yakin jika itu adalah anakku? Bisa saja ketika Dee pergi dia bertemu dengan kekasihnya dan melakukan itu?"
"Sampai saat ini kekasihnya masih ada di Papua, jadi Anda tidak perlu khawatir. Selain itu saya sudah mengatakan pada Nona Dee bahwa selama dia hamil anak Anda, dia tidak boleh berhubungan dengan kekasihnya lagi."
__ADS_1
Kane membalikkan tubuhnya dan menatap Pak Jhon sambil tersenyum sinis.
"Apakah kau yakin? Aku mendengarnya sendiri jika dia telah menelfon kekasihnya?" nada bicara Kane terdengarlah seperti seorang pria yang cemburu.
Pak Jhon menundukkan kepala dalam. "Maaf Tuan, saya kecolongan tapi saya pernah memberi peringatan keras pada Nona Dee untuk tidak lagi berhubungan dengan pria itu walau lewat handphone atau hal lain."
"Kau kurang bisa mengatasi masalah ini dan aku kecewa." Kane meletakkan rokoknya di asbak lantas mematikannya.
"Kalau begitu saya akan memberi peringatan kembali padanya serta menyadap handphone miliknya agar kita tahu apa saja yang dia lakukan."
Kane menyatukan kedua alisnya sejenak berpikir.
Dia merenggangkan satu tangan ke arah Pak Jhon. "Tidak usah lakukan, lagi pula itu bukan hal penting bagiku. Dia mau menjalani hubungan dengan siapapun terserah padanya."
Kane pikir semakin dia ingin tahu masalah hubungan Dee dengan Rizki akan membuat dia seperti orang cemburu. Dia rasa itu tidak mungkin karena dia tidak punya rasa apapun dengan Dee.
Kane menghela nafasnya. "Sudahlah jangan kau salahkan dirimu sendiri. Aku juga salah begitu melihat Dee dulu aku mengira dia adalah wanita polos yang belum pernah terjamah oleh siapapun, baik itu hati atau pun tubuhnya. Aku juga lupa seharusnya kau mencari tahu apakah dia wanita single atau tidak? Aku hanya takut jika itu ternyata bukan anakku atau Dee akan berhubungan lagi dengan pria itu ketika sedang hamil anakku."
"Saya sungguh sangat menyesal tidak berpikir sampai sejauh itu."
"Walau kau salah, tapi aku tidak bisa marah padamu. Bagaimanapun aku mengganggapmu sebagai keluarga sendiri, kau yang telah merawat dan membesarkan aku selama ini. Tanpamu aku mungkin masih ... ," ungkap Kane tidak meneruskan perkataannya jika mengingat masa kelam hidupnya ketika kecil.
"Tuan, jangan bicarakan lagi masalah ini. Saya hanya melakukan yang seharusnya dilakukan dan saya bangga dengan pencapaian Anda saat ini. Tidak mengira jika Anda bisa sampai sejauh ini." Pak Jhon mengusap air matanya. Dia menghela nafas dalam. Dia membungkuk.
"Maafkan kesalahan saya karena telah lalai dalam mengurus masalah Nona Dee. Saya tidak mengira Nona yang terlihat kalem dan tidak berdaya bisa sangat sulit untuk di ... 'taklukan'," tutur Pak Jhon lirih, mengatakannya sambil melirik ke arah Kane.
__ADS_1
"Ya, dia seperti burung Pipit kecil liar yang suka terbang kesana kemari, tidak suka jika kebebasannya diambil."
"Kita harus lebih waspada lagi dengan pergerakan Nona Dee ke depannya. Untuk itu saya menyuruh Emilio agar menjaganya dua puluh empat jam," terang Pak Jhon yang teringat kejadian kaburnya Nona Dee. Wanita itu sangat liat untuk digenggam. Penuh ide dan bersemangat.
Emilio tadinya merupakan salah satu anggota militer rahasia dalam sebuah kesatuan. Oleh karena satu sebab, dia keluar dari kesatuannya dan memilih mengabdikan diri pada Kane. Dia menjadi bodyguard yang paling Kane percaya. Dia juga menyelesaikan beberapa tugas penting dan rahasia yang Kane percayakan. Bila Pak Jhon Kane anggap sebagai pengganti orangtuanya. Emilio dia anggap sebagai tangan kanannya.
"Ya, dia cakap dalam urusan ini," gumam Kane termenung.
"Kau boleh pergi," ucap Kane kembali duduk dan menatap layar komputer miliknya.
"Tuan, Tuan Park Yang ingin menemui Anda, siang ini," kata Pak Jhon.
"Hm untuk apa?" balik Kane tanpa mengangkat wajahnya dari layar laptop.
"Saya kurang tahu. Namun, ini sepertinya berkaitan dengan tender proyek jalan tol lintas Sumatra. Bukankah perusahaan kita sedang bersaing dengan perusahaannya dalam memperebutkan tender itu."
Kane menghela nafasnya. "Aku baru ingat jika urusan bisnis pasti dia mendekat mencariku tapi jika urusan lain dia akan lupa jika masih punya anak aku."
Ucapan Kane ini terdengar penuh kekecewaan. Pak Jhon hanya bisa terdiam. Bagaimanapun Kane itu seperti anak yatim piatu yang tidak punya orang tua dan saudara walau sebenarnya kedua orangtuanya masih hidup semuanya dan dia juga punya keluarga besar yang masih lengkap.
Terdengar suara pintu dibuka membuat kedua orang yang sedang berbincang terkejut.
"Kane, lama tidak bertemu. Ayah dengar kau baru saja punya seorang istri? Bagaimana jika Liliana mendengar hal itu?" sebuah suara tiba-tiba membuat terkejut Kane dan Pak Jhon.
"Maaf Tuan, Tuan Yang langsung saja masuk ingin bertemu dengan Anda," ujar sekretaris Kane di belakang tubuh ayahnya.
__ADS_1
Park Yang, ayah kandung Kane tiba-tiba masuk ke dalam ruang kantor Kane dan menanyainya dengan pertanyaan aneh ini. Dia telah merahasiakan hubungannya dengan Dee dari semua orang. Mengapa orang tua itu bisa tahu tentang keberadaan Dee?