Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 44 Tidak memaafkan


__ADS_3

Dee dibawa masuk oleh Emilio. Di depan mereka sudah berdiri tubuh tinggi Pak Jhon dengan wajah angkernya. Dia menatap tajam ke arah Emilio.


"Apa maksudmu dengan membawa dia masuk kembali kemari!" bentak Pak Jhon membuat bulu kuduk Dee berdiri semuanya dan tubuhnya merinding. Dia beringsut ke belakang Emilio dan memegang sedikit lengan bajunya. Seperti seorang anak yang cari perlindungan pada saudara laki-laki.


"Aku suruh kau usir dia, bukan membawanya kembali masuk."


"Nona Dee kembali kemari dengan maksud baik."


"Baik apanya, dia bersama dengan pria lain. Itu pengkhianatan besar buat Kane!"


"Apakah Dee akan datang ke sini sendiri sedangkan dia ditinggal di Pulau Seribu oleh Tuan tanpa ditinggali uang sepeserpun."


"Bukankah ada pria itu untuk menolongnya kenapa harus kembali kemari? Apakah karena kau sayang kehilangan harta Kane?" hina Pak Jhon.


"Kau benar aku kemari karena takut kehilangan benda berharga yang selama ini tidak kumilki."


"Kau dengar itu kan, Emilio. Apakah kau inginkan uang, katakan yang kau mau untuk meninggalkan Kane. Lima milyar, enam, tujuh, atau delapan? Aku akan memberikannya saat ini juga, setelah itu tinggalkan dia!"


Dee tersenyum sinis. "Apakah harga keluarga sebegitu murahnya untuk kalian? Sayangnya bagiku itu tidak ternilai."


Pak Jhon terhenyak dengan jawaban Dee.


"Dari dulu aku mengharap punya keluarga utuh dan itu adalah impian yang ingin diraih selama ini. Aku sudah mendapatkannya di sini di rumah ini, seorang kakak yang menyayangiku." Dee menatap ke arah Emilio.


Emilio terhenyak, dadanya bergemuruh hebat ketika Dee mengatakan menganggapnya sebagai seorang kakak.


"Orang tua yang harus aku hormati." Pandangan Dee beralih pada Pak Jhon.


"Suami yang mencintaiku," ungkapnya sesak dengan mata yang memanas. "Serta anak kami yang akan lahir. Apakah diluar aku akan mendapatkan kebaikan seperti itu selain di sini? Aku tidak sebodoh itu untuk melepas mimpiku."


"Karena itu, berikan aku kesempatan satu lagi untuk memperbaiki diri. Jika dulu aku bersikeras tidak ingin tinggal di sini, kini aku sadar bahwa itu sama saja membunuh diriku karena hatiku memang ada di sini. Bukan ditempat lain," lanjutnya sepenuh hati.


Pak Jhon terdiam. "Syukurlah jika kau tahu kesalahanmu. Aku akan memberikanmu satu kesempatan lagi. Namun, jika Kane menolak mu maka pergilah. Jangan sakiti hatinya lagi. Dia sudah terlalu lama menderita jadi jangan buat dirimu menjadi salah satu penderitaannya lagi."


"Jika kau lakukan kesalahan yang sama lagi, aku bukan hanya akan mengusirmu dari sini lagi tapi dari dunia ini. Aku akan melindungi Kane hingga aku mati walau dengan itu aku harus mengorbankan nyawaku sendiri."


"Aku janji akan menjadi istri yang berbakti padanya dan tidak akan mengkhianatinya," janji Dee penuh keyakinan.

__ADS_1


Pak Jhon menarik nafas lega. Dia berlalu pergi. Dee menoleh ke arah Emilio.


"Tuan ada di atas, di kamarnya."


Dee berjalan ke atas dengan setengah berlari.


"Hati-hati kau sedang mengandung," seru Emilio cemas melihat Dee menaiki tangga tergesa-gesa.


Dee mengangguk. "Anakku merindukan ayahnya."


Emilio tersenyum lega melihatnya. Dia bahagia melihat Dee bisa seperti itu lagi dan menganggapnya seorang kakak.


Dee berhenti di depan pintu kamar dengan ragu.


"Tuan sedang beristirahat, dia sakit," kata Emilio meletakkan koper Dee di sebelah pintu.


"Sakit?" ulang Dee cemas. Pria itu bisa sakit juga. Pikir Dee tidak karuan.


Dee membuka pintu kamar dan melihat Kane yang sedang terbaring di tempat tidur. Menahan nafas dan berjalan mendekat.


Dia duduk di pinggir Kane dan memeriksanya. "Kane," panggil Dee pelan. Tubuh Kane tidak panas.


"Obat penenang?" Dee teringat akan cerita Kane tentang masa lalunya.


"Tuan walaupun terlihat sehat tapi dalamnya tidak. Dia sakit dan menderita trauma masa lalu tepatnya seperti apa aku tidak tahu dan trauma itu kembali karena apa yang kau lakukan."


Mata Dee terbelalak. Begitu hebat efek yang dia berikan pada Kane membuat pria itu terbaring lemah seperti ini. Mungkin karena itu, Kane langsung meninggalkannya. Kane menjauhinya karena tidak ingin terluka lagi.


Dia takut diabaikan dan dikhianati, itu yang Kane katakan. Kane pikir Dee telah mengkhianatinya dan ingin meninggalkannya, pikir Dee.


"Kalau begitu saya sebaiknya ijin keluar, Nona," pamit Emilio.


"Jangan panggil aku Nona lagi, panggil Dee saja," ujar Dee.


"Tidak boleh seperti itu. Anda adalah istri majikan saya. Saya harus menghormati. Saya harap besok Tuan sudah memperbolehkan kami untuk memanggil Anda Nyonya," ujar Emilio.


Dee mengangguk getir. "Semoga saja."

__ADS_1


Mungkin karena Kane belum percaya padanya seratus persen jadi dia belum menganggap Dee sebagai seorang istri sepenuhnya.


Dee lantas melepas sepatunya dan berbaring di sisi Kane. Menyentuh wajahnya lembut.


Bertanya sendiri, apakah dia memang mencintai Kane? Atau dia mencintai kehidupan yang Kane berikan? Namun, mulai hari ini dia akan mencintai Kane dengan sepenuh hati.


"Maafkan aku, maafkan aku karena menyakitimu," bisik Dee di telinga Kane.Lalu dia ikut tidur bersama Kane. Tubuhnya juga terlalu lelah setelah seharian melalui hari yang berat ini.


Kane sendiri mendengar suara Dee dalam mimpinya. Seulas senyum terbit di bibirnya.


Tengah malam, Kane terbangun karena terusik gerakan orang di sampingnya. Satu kaki Dee membelit kedua kakinya. Tangannya memeluk Kane. Wajahnya tepat bersembunyi di lengannya.


Dia membuka mata dan melihat Dee berada tepat di sampingnya. Kedua alis Dee berkerut, sambil satu tangan lainnya memegang perutnya yang berbunyi. Kedua matanya masih terpejam.


"Lapar," gumamnya.


Kane tersenyum geli melihat ekpresi Dee yang kelaparan dalam tidurnya. Sejenak dia teringat dengan apa yang telah terjadi. Dia menghela nafas panjang.


Kane telah meninggalkan Dee, mengapa wanita itu malah memilih kembali? Bukankah dia memang menginginkan untuk pergi darinya dan bisa hidup bersama pria itu?


Rasa marah Kane kembali. Dia menarik kasar lengannya dari kepala Dee.


"Aww," gumam Dee.


Dee terbangun membuka matanya dan melihat Kane sedang bangkit dan duduk membelakangi nya.


"Kau sudah bangun?" tanya Dee.


Kane tidak menjawab, berdiri meninggalkannya. Dee ikut turun dari tempat tidur, mengikuti Kane.


"Kane, aku minta maaf," ucap Dee meraih tangan Kane sewaktu pria itu hendak membuka pintu.


Kane menepis nya. Dee menggigit bibir bawahnya. Suasana di rumah itu sepi karena ini adalah tengah malam waktunya orang tidur.


"Kau boleh marah padaku, membentakku tapi jangan diamkan aku seperti ini," ucap Dee.


Kane menatap ke arah lain. "Emilio... Emilio.... " panggil Kane keras. Tidak lama kemudian Emilio sudah ada di depan mereka.

__ADS_1


"Ya, Tuan," kata Emilio dengan tubuh sigap. Netranya bertanya pada Dee, apa yang telah terjadi.


__ADS_2