
Sedangkan di dalam kamar Jesper, Jason terlihat menangis. Tidak... itu tidak benar.
Dia sedang menikmati kue tiramisu yang dia temukan di dalam lemari pendingin tadi sore. Dia juga telah mengamankan beberapa makanan yang dia sembunyikan di bawah kolong tidur. Sebelum melakukan ini, dia telah merencanakannya dengan matang.
Dia tahu, akhirnya akan seperti ini jadi dia sudah siapkan payung sebelum hujan. Lebih tepatnya menimbun makanan sebelum kelaparan.
"Bagaimana apakah berhasil?" tanya Jesper dari seberang telepon. Mereka sedang melakukan video call. Jesper bersembunyi di dalam kamar Pamannya dan menutup pintu rapat.
"Berhasil dong, aku coba untuk membujuk Papa agar berpikir, otaknya yang keras perlu dipukul agar bisa lembut," ujar Jason sambil memakan kuenya dengan belepotan.
Jesper dari seberang telepon terlihat tidak senang dengan kelakuan Jason.
"Ck, selama ini aku selalu menjaga kebersihan kamarku dan kau malah mengacaukannya," gerutu Jesper.
"Ha... ha... ha... aku dan kau berbeda."
"Lalu bagaimana tanggapan Papa?"
"Pria keras kepala itu tidak mau memberitahukan siapa Mama, sungguh buruk sekali," terang Jason.
Mereka nampak berpikir.
"Kata Mama tadi jika Papa tahu Mama menyembunyikan anak lain maka Papa akan mengambilnya lagi."
"Oh, tidak bisa seperti itu. Kita harus membuat agar tidak terjadi itu. Jadi untuk sementara identitas ku harus disembunyikan dulu sampai kita yakin Papa dan Mama bersatu lagi."
"Kau benar."
"Jika Papa tidak mau kembali bersama Mama, aku mau tinggal bersama Mama saja. Papa tidak asik," celetuk Jason.
"Itu tidak adil, kau harus mengalah, kau selama ini bersama Mama, maka biarkan kali ini aku ikut Mama," ujar Jesper.
"Tidak bisa seperti itu. Mama tahunya yang bersamanya adalah aku, Jason bukan kau!"
Mereka malah bertengkar memperebutkan siapa yang akan tinggal bersama dengan Mamanya.
"Kita akan bahas itu nanti jika Mama dan Papa memang tidak bisa bersatu. Sekarang yang harus kita lakukan adalah membuat mereka bersatu lagi."
"Bagaimana caranya?"
Mereka lantas membuat rencana baru.
***
Dua hari kemudian.
__ADS_1
"Dee kau disuruh Pak Bos mengantarkan kopi ke atas," kata Pak Marvel duduk di kursi depan Dee.
Wanita itu yang sedang mengecek pembukuan cafe di komputer lalu menoleh pada atasannya.
"Tunggu!" kata Dee dengan malas beranjak dari kursinya menyuruh seseorang menggantikannya.
Setelah membuat kopi dia langsung membawa itu masuk ke dalam gedung Taiyang Corp. Mengabaikan para karyawan yang seperti berbicara tentangnya. Beberapa bahkan membungkuk hormat pada Dee.
"Aku dengar rumor jika kau itu sebenernya adalah istri Presdir dan kalian sudah lama berpisah."
Dee enggan untuk menjawabnya. Dia nampak biasa saja dan tidak terpengaruh.
"Cepat sekali gosip ini menyebar."
"Pantas saja Bos mati-matian menjeratmu untuk ada di sisinya. Aku jadi penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada kalian?"
"Kau itu pria tetapi pandai sekali bergosip, bukannya bekerja malah berbicara tidak penting. Aku yakin Presdir kita akan memecat mu besok jika tahu yang sedang kau lakukan ini."
Pak Marvel langsung terdiam menutup mulutnya. Dee yang terlihat innocent ini ternyata punya sikap. Jarang bicara sekalinya bicara langsung membuat orang tidak bisa berkata-kata.
Seperti biasa Dee langsung saja masuk ruangan Kane tanpa persetujuan sekretarisnya. Sekretarisnya yang sudah mendengar rumor jika Dee itu adalah istri bosnya kini mulai mengerti mengapa dari awal datang wanita itu sudah mulai terlihat arrogan tidak mematuhi protokol yang ada dan juga bosnya yang terkenal galak membiarkan semua itu terjadi.
Ketika Dee masuk Kane sedang memeriksa tumpukan dokumen yang ada di depannya. Pria itu bahkan tidak mengangkat wajahnya.
"Letakkan di sini," tunjuk Kane. Dee menyingkirkan beberapa benda sebelum meletakkan kopi itu. Setelahnya, dia hendak pergi tapi diurungkan. Dia menatap Kane.
"Ada apa?" tanyanya melepaskan kacamata.
"Kau berkata aku bisa menemui anakku," ujar Dee takut-takut.
"Temui saja dia," ujar Kane santai menatap Dee.
"Sungguh?" kata Dee dengan mata berbinar.
"Tapi jangan katakan kau sudah punya keluarga lain padanya karena hanya akan membuat dia terluka."
"Kane, aku...." Dee menelan kembali perkataannya. Dia tadinya ingin mengatakan jika dia tidak punya keluarga lain hanya saja ketakutannya jika Jason direbut oleh Kane membuat Dee terdiam.
"Aku tidak akan mengatakan apapun, aku hanya ingin bertemu anakku."
"Tunggu aku pulang, kita ke rumah bersama."
Dee lalu membalikkan tubuhnya hendak membuka pintu ketika bertanya tentang hal lain.
"Siapa nama anak yang bersamamu?"
__ADS_1
"Jason," jawab Dee seketika membuat dia menggigit lidahnya sendiri karena membuka kebenaran.
"Jason?" ulang Kane yang teringat jika itu nama yang akan diberikan untuk anak mereka kini diberikan pada anak Dee dengan pria lain.
"Dia anak yang menyenangkan," ujar Kane.
Dee membuka mata lebar dan menoleh ke belakang.
"Kau pernah bertemu dengannya?" tanya Dee gugup.
"Ya," jawab Kane kembali menatap ke pekerjaannya.
Dee menyeka keringat di dahinya. Wajahnya kini menjadi pucat pasi.
Memandang Kane yang tidak mengatakan apapun soal Jason. Apakah Kane benar-benar tidak melihat wajah Jason, kalau iya pasti akan tahu jika itu anaknya? Dee langsung keluar ruangan itu.
"Sudah, Bu?" tanya sekretaris Kane dengan sopan. Dee tersenyum kecut dan mengangguk, lalu pergi dari sana dengan cepat.
Sorenya, Dee menunggu dengan tidak sabar Kane turun dari kantornya. Dia berkali-kali melihat ke arah pintu keluar, tapi pria itu tidak ada.
Pukul enam sore baru Kane keluar dari gedung. Dee langsung datang menghampiri. Semua mata tertuju ke arah mereka.
Sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan mereka. Kane meraih tangan Dee lalu membawanya masuk ke dalam mobil.
Dee melihat tangannya sendiri dipegang oleh Kane. Terasa hangat dan menenangkan. Kane membuka pintu depan mobil dan menyuruh Dee masuk ke dalam. Setelahnya, dia masuk ke ruang pengemudi.
"Kau bawa mobil kantor untuk pulang ke rumah," perintah Kane pada sopirnya.
"Baik, Tuan."
Sebelum Kane menyalakan mesin mobil, Kane menoleh ke arah Dee.
"Kau yakin untuk kembali pulang?" tanya Kane.
"Hah! Apa?" tanya Dee terkejut. Hatinya mendesir ketika mendengar kata 'pulang'. Tidak semudah itu, ada janji dan hal yang dipertaruhkan jika dia melakukan itu.
"Maksudku kau yakin mau ke rumah?"
"Aku hanya ingin melihat anakku?" jawab Dee dengan suara goyah.
"Hanya melihat," ulang Kane dengan hati tidak karuan. Antara marah dan miris.
"Baiklah, kita kembali ke rumah."
"Kane...." ucap Dee dengan suara keberatan, dia menatap sedih pada Kane.
__ADS_1
Dee juga ingin membentuk rumah tangga yang bahagia, hanya saja semua tidak semudah yang terlihat. Akan banyak yang dipertaruhkan di sana.