Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 36 Belajar Mengerti Dirimu


__ADS_3

Kane masih menekuk wajahnya hingga pagi ini. Namun, tidak mengurangi ketampanan wajahnya.


"Perasaan anakku itu datang dari bibit unggul yang tidak perlu diragukan lagi. Namun, kenapa dia punya kebiasaan yang menurun dari ibunya. Sangat tidak berkelas."


Dee yang sedang minum jus tiba-tiba tersedak mendengarnya.


"Kau masih tidak ikhlas soal semalam?" tanya Dee.


"Bukan ikhlas atau tidak ikhlas, hanya saja bayangan bayi kecilku yang sedang menyruput keong itu membuatku illfeel."


"Jadi menurutmu makan keong itu tidak berkelas?"


"Memang. Eh. Bukan begitu." Kane mulai bingung untuk mengungkapkan perasaannya yang mual melihat hewan bercangkang hitam itu dimakan oleh Dee.


"Ya, aku sadar jika aku bukan dari kalangan atas yang bisa hidup dengan standar yang kalian buat sendiri. Jika kau tidak suka dengan semua yang kulakukan maka kita batalkan rencana yang kita buat semalam. Aturannya akan kembali seperti semula!''


Dee melempar serbet ke atas meja, menghentak kaki keras dan pergi meninggalkan ruangan itu dengan rasa yang kecewa.


Kane sempat melihat mata Dee yang basah, itu membuatnya terganggu. Dia menghela nafas panjang menatap ke arah Pak Jhon yang selalu punya solusi dari pertanyaannya.


Pak Jhon mengangkat bahunya. Membuat Kane mengalihkan pandangannya ke arah Emilio.


"Sebaiknya Anda mengejar Nona sambil membawakan makanan untuknya. Setelah itu berkata manis untuk membujuknya agar tidak marah lagi," saran Emilio.


Kane meringis. Baru kali ini tiga pria lajang menghadapi wanita hamil yang suka baper. Sebentar-bentar emosinya meluap dan moodnya jarang baik.


Kane menuruti perkataan Emilio, dia meminta sarapan baru pada pelayan dan membuatkan segelas susu. Setelah itu, dia naik ke atas, berhenti di depan kamar. Kane membuka pintu kamar dengan pelan.


Belum juga dia masuk sebuah bantal melayang ke arahnya. Semua makanan tumpah ke lantai.


"Pergi kau dari sini. Jangan dekati aku karena tingkahku itu bisa membuatmu jijik dan illfeel. Aku lahir dan hidup di lingkungan orang bawahan jadi tidak bisa menyeimbangkan cara hidupmu!"


"Dee, bukan seperti itu?" Kane takut untuk masuk ke dalam kamar karena bisa membuat kemarahan Dee semakin menjadi-jadi.


Dee terisak. Mengusap air matanya.


"Dee," panggil Kane lembut.


Kane memanggil pelayan untuk membersihkan makanan yang berserakan di lantai. Dia lantas masuk ke dalam kamar dan menutup pintu itu rapat.


Pak Jhon dan Emilio yang melihat dari kejauhan meringis.

__ADS_1


"Karena itu, aku tidak mau menikah lagi. Tahu jika wanita merajuk itu lebih menyeramkan daripada menghadapi seekor harimau yang sedang ngamuk," ucap Pak Jhon.


Emilio menganggukkan kepalanya. "Aku juga berpikir sama." Mereka saling memandang dan akhirnya tertawa.


"Ini weekend. Sepertinya kita libur sejenak hari ini karena Tuan tidak akan keluar dan Nona juga akan sibuk dengan Tuan kita. Mari nikmati hidup dengan segelas kopi sambil main catur saja di belakang," ajak Pak Jhon.


"Baiklah, tapi jangan merajuk seperti Nona jika kalah," kata Emilio yang tahu jika Pak Jhon akan terus mengumpat jika kalah main.


"Tergantung, kau mainnya curang atau tidak."


"Apa taruhannya sekarang?" tanya Emilio.


"Aku tidak punya benda berharga lagi."


"Aku mau pipa rokok punyamu. Itu sangat antik," kata Emilio.


"Jangan, itu aku beli di Afrika ketika menemani Kane kesana."


"Aku akan memberikan wadah cerutu yang berlapis emas jika aku yang kalah," ujar Emilio.


"Bagaimana? Deal?" tanya Emilio lagi.


"Tidak uang saja," tanya Pak Jhon yang tidak mau melepaskan pipa rokok kesayangannya.


"Baiklah, jika aku kalah hitung-hitung buat warisan untukmu jika suatu hari aku tiada."


"Kau itu masih panjang umur Pak Jhon, kami semua masih membutuhkanmu."


Sedangkan di dalam kamar Kane. Dua orang sedang memadu kasih. Kane pikir ini cara terbaik untuk menyelesaikan pertengkaran ini. Setelahnya, dia akan bicara baik-baik dengan Dee.


Wajah Dee memerah di bawah kendali Kane. Dia sebenarnya ingin menolak namun tubuhnya malah mengkhianati. Menikmati semua perlakukan pria itu yang membuatnya melayang.


Mereka berbagi keringat bersama. Menyatu dalam alunan irama yang menghentak seluruh sel tubuh. Hingga akhirnya Dee tidak tahan untuk mengerang keras tatkala dia mendapatkan klimaksnya.


"Panggil namaku, Sayang, dengan bibirmu yang seksi ini," bisik Kane.


"Kane, sudah aku tidak tahan lagi." Kane melakukan peranannya untuk membawa Dee kembali ke nirwana bersamanya.


Keduanya lantas terkapar setelah merasa lelah melalui aktifitas yang mengeluarkan banyak tenaga dan keringat.


"Kau cantik sekali, Dee," puji Kane. Merapikan rambut Dee yang menutupi wajahnya.

__ADS_1


"Hmm jika ada maunya seperti ini. Jika tidak, menghina," ujar Dee.


"Aku tidak bermaksud menghina hanya tidak bisa menahan cara bicaraku yang apa adanya. Aku harap kau mengerti."


"Kau harus membuang sifat jelekmu itu," ujar Dee hendak bangkit tapi Kane menahannya dan memeluknya erat.


"Kita coba lagi kan, untuk terus bersama," ucap pria itu.


Kedua tangan Dee berada di dada Kane menahan bobot tubuhnya. Sedangkan tatapan mereka saling mengunci.


"Aku hanya orang biasa, Kane tidak akan bisa mengikuti arus hidupmu," ujar Dee.


"Kau tidak perlu jadi orang lain, cukup jadi dirimu sendiri. Hanya saja jangan galak-galak seperti itu. Aku takut jika anakku akan mengikuti sifatmu ini yang ...." Kane menghentikan kalimatnya ketika Dee mulai menatapnya tajam.


"Tidak ... tidak ... kau itu manis dan sangat manja. Mungkin ini bawaan dari kehamilanmu sehingga moodmu mudah berubah-ubah."


Dee menatap malas Kane. Dia lantas menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang tidak mengenakan apapun dan duduk bersila di depan Kane.


"Sudah tahu begitu kau selalu saja membuat emosiku naik, nanti bila tekanan darahku tinggi karena sikapmu bagaimana?"


"Kalau begitu kita turunkan emosimu dengan pergi keluar untuk refresing."


"Piknik?" tanya polos Dee.


"Ke mall saja. Beli pakaian untukmu karena sebentar lagi kau akan butuh pakaian yang lebih besar lagi dari yang biasa kau gunakan."


"Belanja? Baiklah. Tapi hanya kita tanpa pengawal," ujar Dee.


"Baik, hanya kita saja."


Satu jam kemudian pasangan itu keluar kamar dengan saling berpegangan tangan. Terlihat akur tidak seperti tadi yang seperti ada perang Ukraina di rumah Kane."


"Tuan ingin pergi?" Tanya Emilio yang langsung bergegas mendekati pasangan itu


"Ya, kami akan pergi. Kalian tidak boleh ada yang ikuti karena kami ingin menikmati hidup berdua."


Melihat kemesraan itu membuat Emilio dan Pak Jhon saling menatap.


Kane hendak membuka pintu mobil untuk Dee tatkala suara seorang pria terdengar dari balkon rumah sebelah yang bisa dilihat oleh Kane.


"Hallo, Nyonya Yang? Apakah kau masih ingat aku? Jika kau butuh apapun kau bisa panggil aku lagi untuk membantumu," seru Steve membuat wajah Dee memucat seketika.

__ADS_1


Sedangkan Kane menatap tajam ke arah Dee meminta penjelasan wanita itu.


__ADS_2