
"Oh, maaf. Kenalkan namaku David Yang, putra kedua dari keluarga Yang," kata David membungkuk di depan Dee. Lalu tersenyum ramah pada Dee. Senyum yang bisa memikat semua wanita yang melihatnya.
"Namaku Honey Dee," balas Dee mengulurkan tangan tapi tangan itu ditarik oleh Kane. Wajah pria itu nampak tidak senang kalau Dee dekat dengan David.
David tidak menimpali sifat Kane yang dingin dan jaga jarak dengannya.
"Honey? Madu, manis dan banyak khasiatnya. Mungkin kau juga seperti itu, manis, lembut dan ...."
Perkataan David terpotong ketika tangan Dee ditarik Kane pergi dari depan David.
"Kita pergi dari sini," ajak Kane.
"David, maaf," ujar Dee ketika melewati David. Pria itu menganggukkan kepala.
"Tidak usah minta maaf pada orang sepertinya," gumam Kane.
David yang melihat dan mendengar hanya tersenyum saja. "Kak kau tidak pernah berubah selalu saja seperti itu. Dee aku harap kau bisa merubah perilaku Kakakku itu agar terlihat lebih manis seperti dirimu."
Dee mengangguk dan membalas senyum David. Tante Cindy mendekat ke arah David dan seperti membisikkan sesuatu. David menganggukkan kepala.
Dee menghela nafasnya melihat perilaku Kane yang dingin dengan keluarganya. Mereka lalu pergi ke kumpulan para pria paruh tua. Pria-pria itu menyambut kedatangan Kane.
"Kane, akhirnya kau muncul juga," kata Paman Ling, adik dari Ayah Kane.
"Aku sebenernya malas datang kemari hanya saja orang tua itu memaksaku untuk datang."
"Ha... ha ... ha ..., orang tua itu sebenarnya butuh kau untuk memimpin perusahaannya yang sedang goyah."
"Aku tidak peduli dengan perusahaan Diamond. Tidak punya waktu untuk turut campur dengan masalah internal perusahaan Ayah."
Seluruh orang di ruangan ini tahu jika Kane dan Ayahnya tidak pernah akur. Mereka kerap berselisih paham. Hal itu dipicu oleh masa lalu Kane yang kelam.
"Siapakah wanita cantik ini, Kane," tanya Paman Steven melihat Dee yang berdiri di belakang Kane.
__ADS_1
"Oh, apakah rumor yang mengatakan kau telah mempunyai istri itu benar adanya?" celetuk pria itu yang lain.
Kane mengangguk. "Ini Dee, istriku," ujar Kane memperkenalkannya tanpa canggung.
Hal itu membuat Dee merasa dihargai oleh Kane karena statusnya didepan orang-orang sebagai istri Kane bukan seorang gundiknya.
"Kenalkan namaku adalah Evander Ling, adik dari ayah Kane."
"Paman Ling ini sebenarnya adalah sepupu ayah hanya saja diangkat anak oleh Kakek," terang Kane. Dee mengangguk menyambut uluran tangan pria itu.
Lalu bergantian dengan yang lainnya. Mereka sepertinya bersikap sopan walau tatapan menghina tersirat di mata mereka. Dee merasa mungkin karena latar belakangnya yang dari panti asuhan sehingga dipandang rendah oleh semua orang yang ada di sini.
"Kau pandai memilih wanita, cantik sekali dan sepertinya masih muda," puji Paman Ling. Dia melihat Dee dengan tatapan yang menjijikkan.
"Yang muda belum terkontaminasi," celetuk Kane membuat semua orang tertawa. Kane mengeratkan pelukannya di pinggang Dee seolah dia ingin mengungkapkan jika dia tidak senang dan nyaman dengan basa basi ini.
"Kau benar jika yang muda itu masih asli dan polos." paman Ling menepuk punggung Kane.
Semua menatap ke arah sumber suara tanpa terkecuali. Dee pun mengikuti arah pandang mereka.
Seorang pria yang mirip dengan Kane hanya saja wajahnya nampak berumur berjalan mendekat. Dia adalah Potret masa depan Kane.
Semua orang nampak menunduk ketika pria itu tiba, memperlihatkan rasa hormat padanya. Kecuali Kane.
Tante Cindy datang mendekat dan merangkul lengan pria itu dengan mesra. Kane membuang muka ke samping dengan tidak senang.
David bertepuk tangan dengan keras diikuti oleh yang lainnya. Semua lantas membungkuk mengucapkan salam dan mendoakan pria itu dalam bahasa China yang tidak dimengerti oleh Dee, kecuali Kane yang tetap berdiri tegak.
"Anak kurang ajar, akhirnya datang juga kau kemari. Aku kira kau lupa dengan undanganku," ujar Park Yang.
"Sudah kukatakan jika aku datang karena aku takut jika ini adalah ulang tahun pernikahanmu yang terakhir.
"Dasar anak tidak berbakti!'' ujar pria itu dengan emosi. Pria itu terbatuk-batuk.
__ADS_1
"Sudah Yah, jangan diambil hati perkataan Kane. Kita sudah bersyukur Kane mau datang kemari. Anakmu keduanya sudah ada di sini untuk merayakan ulang tahun pernikahan kita ini."
Tuan Park Yang melirik tajam ke arah Kane. "Kau lihat ibumu ini sangat sabar, dia yang menyuruhku untuk mengundangmu kemari, padahal aku pun enggan untuk melihat wajah sombongmu!"
Kane menghela nafas panjang. "Ibuku bukan dia. Tapi wanita lain sedangkan aku juga tidak akan datang jika tidak diundang olehmu. Seperti biasa kau mengundangku hanya ingin mempermalukan aku, karena itu aku enggan untuk menghadirinya. Tapi jangan khawatir, aku sudah kebal dengan racun yang kau keluarkan dari mulut untuk menghinaku. Nyatanya anak yang kau hina dan buang ini lebih sukses dari anak yang peluk dan kau cintai."
Kane menepuk tangannya. Pak Jhon lalu masuk membawa kotak berwarna hitam.
"Aku kemari ingin memberimu ini sebagai hadiah. Ginseng yang sudah berumur 1300 tahun. Ginseng ini sangat berkhasiat sehingga baik untuk kau konsumsi. Kau memang pernah memberiku racun agar aku mati, tapi aku memberimu obat kuat agar kau bisa hidup lama dan melihatku maju jauh diatasmu. Aku ingin kau melihat tangis David ketika perusahaan milikmu hancur ditangannya."
Park Yang ingin memuntahkan kata-katanya tapi di sela oleh Kane lagi. "Aku kemari untuk memperkenalkan Dee, dia sedang hamil anakku. Hal yang akan membuatku tenang karena punya seorang pewaris. Aku hanya takut jika semua yang sudah kudapatkan jerih payah akan diambil kalian nantinya karena hanya kalian keluargaku."
"Dasar anak kurang ajar, kau kira aku akan suka menerima kekayaanmu itu?"
"Tentu saja kau akan senang karena nilai perusahaanku saat ini hampir menyamai nilai perusahaan milikmu. Namun, aku memutuskan kesenanganmu dengan kehamilan istriku."
Dee terpaku melihat pertengkaran ayah dan anak itu.
Kane lantas mengajak Dee keluar dari rumah itu setelah meletakkan hadiahnya diatas meja.
Dee masih mendengar makian dari ayah Kane. Dia menatap ke arah wajah Kane yang dingin.
Inikah maksud Tuan Jhon jika Kane itu punya keluarga hanya saja dia hidup sendiri.
Namun, kelihatannya masalah itu lebih besar dari konflik yang baru saja terjadi. Di mobil tangan Dee menggenggam erat tangan Kane.
"Semua akan baik-baik saja," ucap Dee menenangkan.
Kane tersenyum, mengangguk. "Kini kau tahu kan alasanku ingin segera punya anak."
Dee meremas genggaman tangannya pada Kane dengan lembut.
"Tapi kau harus mempunyai alasan untuk mencintai anakmu nanti. Dia bukan lahir untuk hanya mewarisi hartamu tapi dia lahir karena ingin merasakan kasih sayang dari semua orang. Jadi cintai mereka dengan sepenuh hati."
__ADS_1