Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab.33 Jangan ajariku tentang membaca hati!


__ADS_3

Setelah malam itu, Dee mulai sedikit melunak. Dia meruntuhkan tembok tinggi penghalang hubungannya dengan Kane. Bukan untuk menerima Kane dengan hati, lebih kepada dia ingin Kane menjadi pribadi yang baik dan bisa berubah.


"Biar aku pasangkan dasinya," kata Dee bangkit.


"Katamu kau tidak bisa?"


Dia berjalan mendekat ke arah Kane, tanpa mengatakan apapun. Mengambil dasi berwarna putih dengan bintik hitam dari tangan pria itu. Hendak mengalungkannya namun tubuh Kane yang jauh lebih tinggi darinya, membuat Dee sulit untuk memasangkan dasi.


Kane sedikit membungkuk, wajah mereka sangat dekat, hingga nafas berbau mint milik Kane menerpa kulit halus Dee. Mereka saling menatap untuk sesaat.


Dee memutuskan tautan mata itu. Dia fokus memasangkan dasi itu di leher Kane, membentuk simpul dan menariknya.


"Sudah!" Kane tercengang. Dia sebenarnya masih ingin berlama-lama dengan Dee, tapi Dee memasangnya begitu cepat, pikir Kane.


Dia tersenyum mengangkat dua alisnya lantas melihat ke cermin. Rasa hangat menjalar di hati Kane tatkala menyaksikan pasangan di dalam cermin itu terlihat sangat serasi. Sayang, itu hanya akan berlangsung selama empat bulan lagi.


"Bagaimana?" tanya Dee. Kane memeriksa dasinya.


"Bagus, aku tidak menyangka kau juga bisa melakukan ini."


Dee memungut handuk yang tergeletak di tempat tidur karena Kane tadi sengaja melemparkannya ke arah Dee dan Dee hanya menyingkirkannya.


"Itu hal mudah, semua orang juga bisa melakukannya, bukan orang kaya saja," sindir Dee yang teringat ejekan Kane dulu.


Kane tertawa kecil mengacak rambut Dee lembut. Dee yang selalu kesal jika rambutnya acak-acakan langsung menekuk wajahnya dan mengerucutkan bibir.


Kane menarik pinggang Dee dan memeluknya. Sebuah ciuman di layangkan di bibir Dee dengan lembut.


Dee tadinya mau menolak, hanya saja mengapa tubuhnya malah mengatakan lain. Dia membiarkan Kane melakukan apa yang dia mau kali ini.


Lidah pria itu membelai bibir Dee, menggodanya, lalu ******* dengan gerakan yang menghanyutkan. Bibir Dee merekah, memberi kesempatan pada lidah Kane untuk mengeksplor lebih dalam.


Lidah itu menggelitik lidah Dee, membuat tubuh Dee melemas. Bergerak seolah seperti lebah yang sedang mencari madu dan ingin menghisap madu dari bunga. Tubuh Dee merinding, membuat syarafnya yang biasanya terasa mati ketika melayani Kane kini hidup saling mengalirkan arus yang menyentak, menggetarkan setiap sel inti tubuhnya.


Ini beda dengan apa yang mereka lakukan selama ini. Tangan Dee bahkan sekarang berada di leher Kane, sambil meremas pelan rambutnya.


Kane menghentikan apa yang dia lakukan, menatap ke arah wajah Dee yang memerah, dengan percikan gairah yang terlihat di matanya yang mulai menggelap.

__ADS_1


"Itu luar biasa," bisik Kane lembut di telinga Dee. Dee menunduk malu.


"Sayang, aku ada rapat dengan dewan komisaris hari ini sehingga aku tidak bisa meneruskannya sekarang. Tunggu aku malam nanti," kata Kane.


Dee mengangkat wajah, menatap Kane.


"Jangan melihatku seperti itu. Jika tidak, aku akan menghabisimu sekarang."


Dee memalingkan wajah melihat ke arah samping, menahan senyumnya.


"Jangan palingkan wajah cantikmu dariku," kata Kane.


"Aku lebih suka kau yang marah-marah seperti biasanya dari pada kau yang aneh seperti ini."


"Kau bilang ini aneh? Ck!" Kane dan Dee lantas tertawa.


Suasana romantis mereka terganggu dengan suara ketukan di pintu.


"Tuan, maaf, makan pagi sudah siap sedari tadi."


"Kami akan segera turun, Pak Jhon."


Dee menabok pelan lengan Kane memilih berjalan lebih dahulu. Kane sebetulnya sedikit kecewa tapi dia menepisnya. Dia memilih memegang tangan Dee dan menggenggamnya erat.


'Seberapa sering pun kau berusaha membuat jarak, aku akan memastikan kau tetap dalam genggamanku.'


Semua pelayan menatap tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Pak Jhon nampak tersenyum lega melihat kebersamaan dua sejoli itu yang kini terlihat natural. Seperti layaknya suami istri sesungguhnya.


"Aku akan buatkan kau susu dulu," ujar Kane masuk ke dapur setelah Dee duduk di kursi makan.


Setelah itu seperti biasanya Kane akan menyuapi Dee dengan telaten hingga susu di gelas habis. Baru dia mulai makan pagi.


Nafsu makan Dee mulai meningkat. Dia menghabiskan dua porsi nasi goreng, hal itu membuat Kane merasa senang.


"Anakku akan tumbuh dengan sehat di dalam perutmu jika nafsu makanmu seperti ini setiap hari."


Setelah makan pagi, Dee mengantar Kane sampai di depan rumah menatap kepergiannya.

__ADS_1


"Aku suka jika kau mulai membuka diri untuk Tuan, Nona Dee," kata Emilio mengejutkan Dee. Wanita itu menoleh dan menatap Emilio dengan tidak senang.


"Aku hanya tidak ingin kau ataupun Kane menyakiti orang lain karena kesalahan yang kulakukan."


Emilio menghela nafas. Dee berjalan melewati pria itu.


"Nona, aku percaya jika Tuan Kane itu lebih seribu baik dari pria yang kemarin itu."


Dee membalikkan tubuhnya sehingga dia dan Emilio hampir bertabrakan.


"Tahu apa kau tentang dia. Dia itu adalah pria terbaik yang pernah kumiliki. Aku tahu alasanmu membela Kane ... karena dia adalah bosmu, benarkan? Dasar penjilat!"


"Nona, hati Tuan Kane itu sebenarnya baik. Anda lihat sendiri kan bagaimana dia berusaha berubah demi Anda."


"Watak tidak akan pernah berubah, seharusnya kau lebih tahu itu dari aku! Lagi pula untuk apa aku harus membuka hatiku untuk Bosmu. Kau tahu sendiri jika kontrak itu akan segera selesai. Dia akan mengambil dua bayiku dan aku dibuang, sedangkan saat itu aku pasti terluka jasmani dan psikis usai melahirkan. Apakah kau bisa membayangkan hari itu?"


Dee tersenyum getir, membuang wajah. "Aku tahu kau tidak akan berpikir sampai sejauh itu karena dipikiran orang sepertimu itu hanya tentang Tuannya. Bukan orang lain."


"Kau salah!"


"Salah? Mananya yang salah? Pemikiran ku tentang mu atau kenyataan jika aku akan dipisahkan dari kedua anakku!" seru Dee.


Emilio menutup matanya dan menghela nafas sejenak. Dee lantas meninggalkannya.


"Nona, aku rasa Tuan mulai mencintaimu!"


Dee menghentikan langkahnya. "Itu hanya dipikiranmu saja karena pada kenyataannya Tuan mu itu hanya menjadikan aku gundiknya sampai anak ini lahir!"


"Anda adakah istrinya, jangan lupa dengan kenyataan itu."


"Jika dia menganggap ku istrinya kalian semua pasti telah memanggilku Nyonya, tapi kalian masih memanggilku Nona karena bagi dia dan kalian aku hanya orang asing yang menumpang tinggal di sini!'' ungkap Dee getir lantas masuk ke dalam lift untuk pergi ke kamarnya.


Emilio sendiri tertegun. Wajahnya nampak sedih dan tertekan. Entah apa yang dia pikirkan kini. Emilio lantas berjalan menunduk keluar dari ruangan itu.


Sedangkan Dee langsung menutup pintu rapat sesampainya di dalam kamar. Dia menangis seraya menahan suaranya.


"Maafkan aku Rizky ... maafkan aku ... aku telah mengecewakanmu," gumam Dee memeluk tubuhnya sendiri.

__ADS_1


Kata-kata


__ADS_2