Takdir Seorang Ibu Pengganti

Takdir Seorang Ibu Pengganti
Bab. 100 Kembalilah Padaku!


__ADS_3

Dee dipeluk oleh Kane. Dia masih terisak karena peristiwa tadi. Peristiwa yang tidak akan dia kira akan terjadi.


Mobil masuk ke dalam halaman rumah. Kane menggendong Dee keluar mobil, memasuki rumah.


"Siapkan air hangat dan kotak obat," kata Kane.


Pelayan ingin mengatakan sesuatu tetapi di telan kembali, setelah melihat tubuh Dee yang kacau dalam dekapan Kane. Kane berjalan naik ke atas melalui lift.


Emilio nampak terdiam. Tidak tahu harus melakukan apa.


"Tuan Emilio, saya diperintahkan Tuan Kane untuk membawa Anda ke kamar tamu. Dia berharap Anda bisa tinggal di sini untuk sementara waktu menemani Nyonya Dee."


Emilio menghela nafas. Kane tetap seperti biasa, memerintah sesuka hati padahal dia bukan bawahannya lagi.


"Papah...," teriak Jesper berlari ke arah Kane sewaktu pria itu melewati kamar mereka.


"Kakek Jhon pergi," serunya sambil menangis, namun tertegun ketika melihat ibunya dalam pelukan ayahnya.


"Mama kenapa?" tanya Jason ikut berlari mendekat dengan wajah khawatir.


"Mama sedang sakit," ujar Kane.


"Tadi katamu Kakek Jhon pergi?" tanya Kane.


"Pak Jhon pergi?" Dee mengangkat kepalanya menoleh ke arah kedua anaknya yang sedang menatapnya penuh tanda tanya.


"Mama kenapa? Hua?" Jason menghambur ke arah Dee.


"Mama baik-baik saja. Papa yang berlebihan," ujar Dee. Padahal wajah dan rambutnya nampak kacau balau.


"Papa akan membawa kalian untuk membersihkan diri. Kalian pergi ke kamar kalian masing-masing." Kane berjalan meninggalkan mereka berdua.


Kepalanya terasa nyeri memikirkan semua ini namun dia harus tetap tenang agar semuanya berjalan dengan benar.


"Pa," ucap keduanya keberatan. Namun, melihat wajah tegang ayahnya membuat mereka terdiam tidak berani membantah.


Jesper yang biasa terlihat tenang masih terisak sedangkan Jason merangkul bahu kakaknya.


"Ayah pasti akan menyelesaikan semuanya dan mengembalikan lagi kakek tua itu ke rumah." Mereka lantas masuk ke kamar.


Kane langsung membawa Dee ke kamar mandi. Ketika dia hendak masuk dia memberi perintah pada bawahannya.


"Panggilkan Patrick untuk menungguku di ruang kerja. Aku akan menemuinya setelah ini. Kalian keluar dan tutup pintunya rapat!"


"Kane aku bisa sendiri," ujar Dee malu. Sudah lama sekali mereka tidak sedekat ini. Di tambah lagi keadaannya kacau begini. Dia tidak tahu kemana harus meletakkan wajahnya.


Kane mendengus kasar. Meletakkan Dee di atas wastafel hendak melepaskan jaket yang menutup tubuh Dee. Dee menahannya sambil menggeleng.

__ADS_1


Kane membalas dengan tajam. "Aku dulu biasa melakukan ini, jadi apa yang belum kulihat dari dirimu? Jangan bersikap seperti anak gadis yang belum pernah tersentuh!"


Wajah Dee memerah seketika, tapi dia tidak bisa berbuat apapun ketika Kane mulai membuka kancing baju miliknya.


"Aku tidak akan bertanya padamu sekarang tapi nanti setelah kau tenang. Kau harus menjawab semua pertanyaanku dengan jelas dan terperinci. Jika tidak aku akan menghukummu!"


"Hukuman apa yang tepat untukku?" tanya Dee dengan suara berat ketika tangan Kane tanpa sengaja menyentuh kulitnya.


"Harusnya apa?" balik Kane berbisik di telinga Dee. "Memukul pantatmu sepertinya tidak cukup untukmu."


Dee tersenyum kecil. Kane menangkup wajah Dee dan menatapnya dalam, masuk hingga relung hati.


"Jangan menangis lagi. Kau tahu jika dari dulu aku tidak suka melihatmu menangis."


Dee memeluk leher Kane dan menangis tersedu. Merasa terharu oleh perkataan Kane.


Kane mengusap punggungnya pelan. Menghela nafas panjang.


"Kembalilah ke hidupku, Dee. Tanpamu, hidupku terasa hancur."


Setelah membersihkan Dee dan mengobatinya, Kane keluar dari kamar.


Dia sempat melihat Jesper yang duduk di bawah tempat tidur dengan ekspresi sedih dan Jason menghiburnya.


Dia berjalan lagi menuju ruang kerja miliknya.


"Tuan," kata Patrik memberi hormat.


"Kau sudah tahu kemana Pak Jhon berada?"


"Saya tidak tahu Tuan, tapi saya telah menyuruh orang untuk mencarinya di bandara, stasiun, pelabuhan dan terminal Bus. Tidak lupa mengecek semua hotel yang ada."


Kane menghela nafas panjang.


"Apa kau sudah periksa kamarnya?"


"Kami tidak menemukan tiket atau apapun yang berhubungan dengan kepergian Pak Jhon. Hanya saja...." Patrik menatap ke arah map ditangannya.


"Apa? Berikan padaku!" kata Kane mengambil map itu dari tangan Patrik dia lalu duduk di pinggir meja. Membaca lembar per lembar kertas yang ada.


Wajahnya tampak tegang dan matanya memerah. Kepalanya terasa sangat pening. Dia menutup map itu.


"Cari di rumah sakit Cipto Mangun Kusumo atau seluruh rumah sakit yang ada."


Patrik membungkuk memberi hormat. "Baik, Tuan!"


Dia lalu membuka pintu ruang kerja Kane. Melihat Emilio berdiri di sana. Memberi hormat terlebih dahulu sebelum berlalu pergi.

__ADS_1


Emilio berjalan masuk ke dalam ruangan dengan kedua tangan yang masuk saku.


"Apakah kau tahu masalah sebenarnya?" tanya Kane mengambil botol obat dari laci meja yang selalu dia kunci. Lalu mengambil air dan meminumnya.


"Masalah lima tahun lalu? Kau belum menemukan jawabannya?" Emilio tersenyum mengejek.


"Mungkin karena aku kehilangan orang berkompeten sepertimu sehingga aku tidak bisa menjawabnya."


"Bukankah itu obat anti depresan?" tanya Emilio pada Kane.


"Aku hanya membutuhkannya ketika kumerasa tertekan."


"Itu tidak baik jika dikonsumsi lama," ujar Emilio mengambil obat itu.


"Lebih tidak baik jika aku tidak meminumnya, aku bisa gila karena kehilangan Dee."


Emilio terkejut lalu menatap Kane dan meletakkan obat itu.


"Kau sangat mencintai Dee?" tanya Emilio.


"Sangat, hanya saja perasaanku tidak pernah dia balas. Sangat menyakitkan. Malah... aku tidak tahu kebenarannya, hanya saja yang aku lihat Dee berkhianat padaku. Mungkin aku yang terlalu bodoh dan termakan api cemburu sehingga tidak bisa berpikir normal."


"Mungkin jika aku di posisimu akan melakukan hal yang sama sepertimu atau mungkin aku tidak akan percaya begitu saja."


Kane menatap Emilio.


"Mungkin Dee tidak pernah mengatakan cinta, tapi apakah kau tidak bisa melihat cinta dan ketulusan dimatanya? Tidak semua bisa dikatakan. Ada orang yang lebih suka mengungkapkan perasaannya, ada yang suka mengungkapkan dengan tingkah laku."


"Apakah semua yang Dee lakukan tidak bisa menyentuh perasaanmu? Tidakkah kau bisa sinar cinta dimatanya saat menatapmu? Bukankah semua perhatian yang dia berikan hanya untukmu? Kane kau bukan orang bodoh yang tidak bisa membaca itu semua!"


Perkataan Emilio membuat bibir Kane terkatup.


"Aku tidak tahu persis apa yang terjadi. Hanya saja sewaktu dulu David datang dengan Rosemary, wajah Dee nampak tegang. Dia lalu masuk ke ruang kerjamu."


"Kenapa kau tidak mengatakannya?"


"Aku hanya pengawalnya yang bertugas menjaganya saat itu. Tidak berani bertanya lebih lanjut. Bagiku yang penting adalah keselamatan, Dee."


"Satu lagi, Tuan Park Yang sempat datang kemari ketika kejadian ini ada. Dia bertanya padaku di mana Dee dan sayangnya kau sudah membuat dia celaka."


"Jadi Ayahku sudah tahu permasalahan ini sebelumnya?"


"Ya, dia sudah tahu. Tanya Dee yang lebih tahu semua masalah ini."


"Aku mau pergi. Aku harus mengurus majikanku terlebih dahulu."


"Apa sebaiknya kau kembali lagi menjadi orang kepercayaanku Emilio?"

__ADS_1


"Dimana harga diriku, bekerja untuk adikku? Padahal keselamatannya adalah tanggung jawabku tanpa harus dibayar.''


__ADS_2