
Mereka kini berada di kamar hotel terbaik. Duduk di pinggir tempat tidur tanpa melakukan apapun. Rasanya canggung sekali.
"Kane, kau tahu jika aku punya banyak masalah dengan waktuku yang luang dan aku sering kali merasa sangat bosan. Kau melarangku melakukan ini dan itu. Hanya mengurung ku di rumah saja. Seperti burung peliharaan yang dikurung di sangkar emas."
"Kau memang pipit ku yang ku kurung. Aku takut jika kau ku lepaskan sekali saja kau akan pergi jauh tanpa mau kembali," ujar Kane.
"Pipit!" ulang Dee.
"Ya, dari awal kau melarikan diri dulu, aku sudah memanggilmu dengan sebutan burung pipitku. Kau mungil dan lincah, bergerak bebas kesana kemari tanpa batas."
Dee menghembuskan nafas keras.
"Dee kau punya kartu yang kuberikan dan itu limitnya tanpa batas. Kau juga punya banyak waktu luang yang bisa kau gunakan untuk belanja, bersenang-senang dan apapun itu yang bisa membuatmu senang."
Ucapan lemah lembut pria itu mengenai hatinya dan tangannya yang merapikan rambut yang menutupi wajah Dee membuat ujung syarafnya menegang seketika.
"Apa gunanya melakukan semua itu jika tidak mempunyai tempat berbagi. Aku kesepian dan satu hal yang tampaknya kau tidak mengerti dariku, aku suka bergaul. Jadi jangan hentikan aku untuk bersosialisasi dengan bawahanmu, ajudanmu ataupun orang luar. Aku kira kau faham ucapanku."
Dee teringat bagaimana marahnya Kane ketika melihat dirinya akrab dengan Emilio, setelah itu, Emilio mulai menjaga jarak dengannya. Selain itu memang karena ada masalah lain yang membuat hubungan mereka renggang.
Pelayan di rumah nampak segan padanya dan semua tidak mau mengajaknya berbincang kecuali soal tugas yang mereka kerjakan.
"Baiklah, hanya saja kau batasi gerakanmu jangan terlalu aktif dan jangan naik genteng lagi. Kau boleh memilih siapapun untuk kau jadikan teman bicara."
Dee tersenyum malu sambil menggigit bibirnya. Hal itu membuat Kane merasa gemas.
Mata Kane bertemu dengan mata Dee, Kane menarik nafas keras. Hal kecil yang dilakukan Dee saja bisa memicu reaksi tubuhnya.
Dee mengerti arah pikir Kane. Memalingkan wajah kesamping dengan gugup. Mereka telah melakukan ini berkali-kali tapi tetap saja dia merasa deg-degan.
Erangan tidak percaya terlontar dari mulut Dee yang terbuka sewaktu Kane mendaratkan bibirnya dan mendorong pelan tubuh Dee ke tempat tidur.
Kane adalah sosok dominan dan Dee ingin punya kemampuan untuk mengatakan bahwa dia terlalu lelah dan sedang tidak tertarik untuk melakukan itu.
Dia selalu tidak bisa menahan apa yang Kane buat terhadap dirinya. Tubuhnya seakan ingin meledak di bawah tekanan keras tubuh Kane. Tetap saja dia tidak bisa menolak Kane.
__ADS_1
Tiba-tiba dia merasa membutuhkan Kane. Jika ini hanya suatu rutinitas hubungan badan saja maka tidak akan seperti ini? Pikir Dee.
"Apakah kau lelah Dee?" bisik Kane di telinga Dee.
Apakah pria itu akan membiarkan dia tidur dengan lelap jika tahu Dee merasa capai.
"Apakah kau butuh jawaban dariku?"
Kane menurunkan kepala kelamnya yang sombong sehingga dahi dan hidung mereka saling bersentuhan.
"Ya, karena aku ingin melakukan sesuatu aksi macho-ku," goda Kane lembut membuat perut Dee seakan seperti ada ribuan kupu-kupu terbang dan menari di sana.
Dee lemas karena hasrat yang dia rasakan. Merasa lemah begitu menghadapi Kane. Jika dulu dia membuat tembok kebencian tinggi yang menghalanginya untuk merasakan perasaan untuk pria itu. Kini setelah sebuah pintu terbuka lebar untuk Kane, semua perasaan yang tidak dia kenal sebelumnya sedikit demi sedikit mulai datang dan membuat dia kacau.
***
"Kau punya waktu untuk mandi sementara aku akan menelfon beberapa orang."
Wajah Kane yang tadinya sedikit dipenuhi bulu halus kini sudah bersih dan halus, rambutnya masih basah dan dia meluruskan dasinya.
Kane pergi keluar dari ruangan itu dan Dee mulai meluncur turun dari ranjang karena perutnya kembali terasa mual.
Dia memuntahkan semua isi perutnya. Di saat itu Kane membuka pintu kamar mandi dan langsung membantu Dee.
"Pergilah, aku bisa sendiri," usir Dee mendorong tubuh Kane menjauh.
"Aku akan membantumu."
"Ini menjijikkan, aku tahu kau tidak mampu untuk menyaksikannya."
Dee kembali memuntahkan isi perutnya. Kane memijit tengkuk Dee dengan tangan satu sedangkan tangan lainnya memegang rambut Dee yang dia jadikan satu. Wajah Kane terlihat pucat, Dee melihatnya dari pantulan cermin.
Dee membalikkan tubuhnya sehingga berhadapan dengan Kane yang menatapnya dengan cemas.
Wanita itu lantas menyalakan keran dan membasuh wajah serta tangannya.
__ADS_1
"Ini sudah lima bulan dan kau masih juga seperti ini? Apakah kita perlu memeriksakan kandunganmu ini? Mungkin Dokter bisa memberikan resep yang bisa membuat kau nyaman di pagi hari dan tidak muntah-muntah lagi."
"Kane ini normal dirasakan wanita hamil. Yang tidak normal adalah kau bisa mengatasi penyakit was-wasmu pada kebersihan. Kau membantuku," ucap terharu Dee.
Kane merengkuh tubuh Dee. "Anak yang kau kandung adalah anakku. Masa aku tidak bisa menyingkirkan hal itu demi mereka sedangkan kau menahan semuanya demi mereka."
Kehangatan dan kenyamanan di rasakan Dee ketika bersandar di dada Kane. Menghirup aroma tubuhnya yang mulai membuat Dee kecanduan.
"Aku akan membuatkan mu susu seperti biasanya. Aku sudah menyuruh orang membawakan susumu kemari semalam dan baru datang tadi pagi."
"Sarapan sudah siap, kita bisa segera ke ruang makan."
Dee melihat penampilan Kane yang rapih dan dia yang hanya memakai piyama saja. Dia nampak tidak layak berjalan di sisi Kane.
"Bisakah aku mandi dulu?"
"Ya, tapi jangan kau kunci pintu kamar mandinya. Aku takut jika kau masih mual lagi."
"Tidak." Dee terdiam nampak ingin mengatakan sesuatu.
"Kane bisakah aku memilih makanan yang akan kumakan?"
"Bisa asal bukan racun saja," ujar dingin Kane tanpa ekspresi. Dee memukul manja lengan Kane.
Kane lantas keluar dari kamar utama ke pantry di ruangan hotel itu. Dia mulai membuat susu untuk Dee.
Di saat Dee sudah selesai berpakaian, terdengar suara ketukan dari pintu. Dia melihat Kane sedang berbicara serius di handphone dengan seseorang. Dia berdiri di balkon depan kamar yang indah.
Kane memberi isyarat pada Dee untuk duduk. Pria itu sepertinya tidak tahu jika ada seseorang mengetuk pintu kamar.
Dee membuka pintu dengan pelan. Senyumnya sirna ketika melihat seseorang berdiri di depannya.
"Riz... ky," panggil sulit Dee.
"Tenyata kau masih mengenaliku. Aku kira kau susah melupakan aku," ujar Rizki dengan mata sendu yang nampak terluka.
__ADS_1
Dee mulai membuka pintu.