
"Baiklah, aku akan memperbolehkanmu mengambil barang-barang pemberian mereka, tapi buang ramuan yang mereka berikan. Kau harus menjaga anak itu, melebihi kau menjaga dirimu sendiri!"
Dee menutup matanya sejenak. Tersenyum getir. Bagaimana pun bagi Kane anak ini lebih penting darinya. Dee tidak bisa mengatakan apapun lagi.
"Aku mengerti jika dia sangat penting bagimu, aku sangat faham itu!" ucap Dee dengan hati terluka. Dia membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi dari hadapan Kane.
Malam harinya, Dee tidur dengan memunggungi Kane. Dia bersikap dingin dengan pria itu. Padahal hubungan mereka baru saja membaik.
Kane meletakkan kembali i pad di tangannya ke atas nakas. Dia memeluk tubuh Dee dari belakang. Mengusap perutnya lembut.
"Anak Ayah sedang apa ya?"
Dee tetap terdiam tidak memberikan respon.
"Apakah Ibumu sedang marah pada Ayah? Kalau iya, bilang padanya ya bila Ayah minta maaf, jangan marah lagi."
Dee menyeka air matanya yang bertambah deras. Tubuhnya bergetar. Kane yang curiga membalikkan tubuh Dee.
"Hai, kau menangis?" tanyanya terkejut.
Dee menepis tangan Kane dan menutup wajah dengan bantal.
Kane mengambil bantal itu dan membuangnya. Tubuhnya mengurung Dee menatapnya lekat.
"Apa kau menangis karena aku melarangmu mengambil barang-barang dari Cindy?" tanya Kane.
"Bukankah aku hanya mengambil ramuannya saja, bukan yang lainnya!''
"Pergilah, aku membencimu!" teriak Dee.
"Benarkah?'' tanya Kane dengan tatapan meledek.
"Ya, aku membencimu sangat membencimu!"
"Tidak kau mencintaiku," balas Kane.
"Benci."
"Cinta."
"Benci, sangat benci."
"Cinta sangat cinta."
Kata benci dan cinta terus saja, hingga akhirnya Kane mengatakan.
"Aku cinta kau," ucap Kane.
"Aku benci kau," ujar Dee bersamaan. Tapi kemudian dia terdiam menatap ke arah Kane.
Tunggu apakah dia tidak salah dengar. Mata Dee berkedip berkali-kali.
"Kau bilang apa?'' tanya Dee.
"Kau cinta aku," jawab Kane menatap mata Dee. Wanita itu melengos, mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
Kane mengecup bibir Dee yang menggemaskan, lalu beralih ke perut Dee.
"Akhirnya Ibu kalian terdiam juga. Berhenti menangis."
Kane turun dari atas tubuh Dee dan memeluk Dee dari belakang. Mencium tengkuknya.
"Dee maukah kau belajar mencintaiku?" tanyanya lirih.
Lama Dee terdiam.
"Dee?"
"Aku tidak tahu," ucap wanita itu.
"Aku tidak akan memaksamu," jawab Kane. Dia memeluk tubuh Dee erat. Batinnya terasa sakit.
Ini sebab selama ini dia menutup hatinya untuk wanita karena dia tahu jika mencintai seseorang itu akan membuatnya terluka.Dia harus siap dengan konsekwensinya.
Dia takut jika Dee sama dengan ibunya yang akan meninggal anaknya setelah mendapat banyak uang. Trauma itu membuatnya menampik perasaan nyaman yang selalu Dee buat bila bersama dengannya.
Walau Dee selalu menolaknya dengan terang-terangan, tidak membuat Kane membencinya atau tidak menyukainya. Dia malah merasa tertantang untuk memiliki Dee sepenuhnya.
Dee sendiri terdiam karena bingung. Apakah Kane benar-benar mencintainya atau dia yang salah dengar?
Mungkin Kane mengatakan itu hanya untuk membuatnya tidak marah lagi. Kebanyakan pria hebat memang seperti itu, akan melakukan apapun bila ingin meraih suatu tujuan setelah itu, dia akan membuang jika sudah mendapatkannya.
Pria itu tidak mungkin mencintainya.
Berbeda dengan Rizky yang mau melakukan apapun untuknya. Bahkan dia pernah rela membantu salah satu warung berjualan siang dan malam demi bisa membeli kue untuk Dee.
Dee terdiam.
"Apakah kau sangat mencintai pria itu sehingga tidak ingin bertahan denganku demi mereka?"
Air mata Dee mulai menetes lagi.
"Apakah suatu pernikahan bisa bertahan jika tanpa cinta? Itu sama saja kau harus berjalan di bara api yang panas demi sesuatu yang tidak pasti."
"Kalau begitu belajarlah untuk mencintaiku?"
Dee membalikkan tubuhnya menatap ke arah mata Kane.
"Untuk apa? Apakah setelah aku mencintaimu kau akan memberikan aku hak penuh sebagai seorang istri dan mencintaiku dengan sepenuh hati?" tanya Dee.
Kane mengambil untaian rambut yang menutupi wajah Dee, menariknya ke belakang.
"Kita lihat apa yang akan terjadi empat bulan ke depan atau sampai kau melahirkan mereka. Jika kau sampai pada waktu itu memang benar-benar mencintaiku dengan setulus hati, maka aku akan berikan semua yang kau mau. Status istri dan ibu dari anak-anakmu serta cinta dariku. Namun, jika kau ragu dengan hatimu dan kau tetap ingin pergi dari hidupku, maka aku akan menerimanya."
"Kita hanya akan bersama jika kau dan aku sama-sama yakin jika kita saling mencintai," lanjut Kane.
Dee menatap ada keyakinan dari ucapan Kane.
"Apa kau mencintaiku?" tanya Dee.
"Mungkin karena aku juga ragu dengan perasaanku sendiri. Apa perasaan ini ada hanya karena kita sering bersama? Atau memang ini cinta, aku belum yakin sepenuhnya."
__ADS_1
Dee menghela nafas panjang. Dadanya yang sesak mulai berkurang.
"Berarti kita memutuskan untuk bersama karena cinta, aku boleh ikut merawat bayi ini?"
"Kau ibu mereka."
"Jika tidak aku bukan ibu mereka?"
"Buat apa mengenal kau sebagai ibu mereka. Yang ada mereka hanya akan terluka karena kau meninggalkan mereka demi bersama dengan pria lain. Lebih baik tidak tahu sama sekali siapa dirimu!"
"Kau kejam!" ujar Dee.
"Hidup ini kejam Dee. Kau harus bertahan jika ingin mendapatkan sesuatu."
Dalam hatinya Kane berharap Dee mau bertahan bersamanya demi anak mereka.
Dee terdiam.
"Kau dan aku sebenarnya sama saja, Kane. Sama-sama tidak diharapkan oleh orang tua kita. Namun, kau hidup dengan melawan kerasnya takdir. Sedangkan aku hidup dengan cinta dan kasih sayang dari banyak orang. Aku tidak pernah merutuki nasibku sendiri karena besar di panti asuhan."
"Sedangkan aku menyesal karena dilahirkan menjadi keluarga Yang, walau kemudian aku bertemu dengan Pak Jhon yang menyayangiku seperti anaknya sendiri."
"Seharusnya karena persamaan itu, kita bisa bersama untuk menyembuhkan luka yang dibuat oleh orang tua kita dan tidak menjadi seperti mereka," ujar Kane.
Dee tersenyum kecut.
"Sudah, jangan bicara lagi. Ini sudah malam sebaiknya kita tidur." Kane memeluk Dee.
Dadanya tiba-tiba terasa nyeri mengingat dia hanya bisa memeluk Dee hanya sampai anak ini lahir.
Jika Dee memutuskan untuk tetap bersama lelaki itu maka dia akan kehilangan Dee? Apakah dia sudah siap dengan itu?
Tiba-tiba perut Dee berbunyi keras. Wajah wanita itu memerah.
"Kau lapar?"
Dee mengangguk.
"Kita turun ke bawah dan cari makanan untukmu. Atau kau ingin apa? Kita bisa mencarinya di luar," tawar Kane.
Dee menggigit ujung jarinya. Terlihat ragu untuk mengungkapkan keinginannya.
"Katakan, kau ingin apa?"
"Aku ingin makan keong bumbu pedas," pinta Dee.
Kane tercengang.
"Aku tadi melihat makanan itu di televisi dan sepertinya itu terlihat lezat," ujar Dee.
"Bisakah kau meminta sesuatu yang mudah? Cari makanan itu dimana? Lagi pula makan keong itu sangat ... ," ujar Kane dengan ekspresi jijik.
"Jika kau tidak ingin mencarikan makanan yang ku mau, kau seharusnya jangan tanya padaku, apa makanan yang kuinginkan."
Mereka baru saja baikan sedetik lalu kini mulai bertengkar lagi.
__ADS_1