
Dee langsung diangkat ke atas brangkar ketika tiba di rumah sakit. Tubuh Dee sudah lemas dan tidak sadarkan diri. Brangkar langsung didorong cepat ke ruangan gawat darurat. Kane mengikuti di sebelahnya.
"Jangan tinggalkan aku, Dee," ucap Kane putus asa. "Ku mohon bertahanlah, aku sangat mencintaimu."
"Kenapa dengan pasien?" tanya seorang Dokter mendekat.
"Hamil dan pendarahan, Dokter," jawab salah seorang perawat yang mengikuti.
"Anda?"
"Saya suaminya," jawab Kane.
"Mengapa dia pendarahan?"
"Kecelakaan mobil dan perutnya mengenai dashboard dan terguncang keras," terang Kane.
"Aku mengerti," jawab Dokter.
"Selamatkan dia Dokter," harap Kane.
"Kami akan berusaha, Anda berdoa saja pada Tuhan Yang Maha Esa, semoga bayi dan ibunya bisa kita selamatkan. Sepertinya darah yang keluar sangat banyak," ungkap sang Dokter membuat Kane bertambah was-was.
Kane memegang tangan Dee yang lemas, tangan yang dijari manisnya tersemat cincin pernikahan mereka. Dee dimasukkan ke dalam suatu ruangan dan Kane di larang masuk ke dalamnya.
Kane bersandar pada dinding, sambil menarik nafas tidak beraturan, menangis tanpa suara. Dia tidak pernah ketakutan karna sebuah rasa kehilangan dalam hidupnya. Pikirannya buntu dan dia mulai frustasi.
Waktu terasa sangat lama. Beberapa orang perawat dan juga dokter terlihat panik keluar masuk ruangan. Kepanikan dan ketidak berdayaan Kane semakin bertambah. Dia seperti mati rasa menunggu pemberitahuan dari dokter tentang kondisi Dee.
Tiba-tiba sebuah pukulan menerjang Kane tanpa dia sangka. Dia melihat ke sebelah ternyata Emilio yang melakukannya.
"Apa yang kau lakukan pada Dee, breng***. Kau terus saja menyakitinya, kini nyawanya terancam karenamu!" seru Emilio dengan mata berapi-api. Dia memukul Kane lagi sampai terjatuh ke lantai. Kane menghela pukulan mantan Marinir itu. Kini Kane yang diatas Emilio.
"Hei kau kenapa?" Kane menatap bingung pada Emilio. "Apa kau juga diam-diam mencintai Dee sehingga berubah berani pada majikanmu!"
"Pikiranmu itu selalu picik pada orang, berpikir dengan negatif. Semua orang selalu nampak salah di depanmu. Kau seperti itu selamanya akan seperti itu."
Kane menarik kerah leher Emilio. "Lalu katakan mengapa kau membelanya? Apa kalian punya hubungan khusus?"
"Ya, kami punya hubungan khusus yang tidak semua orang tahu. Dia adalah adik yang selama ini kucari," teriak Emilio berapi-api, Kane bangun dari tubuh Emilio dengan linglung.
__ADS_1
Dia kini tahu mengapa Emilio selalu melindungi Dee dan membelanya. Darah mereka pun sama AB rhesus negatif.
"Bagaimana bisa?" gumam Kane. Pak Jhon yang melihat semua kejadian ini hanya bisa menghela nafas dan duduk di kursi pengunjung. Dia sudah tua untuk bisa mencerna semua permasalahan yang ada. Dia lelah dengan masalah Kane saat ini. Tidak tahu harus berkata apa.
Terdengar suara dari pintu UGD, mereka langsung tertuju ke sana.
"Suami pasien mana?"
"Di sini!" jawab Kane parau.
"Pasien mengalami pendarahan uang yang cukup hebat, kami akan melakukan operasi dan butuh banyak darah dengan golongan sama ya… ."
"Golongan darah dia sama dengan saya. Saya adalah kakaknya." potong Emilio ketika Dokter menerangkan.
"Bagus sekarang ikuti perawat untuk segera diambil darahnya."
"Tapi saya ingin tahu kondisi adik saya terlebih dahulu."
"Kondisinya sangat lemah, namun dia dan bayinya saat ini masih selamat tapi kita tidak bisa menjamin kedepannya bagaimana. Ini kehamilan kembar penuh risiko, belum lagi dengan kecelakaan ini memperparah kondisinya."
Kaki Kane seperti tidak lagi menjejak di tanah. Akal sehatnya seperti hilang untuk sesaat. Tepukan Pak Jhon membawanya kembali ke mimpi buruk yang tidak pernah dia harapkan ini.
Kane menutup matanya sejenak. Emilio yakin jika Kane pasti akan memilih anaknya kali ini.
"Aku ingin kau mendahulukan nyawa istri saya," ucap Kane yakin dengan mata yang berembun dan merah.
Emilio menatap tidak percaya pada keputusan Kane. Dia tahu betapa Kane sangat menunggu kedua buah hatinya lahir.
"Kalau begitu tanda tangani surat pernyataan ini," ujar sang Dokter. Kane langsung menandatangani surat itu dengan tangan yang bergetar. Ada rasa sesal karena dia telah menyebabkan tiga nyawa yang dia sayangi kini berada dalam bahaya. Andai dia bisa mengulang waktu dia akan bersikap lebih sabar.
"Aku akan mendonorkan darah terlebih dahulu," kata Emilio melembut. Kane mengangguk.
Dokter segera melakukan persiapan operasi. Kane menunggu operasi itu dengan Pak Jhon.
"Tuan, Anda harus kuat," ucap Pak Jhon.
"Ini salahku, ini salahku," ucap Kane berulang kali.
"Ini semua sepenuhnya bukan salah Tuan."
__ADS_1
"Jika aku sedikit bersabar smua ini tidak akan terjadi. Mungkin benar apa yang Emilio katakan jika aku hanya menjadi penderitaan Dee," Kane mengusap wajahnya dengan putus asa lalu menatap pintu dengan cat hijau di depannya dengan tatapan kosong.
Pak Jhon menghela nafas panjang. Dia nanti akan menyelidiki masalah ini agar semua kebenaran terungkap.
Dia tidak mengerti mengapa Kane lebih memprioritaskan Dee daripada anak mereka. Padahal anak itu yang dibutuhkan Kane saat ini.
Namun, dia mengerti jika Kane mungkin sangat mencintai Dee hingga tidak bisa berpikir dengan akal sehat. Walaupun sudah dikhianati dan disakiti tapi Kane tetap saja memperhatikan Dee. Ini bukan Kane yang dia kenal dan bukan Kane yang dulu, yang tidak pernah mau perduli dengan orang lain.
Ini yang Pak Jhon takutkan, Kane jatuh cinta dan cintanya itu akan menjatuhkannya. Ternyata instingnya benar.
Sedangkan di ruang operasi Dee berbaring tidak sadarkan diri. Lima dokter berusaha agar operasi ini berjalan lancar. Wajah mereka terlihat tegang.
"Pendarahan ini tidak bisa dihentikan jika seperti ini, ibunya tidak bisa kita tolong," ujar salah satu Dokter.
"Kita tidak boleh mengatakan itu diruang operasi!" ujar Dokter yang mengepalai operasi ini.
Sayatan demi sayatan mulai dilakukan di perut bagian bawah Dee. Satu orang sibuk membersihkan kan darah.
Bayi pertama berhasil diselamatkan. Suaranya terdengar keras membuat semua tertawa lega. Kini masih ada bayi lain di perut Dee yang harus diselamatkan.
Kane yang mendengar dari luar, tersenyum cerah. Kedua netranya berurai air mata yang mengalir deras. Dia nampak terharu.
Pak Jhon mendekat ke arah Kane.
"Selamat, Tuan, Anda telah menjadi seorang ayah sekarang," ungkap Pak Jhon senang.
Namun, senyum itu sirna seketika. Dia belum tenang bila tidak menyaksikan Dee keluar selamat dari proses bersalin.
Seorang bidan datang membawa seorang bayi lelaki yang tampan keluar. "Tuan, ini putra Anda," ujar Bidan itu.
Kane malah tidak tertarik dia memilih melihat ke dalam.
"Bagaimana dengan kondisi istri saya?" tanyanya panik.
"Dokter, tekanan darah pasien menurun drastis," teriak seseorang dari dalam sana.
"Cepat beri pertolongan, jangan sampai kita kehilangan pasien!"
Nafas Kane serasa berhenti merokok dengar ucapan Dokter itu. Wajahnya mendadak pucat pasi.
__ADS_1